
Keesokan harinya tepat pukul 9 pagi Anggi sudah berdiri di depan salah satu gedung pencakar langit di kawasan CBD (Central Business district). Anggi menatap kokohnya gedung tersebut dan mengulas senyum kala mengingat bahwa gedung tersebut adalah milik Reynald, kekasihnya.
Anggi melangkah masuk ke dalam lobby setelah melalui prosedur pemeriksaan dengan security. Kali ini Ia tak perlu berbasa basi lagi di hadapan resepsionis. Karena intensitas kedatangan Anggi cukup sering ke kantor saat kegiatan mentoring tempo hari, Reynald pun dengan khusua menitipkan pesan pada kedua resepsionis di lobby untuk segera mengantar Anggi ke lantainya jika gadis itu datang.
Hal itu berlaku hingga saat ini. Salah seorang resepsionis langsung saja mengantar Anggi menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke atas.
"Ada janji dengan Bu Renata? Kalau Pak Reynald sedang dalam perjalanan bisnis, Mbak". Ucap sang resepsionis memberitahu ketika keduanya sedang berada di lift.
"Iya, Mbak. Aku kesini mau ketemu sam Mbak Renata". Anggi mengulas senyum manis.
Sang resepsionis balas tersenyum tanpa bertanya kembali. Anggi sungguh terpukau dengan sikap para karyawan yang bekerja di perusahaan Reynald. Walau Ia tak melhat secara keseluruhan, namun Ia senang karena mereka semua ramah dan tidak terlalu ingin tau kegiatan bos besarnya yang selalu buat penasaran para karyawan.
Keduanya pun telah tiba di lantai 56, lantai paling atas di gedung tersebut. Resepsionis pun pamit kembali pada Anggi untuk segera turun ke lobby. Anggi lalu segera menuju ruangan Renata dan mengetuknya perlahan.
"Permisi, Mbak..." Sapa Anggi sembari membuka pintu.
Renata yang terlihat sedang duduk di balik meja kerja segera berdiri menghampiri Anggi. Wanita itu mencium pipi kiri dan kanan Anggi dan mempersilakan Anggi untuk segera duduk di sofa.
"Kau mau minum apa?". Tanya Renata.
Anggi menggelengkan kepala pelan. "Tidak perlu, Mbak. Aku sudah bawa air minum hehehe". Ucapnya seraya menunjukkan sebuah botol berwarna pink.
Renata tersenyum. "Baiklah..."
"Kau tunggu sebentar ya. Aku harus mengirim email lebih dulu pada Andre". Ujar Renata seraya beranjak berdiri dan menuju kembali mejanya.
"Apa Reynald pergi dengan Andre, Mbak?". Tanya Anggi.
"Tentu saja. Reynald akan selalu pergi dengan Andre atau denganku jika dalam perjalanan bisnis. Beda lagi kalau dia pergi liburan.. Aku dan Andre bahkan tidak akan tau kemana Ia pergi". Jelas Renata seraya menatap layar laptop.
Anggi manggut-manggut mengerti.
__ADS_1
"Apa dia cukup sering pergi liburan? Kapan biasanya Reynald punya waktu kosong, Mbak?".
"Dia bisa saja memiliki banyak waktu kosong semaunya. Namun resikonya dia mengabaikan tanggung jawabnya di perusahaan. Delapan bulan ke belakang yang dia lakukan kurang lebih seperti itu". Ucap Renata.
Anggi terdiam sejenak mencerna penuturan Renata. Ia kemudian menatap wanita modis itu yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Hmm begitu ya, Mbak. Delapan bulan... Selama itu memang Reynald kemana hingga mengabaikan perusahaan, Mbak?".
"Bukan delapan bulan. Tepat tujuh bulan lah.. Satu bulan ini dia sudah kembali menjadi Reynald yang bertanggung jawab. Kalian pun sudah berjalan satu bulan berhubungan kan?". Tanya Renata.
"Iya, Mbak.. Mungkin.. Aku tak menghitungnya hehe" Anggi terkekeh pelan.
"Wah biasanya para wanita yang selalu mengingat tanggal pacaran, tanggal pernikahan dan sebagainya... Reynald selalu mengingat tanggal-tanggal seperti itu".
Anggi mengulas senyum tak menjawab apapun.
Selang satu jam kemudian, Anggi dan Renata sudah sampai di kantor Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas SIM). Keduanya segera menghampiri seorang petugas dan memperlihatkan bukti pendaftaran melalui suatu aplikasi.
Setelah di nyatakan lulus ujian teori, Anggi segera di giring oleh seorang petugas untuk mengikuti ujian praktik mengemudi. Kemahiran dan kegesitan dirinya dalam mengemudi benar-benar di nilai dan di jadikan sebuah patokan apakah Ia layak untuk berkendara di jalan raya atau tidak.
Anggi yang sudah bisa menyetir mobil sejak usia 18 tahun begitu gugup saat Ia sedang duduk di balik kemudi. Hendra Wibrata memang memberikan hal-hal yang mungkin bisa menunjang kehidupan Anggi untuk bertahan. Seperti pendidikan dan keahlian lain. Walau sebenarnya yang Anggi butuh hanya sosok seorang Ayah yang menjadi pelindung untuk dirinya.
Anggi mulai menyalakan mobil dan memasang fokus yang tinggi. Ia menjalani ujian praktik mengemudi dengan lancar dan sudah bisa di pastikan bahwa Ia akan lulus.
Sepulangnya dari kantor Satpas SIM, Renata mengajak Anggi untuk lebih dulu makan siang. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 1 siang. Keduanya pun segera menuju sebuah mall yang elit yang berada di sekitar bundaran.
Mall Grand Merdeka
"Kau mau makan apa?". Tanya Renata saat mereka baru saja masuk ke dalam lobby mall.
"Mmm.. Aku apa aja, Mbak. Terserah deh.." Ujar Anggi tersenyum tipis.
__ADS_1
"Jangan bilang terserah padaku. Kau harus bisa memutuskan, apa yang ingin kau makan". Renata bicara tegas.
Anggi lantas saja menciut mendengar nada Renata yang tak bersahabat.
"Maaf, Mbak..." Cicit Anggi.
"Hey..Jangan meminta maaf. Aku hanya memberitahu padamu jangan terbiasa mengucap kata terserah pada seseorang".
"Kau harus tau apa maumu.. Jangan terbiasa menyerahkan keputusan untuk dirimu sendiri pada orang lain. Memang kau mau makan sesuatu yang tidak kau sukai karena aku yang memilihnya?". Tutur Renata menasehati Anggi layaknya seorang kakak yang menasehati adiknya.
Anggi diam berusaha mencerna arti di balik ucapan Renata. Sebuah senyuman terbit di bibirnya dan sontak saja Ia menggamit lengan Renata dengan hati yang tersentuh.
"Terima kasih, Mbak..." Ucap Anggi pelan.
Renata sedikit terkejut dengan sikap Anggi yang menempel kepadanya namun wanita itu mengulas senyum manis seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Tak lama keduanya pun memilih sebuah restoran jepang yang menyediakan berbagai menu sushi yang menggugah selera. Renata sangat senang karena kini Ia memiliki partner makan untuk makanan favoritnya. Andre, Reynald maupun Gavin adalah tiga pria yang sama sekali tidak menyukai makanan mentah khas dari negeri sakura.
Setelah memesan menu yang ingin di makan, Anggi merogoh ponselnya dari dalam tas dan mengeceknya. Tak ada lagi panggilan dari Reynald sejak tadi malam. Ia memberengutkan bibir. Tau begitu tadi malam seharusnya aku angkat saja telfonnya.... Gumam Anggi sedikit menyesal karena sikap kekanakannya.
"Kenapa? Apa Reynald tak mengabarimu?". Tebak Renata yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Anggi.
Anggi lantas mengangguk pelan. "Tadi malam sebenarnya dia menelfon ku.. Tapi sengaja tidak ku angkat..." Ucap Anggi sendu.
"Hehehe.. Rupanya kau sedang merajuk? Ada hal yang perlu kau tau..." Renata mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Reynald selalu fokus pada pekerjaannya saat Ia melakukan perjalanan bisnis. Ia tidak pernah mau membuat perjalanan nya ke berbagai negara menjadi sia-sia jika Ia tidak melakukan usaha yang terbaik.Jadi aku harap kau maklum dan jangan berpikir aneh-aneh. Dia adalah pria yang setia, aku akui itu. Sejak dulu dia pria yang setia pada satu wanita walau banyak wanita yang berusaha mendekatinya..."
"Benarkah? Apa dengan mantannya pun seperti itu?". Tanya Anggi.
"Tentu saja. Reynald sangat mencintai dan setia pada wanita itu. Sampai aku berpikir dia bodoh karena mencintai seseorang hingga sedalam itu hehehe". Renata terkekeh pelan namun sedetik kemudian Renata sadar Ia telah terlalu banyak bicara dan melihat raut wajah Anggi yang menegang.
__ADS_1
••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••••