
"Apa sebelumnya kamu mempunyai kekasih?". Anggi bertanya dengan tatapan serius pada Reynald.
Reynald diam tak bersuara. Raut wajah nya sulit di artikan. Ada rasa terkejut yang sempat terlihat dari raut wajah nya namun berhasil Ia netralkan kembali dalam sekejap.
Reynald mencondongkan tubuh ke depan dan menautkan jari jemari tangan nya di atas meja.
"Apa masa lalu ku penting?". Ucap Reynald seraya mengangkat sebelah alis nya menatap tepat ke dalam manik mata gadis di hadapan nya.
Anggi yang merasa aura intimidasi dari Reynald terus berusaha mengendalikan keberanian nya. Tentu saja Ia harus tau. Ia cukup bingung dengan situasi yang di hadapi nya sekarang. Walau Ia tak menampik jika hati nya girang bukan main mendengar pria yang tanpa Ia sadari telah mengambil hati nya kini malah meminta Ia untuk jadi kekasih.
Anggi pun mengangguk pelan.
"Aku perlu tau. Situasi ini membingungkan untuk ku. Kamu tiba-tiba meminta ku jadi kekasih mu, tentu saja aku takut bila hanya di jadikan bahan pelarian dari masa lalu kamu". Ujar Anggi.
Reynald menghela napas.
"Bukan kah kau tau kalau aku terkenal jomblo?".
Anggi mengerutkan kening nya. "Itu Aku tau.. Tapi...."
"Tapi sebenarnya aku bukan seorang pria yang tidak pernah menjalin kasih dengan wanita". Reynald memotong ucapan Anggi.
Reynald menyandarkan tubuh nya ke kursi. Anggi berusaha mencerna perkataan Reynald dan sedetik kemudian gadis itu menganga.
"Jadi kamu pernah punya kekasih kan?". Anggi memastikan.
Reynald mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Tentu saja. Aku pria normal kau tau hehehe". Reynald terkekeh geli.
Anggi menunduk tersipu malu. Ia merasa bodoh harus memastikan sesuatu yang sudah ada jawaban nya.
"Dan aku memang menjadi jomblo sudah 7 bulan". Lanjut Reynald.
Anggi kemudian menatap Reynald dengan mimik wajah serius.
"Kekasih mu pasti sangat cantik".
Reynald manggut-manggut terlihat berpikir. "Hm.. Aku tak memungkiri nya". Ucap Reynald yang tentu membuat hati Anggi mencelos.
Ternyata Reynald bukan lah tipe yang suka pura-pura. Ia selalu berkata apa ada nya.
__ADS_1
"Tapi seperti ku bilang tadi, aku sudah jomblo selama 7 bulan. Itu artinya jangan panggil siapa pun kekasih ku..."
"Kecuali malam ini kau menerima ku.. Maka hanya kau yang menjadi kekasih ku". Ujar Reynald tersenyum miring.
Sungguh baru pertama kali ini Anggi di hadapkan dengan situasi canggung terkait romansa antara dua insan. Ia tak pernah punya pengalaman apapun harus bersikap bagaimana atau menanggapi seperti apa.
"Aku hanya gadis biasa... Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan semua ini pada ku?". Ucap Anggi.
Reynald meraih 1 tangan Anggi dan menggenggam nya. Manik mata pria itu menatap dalam pada Anggi yang sedang menatap dua tangan mereka yang saling berpegangan.
"Selama satu minggu terkakhir tidak bertemu dengan mu, aku selalu teringat dengan bermacam-macam ekspresi senyum, sedih, cemberut yang kau tampilkan selama 2 bulan aku mengenal mu. Ini aneh.. Tentu saja buat ku ini aneh.."
"Aku sempat anggap kau gadis yang menyedihkan saat pertama kali kita bertemu. Seiring berjalan nya waktu dan intensitas kita bertemu secara pribadi walau untuk mentoring tanpa sadar aku merasa nyaman di sekitarmu.."
Reynald menjelaskan dengan perlahan sembari menatap ke dalam manik mata Anggi. Menelisik raut wajah gadis itu di setiap ucapan nya.
"Hanya nyaman? Berarti kamu tidak benar-benar suka pada ku.. Kalau begitu untuk apa meminta ku jadi kekasih mu.."
Anggi menarik tangan yang di genggam oleh Reynald namun Reynald malah kian erat menggenggam tangan gadis itu.
"Apa kau tau kalau kenyamanan lebih penting? Kau bisa suka pada sesuatu namun jika itu tidak membuat mu nyaman, kau akan merasa risih. Tapi jika kau sudah merasakan nyaman pada sesuatu, itu sudah termasuk kau menyukai nya. Tidak kah kau tau tentang hal mendasar seperti itu?". Ucap Reynald.
Anggi mencerna kata demi kata yang Ia dengar dan menggelengkan kepala.
Reynald bersandar kembali ke kursi seraya tertawa pelan.
"Oh Tuhan.. Ternyata kau polos sekali.. Bagaimana bisa aku menyukai gadis seperti mu hahaha". Ucap Reynald mentertawakan diri nya sendiri.
"Kalau begitu jangan menyukai ku. Aku yang polos ini tidak cocok untuk mu". Ujar Anggi
"Hey.. Hey. Bukan seperti itu juga.."
"Ok.. Baik lah.. Lupakan itu. Sekarang saat nya kau menjawab pertanyaan ku.. Apa kau mau jadi kekasih ku?". Tanya Reynald.
Namun sebelum Anggi menjawab, seorang waitress datang membawa troli berisi makanan yang kedua nya pesan.
"Aku akan menjawab nya setelah makan". Ucap Anggi dan di tanggapi dengan anggukan Reynald.
Sepanjang kegiatan makan keduanya tak banyak mengobrol. Hanya sesekali Reynald menjelaskan menu makanan yang ada di piring Anggi.
Keduanya makan dengan tenang. Waktu yang tentu saja sudah memasuki malam hari membuat suasana semakin terasa romantis namun menegangkan bagi Anggi.
__ADS_1
Ia memikirkan apakah harus menerima Reynald atau menolak pria itu. Tentu saja Ia lebih condong untuk menerima, namun di sisi hati kecil nya Ia takut. Entah karena apa namun Ia merasa takut menjalani hubungan dengan Reynald Sang CEO.
•••
Selesai makan, kedua nya pun segera memutuskan untuk pulang. Reynald memutuskan untuk mengantarkan Anggi ke rumah mungil nya tanpa harus bertanya pada gadis itu.
Setelah hampir menempuh 2 jam perjalanan karena macet di setiap titik jalanan Ibu Kota, akhirnya mereka telah sampai di depan rumah mungil Anggi yang tak berpagar.
"Kamu taruh mana motor ku?" Tanya Anggi saat melihat garasi nya kosong dari dalam mobil.
"Ada di kantor ku. Kau tenang saja". Ucap Reynald.
Reynald lalu membuka seatbelt dan menggeser posisi tubuh nya miring menghadap Anggi.
"Kau belum jawab pertanyaan ku". Reynald mengingatkan dengan tatapan serius.
Anggi menggigit bibir nya gugup. Tentu saja sebenar nya gadis itu ingat namun tak tau harus membuka percakapan seperti apa.
"Kau menerima ku atau kau menolak ku?". Tanya Reynald lagi.
Anggi menatap pada Reynald. "Kamu tidak bermain-main dengan ku, kan?".
Reynald menggeleng seraya tersenyum. "Aku tidak pernah bermain-main dengan hati seseorang". Ucap nya.
Cukup lama Anggi diam menatap Reynald. Gadis itu mengulum bibir nya sembari menarik napas perlahan.
"Aku menerima mu". Ujar Anggi singkat namun berefek seperti bom hiroshima pada jantung nya.
Reynald sontak saja menggenggam tangan Anggi dan tersenyum lebar.
"Terima kasih sudah percaya pada ku". Ucap Reynald yang di angguki oleh Anggi.
Reynald mendekat perlahan ke arah Anggi membuat jantung nya berdetak lebih kencang dari sebelum nya. Gadis itu reflek memejamkan mata.
Namun beberapa detik Ia menunggu tak di rasanya ada ciuman di bibir nya. Hanya hembusan napas hangat yang terasa di kulit pipi nya. Anggi membuka mata mengintip sedikit dan melihat Reynald mengulum senyum.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Anggi hingga membuat gadis itu tertegun menatap Reynald.
"Kau memikirkan apa tadi hm? Wah.. Kau benar-benar gadis mesum". Ujar Reynald seraya mencubit kecil pipi Anggi hingga bersemu merah.
__ADS_1
•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••