
Beberapa hari kemudian tibalah hari dimana Anggi harus pulang kembali ke Abu Dhabi. Ia di antar oleh Hendra, Sang Ayah ke bandara. Sepanjang perjalanan menuju bandara Ia hanya memandangi setiap sudut kota Jakarta yang Ia lewati. Merekam segala hal yang ada di kota kelahirannya.
"Aku akan mengunjungimu bulan depan" Ujar Hendra membuyarkan lamunan Anggi.
Anggi menoleh ke arah Hendra dan menatapnya dengan mengerutkan kening.
"Bukankah itu terlalu cepat? Biasanya Ayah akan menemuiku 6 bulan sekali".
"Kedua orang tua Rashaad mengundangku datang di acara ulang tahun perusahaan keluarga mereka. Tentu saja aku harus hadir untuk memenuhi undangannya". Ujar Hendra.
"Sampai saat itu, aku harap kau memikirkan dengan baik kelanjutan hubunganmu dengan Rashaad. Aku tidak akan memaksakan kehendakku. Karena hanya kau yang tahu bahagiamu"
Anggi termenung mendengar penuturan Hendra. Ia lalu bersandar di bahu sang ayah dan menggamit lengan pria paruh baya tersebut dengan senyum terukir di bibir.
Tidak terasa mobil yang di tumpangi oleh Anggi dan Hendra pun sudah sampai ke bandara. Sang supir segera turun dari mobil saat berhenti di drop point bandara. Ia menurunkan 3 koper Anggi dari dalam bagasi mobil.
"Kau parkir saja dulu. Jika aku sudah selesai, aku akan menelfonmu". Ujar Hendra pada sang supir.
"Baik, Tuan". Sang supir pun mengangguk sopan dan segera pamit.
Masih ada waktu sekitar 1 jam lagi hingga waktu keberangkatan. Anggi yang sudah check in melalui online menjadi cukup leluasa tidak terburu-buru. Keduanya pun berjalan menuju area tunggu. Anggi seharusnya bisa menunggu di lounge yang di sediakan khusus untuk penumpang kelas utama dan kelas bisnis. Namun karena Hendra tidak bisa ikut masuk ke area lounge, maka Anggi pun memilih untuk duduk di area luar.
Ponsel Anggi tiba-tiba berbunyi nyaring. Ia segera merogoh ke dalam tas kecilnya dan melihat caller id di layar. Anggi segera menekan tombol hijau.
"Halo, Mbak"
"Kau dimana? Aku sudah di terminal 3 namun dari tadi tidak menemukanmu. Apakah kau di A, B, C atau di mana?"
Anggi terkekeh pelan saat Renata tanpa basa basi melontarkan pertanyaan begitu saja.
"Tentu saja Mbak belum melihatku. Aku baru saja sampai. Sekarang aku ada di...."
"Aunty Anggi!!!"
Terdengar sebuah teriakan dari arah belakang. Anggi dan Hendra membalikkan badan dan melihat Jessy yang tersenyum lebar seraya berlari ke arahnya.
Jessy tanpa canggung langsung saja memeluk tubuh Anggi. Gadis kecil itu lalu mendongakkan kepalanya menatap Anggi.
"Aunty jahat! Kenapa tidak bilang padaku kalau hari ini Aunty akan pulang?"
Anggi menatap Renata sekilas dengan raut wajah kebingungan.
"Maaf. Dia mendengar pembicaraanku dengan Reynald. Dia terus menerus merengek ingin ikut denganku ke bandara" Sahut Renata merasa bersalah.
Anggi tersenyum dan menunduk menatap Jessy yang masih memeluk dirinya. Anggi pun segera berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil yang menawan itu. Ia tersenyum hangat seraya memegang kedua bahu Jessy.
"Maafkan Aunty tidak bilang padamu ya"
__ADS_1
Jessy memasang raut wajah cemberut. Gadis kecil itu mencebikkan mulutnya. "Apa aunty tidak akan kembali lagi ke sini? Daddy bilang kalau Aunty tidak akan kembali"
Anggi tertegun. Mengapa Reynald terlalu terus terang pada gadis kecilnya?
Anggi mengulas senyum hangat. Ia berusaha merangkai kalimat yang bisa di mengerti dan di terima oleh Jessy.
"Aku sayang dengan Aunty" Ujar Jessy polos.
"Kata Daddy aku berlebihan. Tapi hanya Aunty temanku bermain barbie"
"Mommy atau Aunty Renata bahkan tidak pernah bermain barbie denganku" Sahut Jessy yang membuat Renata salah tingkah dan tersenyum kikuk saat Anggi melirik ke arahnya.
Oh Astaga.. Kenapa aku tidak tega pada gadis kecil yang polos ini?
Anggi membatin seraya menatap Jessy yang sedang memasang raut wajah murung.
"Aku pun sayang denganmu, Jes. Walau kita baru dua kali menghabiskan waktu bersama, tapi kamu memang gadis kecil yang menyenangkan"
"Kamu bisa mengunjungiku kapanpun kamu mau. Jadi jangan bersedih". Ujar Anggi mengelus lembut pipi Jessy.
Jessy pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Gadis kecil itu lalu beralih menatap Renata.
"Aunty Ren, mana boneka barbie yang aku taruh di tas Aunty?" Tanya Jessy pada Renata.
Renata pun merogoh tas nya dan mengeluarkan sebuah barbie dan menyerahkannya pada Jessy. Gadis kecil itu menatap sebentar barbie yang berada di tangannya lalu menyodorkannya ke arah Anggi.
"Barbie ini adalah barbie kesayanganku. Ini barbie pertama yang di belikan oleh Daddy untukku. Tapi sekarang untuk Aunty saja"
Anggi dengan ragu menerima boneka barbie yang di berikan oleh Jessy. "Kenapa kamu memberikannya padaku kalau ini barbie kesayanganmu?"
"Karena Aunty adalah temanku. Daddy selalu bilang kalau aku harus sayang dengan teman-temanku"
Anggi merasa terenyuh mendengar penuturan polos dari seorang anak kecil yang tentu saja hatinya masih sangat murni. Anggi meraih Jessy ke dalam pelukannya dan membelai kepalanya dengan lembut.
"Terima kasih sudah menganggap Aunty adalah temanmu. Kamu mau tau 1 rahasia?". Tanya Anggi setelah mengulur pelukannya.
Jessy mengangguk.
Anggi mendekatkan bibirnya ke telinga Jessy dan berbisik.
"Kamu adalah teman pertama Aunty". Ujar Anggi seraya terkekeh pelan.
Mendengar bisikan Anggi sontak saja membuat Jessy tersenyum lebar.
"Sampai bertemu lagi, Jes. Kamu harus patuh pada Daddy dan Mommy mu ya. Oke?" Anggi menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Jessy.
Jessy pun menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Anggi seraya keduanya saling melemparkan senyum hangat.
__ADS_1
Hingga tiba saatnya Anggi harus segera masuk ke dalam pesawat. Ia segera berpamitan dengan Hendra dan Renata dan segera berlalu menuju area penumpang.
Di pesawat yang sudah lepas landas sejak tiga puluh menit yang lalu, Anggi yang berada di kelas bisnis tengah menatap boneka barbie yang di berikan oleh Jessy. Ia tersenyum saat melihat sebuah inisial J terukir di bagian punggung barbie tersebut.
Anggi menghela napasnya pelan dan beralih menatap jendela pesawat yang sejauh mata memandang hanya menampakkan hamparan putih gumpalan awal.
Anggi termenung mengingat percakapannya tempo hari dengan Reynald.
"Aku tidak akan menjadikanmu orang ketiga. Tidak akan pernah. Karena aku akan menjadikanmu satu-satunya".
Anggi menatap Reynald dengan tajam. "Aku seorang wanita. Bila kamu meninggalkan istrimu hanya untuk bersamaku, aku tidak sudi! Kamu menyakiti hati wanita yang telah melahirkan anakmu hanya untuk bersama wanita lain. Apa itu masuk akal, Rey?"
Reynald menyugar rambutnya kasar. Raut wajah pria itu terlihat sangat frustasi.
"Mulailah dari awal dengan istrimu. Kamu sangat mencintainya sebelum bertemu denganku kan? Maka tumbuhkan lagi cinta itu di hatimu hingga tidak tersisa sedikitpun ruang untukku"
Tak di pungkiri hati Anggi pun terasa sakit saat mengucap seperti itu pada Reynald. Sesuatu seperti meremas hatinya dengan kuat.
"Kenapa semudah itu kau menyuruhku melakukan itu? Hanya aku yang tahu bahagiaku berada di mana dan dengan siapa! Kau tidak mempunyai kapasitas untuk mengatur hati seseorang"
Anggi mengusap pipinya yang basah dan menarik napas dengan pelan berusaha menguasai diri.
"Rey... Situasi di antara kita sangat rumit. Banyak yang akan tersakiti jika kamu dan aku hanya memikirkan kebahagiaan kita berdua. Aku tidak melarangmu untuk mencintaiku. Hanya saja tidak harus selalu berakhir bersama kan?"
Reynald melangkah maju mendekat pada Anggi. Pria itu menusuk Anggi tepat ke dalam manik matanya.
"Apa kau berpikir cinta itu tidak harus saling memilki? Cukup melihat kau tersenyum bahagia dan hatiku ikut bahagia? Begitukah maksudmu?"
"Omong kosong! Semua orang ingin memiliki orang yang mereka cintai! Selalu ingin berada di sampingnya, melihatnya bangun pagi dan tertidur lelap sepanjang malam di sisi. Sulit bagiku mencintai seseorang namun tidak bisa memilikinya"
Anggi tertegun tak mampu menjawab apapun. Ia hanya menatap nanar Reynald dengan menahan tangis.
"Kenapa kamu bisa mencintaiku hingga seperti ini?"
Reynald menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak memiliki alasan apapun ketika menyadari jika aku mencintaimu, maka dari itu aku pun tidak memiliki alasan apapun untuk berhenti mencintaimu"
"Aku mencintaimu tanpa ada keraguan sedikitpun"
"Pergilah jika kau memang harus pergi. Aku tidak akan menahanmu saat ini. Tapi bukan ranahmu juga untuk mengatur hati dan kebahagiaanku. Tunggu aku"
•••
Anggi menghela napas saat mengingat raut wajah Reynald yang penuh kesedihan malam itu. Tatapan mata pria itu menyiratkan kesungguhan yang besar sekaligus rasa putus asa.
Anggi menopang dagu dengan tangannya seraya memandang hamparan awan putih.
__ADS_1
Kenapa di dunia ini harus ada kata cinta? Anggi membatin dalam hati.