Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 31


__ADS_3

"Aku belum mandi... Pasti tubuhku mengeluarkan bau tak sedap". Cicit Anggi tak mampu menatap Reynald.


Reynald sontak saja terkekeh geli melihat raut wajah Anggi yang seperti kepiting rebus. Reynald lantas mendekat pada kekasih nya dan mencondongkan tubuh ke hadapan Anggi seakan mengendus aroma tubuh gadis itu.


"Hm.. Tapi kau tidak bau.." Gumam Reynald lalu menarik tubunya kembali dan bersandar di sofa.


"Tetap saja aku risih.. Kamu jangan mendekat dulu dengan ku". Ujar Anggi.


"Baiklah.. Baiklah.. Terserah.." Ujar Reynald tersenyum miring.


"Oh Iya!". Anggi mendongak menatap Reynald.


Pria itu mengangkat sebelah alisnya melihat Anggi dengan pandangan bertanya.


"Kenapa kamu tidak diskusi dulu denganku tentang rumah?". Ujar Anggi.


"Kenapa? Kau keberatan?". Reynald balik bertanya.


Anggi menganggukkan kepala. "Tentu saja aku keberatan. Kamu tidak perlu seperti itu. Aku nyaman dengan kondisi yang ada". Ucap Anggi.


"Tapi aku yang tidak nyaman membayangkan kau tinggal dengan kondisi rumah seperti itu. Apa kau mau aku membelikan mu apartemen? Kau bisa pilih di mana saja". Ucap Reynald.


Anggi melongo mendengar ucapan yang keluar dari mulut Reynald. Ia menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Membeli apartemen seperti membeli kerupuk saja, gumamnya dalam hati.


"Tidak perlu! Aku tidak perlu apa-apa darimu".


"Baiklah.. Jadi kau terima saja apa yang ku lakukan dengan rumah mungil mu itu". Sahut Reynald.


"Aku tidak mau kau hujan kehujanan dan panas kepanasan. Kau tau? Rumah mu yang tanpa kanopi sungguh tidak nyaman. Aku juga melihat atap di sekitar dapur sudah ada jejak bocor. Aku hanya ingin memastikan kekasih ku tinggal di tempat yang nyaman". Ujar Reynald lagi.


"Aku tidak akan kehujanan atau kepanasan jika di dalam rumah". Sanggah Anggi.


"Maksud ku teras rumah mu! Kalau hujan, air akan menyebar ke jendela kamar mu dan membasahi teras begitu saja. Kalau panas terik, sinar matahari langsung menyorot hingga sangat terkesan gersang". Reynald menjelaskan maksudnya hingga membuat Anggi manggut-manggut.


Memang benar apa kata pria itu, Ia tak mengelak sedikitpun. Lalu tak lama kemudian, bel penthouse berbunyi dan seseorang terdengar sedang menekan password di pintu utama.


"Itu pasti Renata". Ujar Reynald seraya bangkit dari sofa.


Benar saja. Pintu pun terbuka dan nampak Renata dengan gaya nya yang selalu modis melangkah dengan tegap masuk ke dalam penthouse. Wanita itu lalu memberikan dua buah paper bag pada Reynald.


"Ini pesanan mu". Ucap Renata singkat sembari berlalu menuju Anggi yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


"Halo Anggi.." Ucap Renata seraya tersenyum manis mendekat dan ingin cium pipi kiri kanan layaknya dua orang wanita yang berjumpa.


"Halo Mbak... Ta.. Tapi aku belum mandi.. Jangan". Ujar Anggi gugup seraya menadahkan tangan ke depan.


Renata sontak saja tertawa. "Ya Tuhan Rey.. Kenapa dia menggemaskan sekali?". Ujar Renata beralih menatap Reynald.


"Ya kan? Dia memang gadis yang menggemaskan hehe". Ucap Reynald yang makin membuat Anggi tersipu malu.


"Kalau begini, kau bisa menjadi adik ku!". Ujar Renata girang.


"Jangan macam-macam. Waktu nya hanya untuk ku". Ucap Reynald mendelikkan mata pada Renata.


Rsnata mendengus tak suka. "Belum apa-apa kau posesif sekali! Aku menyukai pilihan mu kali ini. Tidak seperti Cla..." Renata sontak saja menutup mulutnya rapat-rapat tak melanjutkan ucapan nya.


Anggi mengerutkan dahi. "Tidak seperti siapa, Mbak? Cla... Cla, apa?". Tanya Anggi.


Reynald menatap Renata dengan pandangan seakan siap untuk membunuh dirinya saat itu juga. Renata menelan ludah tak mampu berkata apapun.


"Tidak seperti wanita lain maksudnya". Ucap Reynald.


"Sudah.. Sudah.. kau mandi lebih dulu setelah itu sarapan. Ayo aku antar ke atas". Lanjut Reynald segera mengajak Anggi agar gadis itu tak banyak bertanya lagi.


"Ya. Kamar ku di lantai atas. Kau mandi di kamar mandi pribadi ku. Kekasih ku tidak memakai kamar mandi tamu". Ucap Reynald.


Tanpa banyak pertanyaan Anggi pun mengikuti Reynald menuju lantai atas setelah sebelumnya berpamitan pada Renata.


Di lantai atas, Reynald segera saja membuka pintu kamar tidurnya. Anggi memandang takjub kamar tidur pria itu yang di dominasi warna abu dan putih. Tepat di atas headrest kasurnya. Di dinding terpajang sebuah foto Reynald berukuran sangat besar.


Reynald membuka ruang wardrobe nya lalu mengambil sebuah handuk bersih di rak bawah dan memberikan nya pada Anggi.


"Ini handuk mu. Baju bersih yang Renata bawakan aku simpan di sini". Ucap Reynald seraya menunjuk sebuah paper bag.


Anggi mengangguk pelan. "Terima kasih..."


"Aku ke bawah dulu menemui Renata". Ucap Reynald dan berlalu meninggalkan Anggi seorang diri di kamarnya.


Anggi lantas segera masuk ke dalam kamar mandi dan lagi-lagi memandang takjub.


Hidupnya denganku bagai bumi dan langit..


15 menit kemudian Anggi pun selesai membersihkan dirinya. Tadi nya Ia ingin lama-lama berendam air hangat dengan berbagai minyak aromatherapy yang ada di dalam kamar mandi Reynald, namun urung Ia lakukan karena Ia masih merasa segan di tempat kekasih nya itu.

__ADS_1


Anggi lalu melangkah menuju wardrobe dan mengeluarkan pakaian yang di bawa oleh Renata. Ia tertegun saat melihat model baju yang ada di tangan nya. Ia meregangkan kedua tangan nya dan melihat dari atas ke bawah model baju tersebut.


"Ini pendek sekali.." Gumam Anggi.


Ia lalu melihat kembali ke dalam paperbag namun tak ada apapun lagi selain pakaian dalam. Anggi menghela napas dan menatap dress di tangan nya. Mau tak mau Ia memakai itu.


Tak lama kemudian, gadis itu mematut dirinya di depan cermin yang ada di ruang wardrobe. Rambutnya yang basah masih Ia gelung rapat dengan handuk. Anggi melihat penampilan dirinya.


"Ternyata dress ini sangat cocok untuk ku. Mbak Renata pintar sekali memilihnya". Anggi bermonolog dengan dirijya sendiri.


Dress berwarna hijau mint yang simple dengan panjang sejengkal di atas lutut membuat tampilan Anggi terlihat menarik. Gadis itu berputar ke samping kiri dan kanan menatap tampilan dirinya. Ia tak sadar jika sedari tadi Reynald tengah bersandar di pintu wardrobe seraya bersedekap dada menatap tingkah Anggi di depan cermin.


Reynald lantas melangkah menghampiri Anggi dan memeluknya dari belakang. Sontak saja Anggi diam membeku.


"Kau cantik sekali...." Ucap Reynald pelan.


Pria itu lalu menyusupkan wajah nya ke leher jenjang Anggi yang terekspos. "dan harum...." Lanjut Reynald seraya menghirup aroma tubuh Anggi hingga membuat tubuh gadis itu meremang.


Reynald mengulur pelukan nya dan memutar tubuh Anggi hingga menghadap me arahhya. Manik mata keduanya saling menatap dengan intens.


"Boleh kah aku mencium mu?". Tanya Reynald.


Anggi gugup bukan main. "A.. Aku... Bukan kah kau.. Hmm.. Kau kan sudah pernah menciumku". Ujar Anggi tiba-tiba gagap.


Reynald tersenyum. Jarinya lalu mengelus bibir Anggi dengan lembut. "Kali ini aku ingin mencium mu di sini". Ujar Reynald pelan.


Anggi menganga terkejut. Hatinya berdegup kencang. Namun tanpa menunggu Anggi memberikan jawaban, Reynald mendekatkan wajahnya hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napas hangat dari pria itu.


Anggi reflek memejamkan mata dan merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Anggi yang tak memiliki pengalaman apapun hanya bisa diam menutup bibirnya. Ini adalah ciuman pertamanya.


Reynald lantas menarik wajahnya mundur ke belakang hingga Anggi membuka mata menatap wajah pria itu.


"Apa kau tidak pernah berciuman?". Tanya Reynald.


Anggi pun menggeleng pelan seraya menunduk malu membuat Reynald tersenyum miring.


Pria itu lantas menarik dagu Anggi hingga keduanya saling menatap.


"Kalau begitu... Kau ikuti aku..." Ucap Reynald seraya mencium kembali bibir Anggi dengan lembut.


••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••

__ADS_1


__ADS_2