Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 26


__ADS_3

"Kau harus mentraktir ku". Suara bariton seseorang menginterupsi diri nya.


Anggi membalikkan badan ke belakang dan melihat seorang pria tampan yang berdiri dengan gagah nya sedang menatap pada diri nya seraya tersenyum miring.


Anggi menyisir tampilan pria yang sudah satu minggu tak di temui dan tak mungkin Ia hubungi. Pria itu memakai baju setelan kantor body fit yang menambah kemaskulinan nya.


"Sudah menikmati ketampanan ku?". Ujar Reynald seraya melangkah mendekat pada Anggi.


Anggi tertegun melihat Reynald yang berjalan ke arahnya. Entah mengapa pria itu semakin hari semakin menawan di matanya.


Reynald berdiri di hadapan Anggi dan mengulurkan tangan nya ke arah gadis itu.


"Selamat akhirnya kau bisa segera sidang." Ucap Reynald.


Anggi menatap uluran tangan Reynald dan segera menjabat nya.


"Terima kasih.." Ucap Anggi tersenyum manis.


"Tapi bagaimana kau tau kalau aku akan sidang?".


Reynald memasukkan kedua tangan nya ke saku celana dan mengedikkan bahu.


"Hanya menebak saja dari ekspresi mu tadi.."


"Kau harus mentraktir ku. Aku cukup banyak berjasa dalam pembuatan skripsi mu ini". Lanjut Reynald.


"Tapi... Bukan kah setelah sidang aku harus merevisi lagi? Biaeanya seperti itu kan..." Ucap Anggi.


"Aku yakin punyamu tidak akan banyak yang perlu di revisi lagi. Itu sudah mendekati sempurna. Kau tenang saja". "Ujar Reynald seraya menatap Anggi.


Anggi tersenyum lega. Sedikit kekuatiran di balik kebahagiaan nya tidak akan terjadi. Gadis itu lalu menatap Reynald dengan tatapan berbinar.


"Baiklah.. Kamu mau makan di mana? Aku akan mentraktirmu". Ucap Anggi.


"Apa kau sedang membiarkan ku memilih tempat makan sesuka ku?". Reynald mengangkat sebelah alis nya.


Anggi terdiam sejenak teringat sesuatu. Ia mengibaskan tangan nya ke depan dengan raut wajah panik.


"Tidak... Tidak..! Maksud ku biar aku yang memilih tempat nya.. Tapi... Ah.. Aku bingung...." Ucap Anggi yang tiba-tiba memberengut.


"Bingung kenapa?". Tanya Reynald.

__ADS_1


"Kalau aku yang memilih restoran nya, aku tidak cukup yakin kalau makanan di sana masuk selera mu. Tapi kalau aku yang membiarkan mu untuk memilih restoran nya, uang ku yang tidak bisa membiayai selera mu". Ucap Anggi menunduk lesu.


Reynald terkekeh geli hingga menampakkan barisan gigi yang putih dan rapi.


"Aku tidak benar-benar berniat untuk meminta mu mentraktirku. Aku, Reynald. Pantang untuk ku di belikan sesuatu oleh wanita". Ucap Reynald percaya diri.


Anggi mencebikkan mulut nya mendengar perkataan narsis pria tampan itu.


"Ayo aku lapar. Temani aku makan. Cacing di perut ku belum di beri makan sejak pagi". Ajak Reynald.


"Tunggu!". Anggi menahan lengan Reynald.


"Apa lagi?".


"Tujuan mu kemana? Aku akan mengikuti mu dari belakang pakai sepeda motor". Ucap Anggi seraya meraih helm nya dari atas spion.


Reynald mengambil helm tersebut dari tangan Anggi lalu menaruh nya kembali ke atas spion. Ia menarik lengan Anggi untuk mengikuti nya. Anggi membalikkan badan melihat sepeda motor nya.


"Bagaimana dengan sepeda motor ku?". Tanya Anggi seraya menoleh kembali ke belakang.


Reynald berhenti dan menadahkan tangan nya pada Anggi.


"Mana kunci motor mu? Berikan pada ku". Ucap Reynald.


Reynald mengambil kunci tersebut lalu memasukkan nya ke dalam kantung celana. Pria itu pun melangkah kembali menuju tempat parkir di mana mobill nya berada. Anggi mengikuti dari belakang walau sesekali gadis itu menoleh ke belakang menatap cemas nasib sepeda motor milik nya.


Di dalam mobll, Reynald menelfon Andre untuk meminta supir kantor mengambil sepeda motor milik Anggi di Universitas.


Reynald lalu melajukan mobil nya keluar dari parkiran lalu tepat di pos security Ia membuka kaca jendela nya lebar-lebar.


"Aku titip kunci motor ini. Nanti ada seseorang yang akan mengambil nya dalam waktu 1 jam". Ucap Reynald tanpa basa basi.


Security itu melongok ke dalam mobil dan tersenyum ramah tatkala melihat Anggi yang duduk di kursi penumpang.


Reynald lalu membuka dompet nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah menggoda lalu di berikannya uang itu pada sang security.


"Ini untuk mu. Jaga motor itu sebelum orangku datang mengambilnya". Ucap Reynald dengan nada penuh penekanan.


Sang security itu pun mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih".


Reynald tak menanggapi lalu segera menutup kaca dan segera melajukan mobilnya menembus keramaian lalu lintas di sore hari.

__ADS_1


Cukup lama kedua nya terdiam tak bersuara. Hanya alunan musik dari radio saja yang menemani keheningan di antara mereka.


Reynald membelokkan mobil nya ke sebuah butik terkenal. Ia memarkirkan mobil nya dengan sempurna dan segera membuka seatbelt nya dan beranjak keluar.


Anggi tanpa banyak bertanya segera mengikuti Reynald. Ia mengekori pria itu hingga masuk ke dalam butik. Anggi terperangah saat melihat banyak sekali koleksi dress ataupun baju yang cantik terpajang.


Seorang wanita muda yang cantik dan berkelas menghampiri keduanya.


"Hi Rey.. Lama gak jumpa. Tambah tampan aja.." Ujar wanita itu seraya mencium pipi kiri dan kanan Reynald.


Anggi melengoskan wajah nya canggung.


"Aku butuh baju untuk gadis ini. Bisa kau carikan untuk nya?". Ujar Reynald seraya menunjuk ke arah Anggi.


Wanita itu yang bernama Farah segera menyisir Anggi dari ujung kepala hingga kaki. Lalu Farah berbisik pada Reynald, "Apa dia simpanan mu?".


Reynald melotot pada Farah. "Simpanan apanya! Memang kau pikir aku pria beristri!". Gerutu Reynald tak terima dengan tuduhan Farah.


Farah terkekeh pelan. "Aku hanya bercanda hahaha".


"Sudah. Jangan banyak tanya lagi. Kau bawa gadis itu dan pilihkan sesuatu yang pas untuk tubuhnya". Ujar Reynald.


"Kau mau sesuatu yang santai atau formal?". Tanya Farah serius.


Reynald nampak berpikir sejenak.


"Hmm.. Yang santai saja lebih cocok untuknya.. Tapi cari yang terbaik yang kau punya". Usul Reynald.


Farah pun mengangguk dan menghampiri Anggi yang sedari tadi sedang berkeliling melihat koleksi pakaian hingga sepatu di butik yang Ia kunjungi saat ini.


"Ayo..Kau ikut dengan ku ke ruang ganti". Ucap Farah seraya tersenyum.


Anggi mengerutkan kening tak mengerti.


"Ruang ganti? Untuk apa aku harus ke ruang ganti?".Tanya Anggi heran.


Farah meraih lengan Anggi dan menarik nya pelan.


"Kau ikut saja dengan ku. Kau harus ambil baju yang paling mahal di butik ku ya hehehehe". Ucap Farah terkekeh.


"Tapi......"

__ADS_1


"Kau tidak perlu pikir kan harga nya. Pria jomblo mengenaskan di depan itu yang akan membayar tagihan nya untuk mu". Farah memotong ucapan Anggi seraya masih terkekeh geli karena memiliki ide cemerlang untuk memoroti uang Reynald, teman kuliah yang Ia sangka jomblo sepanjang masa.


••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••


__ADS_2