
Hari itu adalah awalnya. Hari di mana Reynald masuk lagi dalam kehidupan Anggi. Entah rencana apa yang akan Tuhan berikan pada Reynald maupun Anggi namun keduanya sepakat untuk menjalani hubungan saat ini dengan santai.
Hari demi hari hingga sudah bulan ke 5 mereka lalui dengan berhubungan via telfon ataupun messenger. Sesekali Reynald yang datang mengunjungi karena Anggi harus tetap kembali ke Abu Dhabi untuk memantau perusahaannya. Walau sebenarnya Reynald lebih banyak merajuk dan kesal sendiri kala mengingat Ia harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Anggi di kali kedua ini.
Anggi yang sedang fokus memeriksa beberapa berkas di kejutkan oleh suara ketukan di pintu. Anggi menatap ke arah pintu dan nampaklah Mila mengintip dari arah luar.
"Mbak, ada Tuan Reynald. Dia sudah di lobby. Mungkin saat ini sudah di lift menuju kemari" Ujar Mila.
Anggi menghela napasnya seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Oke. Terima kasih, Mil" Anggi melemparkan sebuah senyuman yang di angguki oleh Mila dan kembali menutup pintu.
Anggi lantas merapihkan beberapa berkas yang sejak tadi Ia periksa. Tak lama pintu kembali terbuka beriringan dengan Reynald melangkah masuk dengan sebuah senyuman lebar di wajah tampannya.
"Ada apa tiba-tiba ke Abu Dhabi lagi?" Tanya Anggi seraya beranjak berdiri dari kursinya dan menghampiri Reynald.
Setelah melewati banyak hal, hal seperti ini tidak langsung membuat Anggi melayang. Anggi menjadi lebih berhati-hati dalam banyak hal, apalagi untuk kejutan semacam ini yang mana Reynald sangat sering melakukannya. Jadi rasanya kurang tepat juga bula disebut kejutan.
Reynald mengecup kening Anggi dengan lembut. "Aku baru sampai setelah penerbangan cukup jauh, dan tanggapanmu seperti ini?" Rajuk Reynald.
Anggi menatap Reynald cukup lama, mencoba membaca apa yang ada di sana. Setelah melalui kejadian tak terduga dengan Reynald di masa lalu, Anggi semakin tidak canggung saat berhadapan dengan Reynald. Tidak ada lagi Anggi yang tersipu malu saat Reynald menghujaninya dengan kata mesra atau perilaku romantisnya.
Anggi mengulas senyum manis dan meraih lengan Reynald untuk mengajaknya duduk di sofa. Keduanya pun duduk bersisian.
"Kamu ini sudah sering kemari seperti jarak Jakarta-Abu Dhabi hanya seperti jarak Jakarta-Bogor. Aku jadi tidak heran kalau melihatmu datang kemari mendadak seperti sekarang" Ucap Anggi.
Reynald terkekeh pelan menampakkan barisan giginya yang rapih dan putih. "Aku merindukanmu. Karena itulah jarak sejauh apapun tidak akan berarti untukku".
"Tapi kamu harus memperhatikan kesehatanmu juga Rey... Bukankah baru kemarin kamu kembali dari perjalanan bisnis? Mbak Renata melapor padaku".
"Wanita itu mulutnya ember sekali" Gerutu Reynald sedikit bergumam namun masih bisa tertangkap oleh indera pendengaran Anggi.
Anggi mencubit kecil pinggang Reynald. "Hey aku justru sangat berterima kasih padanya! Kondisi kita saling berjauhan, aku tidak tahu aktifitasmu sebenarnya. Mbak Renata sangat membantuku" Sahut Anggi mencebikkan bibirnya.
"Aku hanya bekerja sayang atau bepergian dengan Jessy".
Anggi terdiam menatap Reynald. Mencari sebuah kejujuran yang memang terpancar dari tatapan pria itu.
Reynald tersenyum simpul dan menggenggam tangan Anggi. "Tidak ada apapun yang aku sembunyikan darimu sayang. Percayalah.."
__ADS_1
"Ya aku kuatir saja jika nanti ada wanita lain yang mendatangimu dan mengakui dia hamil anakmu. Seperti masa lalu". Sahut Anggi to the point membuat Reynald merasa tertohok.
"Mungkin nanti ada.. Aku belum tahu pasti" Ujar Reynald ambigu.
Plak!
Anggi memukul bahu Reynald dengan keras hingga pria itu mengaduh kesakitan. "Dasar pria brengsek!" Umpat Anggi menatap Reynald dengan penuh amarah.
"Apa tidak cukup di masa lalu saja hah? Kurasa senjatamu itu perlu di potong sehingga tidak bisa menebar benih dalam sarang manapun lagi!"
Reynald merasa ngeri dan ngilu saat mendengar ancaman dari Anggi. Pria itu pun langsung memegang kedua pundak Anggi agar mengarah padanya.
"Maksudku wanita itu kau...."
"Siapa tahu di masa depan kau hamil anak ku kan? Lalu jika senjataku tidak ada, bagaimana kita bisa mempunyai anak kelak?" Tanya Reynald menatap Anggi dengan sangat serius.
Anggi mengerutkan kening mencerna sejenak maksud ucapan Reynald. Anggi pun lantas mendorong dada Reynald sedikit menjauh.
"Siapa bilang aku mau mempunyai anak darimu? Kamu jangan berharap bisa menyentuhku sembarangan! Jangan samakan aku dengan wanita gampangan!"
Anggi mencebikkan bibir tak tergoda oleh rayuan maut yang di lemparkan oleh Reynald. Saat ini walau Anggi mengikuti hatinya dan menerima Reynald kembali, namun tak di pungkiri Anggi lebih berhati-hati. Ia tidak ingin menjadi orang bodoh yang tidak belajar dari pengalaman.
Anggi saat ini hanya menyerahkan segala hal pada Tuhan. Setelah mengalami kegagalan dengan Rashaad, Ia belajar pasrah bahwa segala rencana pasti kembali pada Sang Pemilik Alam Semesta. Jadi saat ini Anggi menjalani hubungan kedua kalinya dengan Reynald mengalir seperti air mengalir tanpa ada rencana-rencana yang mungkin membuaikan angan.
"Kau sudah makan? Aku belum makan.. Perutku lapar sekali..." Ujar Reynald seraya mengelus perutnya.
Anggi lantas berdiri begitu saja sementara Reynald menatapnya dengan bingung. "Mau kemana?"
"Katanya kau lapar? Ayo kita pergi makan!" Ujar Anggi seraya menarik lengan Reynald untuk bangkit dari sofa. Keduanya pun tanpa membuang waktu segera keluar dari kantor Anggi menuju sebuah restoran.
Resto Corniche
Reynald memandang ke seluruh penjuru resto dengan pemandangan langsung ke arah pantai. Keduanya sedang duduk di dekat jendela yang memungkinkan mereka melempar sejauh apapun pandangannya luar.
"Kau ingat tidak dulu di pantai itu kita mengobrol tengah malam"
Anggi menatap ke arah yang di tunjuk oleh Reynald dan mengulas sebuah senyuman. "Ya. Seorang pria yang datang ke pantai tengah malam dengan setelan tuxedo dan sepatu pantofel"
__ADS_1
Reynald tertawa geli mengingat penampilannya saat itu. "Mau bagaimana lagi? Aku sedang bertengkar hebat dengan Clara malam itu. Jadi aku malas berada di kamar hotel dan langsung pergi begitu saja"
Anggi menatap ke arah Reynald tanpa kedip dengan dua tangan menopang dagu. "Kamu terlihat tidak canggung menceritakan mantan istri kesayanganmu pada kekasihmu sekarang" Ujar Anggi mengulas senyum.
Sontak saja mendengar hal itu membuat Reynald gelagapan. Ia takut Anggi akan kembali marah padanya. Ah entahlah! Reynald merasa Anggi yang sekarang sangat galak dan tak segan menunjukkan perasaan apapun yang sedang di rasakan oleh wanita itu. Untuk Reynald, Anggi yang menggemaskan sudah hilang!
"Eh.. Mmmmm.. Bukan begitu maksudku..." Reynald tiba-tiba kikuk.
"Apa kamu tidak mau sekalian ceritakan bagaimana kehidupan ranjangmu dengannya?"
Reynald menganga terkejut dengan ucapan Anggi. "Sayang... Tidak.. Aduh bagaimana sih aku menjelaskannya"
"Maaf. Oke? Aku hanya bermaksud untuk nostalgia tentang kita saja. Tidak bermaksud membawa Clara dalam hal ini" Ucap Reynald dengan nada dan raut wajah yang sangat serius.
Anggi menatap Reynald sangat lama hingga akhirnya Ia terkekeh geli membuat Reynald menautkan keningnya.
"Aku hanya bercanda, Rey." Ujar Anggi seraya menggenggam tangan Reynald dan menatap jari jemari mereka yang saling bertaut.
"Aku sudah tahu resikonya saat memutuskan menerima mu kembali. Kamu sudah memiliki Jessy. Itu bukti nyata sudah terjadi banyak hal antara kamu dan mantan istrimu. Aku mengerti dan aku bisa menerimanya. Kamu pun tahu....Aku juga memiliki masa lalu dengan Rashaad. Walau tidak terjadi hal-hal yang aneh antara kami, tapi Rashaad mendampingiku bertahan di negara ini dan dia mengisi hari-hariku. Jadi aku rasa kita berdua sama dalam hal ini... Tidak apa"
Reynald tertegun melihat ketenangan yang terpancar dari Anggi. Tak ada kilatan cemburu atau mata berkaca-kaca. Gadis yang dahulu di anggapnya menyedihkan dahulu kala kini menjelma menjadi wanita dewasa yang bijak.
Tanpa menanggapi ucapan Anggi, Reynald melepas tautan jemari keduanya dan merogoh saku jas. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil mewah berwarna hitam berbahan beludru. Reynald membuka kotak itu dan memberikannya pada Anggi.
"Menikahlah denganku sayang" Sahut Reynald menatap Anggi tepat ke manik mata.
"Aku tahu, aku mungkin tidak tahu diri menginginkan seorang wanita lajang untuk menikahiku. Aku yang banyak kekurangan ini di masa lalu terlihat sangat egois memintamu untuk mendampingku di sisa akhir hidupku dan menjadi ibu sambung untuk anakku..."
"Dulu aku mengukir.luka untukmu, aku mungkin tidak bisa membuatmu melupakannya tapi saat ini aku berjanji akan menebus setiap tetes air mata yang kau keluarkan, rasa sakit yang kau rasakan karena perbuatanku dahulu dengan seluruh hidupku sampai aku menutup mata."
Tak ayal melihat Reynald yang melamarnya tiba-tiba membuat Anggi sangat terkejut. Mulutnya terkatup rapat karena bingung akan menjawab apa.
"Rey....." Gumam Anggi pelan.
"Tidak perlu kau jawab sekarang sayang kalau kau bingung. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat serius denganmu. Ambillah cincin ini... Di pertemuan kita selanjutnya jika aku melihat cincin ini melingkar di jarimu, maka kau setuju untuk menikah denganku. Namun jika kau tidak memakainya, aku anggap kau menolaknya" Sahut Reynald memandang Anggi dengan sorot teduh.
••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••
__ADS_1