Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 18


__ADS_3

"Turun lah". Ucap Reynald pada Anggi saat kedua nya sudah sampai di gedung apartemen.


Anggi melepas seatbelt yang terpasang di tubuh nya lalu segera keluar dari mobil. Ia melangkah menyusul Reynald yang sudah berjalan lebih dulu. Security yang melihat Reynald pun langsung menundukkan kepala sopan dan memencet tombol lift ke atas.


Sesampai nya di depan pintu penthouse, Reynald lantas men-tap key card dan juga men-scan sidik jari nya di smart lock yang terpasang di daun pintu. Tak lama pintu pun terbuka lalu Reynald langsung saja masuk ke dalam.


Anggi masih berdiri terpaku di depan pintu. Wajah nya pucat pasi dan tubuh nya berketingat dingin. Ia sungguh takut, malu, gugup, bingung.. Semua bercampur menjadi satu.


Pikiran nya berlarian kemana-mana. Ia tidak menyangka bahwa pria itu akan membawa diri nya ke tempat tinggal mewah nya.


Apa yang harus aku lakukan? Oh sial Anggi kau bodoh sekali... Sudah begini bagaimana bisa lari?!


Anggi bermonolog pada dirinya sendiri seraya menggigit bibir bawah nya gugup.


"Astaga Anggi! Cepat masuk!". Ucap Reynald ketika menyadari kalau Anggi masih berada di depan pintu.


Anggi dengan ragu melangkah pelan masuk ke dalan penthouse dan bunyi pintu tertutup rapat pun sukses menambah ketakutan nya.


Anggi mengedarkan pandangan nya ke seluruh area penthouse.


Oh Tuhan... Ini mewah sekali...


Batin Anggi.


Anggi melangkah menuju jendela yang terpampang luas dari sudut ke sudut dan Ia terpukau dengan pemandangan malam yang di suguhkan melalui penthouse Reynald. Sejenak Ia lupa dengan rasa takut nya dan menikmati pemandangan yang jarang Ia lihat seperti saat ini.


Tiba-tiba sekaleng coke berada di depan wajah nya begitu saja. Anggi menoleh ke samping dan melihat Reynald yang sedang meneguk coke milik nya seraya menatap ke luar.


Anggi tersenyum tipis dan menerima coke dari tangan Reynald. "Terima kasih.." Ucap Anggi.


Anggi membuka coke nya dan meneguk nya sedikit. Tak ada pembicaraan antara kedua nya. Hanya keheningan yang mengisi. Reynald tetap menatap ke arah luar jendela penthouse nya. Satu tangan nya di masukkan ke salam saku celana nya. Anggi diam-diam menatap Reynald. Gestur tubuh pria itu benar-benar sempurna. Wanita mana yang tidak terhanyut oleh pria ini? Anggi bertanya dalam hati.


"Apa kah pekerjaan sampingan mu seperti ini? Menemani pria asing semalaman?". Reynald memecah keheningan.


Anggi menatap Reynald namun pria itu tak menoleh sedikit pun ke arah nya.


"Tidak... pekerjaan sampingan ku hanya menjadi seorang pelayan". Ucap Anggi pelan.


"Kalau tidak, bagaimana mungkin dengan mudah nya kau menerima tawaranku di club tadi?".


"Aku hanya....... " Anggi tidak meneruskan ucapan nya. Ia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa pada pria di sebelahnya ini.


"Hanya apa?". Reynald memalingkan wajah nya menatap Anggi.

__ADS_1


"Kau tau bukan tadi teman ku sudah menjelaskan pekerjaaan macam apa yang harus kau lakukan untuk ku malam ini? Lalu mengapa kau menerima nya?". Tanya Reynald lagi.


Anggi menggelengkan kepala pelan. "Aku.... Aku hanya asal bicara saja". Ucap Anggi gugup.


"Asal bicara atau kau memang terbiasa melakukan hal seperti ini?".


Anggi memberanikan diri menatap Reynald. "Ini kali pertamaku di bawa oleh seorang pria tengah malam dan aku hanya asal bicara saja menerima ajakan mu karena tatapan mu sangat mengintimidasi ku di club".


"Ya sudah karena sudah seperti ini. Maka lakukan tugas mu". Ucap Reynald.


Anggi mengerutkan kening. "Tugas ku?". Tanya gadis itu.


Reynald mengangguk seraya menyeringai. Ia melangkah mendekat ke arah Anggi. Menatap nya seperti binatang buas yang kelaparan ingin segera menikmati mangsa di hadapan nya.


Anggi mundur perlahan namun hanya beberapa langkah Ia sudah bersandar di jendela.


"Kau harus melakukan tugas mu. Aku sudah membayar mu mahal malam ini". Ucap Reynald dengan jarak yang sangat dekat hingga hembusan napas pria itu terasa hangat di pipi Anggi.


"A... A..aku tidak bisa. Maafkan aku. Aku salah. Maaf.. Tapi ku mohon jangan melakukan ini padaku. Jangan seperti ini". Anggi memohon dengan penuh kekalutan.


Tak sadar air mata pun membanjiri wajah nya. Gadis itu menutup wajah nya dan merosot ke lantai. Ia begitu takut dan kalut.


Reynald melongo melihat Anggi yang menangis tersedu-sedu. Niat hati Ia hanya ingin menjahili mahasiswi itu namun yang ada Ia malah membuat nya menangis histeris.


Anggi masih menangis sambil memeluk tubuh nya sendiri. Melihat itu Reynald kebingungan sendiri bagaimana cara meredakan tangis gadis itu.


"Hey.. Hey.. Ku bilang aku hanya bercanda.. Berhenti lah menangis. Aku hanya ingin mengerjai mu saja".


Reynald lalu berjongkok di hadapan Anggi.


"Kau mau kue? atau kau mau permen? Sesuatu yang manis untuk meredakan tangis mu?". Bujuk Reynald.


Anggi mendongakkan kepala menatap Reynald. Ia melihat kesungguhan dalam raut wajah pria itu. Anggi mengusap wajah nya yang basah dengan telapak tangan nya.


Reynald segera berdiri dan mengambil tissue yang ada di atas meja dan memberikan nya pada Anggi. Tak lama setelah di rasanya tenang, Reynald membawa Anggi untuk duduk di sofa.


"Bagaimana bisa kau bekerja di club malam dengan kecengenganmu dan ketakutan mu yang seperti itu huh?". Ucap Reynald menatap Anggi.


"Dunia malam itu sangat bahaya bagi perempuan polos seperti mu!". Omel Reynald.


"Aku tidak punya pilihan.." Ucap Anggi pelan.


"Apa kau setiap hari bekerja di sana? Lalu kapan kalau begitu kau mengerjalan skripsi mu? Pantas saja selalu dapat revisi!".

__ADS_1


"Aku hanya 3 kali dalam seminggu bekerja di club. Selebih nya aku hanya bekerja menjadi waitress jika ada tawaran saja". Jelas Anggi.


"Kemana orang tua mu? Apa kah mereka tau kau bekerja seperti ini?". Tanya Reynald.


"Mereka tidak tau...." Anggi menggeleng pelan.


Reynald menatap intens pada Anggi. Ia merasa gadis di hadapan nya saat ini memiliki banyak rahasia dan kesedihan yang di jaga rapat.


"Universitas mu adalah universitas bergengsi di Jakarta. Siapa pun tau kalau mahasiswa yang kuliah di universitas itu adalah orang-orang kaya. Ketika aku ke sana saja, parkiran universitas mu penuh dengan mobil mewah".


Reynald masih menatap Anggi yang memainkan jari jemarinya seraya menunduk.


"Namun saat pertama kali aku melihat mu di pesta ulang tahun teman ku, aku bingung. Kau bekerja sebagai waitress di sana. Dan malam ini aku pun melihat mu bekerja di club sebagai waitress juga. Apa kah kau mendapatkan beasiswa berkuliah di Universitas itu atau bagaimana?".


Anggi mendongakkan kepala menatap Reynald dan menghela napas pelan. "Bukankah mudah untuk mu untuk mencari informasi tentang seseorang?".


Reynald mengangguk. "Itu benar. Tapi aku tidak berniat mencari tau tentang diri mu maka dari itu saat ini aku bertanya lansung. Maaf jika aku menyinggung mu".


Anggi tersenyum tipis. "Aku tidak mendapatkan beasiswa. Aku kuliah di sana dengan biaya dari orang tuaku". Ucap Anggi.


Reynald menelisik raut wajah Anggi. Sebagai seorang CEO, Ia mahir membaca pikiran hanya dari raut wajah dan gestur tubuh seseorang. Saat ini Ia melihat jika Anggi tidak merasa nyaman membicarakan topik tentang kedua orang tuanya.


Reynald menghela napas pelan. "Baiklah.. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kau mau pulang? Di mana rumah mu biar ku antar".


Anggi menggeleng pelan. "Aku pulang saja, Pak".


"Eh maaf maksudku.. Rey..."


Reynald berdiri dan mengambil kunci mobil nya. "Kalau begjtu ayo!".


"Aku pulang sendiri saja".


"Mana bisa begitu! Aku bertanggung jawab pada mu malam ini!". Ujar Reynald.


"Tapi... Aku bisa pakai taksi online.." Sanggah Anggi.


"Lebih nyaman pakai mobilku di bandingkan dengan taksi online!".Ujar Reynald tak mau kalah.


"Terima kasih tawaran nya tapi....."


"Baiklah kau pilh! Aku mengantarmu pulang atau kau melakukan tugasmu malam ini melayaniku karena aku sudah memberikan banyak uang pada bos mu David!". Reynald melotot dan berucap dengan nada penuh ancaman.


••••••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••••••••

__ADS_1


__ADS_2