Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 70


__ADS_3

"Apa?! Aku tidak salah dengar kan?"


"Anggi sudah bertunangan dan kalian makan bersama?!"


"Dengan kau? Dan di penthousemu juga?!"


Renata mencecar Reynald dan Gavin dengan berbagai pertanyaan. Ia sangat terkejut saat mendengar cerita dua pria itu mengenai pertemuannya dengan Anggi.


"Katanya kau tidak mau bertemu dengannya? Aku bahkan sampai muak membujukmu! Tapi lihat kenyataannya..."


Reynald mengangkat bahunya acuh. "Memangnya aku tahu jika dia akan berada di sana malam itu? Aku tidak tahu. Gavin pun tidak tahu".


"Tidak mungkin setelah aku datang ke resto dan melihatnya, aku langsung kabur seperti melihat hantu kan?" Ujar Reynald.


Gavin sontak saja tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Reynald. Pria itu pun sangat terkejut sama seperti Reynald. Namun bukan koridornya untuk menjelaskan apapun pada rekan bisnis Ayahnya mengenai hubungan Reynald dan Anggi yang sudah saling mengenal. Maka dari itu Gavin bersikap tenang seakan baru pertama kali bertemu dengan Anggi pada malam itu.


"Kau tahu Rashaad? Pendiri Wasim Bank? Rajil Sahir Group?" Tanya Gavin pada Renata.


Renata terdiam sejenak terlihat berpikir mengingat sesuatu.


"Entah. Aku tidak tahu. Siapa dia?"


Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu merogoh ponselnya di saku jas dan terlihat mencari sesuatu melalui ponsel. Tak lama Gavin memberikan ponselnya pada Renata.


"Lihat dan kau baca!"


Renata mengambil ponsel Gavin dari tangan pria itu dan membaca sebuah berita di portal bisnis internasional. Artikel itu memuat tentang Rashaad sang pewaris kerajaan bisnis Rajil Sahir Group yang tersohor di Abu Dhabi.


Renata terlihat membesarkan foto Rashaad melihatnya dengan seksama. Ia menatap Gavin dengan kening bertaut kebingungan.


"Kenapa kau memimtaku untuk membaca artikel tentang pria tampan ini? Memangnya siapa dia?'. Tanya Renata.


"Dia adalah tunangan Anggi" Ujar Gavin pelan seraya melirik Reynald yang hanya diam membisu.


Renata melongo seketika. Raut wajahnya terlihat sangat terkejut dengan mulut menganga menatap Gavin dan Reynald silih berganti tak percaya.


"Kau-Kau tidak bercanda kan?!"


"Untuk apa aku bercanda? Tidak ada untungnya buatku" Ujar Gavin santai.

__ADS_1


"Rey, benarkah pria ini yang menjadi tunangan Anggi? Apakah kau makan bersama dengan pria ini di penthousemu?"


Reynald mengangguk tipis. "Memang benar. Yang sedang kau lihat itu adalah tunangan Anggi".


Renata terdiam sejenak dan tertawa keras hingga menggema ke seluruh sudut ruang kerja Reynald.


"Hahahahahahaha Astaga.. Astaga.. Aku tidak percaya ini!"


"Anggi benar-benar mendapatkan jackpot!".


Reynald mendecih tak suka. "Jackpot apa maksudmu?"


Renata beralih menatap Reynald dengan serius. "Pria ini sangat kaya dan juga tampan! Oh astaga.. Aku pun menginginkan pria seperti ini untuk menjadi pasangan hidup!"


"Aku juga tampan!" Ujar Reynald.


"Oh sudahlah, Rey. Akui saja kekalahanmu.. Kau tidak ada bandingannya dengan pria ini. Coba kau lihat pria ini.. Ah melihatnya saja aku terpesona" Sahut Renata seraya menatap foto Rashaad melalui layar ponsel Gavin.


"Rashaad memang menang beberapa langkah darimu, bro!" Timpal Gavin.


"Kau! Jangan ikut-ikutan!" Reynald mendelik tajam ke arah Gavin.


"Tapi lihat situasimu. Statusmu menikah walau bukan menikah dalam arti sebenarnya, kau juga sudah mempunyai anak. Misalnya saja kau bercerai, kau menjadi duda anak 1. Menurutmu siapa yang akan Anggi pilih untuk menjadi pasangannya? Pria lajang yang belum pernah menikah atau duda dengan 1 anak?"


Gavin terkekeh geli seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa. Reynald terdiam mendengar ucapan Gavin yang berdasarkan fakta.


"Siapa pula yang ingin bersama gadis itu lagi?" Ucap Reynald acuh walau hatinya terasa bergemuruh.


"Kau yakin dia masih gadis? 5 tahun waktu yang cukup panjang.. Pasti banyak hal yang terjadi. Apalagi mereka sudah bertunangan, itu artinya sebentar lagi menikah. Jadi kurasa....."


"Ah sial! Keluar kalian berdua dari ruanganku sekarang!" Reynald memotong ucapan Renata.


Gavin dan Renata terkikik geli melihat sikap Reynald yang seperti cacing kepanasan. Keduanya sangat paham apa yang tengah di rasakan oleh Reynald. Mereka hanya ingin Reynald sadar akan beberapa fakta namun sekaligus mereka ingin Reynald hidup lebih bahagia tanpa statusnya yang mengungkung pria itu saat ini.


Di sisi lain...


Anggi dan Rashaad tengah berada di dalam mobil menuju bandara. Rashaad terpaksa tidak bisa ikut Anggi untuk menetap lebih lama di Jakarta karena pria itu esok hari harus pergi melakukan perjalanan bisnis ke Perancis.


"Kau harus kabari aku"

__ADS_1


"Jangan telat makan"


"Jaga dirimu baik-baik selama di sini"


"Aku sudah minta Ayahmu untuk memperhatikanmu selama kau berada di dekatnya dan dia malah mengomeliku"


Rashaad terus saja mengucap kekuatirannya pada Anggi. Pria itu merasa tidak tenang meninggalkan Anggi sendiri di Jakarta. Rashaad sudah tahu kondisi keluarga Hendra, pria paruh baya itu pun memiliki keluarga sendiri yang hingga saat ini masih belum menerima keberadaan Anggi.


"Apakah kau perlu berlama-lama di sini sayang?"


"Kau ikut aku saja pulang. Ya? Ya?". Bujuk Rashaad dengan raut wajah memelas.


Anggi mengulum senyum hangat menatap Rashaad. Ia menggenggam tangan Rashaad berusaha meyakinkan pria itu bahwa Ia akan baik-baik saja.


"Jangan berlebihan. Ini kota asalku. Aku akan baik-baik saja. Aku sudah lama tidak pulang kesini. Jadi aku ingin berjalan-jalan sejenak mengelilingi tempat-tempat yang aku rindukan".


"Tapi kau harus janji padaku kalau akan pulang sesuai jadwal, oke?"


"Aku akan mengirimkan pesawat jet untuk menjemputmu nanti". Ujar Rashaad.


Anggi melepas genggaman tangannya pada Rashaad lalu menepuk pelan bahu pria itu.


"Tidak perlu seperti itu! Aku bukan tuan putri yang kemana-mana harus memakai pesawat pribadi!" Protes Anggi.


"Tapi kenyatannya kau akan menjadi tuan putri setelah menikah denganku! Bahkan mungkin ratu dalam hidupku hehehe" Gombal Rashaad seraya tersenyum lebar menampakkan barisan giginya yang rapi.


Anggi tiba-tiba terdiam begitu saja saat Rashaad membahas tentang pernikahan. Pikirannya menjadi buntu seketika.


"Orang tuaku ingin kita segera menikah, sayang. Mereka takut jika kita melakukan hal-hal di luar batas hehehe. Kau tahu kan keluargaku sangat menjaga martabat keluarga dari hal-hal yang tidak seharusnya".


Anggi melirik Rashaad. "Tapi kan kita tidak berbuat apapun"


"Ya. Sejauh ini tidak.. Tapi suatu hari siapa tahu jika kau terus menunda pernikahan dan kita jadi lupa diri hehehe". Rashaad terkekeh geli menggoda Anggi.


"Rashaad!" Anggi melotot menatap Rashaad yang terus saja terkekeh. Pria itu memang sangat senang jika sudah menggoda Anggi. Raut wajah kesal dan malu di wajah Anggi adalah suatu hal yang menarik di matanya.


Rashaad lalu merangkul tubuh Anggi agar lebih mendekat ke tubuhnya. "Makanya sayang.. Kita menikah ya?"


••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••

__ADS_1


__ADS_2