Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 67


__ADS_3

"Kau sudah berjanji padaku untuk selalu tersenyum. Tapi apa yang sedang kulihat sekarang?"


Deg! Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari balik tubuhnya. Anggi dengan cepat menyeka air matanya dan membalikkan badan menatap seorang pria yang menjadi penyebab tangisnya saat ini.


"Rey...."


Anggi terpaku melihat Reynald yang tengah menatapnya dengan sorot mata tajam. Pria itu melangkah pelan ke arahnya.


Selangkah..


Dua langkah..


Tiga langkah..


Hingga akhirnya Reynald berhenti tepat di hadapannya. Dengan jarak sedekat itu di antara mereka, Anggi bisa mencium harum parfum dari tubuh Reynald. Harum yang sama sejak 5 tahun yang lalu. Harum yang memberikan banyak ledakan kenangan dalam otaknya.


Anggi sedikit mendongak menatap Reynald. Menyisir wajah pria itu dari dekat.


Reynald mengangkat tangannya terlihat ingin menyeka pipi Anggi yang basah karena air mata, namun Ia mengurungkannya dan hanya menatap Anggi tepat ke dalam manik mata gadis itu.


"Kenapa kau menangis? Bukankah seharusnya kau selalu tersenyum seperti yang kulihat 5 tahun yang lalu?" Ujar Reynald pelan.


Anggi membisu. Gadis itu hanya menatap Reynald tanpa berkata apapun. Anggi seakan sedang merekam inci demi inci sisi wajah pria itu dengan memorinya.


Terdengar helaan napas dari Reynald. Pertahanan diri pria itu untuk tidak menyentuh Anggi pun hancur seketika saat melihat aliran air mata yang terus jatuh membasahi pipi Anggi.


Reynald menarik Anggi ke dalam dekapannya. Pria itu merengkuh tubuh Anggi dengan sangat erat seakan mengalirkan rasa rindu yang membuncah teramat banyak memenuhi setiap inci tubuhnya.


Anggi sontak saja menangis tersedu-sedu. Tangannya melayang di balik punggung Reynald ingin balik memeluk tubuh pria itu namun pada akhirnya Ia hanya kembali mengepalkan kedua tangannya.


Rasanya... Sakit...


Ketika seseorang yang sedang di cintai dengan manisnya harus di lepaskan begitu saja karena keadaan. Ketika dua insan saling mencintai dengan murni, namun nasib tidak mengizinkan rasa di antara mereka tumbuh lebih lama.


Anggi mendorong sedikit tubuh Reynald agar melepaskan pelukannya. Gadis itu menyadari apa yang dilakukan mereka saat ini bukanlah hal yang wajar.


Reynald mengulurkan pelukannya dan melihat Anggi yang menundukkan kepala berusaha menghindar dari tatapan matanya.


Pria itu lantas menyentuh dagu Anggi dan mengangkatnya perlahan agar Ia bisa melihat wajah gadis itu.

__ADS_1


"Berhentilah menangis. Apa kau lupa dengan janjimu?"


"Kau bilang akan selalu tersenyum menjalani kehidupanmu walau tanpa aku di sisimu. Kau akan selalu tersenyum di hadapanku". Ujar Reynald menatap lekat Anggi.


Anggi mengulas senyum nanar di bibirnya.


"Aku tersenyum di depanmu, karena aku hanya ingin kamu tenang melihatku dalam keadaan baik-baik saja". Sahut Anggi seraya menyeka pipinya yang basah.


Anggi mundur selangkah menjauh dari Reynald. Ia membalikkan badan menatap gemerlapnya malam Ibu Kota dari ketinggian.


Reynald melangkah berdiri tepat di sebelah Anggi mengikuti Anggi melempar sejauh manapun mata memandang. Sesaat hanya ada keheningan di antara mereka. Mulut terkunci rapat namun pikiran justru liar berlari ke segala sudut.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Anggi akhirnya membuka suara.


"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja". Ujar Reynald masih menatap ke depan.


Anggi mengangguk tipis. "Syukurlah. Aku tahu kau pasti baik-baik saja dengan keluarga kecilmu, Rey".


Reynald menoleh pada Anggi. "Bagaimana bisa kau seyakin itu?".


Anggi mengedikkan bahunya seraya senyum terukir di bibir. "Aku hanya menebaknya saja".


"Istrimu.... sangat cantik dan kalian sudah di karuniai seorang putri. Aku yakin pasti putrimu juga sangat menawan seperti kedua orang tuanya". Anggi menatap Reynald dengan mata teduh.


"Tidak semua yang kau lihat dari luar sempurna, dalamnya pun akan sempurna". Ujar Reynald ambigu.


"Hal itu pun berlaku untukku, Rey" Gumam Anggi namun masih tertangkap oleh indera pendengaran Reynald.


Reynald lalu merubah posisi tubuhnya menghadap Anggi dengan sisi tubuhnya bersandar ke tembok pembatas rooftop. Ia menikmati wajah Anggi yang tersorot sinar lampu temaram kekuningan yang berasal dari lampu rooftop.


Ia tersenyum kala melihat rambut Anggi yang panjang berwarna hitam legam terurai dengan indah. Rambut yang selalu Ia belai lembut 5 tahun lalu, Reynald lalu menatap mata Anggi dengan bulu matanya yang lentik natural. Bibirnya yang selalu menjadi candu untuknya.


Ia lantas terkekeh pelan merutuki dirinya sendiri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anggi sontak saja menoleh ke samping menatap Reynald yang tiba-tiba tertawa samar. Gadis itu mengerutkan kening bingung.


"Apa ada yang lucu?". Tanya Anggi.


Reynald tersenyum menatap Anggi dan menganggukkan kepala. "Ya. Ada hehehe"

__ADS_1


"Apa yang lucu?"


"Aku". Jawab Reynald.


"Kamu?"


Reynald mengangguk. "Aku hanya merasa lucu dengan nasibku hehe"


Anggi menatap Reynald masih dengan mengerutkan keningnya serta menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.


"Kau tahu? Tadinya aku berniat tidak ingin bertemu denganmu. Aku tahu kau akan datang ke Jakarta, namun aku bertekad tidak ingin menemuimu walau aku sangat ingin".


"Aku hanya.... Tidak ingin mengganggu kehidupanmu di masa sekarang"


Reynald menoleh sekilas pada Anggi dan beralih kembali melempar pandangannya jauh ke depan.


"Tapi ternyata semesta selalu bercanda denganku. Di saat aku sudah bersikukuh tidak ingin hadir dalam kehidupanmu saat ini, namun kenyataannya aku malah bertemu tidak sengaja denganmu dan lebih mengejutkannya lagi aku harus mendengar jika kau sudah mempunyai tunangan".


Anggi mencerna segala penuturan Reynald. Gadis itu menghela napas pelan. Hatinya... Entah kata apa yang tepat untuk menjabarkan perasaan yang ada di hatinya saat ini.


"Aku membenci diriku sendiri setelah melepaskanmu. Namun aku rasa keputusanku saat itu sudah tepat kan? Aku melepaskanmu terbang bebas dan buktinya kau meraih impianmu sekaligus mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku". Reynald mengulum senyum hangat menatap Anggi dengan sorot mata yang tak terbaca.


"Rey...."


Anggi menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya perlahan.


"Aku... Kau harus tahu, Rey"


"Aku tetap tidak menyesal walau seperti ini akhir untuk kita berdua. Kau memang meninggalkanku begitu saja, namun aku mengerti alasan dan situasimu saat itu. Aku tidak menyesal, Rey. Karena mencintaimu adalah pilihanku".


Anggi menatap Reynald dengan mata berkaca-kaca. Tatapan keduanya saling terpaut satu sama lain seakan ada magnet yang saling tarik menarik dari sorot mata keduanya.


Reynald mengulas senyum hangat pada Anggi. Ingin rasanya pria itu memeluk kembali tubuh Anggi. Menghirup aroma tubuhnya yang selalu Ia rindukan.


"Datanglah besok ke penthouseku, aku sudah mengundang tunanganmu untuk datang makan bersama di sana sebelum dia pulang kembali ke Abu Dhabi".


"Aku akan mengenalkanmu pada Jessy, putriku". Ujar Reynald menatap lekat pada Anggi.


••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••

__ADS_1


📌 Maaf yaa dua harian ini agak lama up-nya. Lagi repot dengan segala pekerjaan.


Terima kasih masih setia menunggu ya😘


__ADS_2