
"Jadi kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan?". Ujar Dave menatap silih berganti pada Reynald dan Clara.
"Secepatnya, Dad". Sahut Reynals singkat.
"Secepatnya itu kapan?".
"Putri kalian sudah hampir dua bulan umurnya, jangan di tunda-tunda lagi! Minggu depan saja kalian berdua menikah".
Reynald terkejut mendengar ucapan sang ayah sedangkan Clara tersenyum lebar.
"Dad, itu terlalu cepat!".
"Lebih cepat lebih baik, Rey. Coba kau lihat...."
"Karena kau menunda-nunda menikah, akhirnya malah cucuku yang lebih dulu ada di antara kalian berdua". Timpal Rose.
Reynald melirik Clara yang menunduk. Andai saja kedua orang tuanya tahu mengapa alasan dirinya tak kunjung menikah dan malah berakhir memberikan cucu di luar pernikahan seperti sekarang.
Reynald menghela napas kasar. "Mempersiapkan pernikahan itu sangat lama, Dad. Tidak cukup hanya beberapa hari saja".
"Apa kau lupa aku ini siapa?".
"Aku bisa meminta anak buahku mengurusnya dengan cepat".
"Kita adakan pesta pernikahanmu secara besar, Rey. Sekaligus memperkenalkan cucu cantikku ini". Timpal Rose.
"Tidak!".
"Maksudku.. Tidak perlu secara besar-besaran. Kita cukup mengundang kerabat dan keluarga saja". Ujar Reynald.
Dave menatap putranya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan Clara hanya diam membisu menatap Reynald.
"Aku akan membantu kalian untuk mempersiapkannya". Ucap Rose.
"Tapi, jika kita langsung mempeelihatkan Jessy, bukankah akan timbul banyak spekulasi di luar sana? Apa kalian tidak berpikir kalau Jessy akan menjadi gunjingan karena lahir di luar nikah? Aku tidak mau seperti itu, Dad.. Mom.."
Dave berpikir sejenak sembari menatap silih berganti ke arah Rose, Reynald dan Clara. Hingga pira paruh baya itu pun mengeluarkan sebuah maklumat yang pantang untuk di tentang.
"Kita bisa memberitahu publik bahwa kalian sudah menikah diam-diam dan anak itu lahir dari pernikahan yang sah. Acara ini hanya sekedar pesta pernikahan saja dan pesta penyambutan lahirnya cucuku dari anak tunggalku".
"Bukankah itu masuk akal?". Ujar Dave.
Reynald menyugar rambutnya kasar dan sontak saja beranjak dari duduknya lalu melangkah meninggalkan ruang keluarga begitu saja.
Bugh!
__ADS_1
Reynald meninju keras sebuah dinding di balkon utama rumah itu. Ia melemparkan pandangannya sejauh yang Ia bisa. Reynald bertumpu pada kedua sikunya dan menangkup kedua tangannya menutup wajah.
"Oh Tuhan.... Kenapa harus seperti ini...."
"Ini sudah jalan hidupmu. Maka terimalah dengan baik dan bersikap bijak, Nak". Sahut seseorang dari arah belakang.
Reynald lantas menegakkan dirinya dan membalikkan badan menatap Dave yang berdiri tegap di belakangnya.
Dave melangkah menghampiri Reynalda hingga pria paruh baya itu pun turut serta melihat pemandangan dari balkon.
"Apa kau takut kalau gadis itu tahu?". Tanya Dave tanpa menoleh pada Reynald.
"Tentu saja aku takut dia tahu, Dad".
"Jadi itu alasanmu menolak pesta pernikahan di adakan secara terbuka?".
Reynald pun mengangguk mengiyakan.
"Kau anakku satu-satunya. Kini aku memiliki cucu, bukankah wajar jika aku dan ibumu ingin memperlihatkannya pada dunia?".
"Selama ini banyak orang menduga-duga kapan kau menikah dan meneruskan keturunan dalam keluarga kita, tidakkah kau memikirkannya?".
Reynald menghela napas kasar dan menjambak rambutnya pelan.
"Dad.. Aku tidak sanggup menyakitinya..." Ucap Reynald frustasi.
"Cepat atau lambat walau kau berusaha menutupinya, gadis itu akan tahu".
"Lepaskan dia. Jalani kenyataan hidupmu, Nak".
Reynald menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa.. Aku... Mencintainya". Ujar Reynald dengan mata berkaca-kaca sembari wajah Anggi berlarian dalam pikirannya.
"Apa kau tidak mencintai ibu dari anakmu lagi?".
"Bukankah kalian sudah cukup lama bersama?". Tanya Dave.
"Hatiku.. Entahlah, Dad. Aku tidak bisa menjabarkannya dengan baik. Ada perasaan lega saat aku mengetahui Clara telah kembali, aku tetap nyaman terbiasa dengannya".
"Tapi dengan gadis itu.... Itu berbeda, Dad. Sulit.untuk kujelaskan. Berapa kalipun aku berpikir untuk melepaskannya, aku tidak bisa melakukannya. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja, hatiku sangat sakit sama seperti dulu Clara meninggalkanku".
"Astaga... Aku selama ini pria yang setia, Dad. Aku hanya menjalani hubungan dengan satu orang wanita. Namun situasi ini.... Sial ini membuatku frustasi!". Reynald mengeluarkan apa yang dirasakan dalam hatinya pada sang ayah.
Dave menepuk bahu Reynald seakan memberikan kekuatan pada sang putra.
•••
__ADS_1
Malam harinya Reynald mengajak Andre, Renata dan Gavin untuk bertemu di sebuah lounge. Ia perlu bersantai sejenak menyegarkan pikiran bersama orang-orang terdekatnya.
Reynald menatap langit malam yang bersih tanpa terlihat satupun bintany yang bersinar kecil. Ia meraih gelas whisky nya dan meneguknya hingga tandas.
"Aku akan menikah minggu depan".Ujar Reynald tiba-tiba.
"Uhuukkkk!".Renata sontak saja tersedak mendengar ucapan Reynald saat tengah meminum wine-nya.
Gavin melongo dengan mulut penuh kentang goreng. Hanya Andre saja yang bersikap cool mendengar penuturan Reynald.
"Kau serius????". Tanya Renata sembari mengusap mulutnya dengan tisu.
"Dengan siapa?". Timpal Gavin.
"Tentu saja dengan ibu dari anaknya! Kau bodoh sekali!". Ujar Renata menatap Gavin.
Gavin terkekeh sembari menggaruk kepala. "Aku lupa pria ink sudah punya anak hahahaha". Ujarnya seraya mengedikkan dagu pada Reynald.
"Orang tuaku ingin mengadakan pesta secara besar-besaran".
"Itu tidak masalah. Kau bukan artis. Jadi infotainment tidak akan menayangkannya di program gosip". Sahut Gavin cepat.
"Kau benar-benar bodoh! Clara adalah artis terkenal! Apa kau lupa?". Umpat Renata pada Gavin seraya melempar tisu kotor ke arah pria itu.
"Astaga iya.. Aku lupa".
"Lalu bagaimana sikapmu dengan pacarmu? Gadis itu?". Tanya Andre tiba-tiba hingga membuat Renata dan Gavin pun memandang serius ke arah Reynald.
Reynald menyandarkan punggunynya ke sandaran kursi dan mengusap wajahnya kasar.
"Itulah... Aku tidak tahu. Aku tidak sanggup untuk melepasnya".
"Kau tidak bisa egois, Rey! Lepaskan dia.. Biarkan dia bahagia!". Ujar Renata.
"Ini membingungkan". Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau akan segera menikah. Apa kau tidak kasihan dengan gadis itu? Dia masih memiliki masa depan yang panjang bro.. Kau tidak boleh egois". Ucap Andre.
"Andre benar. Anggi memiliki masa depan yang panjang. Tidak seperti dirimu yang sudah memiliki anak dan segera menikah. Anggi masih muda. Biarkan dia menemukan kebahagiaannya sendiri, Rey". Timpal Renata.
"Ya. Aku setuju dengan mereka berdua. Walau aku pemain wanita, tapi aku tidak pernah menyakiti hati wanita baik-baik seperti pacarmu itu bro. Kau harus mengambil melepaskan dia". Gavin menimpali.
Reynald menatap silih berganti pada ketiga orang yang sedang menatap dirinya juga dengan serius. Ia menghela napas dan mencondongkan tubuhnya ke depan dengan menautkan jari jemarinya.
"Bolehkah aku meminta pertolongan kalian bertiga?".
__ADS_1
••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••