
"Berdasarkan data di kuartal III ini, omset perusahaan naik sebesar 75%. Menurut saya, keuangan kita di batas aman jika ingin membuka lagi cabang baru di Malaysia. Tapi kembali lagi semua keputusan final ada di anda selaku CEO, Pak Reynald". Ucap seorang Direktur Keuangan.
Semua mata tertuju pada Reynald, menunggu keputusan pria itu. Saat ini Reynald sedang mengadakan rapat rutin dengan jajaran C-Level atau yang biasa disebut jajaran direksi seperti Direktur Keuangan, Direktur Operasional dan sebagainya.
"Pak...? Bagaimana...?". Direktur Keuangan mencoba menginterupsi Reynald yang sedari tadi melamun.
Renata yang sedari tadi berdiri di dekat proyektor segera menghampiri Reynald dan menepuk pundak nya.
Reynald mendongak menatap Renata yang sedang memberikan kode melalui mata nya. Pria itu lantas berdeham menghalau kecanggungan.
"Ehem.. Baiklah kalau begitu saya periksa lebih dulu laporan terbaru nya. Terima kasih untuk kerja keras kalian semua. Kita akhiri rapat hari ini". Ucap Reynald seraya menatap satu per satu jajaran direksi.
Reynald lalu bangkit dari duduk nya dan segera melangkah keluar ruang rapat untuk menuju ke ruang kerja nya.
"Rey.. Tunggu aku!". Ujar Renata yang segera mengekori Reynald.
"Kenapa tadi kau tidak fokus memimpin rapat? Apa ada masalah?". Tanya Renata.
Reynald mengedikkan bahu. "Tidak ada masalah".
"Apa kau memikirkan Clara?".
"Tidak". Jawab Reynald singkat.
Renata mengerutkan kening. Kalau tidak ada masalah dan tidak memikirkan kekasih nya yang menghilang itu, lantas hal apa yang mampu membuat Reynald melamun di tengah rapat?
"Lalu apa?". Tanya Rsnata menelisik.
Plak!
"Kau kepo sekali!". Ucap Reynald seraya menyentil dahi sepupu nya yang ingin tau.
"Sialan kau! Itu menyakitkan!". Umpat Renata.
"Jangan berlebihan. Aku menyentil nya dengan pelan. Mungkin kulit wajah mu saja yang terlalu tipis". Ujar Reynald.
Reynald segera masuk ke dalam ruangan nya namun ternyata masih di ikuti oleh Renata. Wanita itu tidak belok ke ruangan nya sendiri.
"Hey! Buat apa kau mengikuti ke ruanganku! Pergi sana bekerja!". Usir Reynald.
Renata mengabaikan ucapan Reynald dan malah duduk di sofa.
"Ini sudah jam 3 sore. Semua jadwal mu untuk hari ini selesai. Aku bisa santai".
"Kalau begitu kau pulang lah!". Ujar Reynald yang ikut duduk di seberang Renata.
__ADS_1
Renata memberengut kesal. "Beritahu aku dulu ada apa dengan mu?".
"Aishh kau ini.. Sudah ku bilang tidak ada apa-apa! Aku hanya memikirkan si gadis menyedihkan itu". Ucap Reynald.
Renata mengerutkan dahi tak mengerti. "Gadis menyedihkan? Maksud mu mahasiswi mu itu?". Tanya Renata.
Reynald mengangguk.
"Ada apa dengan dia sampai menyita pikiran mu?".
"Kurasa dia memang benar-benar gadis menyedihkan...."Ucap Reynald pelan.
"Kau bicara yang jelas!". Gerutu Renata.
Flashback On
"Di mana alamat rumah mu?". Tanya Reynald ketika Ia dan Anggi sudah di dalam mobil.
"Itu.. Mmmm...." Anggi terlihat ragu-ragu untuk menjawab.
"Di mana?". Tanya Reynald lagi.
"Di.... Tulodong".
"Oh ya? Baguslah berarti itu sangat dekat dari lokasi kita sekarang". Ucap Reynald seraya menyalakan mobil.
Reynald memberhentikan mobil tepat di depan sebuah Rumah mewah bergaya American Classic berlantai 2 dengan halaman yang luas. Reynald menatap rumah tersebut dan mengerutkan kening seperti teringat sesuatu yang belum pasti.
"Benar ini rumah mu?". Tanya Reynald menoleh pada Anggi.
Anggi yang terlihat gugup hanya bisa mengangguk pelan.
Reynald lantas membuka seatbelt dan turun untuk menghampiri dua security yang dari tadi melihat ke arah mobil nya yang berhenti depan pagar.
Anggi lantas buru-buru turun dari mobil dan kedua security itu terkejut tatkala melihat siapa wanita yang datang tengah malam ke rumah yang mereka jaga.
"Non Anggi.." Ucap seorang security.
"Boleh saya masuk, Pak?". Tanya Anggi.
Kedua security itu saling berpandangan lalu menatap canggung ke arah Reynald dan Anggi.
"Maaf Non.. Bukan saya lancang tapi..." Security itu menyikut teman nya yang memilih diam membisu seakan meminta bantuan.
Anggi menghela napas pelan dan tersenyum miris.
__ADS_1
"Baiklah.. Tidak perlu di katakan. Saya sudah paham. Kalau begitu saya permisi". Ucap Anggi yang segera membalikkan badan.
Reynald segera menahan lengan Anggi dan menatap kedua security si hadapan nya.
"Bukan kah ini rumah orang tua nya? Kenapa dia tidak boleh masuk ke dalam rumah nya sendiri?". Tanya Reynald heran.
"Itu.. Perintah bapak. Saya hanya mematuhi perintah nya saja.. Maaf Non Anggi". Ucap security seraya menundukkan kepala dengan raut wajah menyesal.
"Tapi...."
"Sudah tak apa. Kita pergi saja". Anggi memotong ucapan Reynald.
Reynald menoleh pada Anggi. "Lalu kau mau kemana lagi tengah malam begini?".
Anggi tersenyum. "Kamu pulang saja. Di sini ada bapak security yang menemaniku menunggu taksi online".
"Lagi-lagi taksi online! Tidak bosan kah kau mengajakku debat tentang itu!". Gerutu Reynald yang segera menarik Anggi ke dalam mobil.
"Cepat katakan di mana alamat mu selain rumah orang tua mu ini!". Reynald menggenggam stir dengan kedua tangan nya.
"Atau kubawa kau kembali ke penthouse ku.." Lanjut Reynald
Anggi menggelengkan kepala dan dengan cepat Ia menyebutkan sebuah alamat yang cukup jauh dari lokasi mereka saat ini.
30 menit kemudian.....
"Kau tinggal di rumah petak seperti ini?". Tanya Reynald menyisir sebuah rumah mungil di perumahan yang ternyata dekat dengan Universitas Tribisnis, tempat Anggi menimba ilmu.
"Ya... Ini rumah ku.. Walau kecil tapi ini tempat ternyaman untuk ku". Ucap Anggi pelan.
Reynald menatap gadis di sebelah nya dengan sejuta pertanyaan dalam pikiran namun urung Ia keluarkan saat melihat tatapan gadis itu yang terlihat sendu.
Flashback Off
Renata menghela napas setelah mendengarkan cerita Reynald mengenai peristiwa di club hingga drama mengantarkan gadis itu ke rumah nya.
"Lalu apa yang kau pikirkan tentang dia?". Tanya Renata.
Reynald mengangkat bahu nya acuh. "Kehidupan nya membuatku penasaran. Siapa dia? Kenapa orang tua nya begitu? Apa yang sebenarnya dia tutupi? Seperti itulah kira-kira..."
"Kalau kau penasaran, kau tinggal meminta Andre untuk mencari tau melalui detektif sewaan mu". Saran Renata.
"Harus kah seperti itu?". Tanya Reynald tak yakin.
"Kau penasaran pada gadis itu. Maka lakukan saja!".
__ADS_1
•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••