
Keesokan harinya...
Seperti kebiasaannya saat libur di hari minggu. Reynald baru saja pulang dari kegiatan lari pagi di sekitar komplek gedung apartemen. Langit masih biru keabuan karena matahari pun belum menyapa dengan sinar hangatnya.
Cuaca pagi yang masih sejuk membuat tubuh hingga pikiran pria itu sangat fresh. Reynald lalu berlari kecil untuk segera kembali ke penthousenya. Hari ini Ia sudah berjanji akan pergi berkencan dengan Anggi. Sungguh ini di luar dugaannya. Namun tak di pungkiri bahwa Ia merasa sangat senang kalau gadis itu sudah berinisiatif dalam hubungan mereka.
Reynald berlari sembari tersenyum simpul membayangkan wajah kekasihnya.
Di sisi lain...
Anggi yang sudah bangun sejak pukul 4, baru saja selesai membuat berbagai bekal yang akan di bawanya nanti ketika pergi dengan Reynald.
Ia menatap puas ke atas meja yang terdapat berbagai kotak makanan yang di dalamnya ada telur dadar gulung, spaghetti yang sudah di rebus, sauce bolognaise yang di olahnya sendiri, pudding cokelat andalan, vla vanila dan anggur hitam.
Ia hanya menyiapkan makanan yang tidak terlalu berat karena Ia yakin jika pria itu juga akan memaksanya untuk pergi makan di tempat lain.
Selesai menata bekal, Anggi segera mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap.
Tepat pukul 7 pagi terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Anggi mengintip dari jendela kamarnya dan mengulas senyum lebar kala melihat Reynald turun dari mobil.
"Astaga.. Sudah ku ingatkan berulang kali untuk selalu menutup pintu jika dia di rumah!" Terdengar gerutuan Reynald dari arah teras.
Anggi segera membuka pintu kamar dan langsunf berpapasan dengan Reynald yang baru saja masuk ke dalam.
"Hey! Sudah ku bilang kau harus menutup pintu rumah! Kalau ada yang menerobos masuk bagaimana?". Omel Reynald
Cup!
Bukannya kesal karena di omeli, Anggi justru berjinjit dan mencium pipi Reynald hingga membuat pria itu tertegun dan memegang pipinya sendiri.
"Kau...." Ucap Reynald menatap Anggi dengan raut wajah terkejut.
"Kamu baru saja datang malah langsung ngomel. Bukankah seharusnya kalau datang mengucapkan selamat pagi atau memberikan sebuah pelukan kecil?". Ujar Anggi dan membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Reynald mengikuti Anggi ke dalam kamar dan menarik lengan gadis itu hingga tersentak menabrak dada bidang Reynald.
Reynald memeluk Anggi dan memberikan sebuah kecupan lembut di dahi.
"Ya kau benar. Maafkan aku hehehe". Ujar Reynald terkekeh kecil.
"Hmm... Ternyata memelukmu membuatku sangat nyaman". Ucap Reynald sembari mengeratkan pelukannya ke tubuh Anggi.
Anggi menggeliatkan badan berusaha melepaskan diri dari belenggu tubuh kekar pria itu.
"Aku belum selesai berdandan. Lepaskan aku". Ucap Anggi.
Reynald mengulur pelukannya namun tidak sepenuhnya melepaskan karena kedua tangannya masih berada di pinggang ramping Anggi.
"Kau manis sekali.... Hingga membuatku sangat betah berlama-lama menatap wajahmu.." Ucap Reynald seraya menatap lekat pada kekasihnya.
Sedetik kemudian Reynald mendekatkan wajahnya perlahan hingga hembusan hangat napasnya menerpa wajah Anggi. Sontak saja gadis itu reflek menutup mata karena Ia tahu betul apa yang akan di lakukan oleh Reynald.
•••
Setelah perdebatan yang cukup alot di rumah Anggi tadi pagi, akhirnya Anggi mengalah dan menuruti kehendak pria itu untuk pertama kalinya memakai mobil sport dua pintu yang di berikan oleh Reynald.
Reynald berdalih jika Ia ingin di supiri oleh Anggi dan pergi berkencan dengan mobil dua pintu yang hanya khusus dua orang membuat suasana semakin romantis. Alhasil Reynald meninggalkan mobil mewahnya di garasi rumah Anggi.
Tepat 2 jam perjalanan dari Jakarta, keduanya kini sudah tiba di Kota Bogor yang terkenal dengan kota hujan. Anggi melajukan mobilnya menuju sebuah daerah terpencil yang berjarak cukup jauh dari kota yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan lagi.
Reynald menatap hamparan sawah hijau yang membentang di kedua sisi jalan dan gunung yang terlihat kebiruan indah. Sungguh ini lukisan nyata yang paling indah yang di lihatnya secara langsung.
Cuaca yang sejuk walau sinar matahari menyapa hangat membuat perpaduan suasana yang sulit di gambarkan. Anggi membelokkan mobil masuk ke dalam jalan kecil yang di ujungnya sudah terlihat sebuah rumah panggung yang terawat.
Reynald mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah ketika dirinya turun dari mobil. Menatap rumah panggung yang berdiri kokoh di kelilingi dengan pohon rindang dan jejeran pohon pinus di belakangnya.
"Rumah siapa ini?". Tanya Reynald menoleh pada Anggi.
__ADS_1
"Ini rumah Ibu ku..." Jawab Anggi pelan menatap ke rumah panggung.
Anggi menoleh ke arah Reynald dan mengulas senyum tipis. "Ayo masuk". Ujar Anggi.
Keduanya pun segera melangkah masuk menaiki tangga yang berada tepat di depan rumah. Anggi mengeluarkan sebuah kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu rumah panggung tersebut.
Dalam sekejap interior ruang tamu pun terlihat dan tak di pungkiri Reynald cukup terpukau.
"Ibu ku senang dengan barang antik. Ia juga senang dengan kayu-kayu yang di ukir entah itu untuk kursi, lemari atau kayu alas tempat tidur dan kamu bisa lihat sendiri seluruh ukiran di setiap sudut rumah ini kan.."
"Ini rumah peninggalan Ibu ku.. Hanya ini satu-satunya yang Ia tinggalkan untukku dan akan selalu aku jaga".
"Maaf ya aku mengajakmu kemari... Bukan malah mengajakmu ke tempat yang mewah hehehehe". Anggi terkekeh serata menyeka air mata yang sudah mengembang di pelupuk mata dan jatuh begitu saja tanpa seizinnya.
Reynald melangkah mendekat ke arah Anggi dan meraih tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam dekapannya. Dengan lembut Reynald mengusap punggung kekasihnya berusaha menyalurkan sebuah kedamaian.
Tentu saja perlakuan Reynald membuat pertahanan diri Anggi runtuh begitu saja. Gadis itu menangis tersedu-sedu dalam dekapan hangat Reynald.
"Aku justru berterima kasih padamu karena kau mengajakku ke sebuah tempat yang sangat berarti. Tempat mewah sekalipun tidak ada bandingannya dengan tempat ibu mu..." Ucap Reynald bersungguh-sungguh.
Reynald mengulurkan pelukannya dan menyeka air mata yang membasahi wajah Anggi dengan telapak tangannya. Ia menangkup wajah Anggi dengan kedua tangan hingga membuat bibir gadis itu condong ke depan.
"Sudah.. Berhenti menangis. Kau mengajakku kemari bukan untuk bersedih-sedihan kan?".
"Aku yakin di sekitar sini banyak pemandangan alam yang bagus. Kau harus membawaku untuk berkeliling. Jadi cukup bersedih dan kita mulai petualangan di sini. Ok?". Ujar Reynald menatap tepat ke dalam manik mata Anggi dan mengecup singkat bibir gadis itu.
•••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••
Maafkan aku...
Kemarin seharusnya sudah ada bab baru. Aku udah setor dari sore tapi sampai pagi ini belum juga lolos proses review. Sungguh ini sangat menyebalkan🥺
Aku tulis bab yang ini subuh dan segera aku setor juga. Semoga cepat up!!!!
__ADS_1