Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 8


__ADS_3

Ting!


Pintu lift terbuka tepat di lantai paling atas yang di mana hanya ada 2 ruangan khusus yakni ruangan CEO serta ruangan Renata selaku asisten pribadi yang luasnya lebih kecil.


Resepsionis itu mengantarkan hingga di depan ruangan milik Renata dan kembali turun ke lantai dasar untuk melanjutkan lagi pekerjaannya.


Renata memindai penampilan Anggi yang terlihat lebih kusut di banding terakhir kali mereka bertemu. Namun tetap saja, itu tidak menyurutkan aura Anggi yang menarik dan memiliki kesan manis yang membuat orang lain betah berlama-lama memandang nya.


Setelah mempersilakan Anggi untuk duduk, Renata lalu mengambil secarik kertas dari atas meja dan menyerahkan nya pada Anggi.


"Apa ini mbak?". Tanya Anggi seraya menatap Renata.


"Perjanjian tertulis selama sepupuku Reynald menjadi mentormu". Ucap Renata.


Anggi pun segera membaca kata demi kata dengan teliti dan memahami nya dengan baik. Ia tidak mau ada kesalah pahaman di waktu yang akan datang dengan pihak Reynald.


"Kau hanya di beri waktu 1 kali pertemuan dalam 1 minggu. Setiap hari Rabu tepat di jam makan siang. Reynald hanya akan meluangkan waktu nya selama 2 jam saja". Jelas Renata.


Anggi hanya mengangguk-angguk karena diri nya juga masih membaca beberapa poin terakhir.


"Mbak, boleh aku bertanya di dua poin terakhir?". Tanya Anggi menadahkan wajahnya menatap Renata.


"Silakan.. Kau bebas bertanya". Jawab Renata.


"Poin ke 4 di sebutkan kalau saya akan dapat hukuman jika saya memberitahu pihak manapun tentang hal ini. Hukuman seperti apa ya, Mbak?".


Anggi melipat kedua tangan nya di dada dan menatap sang mahasiswi. "Aku juga tidak tau tentang hal itu. Reynald hanya memintaku untuk mengetik apa yang dia ucapkan. Dan semua ucapan nya adalah yang kau baca saat ini".


"Lalu tentang makan siang bersama sebagai bayaran atas jasa mentornya, maksud nya apakah di luar jam mentoring atau di lakukan bersamaan dengan itu?". Tanya Anggi lagi.


"Di hari yang sama. Tadi sudah ku bilang, bahwa Reynald hanya akan meluangkan waktu nya 1 kali di hari rabu saja". Jawab Renata.


Renata tiba-tiba mencondongkan tubuh nya ke depan. "Kau tau? Saran ku, lebih baik kau cari saja mentor yang lain. Sepupu ku itu sedang patah hati. Dia sedang labil dan terkadang menyeramkan. Apa kau tidak takut?". Ujar Renata sedikit berbisik.


Renata kembali bersandar ke sofa. "Ah.. buat apa aku berbisik. Pria bodoh itu tidak ada di sini". Renata mendumel.


Anggi terdiam mendengar penuturan Renata. Patah hati? Bukan kah Pak Reynald tidak pernah memiliki kekasih?

__ADS_1


Renata menatap Anggi dengan intens. "Hei.. Kau jangan bocor kan hal ini pada siapapun..." Ucap Renata.


Anggi mengangguk cepat. "Siap, Mbak! Rahasia aman!". Ujar Anggi seraya bergaya mengunci mulutnya.


Renata tersenyum dan segera bangkit dari duduk nya.


"Ayo, kau ku antar ke ruangan Reynald sekarang".


Anggi pun bangkit dan mengikuti langkah Renata ke luar ruangan. Ini kedua kali diri nya berkunjung ke kantor yang megah. Terlebih lagi di lantai paling atas pemandangan kota selalu terlihat memukau.


^^^Tok! Tok!^^^


"Masuk!".


Terdengar suara dari arah dalam ruangan. Renata pun langsung membuka pintu ruangan Reynald dan melangkah masuk di ikuti oleh Anggi dari belakang.


"Rey.. dia sudah datang". Ucap Renata.


Reynald menutup berkas yang sedang Ia periksa sebelumnya dan menadahkan kepala melihat Renata dan Anggi secara bergantian.


"Kau boleh keluar, Renata". Ujar Reynald akhirnya.


"Kau duduk dulu di sofa. Ada beberapa hal yang harus kuperiksa". Ujar Reynald mempersilakan Anggi untuk menuju ke sofa.


Reynald memencet sebuah tombol di sebuah telfon yang terletak di samping PC nya. Ia memencet sebuah tombol yang menghubungkan langsung ke area pantry.


"Tolong antarkan snacks dan dua gelas guava juice ke ruanganku". Ucap Reynald dan langsung mengakhiri sambungan tanpa mendengar jawaban apapun.


Reynald pun segera membuka berkas yang sebelumnya sedang Ia periksa sebelum kedatangan Anggi. Raut wajah nya begitu serius dan sesekali mengerutkan kening ketika membaca beberapa hal yang tidak sesuai dengan seharusnya.


Anggi yang di suruh menunggu pun duduk diam di sofa tanpa bergerak sedikitpun atau menimbulkan suara yang berisik. Ia kuatir akan mengganggu konsentrasi sang CEO.


Dari sofa yang menjadi tempat duduknya saat ini, Ia bisa mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru. Pertama kali Ia datang ke ruangan Reynald, Ia benar-benar terpukau karena begitu mewah nya dan terasa maskulin.


Anggi lalu melihat ke arah Reynald yang terlihat sangat tampan di kala Ia sedang serius bekerja. Memang, Reynald tidak banyak tersenyum di berbagai foto yang Ia lihat melalui portal online khusus bisnis. Pria itu selalu memberikan aura cool dan maskulin yang dengan telak membuat kaum hawa menjadi penasaran.


Anggi menelusuri tubuh Reynald yang tegap, rambut hitam kecokelatan, jari jemarinya yang terlihat sangat nyaman untuk di genggam.

__ADS_1


Plak!


Anggi menepuk dahi nya pelan. Apa-apaan otak ku!


Anggi pun melihat rak buku yang cukup besar dengan banyak buku di dalam nya. Pertama kali Ia datang tempo hari, rak buku itu langsung menarik perhatian nya. Ia senang membaca buku apapun dan jujur saja Ia penasaran dengan koleksi buku seperti apa yang di senangi oleh seorang Reynald.


Anggi ingin sekali mengucap beberapa kata untuk menginterupsi sejenak Reynald dari kegiatan nya. Ia ingin meminta izin untuk melihat-lihat jejeran buku yang ada di rak.


Namun Ia merasa gugup setengah mati. Rasa sungkan nya lebih besar di banding rasa penasaran nya. Terlebih lagi Ia mengingat ucapan Renata beberapa saat yang lalu bahwa Reynald sedang labil dan terkadang menyeramkan. Ia takut di semprot habis-habisan dan pria itu membatalkan untuk menjadi mentornya.


Tidak.. Tidak.. Lebih baik aku diam saja!


Anggi menggelengkan kepala nya. Namun gerakan itu tertangkap oleh mata Reynald yang tidak sengaja sedang menatap ke arah Anggi.


"Hei.. Apakah kau tidak pegal duduk kaku seperti itu? Aku hampir lupa kau ada di sini. Bahkan napas mu saja tidak terdengar". Ucap Reynald.


Anggi sontak saja berpaling melihat ke arah Reynald dan tertunduk malu. "Maaf, Pak.."


Reynald mengerutkan kening heran. "Apa kau terbiasa meminta maaf walau tidak melakukan kesalahan apapun?".


Anggi menggelengkan kepala. "Bukan begitu, Pak Reynald. Saya hanya canggung berada di sekitar anda hehehe". Anggi tertawa simpul.


Reynald mengibaskan tangan nya. "Aku tau. Semua orang selalu seperti itu jika di dekatku".


Anggi hanya tersenyum bingung untuk menanggapi seperti apa.


Tak lama dua orang dari pantry pun mengantarkan pesanan yang di minta oleh Reynald dan menaruhnya di atas meja. Setelah itu mereka pamit untuk pergi kembali ke pantry.


"Makan dan minum lah dulu. Hanya tinggal 1 berkas yang harus aku lihat". Ujar Reynald mempersilakan Anggi untuk menyantap kudapan yang telah di sediakan.


"Mmm..Pak...Boleh kah saya melihat-lihat buku di rak buku itu?".Ujar Anggi akhirnya memberanikan diri.


Reynald melihat rak buku yang berada tak jauh dari meja kerjanya. Lalu Ia pun beralih menatap ke arah Anggi.


"Silakan.. Kau bebas untuk melihatnya". Ujar Reynald lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


•••••••••••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••••••••••••

__ADS_1


Like, Komen dan Tambahkan ke favorit yaaa...Tunggu bab-bab selanjutnya.. Masih sepi sih but its okay😁


__ADS_2