
"Lepaskan dia.." Ucap Reynald dengan nada dingin.
Kedua orang yang di pergoki oleh Reynald masih saja diam tak berkutik dengan raut wajah yang bertolak belakang. Sang pria menampakkan kebingungan dan sang wanita malah menunduk takut tak berani menatap ke arah Reynald.
"Ku bilang lepaskan tangan nya!". Geram Reynald tatkala melihat sang pria masih mencengkram kuat pergelangan tangan wanita itu.
"Maaf Tuan Reynald, Ini hanya seorang waitress. Dia melakukan kesalahan pada saya. Jadi saya berniat menghukumnya". Ucap pria itu.
Reynald mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum sinis.
"Oh ya? 'Hanya waitress?' Kau yakin?". Tanya Reynald.
Pria itu mengerutkan kening bingung. "Maksud anda apa?".
"Kau melakukan kesalahan apa pada pria tua ini hingga dia menyeretmu?". Reynald mengabaikan pertanyaan pria itu dan beralih menatap sang waitress yang tak lain adalah Anggi.
Tak ada jawaban. Anggi hanya diam membisu dan menundukkan kepala.
Reynald menghela napas pelan lalu menyentakkan tangan sang pria tua yang sedari tadi belum melepaskan cengkraman nya dari tangan Anggi.
"Ikut aku". Ujar Reynald menarik Anggi begitu saja dan meninggalkan sang pria tua dalam sejuta tanda tanya.
Reynald keluar dari ballroom melalui pintu darurat yang langsung terhubung menuju lantai dasar. Ia tak lupa menghubungi Renata untuk memberitahukan bahwa dirinya pulang lebih dulu.
Reynald membawa Anggi masuk ke dalam mobil nya. Sesaat suasana terasa hening dan canggung. Tak ada dari keduanya yang memulai percakapan. Reynald segera melepas dasi kupu-kupu yang melilit di kerah kemeja nya dan melemparnya begitu saja ke kursi belakang.
"Aku harus kembali bekerja..." Ucap Anggi akhirnya memecah keheningan.
"Bagaimana bisa kau lanjut bekerja jika wajah mu saja pucat pasi begitu?". Ujar Reynald seraya memberikan sebuah botol air mineral baru pada gadis itu.
Anggi menggeleng pelan. "Tapi aku bisa kena hukuman dan tidak akan mendapatkan bayaran kalau seperti ini".
Reynald menggeser posisi tubuh nya hingga menghadap pada Anggi.
"Berapa fee mu dalam satu malam jika event besar seperti malam ini?".
"Lumayan..." Ucap Anggi ambigu.
"Berapa?". Tanya Reynald lagi.
"Itu... Mmhh.. Ya lumayan untuk ku. Aku bisa menabung, membeli keperluanku dan lain sebagainya".
Reynald mendesah pelan.
__ADS_1
"Aku yang bayar fee mu malam ini. Jadi kau tidak perlu kembali ke dalam".
Anggi menatap Reynald terkejut. "Tidak! Aku tidak butuh uang mu! Aku lebih baik bekerja.." Ucap nya seraya menarik tuas pintu mobil.
Namun Anggi kalah cepat karena Reynald segera mengunci pintu mobil.
"Aku bilang jangan kembali ke dalam. Kau susah sekali di beritahu!". Gerutu Reynald kesal.
Anggi memberengut namun mulut nya terkunci rapat. Tak mungkin Ia berani mengumpat balik pada pria di sebelahnya saat ini.
"Kenapa pria tadi menarik mu seperti itu? Apa kau membuat kesalahan?". Tanya Reynald tiba-tiba.
Anggi menggeleng pelan.
"Apa kau mengenalnya?". Pancing Reynald lagi.
"Dia........." Anggi menggantung ucapan nya.
"Dia, apa?". Tanya Reynald.
Anggi terdiam lagi dan hanya bisa menunduk.
Entah dorongan dari mana, Reynald meraih dagu Anggi dan mengangkat wajah gadis itu agar tegak menatap lurus ke arah nya.
"Percaya diri lah.. Jangan menunduk terus! Apa leher belakang mu tidak pegal?". Ucap Reynald.
"Aku sudah tau siapa kau. Siapa pria tadi yang menyeretmu dan ada hubungan apa antara kalian". Ucap Reynald menatap lurus ke depan.
"Kau menyelidiki ku?!". Tanya Anggi dengan raut wajah terkejut.
Reynald mengangguk. "Ya. Benar. Aku menyelidiki latar belakang mu".
"Kehidupan ku tidak menarik sama sekali".
"Buat ku itu menarik. Secara tidak langsung aku berhubungan dengan mu". Ucap Reynald.
Anggi mengerutkan kening tak mengerti. "Maksud nya apa?".
"Ayah mu adalah rekan bisnis ku. Dia CEO Maverick Company tentu saja aku berulang kali melakukan jalinan kerja sama dengan perusahaan nya".
"Dan.. Ternyata kau adalah putri nya" Ujar Reynald seraya menoleh pada Anggi.
Anggi menghela napas pelan. Tatapan nya terlihat sendu. "Aku tidak memiliki hubungan spesial seperti Ayah dan putri nya dalam gambaran keluarga yang harmonis.. Kebetulan saja darah nya mengalir dalam nadi ku". Jelas Anggi tersenyum miris.
__ADS_1
Reynald tak menanggapi. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benak nya.
"Cukup cerita sedih nya. Kau tak perlu berkata apa-apa lagi. Yang penting aku sudah tau tentang diri mu".
"Hm... Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang seru malam ini? Anggap saja itu pengganti pekerjaan mu dan aku akan tetap memberikan fee padamu". Usul Reynald.
"Sesuatu yang seru seperti apa?".
"Kau menemani ku malam ini". Ujar Reynald tersenyum miring.
Anggi sontak saja melayangkan kedua tangan nya menutup dada dan mendesak ke arah pintu.
"Tidak! Kau... Kau... Lebih baik kau pergi ke Club Pak David saja kalau begitu. Di sana banyak yang bisa menemani mu". Anggi terlihat ketakutan.
"Tapi aku ingin kau malam ini..." Ucap Reynald pelan seraya mendekat ke arah Anggi.
"Jangan! Ku mohon kau tidak boleh seperti ini!". Anggi berteriak.
Reynald terus saja mendekat hingga hanya tercipta jarak tipis di antara mereka berdua. Reynald menatap wajah Anggi yang ketakutan. Mata gadis itu terpejam. Reynald mengulum bibirnya menahan tawa.
Plak!
Reynald menyentil dahi Anggi membuat gadis itu membuka matanya.
"Apa yang ada di pikiran mu sebenarnya? Ternyata kau gadis mesum". Ucap Reynald menarik tubuh nya kembali ke posisi semula.
Anggi tersipu malu. Jika bisa Ia melihat pipi nya sendiri, mungkin Ia akan melarikan diri dari hadapan Reynald. Pipi nya memancarkan semburat merah seperti tomat karena telah salah sangka dan berpikir yang tidak-tidak.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja malam ini. Mencoba berbagai makanan pinggir jalan. Hal seperti itu sangat jarang ku lakukan". Jelas Reynald seraya menstarter mobil nya.
"Oh...." Ucap Anggi malu.
"Kenapa? Kau berharap apa pada ku?".
"Tidak.. Tidak ada...Lupakan". Ujar Anggi salah tingkah.
Reynald melirik ke arah Anggi. Gadis itu terlihat imut di mata nya ketika malu-malu dan salah tingkah. Diam-diam Ia mengulum senyum.
"Apa kau punya rekomendasi tempat makan yang enak malam ini?". Tanya Reynald yang tengah melajukan mobil nya keluar dari parkiran hotel.
"Tapi kau pasti di kenali banyak orang kalau makan di pasar malam atau di pinggir jalan". Ucap Anggi tak yakin dengan ajakan Reynald.
Reynald tersenyum. "Tenang saja.. Aku selalu membawa pakaian lain di bagasi mobil ku. Lengkap dengan topi. Lagipula aku bukan artis. Tidak akan banyak orang yang sadar siapa aku. Karena aku hanya muncul di majalah bisnis dan tidak selalu berseliweran di televisi".
__ADS_1
Bukan seperti Clara..... Reynald membatin dalam hati.
•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••