
"Kami tunggu kedatangan anda di Jakarta, Nona Anggi".
"Kami pasti menyediakan fasilitas terbaik untuk anda di sana. Nanti kami kumpulkan perwakilan seluruh pengusaha UMKM dari semua daerah agar dapat menghadiri pertemuan dengan anda. Setidaknya anda bisa menjadi role model bagi para wanita dan ibu muda untuk berbisnis. Itu bisa membantu menggerakkan roda ekonomi di dalam negeri". Ujar Menteri Perdagangan Indonesia seraya berjabat tangan dengan Anggi.
"Tentu saja dengan senang hati saya akan melakukannya. Saya tunggu susunan acara finalnya". Sahut Anggi tersenyum.
Psrtemuan yang berlangsung selama dua jam itu pun mengalir lancar tanpa ada kendala. Inti dari pertemuan itu adalah meminta Anggi untuk membuka cabang perusahaannya di Indonesia agar menjangkau masyarakat lokal, tentu saja alasan utama karena Anggi masih warga negara Indonesia.
Setelah selesai acara, Anggi lantas segera kembali menuju kantornya. Sepanjang jalan Ia berpikir apakah 5 tahun adalah waktu yang tepat untuk berkunjung kembali ke negaranya?
Semenjak kepergiannya dulu, Anggi tidak pernah sekalipun datang berkunjung. Bahkan Ia pun mengganti seluruh nomor ponsel dan emailnya agar tidak di hubungi oleh siapapun. Namun tepat tahun lalu Anggi tiba-tiba di kejutkan oleh kedatangan sang ayah, Hendra Wibrata di kantornya.
Hendra mencari Anggi dengan memakai jasa detektif tersohor. Ayah dan anak itupun menjalin hubungan yang lebih baik dari sebelumnya. Hendra setiap 6 bulan sekali selalu datang mengunjungi Anggi sekaligus membantu mengarahkan Anggi dalam menjalankan perusahaannya.
Tak lama Anggi yang sudah berada di lobby kantor segera memasuki lift menuju lantai 12, lantai teratas di mana ruang kerjanya berada.
"Mbak, Ada Pak Hendra di dalam sudah menunggu". Ujar Mila, sekretaris Anggi.
"Baiklah. Kamu pulang saja duluan ya, Mil". Sahut Anggi yang segera di angguki oleh Mila.
Anggi menatap kepergian Mila dengan senyuman terukir di bibirnya. Ia sangat senang dengan semangat gadis itu. Anggi mengenal Mila saat Ia sedang mencari kios untuknya berjualan. Mila yang merupakan penduduk lokal, membantu Anggi dengan tulus hingga saat ini gadis itu menjadi sekretaris pribadi Anggi yang cekatan.
"Apa kabar, Ayah?". Sapa Anggi saat Ia melihat Hendra menatap jejeran piagam penghargaan yang tersusun rapi di sebuah lemari kaca.
Hendra membalikkan tubuhnya dan melemparkan senyum manis pada Anggi.
"Aku baik-baik saja".
"Ini untukmu". Ujar Hendra seraya memberikan sebuah buket bunga yang indah pada Anggi.
"Selamat. Kau berhasil membawa namamu harum ke penjuru negeri. Aku sangat bangga melihatmu saat ini".
__ADS_1
Anggi lantas menerima buket bunga dari Hendra dan menghirup aroma harum yang menguar. Ia mengulas senyum manis pada sang ayah.
"Semua ini tidak akan terjadi jika Ayah tidak membantuku".
Hendra terkekeh pelan. "Aku tidak melakukan apapun untukmu. Ini semua murni karena kerja kerasmu".
"Kau tahu? Setelah berita online memajang fotomu dan namamu di mana-mana. Satu orang langsung menghubungiku tadi. Kau pasti bisa menebak siapa orang yang aku maksud".
Hendra melirik Anggi yang raut wajahnya berubah menjadi kaku.
"Dia mengumpatku begitu saja. Dia kesal karena tidak mengetahui jika ternyata kau sangat dekat dengannya. Sepengetahuanku, dia sering berkunjung ke kantor cabangnya di Dubai. Jarak dari sini ke Dubai hanya 2 jam. Tentu saja dia kesal hehehehe". Hendra tertawa kecil saat mengingat kemarahan pria yang sedang di bicarakan olehnya.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Anggi segera merubah raut wajahnya dengan senyuman hangat. Seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan dengan gagahnya. Pria itu lantas menghampiri Anggi dan memeluk mesra tubuh ramping wanita itu.
"Selamat untukmu sayang. Aku bangga sekali melihat fotomu beredar di internet dengan judul 'Pebisnis muda yang berasal dari Indonesia........"
"Hahahaa sudah cukup jangan di teruskan! Rasanya memalukan mendengar itu". Anggi memotong ucapan pria itu seraya tertawa pelan.
Pria tampan itu menoleh dan menampakkan senyuman lebar. "Ah Maaf! Aku sangat antusias tadi jadi aku tidak menyadari kalau Ayah berdiri di sana". Pria itu menggaruk tengkuk lehernya dengan kikuk.
Hendra melangkah mendekat ke arah pria itu dan menepuk pundaknya pelan.
"Aku hanya bercanda".
"Bagaimana kalau kita makan malam untuk merayakan momen ini?". Usul Hendra seraya menatap silih berganti pada dua anak muda di hadapannya.
"Bagaimana? Apa kamu tidak sibuk?". Tanya Anggi.
"Aku selalu punya banyak waktu untuk tunanganku dan calon ayah mertuaku ini". Ujar pria itu seraya mengedipkan mata.
•••
__ADS_1
Di sisi lain, Reynald yang baru saja sampai ke penthouse tanpa membuang waktu segera membersihkan dirinya. Tubuhnya cukup lelah setelah seharian bekerja. Terlebih lagi Ia masih merasa syok saat mendengar kabar keberadaan Anggi yang selama 5 tahun ini hilang bagai di telan bumi ternyata begitu dekat dalam jangkauannya.
Reynald yang sedang berendam di bathtub lantas meraih ponselnya dan melihat foto Anggi yang beredar di mana-mana sebagai pengusaha muda wanita yang sukses mendirikan bisnis di negara orang. Reynald tersenyum kala melihat senyuman di wajah Anggi.
"Senyuman yang kau berikan untukku terakhir kali saat malam pernikahanku ternyata selalu kau jaga". Reynald bergumam.
Ia membaca berbagai berita yang memuat tentang bisnis yang di lajukan oleh Anggi di Abu Dhabi. Terbesit rasa bangga dalam hatinya karena gadis itu telah sukses besar. Hanya melihat itu saja, Reynald sudah sangat lega. Selama ini Reynald bertanya-tanya bagaimana kehidupan gadis itu di luar sana. Namun kini hatinya sudah tenang kala melihat Anggi hidup dengan baik.
Tiga puluh menit kemudian Reynald yang sudah selesai melakukan ritual bersih-bersihnya dan berpakaian lengkap lantas keluar kamar untuk menuju kamar Jessy. Setiap malam Ia selalu membacakan dongeng untuk putrinya hingga gadis kecil itu tertidur lelap.
Reynald berpapasan dengan Clara yang baru saja masuk ke dalam penthouse. Clara yang semakin tenar tentu saja semakin sibuk dengan berbagai project film juga berbagai brand yang telah mengontraknya.
"Rey.. Kau sudah pulang?". Sapa Clara saat mengganti high heelsnya ke sandal rumah.
Reynald menganggukkan kepala pelan seraya menuju area pantry dan mengambil sebotol air minum dari kulkas. Reynald pun kembali menghampiri Clara dan memberikan botol air minum itu pada Clara.
Clara lantas meneguknya hingga tersisa setengah botol. Wanita itu mengusap mulutnya dengan punggung tangannya.
"Aaahh.. Menyegarkan sekali.." Ucap Clara seraya menghembuskan napas lega.
"Kau istirahatlah. Aku yakin esok pagi kau akan berangkat sebelum aku dan Jessy terbangun". Ujar Reynald seraya melangkah menuju ke kamar putrinya.
Clara dengan cepat menahan lengan Reynald hingga pria itu menoleh kembali ke arahnya.
"Rey... Ini sudah 5 tahun.."
Reynald bergeming menatap Clara sejenak dan menghela napas pelan.
"Kita sudah pernah membicarakannya, Clara. Istirahatlah". Reynald mengusap rambut Clara dan segera berlalu begitu saja.
Clara menatap punggung Reynald dengan tatapan yang sangat rumit untuk di jabarkan.
__ADS_1
••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••