Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 43


__ADS_3

"Tidak.. Tidak..Tunggu! Oh Astaga!". Reynald berteriak.


Anggi melihat ke belakang di mana Reynald berada dan hanya terkekeh geli menatap pria tampan itu yang sedang kewalahan berpijak dari satu batu ke batu lainnya.


Keduanya kini sedang bermain di sebuah curug yang cukup dekat dari rumah panggung. Curug tersebut cukup tersembunyi. Tidak banyak yang tahu selain warga lokal sehingga keadaannya tidak ramai dan menenangkan.


"Kau sebagai pemandu di sini harusnya menunggu ku!". Reynald menggerutu.


Anggi terkekeh pelan. "Maaf.. Habisnya kamu lama". Ucapnya.


Reynald menyugar rambutnya pelan. "Di mana air terjunnya? Kenapa sepanjang kita berjalan hanya aliran air ini saja yang ada?".


Tanpa menjawab, Anggi lantas menarik tangan pria itu dan segera melangkah kembali di ikuti oleh Reynald. Keduanya berjalan dengan hati-hati. Hingga beberapa menit kemudian sampailah mereka di air terjun yang cukup tinggi dengan debit air yang deras.


Air yang mengalir dari air terjun itu sangat jernih dan terasa dingin menusuk di kulit. Reynald memandang ke sekitar dan merasa takjub. Keadaan di sini begitu asri. Hanya ada beberapa orang yang sedang bermain air di sekitar mereka.


"Aku ingin ke bawah air terjun itu..." Ucap Anggi seraya melangkah menjauh dari Reynald.


Namun dengan cepat Reynald menarik tangan Anggi dan menatap gadis itu dengan tatapan membunuh.


"Kau mau mati hah?". Cecar Reynald.


"Kau tahu... Kedalaman kolam dibawah air terjun itu biasanya sangat dalam di banding sisi luar yang kita pijak saat ini. Aliran air di bawah sana pasti sangat kencang karena tekanan!". Reynald menjelaskan.


"Darimana kamu tau hal itu?". Tanya Anggi.


Reynald mengusap wajahnya kasar dan menatap tak percaya pada kekasihnya.


"Astaga... Walau aku baru pertama kali datang ke curug seperti ini. Tapi di mana-mana hal tentang air terjun itu sama!". Omel Reynald.


"Sudah! Kita main air saja di sini!". Reynald memegang kedua sisi pinggang Anggi dan mendudukkan gadis itu di atas batu besar.


Beberapa jam kemudian keduanya telah kembali ke rumah panggung. Anggi segera memasak air panas untuk Reynald mandi. Pria itu segera masuk ke dalam kamar dan mengambil sebuah kaus bersih. Pulang dari curug seluruh pakaian yang membalut tubuhnya basah dan membuat dirinya kedinginan apalagi suhu menjelang petang sudah dipastikan menurun.


"Rey... Airnya sudah si........ap". Anggi tertegun dan segera membalikkan badan saat melihat Reynald yang sedang bertelanjang dada dan bagian bawah tubuhnya hanya di balut dengan handuk.


Reynald tersenyum miring seraya melangkah pelan.


Tok.. Tok.. Tok..


Reynald mengetukkan tangannya ke pintu.


"Kau tahu... Seharusnya kau mengetuk pintu lebih dulu". Bisik Reynald dari belakang tepat ke telinga Anggi.

__ADS_1


"Beruntung aku hanya bertelanjang dada. Kalau aku sedang bertelanjang bulat bagaimana hmm?". Goda Reynald masih dengan nada pelan.


Hembusan napas Reynald yang tepat ke tengkuk leher Anggi membuat gadis itu meremang seketika.


"Ma...Maaf.. Maafkan aku!". Ucap Anggi seraya berlari kecil meninggalkan Reynald begitu saja.


Reynald mengulum senyum menatap kepergian Anggi seraya menyugar rambutnya. "Ah.. Gadis yang menggemaskan.."


•••


Dua bulan kemudian


Hari ini adalah hari yang penting dalam hidup Anggi. Karena hari ini adalah hari wisuda sudah Ia tunggu-tunggu. Selama dua bulan kehidupannya berjalan dengan baik. Ia tidak lagi bekerja sebagai waitresa di club milik David karena tentu saja Reynald bersikeras melarangnya.


Kini Anggi sudah bekerja sebagai seorang staf Departemen Business Development di sebuah perusahaan swasta skala menengah. Reynald tentu menawari gadis itu untuk bekerja di perusahaannya, namun Anggi menolak dengan alasan tidak ingin mengambil sebuah keuntungan dan takut dia di anak emaskan oleh pria itu di kantor jika mengingat karakter Reynald.


Hubungan keduanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Perdebatan kecil tentu ada jika mengingat terkadang Reynald senang memaksakan kehendaknya pada Anggi. Sudah tiga bulan berjalan dan mereka semakin tambah mesra. Namun Reynald tetap berpegang teguh dengan ucapannya tempo hari. Ia benar-benar menjaga Anggi dengan baik. Bahkan satu kancing teratas Anggi pun tak pernah Ia buka.


Tiba-tiba ponsel Anggi berbunyi nyaring. Gadis itu dengan cepat meraihnya karena memang sedari tadi Ia sedang menunggu telfon dari Reynald.


"Halo...."


"Kau sudah mandi?"


"Tidak perlu memoles apapun pada wajahmu. Kau segera pergi ke butik Farah saja. Di sana Ia yang akan membantumu mempersiapkan segala keperluanmu"


"Dan... Pakai baju biasa saja"


Anggi menghela napasnya pelan. "Baiklah.. Tapi tunggu.. Apa Mbak Renata akan menyusulku ke butik?".


"Ya. Nanti dia akan datang. Saat ini Ia harus menemaniku lebih dulu untuk rapat"


"Oke".


"Kalau kamu sibuk, kamu tidak perlu datang ke acara wisudaku..". Ujar Anggi pelan.


"Kalau begitu artinya aku harus datang"


"Kenapa begitu?". Tanya Anggi.


"Karena jika seorang wanita berkata tidak dengan nada yang sendu, itu berarti kebalikannya. Artinya 'reynald kau harus datang!' Benarkan?"


Anggi mengulum senyum mendengar ucapan Reynald via telfon.

__ADS_1


"Tunggu saja di sana. Renata yang lebih dulu menemanimu. Tapi kau tahu kan? Walau aku datang, kita berdua tidak benar-benar bisa tampil bersama di sana".


Anggi tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku paham hal itu".


"Baiklah.. Aku tutup dulu telfonnya. Sebentar lagi aku harus memulai rapat".


Tak lama kemudian Anggi segera beranjak dari sofa dan bersiap-siap untuk segera pergi ke butik Farah, teman kuliah Reynald tempo dulu.


Setelah menempuh kurang lebih satu jam berkendara, Anggi memarkirkan mobilnya di depan butik. Ya. Kini Anggi lagi-lagi menuruti titah Reynald yang tak ingin melihat kekasihnya memakai sepeda motor untuk beraktifitas. Walau mobil sport dua pintu itu terlalu mencolok untuk di pakai oleh Anggi apalagi ketika Ia berangkat bekerja. Namun tetap Anggi pakai dan tak menghiraukan ucapan heran dari orang lain.


"Hi manis... Sudah datang rupanya". Sapa Farah sembari cium pipi kiri kanan Anggi.


"Kita langsung saja ya?". Usul Farah yang di angguki oleh Anggi.


Farah mengajak Anggi ke lantai dua dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Anggi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hingga membuat bola matanya berbinar.


"Apakah ini semua tidak di jual seperti di lantai satu Mbak?". Tanya Anggi seraya melihat sebuah kebaya modern berwarna maroon.


"Hm... Aku menjualnya.. tapi setiap model hanya aku buat 2 saja. Jadi ini bisa di bilang koleksi terbatas hehehe". Farah terkekeh sembari mengambil sebuah kebaya cantik berwarna navy dengan potongan sabrina di leher.


"Kau coba dulu ini.. Aku rasa warna ini sangat kontras dengan kulitmu". Ucap Farah seraya menyodorkan kebaya tersebut.


Anggi meraihnya lalu melangkah menuju ruang ganti. Tak perlu susah payah memakai kebaya tersebut hingga Anggi keluar dari ruang ganti dan memperlihatkannya pada Farah.


Farah menatap Anggi terpana. "Wah benar dugaanku! Kau sangat cocok dengan kebaya ini!".


Anggi tersenyum malu-malu mendapat pujian dari Farah.


"Reynald pasti akan tambah jatuh hati saat melihatmu seperti ini. Apalagi jika rambut dan wajahmu sudah di rias! Ah.. Aku tidak sabar mendandanimu! Ayo sekarang kita ke ruang rias!". Ucap Farah semangat seraya menarik pelan lengan Anggi.


"Tunggu Mbak..." Tahan Anggi.


Farah mengerutkan kening. "Kenapa?Apa kau tidak suka dengan kebayanya?". Tanya Farah.


Anggi menggeleng pelan.


"Bukan itu.. Tapi tadi Mbak Farah bilang kalau Reynald akan tambah jatuh hati padaku. Kenapa Mbak bisa bilang seperti itu?".


Farah terkekeh. "Aku tahu kalau kau adalah kekasih Reynald, kan? Dia tidak akan memperlakukanmu spesial seperti ini kalau kau bukan kekasihnya sampai-sampai Renata pun menelfon ku untuk memintaku melakukan yang terbaik untukmu hari ini". Farah mengulum senyum melihat raut wajah terkejut Anggi.


"Tenang saja. Aku pintar jaga rahasia!".


•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••

__ADS_1


__ADS_2