
Satu Minggu Kemudian
Reynald berdiri di jendela ruang kantor menatap ke luar dengan pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar nya. Sudah tepat satu minggu sejak pencarian Clara ke Lombok dan kali ini Ia benar-benar meyakinkan diri nya sendiri bahwa Ia harus membuang segala hal tentang Clara dalam hidup nya.
Bukan salah nya kan? Clara yang tiba-tiba pergi tanpa kabar pada diri nya. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin mencari wanita itu selama 5 bulan dan tidak menghiraukan protes banyak orang di sekeliling nya karena Ia cenderung mengabaikan tanggung jawab nya di perusahaan.
Reynald menghela napas kasar. Jujur saja melupakan nya bukan hal yang mudah. Clara wanita yang baik dan tidak banyak tingkah. Clara tidak pernah meminta barang-barang mahal pada diri nya walau wanita itu artis terkenal yang pasti memiliki kehidupan glamour.
Reynald berjalan menuju meja kerja nya dan menekan sebuah tombol di telfon yang langsung terhubung ke meja Renata.
"Ren.. Datang ke ruangan ku". Ucap Reynald singkat.
Tak butuh waktu lama Renata pun masuk ke ruangan Reynald karena memang ruangan mereka berdua berada di lantai yang sama di lantai teratas.
"Ada apa?". Tanya Renata.
"Apa jadwal ku hari ini?". Tanya Reynald seraya menyeruput secangkir cappucino.
"Tidak banyak agenda untuk mu hari ini. Hanya 1 meeting yang harus kau hadiri dengan Maverick Company pukul 9 lalu setelah nya kau harus menjadi mentor untuk mahasiswi mu". Jelas Renata.
Reynald mengerutkan kening. "Mahasiswi ku?". Tanya Reynald.
"Anggi". Ucap Renata.
"Ku kira siapa! Penyebutan 'mahasiswi ku' bisa menjadi banyak makna negatif kau tau!". Ujar Reynald.
"Kau saja yang berpikir negatif. Aku tidak. Memang benar kan dia seorang mahasiswi dan kau menjadi mentor nya. Wajar saja jika aku sebut dia mahasiswi mu karena kau sedang menjadi dosen dadakan nya hahahaha". Renata tertawa terbahak-bahak.
"Ya.. Ya.. Tertawa lah sepuas mu! Sekarang keluar dari ruangan ku!". Usir Reynald kesal.
Renata lantas berjalan meninggalkan ruangan Reynald masih dengan tertawa puas.
"Terima kasih Pak Reynald atas kesempatan nya pada perusahaan saya. Suatu kebanggaan bisa bergabung dalam project besar ini bersama perusahaan anda". Ucap CEO Maverick Company, Hendra Wibrata.
"Sama-sama. Semoga project ini berjalan dengan baik tanpa banyak hambatan". Ucap Reynald seraya berjabat tangan dengan Hendra.
"Ngomong-ngomong, Apakah anda ada waktu luang malam ini? Saya ingin mengundang anda makan malam di rumah saya". Ujar Hendra menatap dengan harap.
__ADS_1
Reynald berpikir sejenak lalu tersenyum tipis. "Maaf Pak Hendra, Saya sudah ada janji dengan teman. Mungkin di lain waktu". Tolak Reynald halus.
"Wah.. Sayang sekali... Padahal saya ingin mengenalkan anda pada putri saya". Hendra tidak bisa menutupi raut kecewa di wajah nya.
Reynald hanya tersenyum tipis dan mengangguk berpamitan. Ia dan Renata pun berlalu meninggalkan CEO Maverick Company beserta sekretarisnya.
"Huh dasar tua bangka! Rupanya dia masih berusaha mendekati para pria kaya untuk di jodohkan dengan putri nya!". Gerutu Reynald sambil berjalan.
"Kenapa kau tidak mau datang? Bukan kah kau tidak ada jadwal apapun malam ini? Kudengar putri CEO Maverick Company itu cantik, Rey". Ujar Renata yang berjalan di samping nya.
"Cantik atau tidak, aku tidak peduli" Jawab Reynald ketus dan melangkah cepat meninggalkan Renata menuju ruangan nya di lantai atas.
"Hei! Kau jangan lupa mahasiswi mu akan datang 30 menit lagi ke ruangan mu!". Teriak Renata.
Reynald hanya berlalu begitu saja tanpa menoleh ke belakang dan masuk ke dalam lift.
30 menit kemudian
Tok..
Tok..
Pintu ruangan Reynald terbuka tanpa mendengar jawaban apapun dari sang pemilik ruangan. Renata masuk membawa Anggi yang mengekor di belakang nya. Gadis itu benar-benar datang tepat waktu. Ia berusaha disiplin dan menjaga image yang baik di hadapan Reynald. Karena Ia yakin seorang CEO pasti tidak suka membuang waktu dan bekerja dengan orang yang tidak disiplin.
"Rey, Anggi sudah datang". Renata menginterupsi Reynald yang sedang mencatat sesuatu di sebuah berkas.
"Duduk lah dulu". Ujar Reynald tanpa menatap kedua nya.
Renata menoleh ke arah Anggi. "Ayo. Duduk dulu di sofa". Renata melangkah menuju sofa dan mendudukkan diri nya si atas kursi empuk dan nyaman berwarna cokelat.
Anggi lalu mengikuti Renata dan mendudukkan diri nya di sofa yang berhadapan.
Tak lama kemudian Reynald menutup berkas yang di beri catatan oleh nya kemudian memasukkan berkas itu ke dalam brankas.
"Kenapa kau masih ada di sini?". Tanya Reynald melihat pada Renata.
"Aku menunggu mu untuk menanyakan menu makan siang untuk hari ini". Ucap Renata seraya memeriksa kuku-kuku palsu yang di pakai nya.
__ADS_1
"Kau mau makan apa?". Reynald beralih menatap Anggi.
Anggi yang tiba-tiba di tanya mendadak gugup.
Renata tersenyum kecil. "Jangan gugup seperti itu. Dia tidak akan menggigitmu". Ucap Renata pada Anggi.
Anggi sontak saja menunduk malu.
"Kau pesan kan saja steak di restoran yang biasa aku pesan". Titah Reynald pada Renata.
"Kau suka steak kan?". Reynald beralih bertanya pada Anggi.
"I.. Iya.. Saya suka, Pak". Jawab Anggi gugup
"Hei! Berapa kali ku bilang aku bukan bapak mu! Berhenti memanggil aku dengan 'Pak!'." Gerutu Reynald kesal.
Renata yang mendengar itu lantas tertawa puas mendengar Reynald menggerutu.
"Kau!". Reynald menatap tajam ke arah Renata yang sedang menertawakan diri nya.
"Hahahahaha Rey.. Kau memang pantas menjadi Bapak Bapak!". Renata masih saja tertawa.
Anggi menunduk sungkan. "Maaf Pak.. Eh..Maksud saya.. Aduh.. Saya harus panggil anda apa..." Anggi menggaruk leher nya yang tidak gatal sama sekali.
"Panggil saja nama ku. Kau bisa panggil aku Reynald.. Rey.. Terserah lah asal bukan dengan pak! Kau bukan karyawan ku yang harus memanggil ku dengan embel-embel Pak". Ujar Reynald.
Anggi mendongakkan kepala. "Tapi itu tidak sopan". Ucap nya.
"Umur mu 23 tahun kan? Hanya beda 6 tahun dengan ku. Clara saja beda 4 tahun dengan ku memanggil Rey. Apa lagi sepupu ku yang kurang ajar ini. Dia saja beda 3 tahun dengan ku terus meneriaki ku dan memaki ku dengan nama ku sendiri". Tunjuk Reynald pada Renata.
Renata yang mendengar perkataan Reynald seketika diam begitu saja. Suasana menjadi hening. Reynald tertegun menyadari apa yang baru saja Ia ucapkan.
"Maksud ku... Hmmm". Reynald tak melanjutkan ucapan nya.
"Ya.. Ya! Kau bisa memanggil dia dengan nama saja. Tidak perlu kaku begitu!". Renata mencairkan suasana.
"Baiklah! Silakan kalian mulai bimbingan nya. Aku akan memesan steak untuk makan siang". Lanjut Renata seraya bangkit dari sofa dan berlalu meninggalkan keduanya yang masih terdiam.
__ADS_1
•••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••
Jangan lupa dukungan nya yaaaaa!😘🙏