Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 11


__ADS_3

Rumah Sakit Melrose


Reynald dan Andre berjalan memasuki wilayah rumah sakit di ikuti oleh dua orang bodyguard serta seorang detektif swasta yang beberapa jam lalu menginfokan berita terbaru pada Reynald. Rombongan tersebut menarik banyak perhatian orang sekitar. Bagaimana tidak, Reynald dan Andre datang ke Rumah Sakit masih memakai jas kerja mereka yang fit body dan memakai kaca mata hitam.


Sontak saja mata orang normal yang waras pun serasa mencuci mata ketika mereka lewat. Pemandangan yang segar!


"Saya sudah menanyakan pada bagian informasi terkait transaksi dari Black Card milik anda di sini. Namun mereka memilih bungkam karena itu privasi". Ucap Detektif pada Reynald seraya berjalan di samping nya.


Reynald mengangguk tipis. "Baiklah.. Biar itu urusan ku".


Tak lama mereka pun tiba di bagian informasi. Beberapa orang yang sedang bertugas di depan komputer lantas mendongak melihat 5 orang pria berjejer.


Reynald berdeham dan merogoh saku yang berada di bagian dalam jas nya dan mengeluarkan sebuah foto. Reynald menatap sekllas foto di tangan nya lalu memberikan pada salah seorang petugas di balik meja.


"Aku mencari wanita ini. Apa kau melihat nya di sini beberapa jam yang lalu?". Tanya Reynald tanpa basa basi.


Seorang petugas meraih foto tersebut dan melihat nya dan mengerutkan kening. Lalu petugas itu menatap Reynald dan kembali lagi menatap foto itu.


"Lho Pak.. Ini kan Clara yang artis itu. Kenapa anda mencari nya di sini?". Tanya petugas tersebut.


"Jangan balik bertanya. Kau jawab saja pertanyaan ku! Apa kau melihat nya di sini?". Tegas Reynald seraya melepas kaca mata hitam dan menatap tajam pada petugas di hadapan nya.


Petugas itu melirik beberapa teman nya yang lain dan kembali menatap takut ke arah Reynald. Andre mengeluarkan sebuah invoice tentang aktifitas Black Card milik Reynald di bagian administrasi beberapa jam yang lalu.


Petugas itu pun menghela napas nya. "Kalau pun ada aktifitas administrasi di Rumah Sakit menggunakan kartu tersebut, sudah kebijakan pihak kami untuk menjaga privasi siapapun yang telah memakai jasa kesehatan di tempat kami".


Reynald menoleh pada Andre. "Cepat kau hubungi direktur Rumah Sakit ini! Katakan pada nya aku sedang mencari seseorang di rumah sakit nya namun para petugas informasi di hadapan ku ini menghalangi ku!". Ujar Reynald seraya tersenyum miring menatap satu per satu petugas yang menelan ludah gugup.


Andre mengetuk layar ponsel nya dua kali dan segera mencari kontak seorang direktur Rumah Sakit Melrose. Ia sengaja berlambat-lambat ketika mencari nomor milik direktur tersebut walau sebenarnya Ia hanya tinggal mengetik abjad pertama dan tersortir lah nama-nama dalam kontak nya.


Andre sengaja memperlambat karena Ia tidak ingin melibatkan banyak pihak. Terlalu banyak orang yang tau, suatu hari akan menjadi masalah bagi Reynald. Begitu lah kira-kira pikiran Andre.


"Kau lama sekali hanya mencari nomor nya!". Reynald mengambil paksa ponsel dari tangan Andre.


Andre menghela napas kasar. "Rey, kita bisa cari satu per satu di sini dengan tenang. Aku sudah menempatkan beberapa orang penjaga di setiap akses keluar masuk Rumah Sakit ini dan memberikan foto Clara pada mereka".

__ADS_1


Reynald menggelengkan kepala. "Tidak bisa. Jika kita bisa membuka mulut orang-orang keras kepala ini, kita bisa langsung ke tempat tujuan. Rupanya mereka meminta aku menggunakan koneksi ku. Bukan salah ku kan?".


Reynald lalu mendapatkan daftar kontak direktur Rumah Sakit di ponsel Andre dan segera mendial nomor tersebut.


Tut...


Tut...


Dua kali nada memanggil terhubung. Reynald sengaja mengaktifkan loudspeaker agar terdengar oleh semuanya.


"Hi Reynald! Ada angin apa kau menghubungi ku? Wah aku terkejut".


Terdengar sebuah suara di ponsel Andre. Para petugas itu pun saling melihat satu sama lain dan meremas kemeja kerja mereka masing-masing.


"Maaf mengganggu mu, boleh kah aku meminta bantuan mu?'. Ucap Reynald.


"Tentu saja.. Apa yang bisa ku bantu?".


Reynald tersenyum miring menatap satu per satu petugas yang terlihat gugup.


"Begini.... Aku...."


"Bro.. Akan aku hubungi lagi nanti!". Reynald memutus sambungan telfon begitu saja dan memberikan nya pada Andre.


"Apa maksud mu Poli Gigi?". Tanya Reynald.


"Wanita yang anda cari tadi mengunjungi Poli Gigi. Dia melakukan operasi kecil". Ujar petugas tersebut.


Andre mengerutkan kening. "Kau tidak berbohong kan?".


"Anda bisa melihat nya sendiri di laporan ini". Petugas itu memutar layar komputer nya.


Reynald membungkuk sedikit dan segera melihat dengan seksama apa yang tertulis di layar komputer. Dengan jelas tertera nama Clara, alamat, tindakan di Poli Gigi dan hal lain nya. Reynald kembali berdiri tegap dan menatap pada Andre. "Kau urus mereka. Pastikan berita ini tidak tersebar".


Andre mengangguk lalu mengeluarkan sebuah cek sedangkan Reynald di ikuti oleh bodyguard dan detektif segera menuju Poli Gigi.

__ADS_1


Sesampai nya di Poli Gigi, Reynald mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan. Dua bodyguard dan detektif menyebar menyisir ke segala sudut. Tertera ada 4 Dokter Gigi yang sedang praktek. Reynald dengan nekat membuka satu per satu ruang praktek ke empat dokter gigi tersebut dan tentu Ia di teriaki oleh beberapa pasien dan perawat.


Reynald memindai satu per satu pengunjung yang sedang menunggu antrian di depan ruang praktek. Ia menghela napas kasar lalu berlalu menuju area toilet di Poli GIgi itu. Memasuki toilet satu per satu dan tak lupa Ia pun memasuki toilet wanita. Beruntung saat itu sedang kosong.


Reynald keluar dari toilet dan Ia mencari ke area playground kecil yang di sediakan oleh Rumah Sakit untuk anak-anak. Namun nihil tak ada Clara di sana.


Tak lama dua bodyguard dan detektif menghampiri Reynald dengan terengah-engah. Reynald menatap penuh harap pada ketiga nya.


"Bagaimana?". Tanya Reynald.


Detektif itu menggelengkan kepala. "Maaf, kami sudah mencari dengan teliti tapi tidak melihat kekasih anda". Ujar sang detektif.


Reynald menyugar kasar rambut nya dan menendang sebuah tong sampah yang terbuat dari bahan serupa kaleng hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.


Perhatian setiap mata lantas sontak saja tertuju ke arah Reynald.


"Bagaimana bisa tidak ada?! Apa kalian sudah mencari ke segala sudut?!". Teriak Reynald.


Sikap nya itu tentu semakin membuat banyak orang penasaran dan mendekat ke arah Reynald. Namun seperti biasa, Reynald tak peduli jika Ia sudah frustasi seperti ini.


"Kalian tidak becus! Kalian......"


Sreeettt...


Andre yang baru saja datang segera melepas jas nya dan di sampirkan ke atas kepala Reynald agar teman kecil nya itu tertutup dari perhatian banyak orang. Reynald memberontak protes.


"Hey! Lepaskan aku!!!'. Ujar Reynald dari balik kungkungan tubuh Andre.


"Cepat bantu aku bawa dia ke mobil". Titah Andre pada kedua bodyguard.


Reynald pun tak bisa berkutik lagi ketika tiga pria bekerja sama membawa nya ke mobil.


"Tolong kau bungkam juga orang-orang yang merekam kejadian tadi". Ucap Andre pada sang detektif yang segera di sanggupi dan di laksanakan.


Dari kejauhan tepatnya di lantai dua. Seorang wanita yang memakai topi dan masker terlihat menitikkan air mata melihat kejadian yang baru saja di lihat oleh nya tadi.

__ADS_1


Maafkan aku Rey.... Aku akan kembali pada mu tapi tidak sekarang.....


•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••


__ADS_2