
Keesokan harinya...
Reynald berdiri tegap menghadap jendela di dalam ruang kantornya sembari menatap pemandangan ibu kota di pagi hari. Matahari menyorot masuk ke sebagian ruangan nya hingga menerpa tubuh kekar itu dengan sinar hangatnya.
Reynald menatap ke segala arah sejauh Ia bisa memandang. Hari ini Ia harus pergi untuk melakukan perjalanan bisnis selama satu minggu ke Dubai. Perusahaannya yang baru berekspansi kurang dari 1 tahun ke negara timur tengah itu masih perlu arahan dari dirinya walau Reynald sudah menunjuk seorang direktur di perusahaan cabang di sana.
Terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang dari luar. Reynald membalikkan badan nya dan berjalan ke arah meja kerjanya.
"Masuk!". Ucap Reynald.
Pintu pun terbuka dan terlihat Andre juga Renata melangkah masuk bersamaan. Keduanya membawa sebuah map di masing-masing tangan mereka.
"Ini draft yang harus kau lihat tentang project yang sedang berjalan di perusahaan cabang Dubai". Ujar Renata langsung menaruh map yang ada di tangan nya ke atas meja kerja Reynald.
"Dan ini... Proposal pengajuan kerja sama dari Maverick Company". Timpal Andre menaruh map juga ke atas meja.
"Oh satu hal lagi... CEO Maverick Company mengundang mu untuk hadir ke acara syukuran ulang tahun dirinya di Hotel Grand Star". Lanjut Andre.
Reynald tersentuk miring. "Katakan saja aku tidak bisa hadir karena ada perjalanan bisnis". Ucap Reynald.
"Seharusnya kau mengambil hati calon mertuamu, Rey..." Ujar Rsnata seraya terkekeh pelan.
Reynald mendecih mendengar penuturan Renata. " Calon mertua apa? Pria tua itu tidak menganggap Anggi sebagai anaknya".
"Yah setidaknya pria tua yang kau maksud masih mau memberikan pendidikan yang baik untuk kekasih mu. Hal itu tidak bisa kau pungkiri". Timpal Andre yang di angguki setuju oleh Renata.
"Sudah cukup. Apa kalian berdua sedang memberikan kesan baik pria tua itu padaku, huh?". Gerutu Reynald sembari menatap dua orang di hadapannya secara bergantian.
"Kau!". Tunjuk Reynald pada Andre.
"Cepat ke penthouse dan bawa koperku lalu segera kembali ke sini karena kita sudah harus berangkat dalam waktu kurang dari 3 jam". Titah Reynald.
"Dan kau!". Reynald beralih pada Renata.
"Selama aku pergi kau harus sesekali melihat keadaan kekasih ku. Pastikan Ia baik-baik saja".
"Oh dan urus sisa pembayaran ke dealer mobil saat barangnya sudah datang. Mungkin dua hari lagi mobil itu akan di antar ke kantor". Ucap Reynald panjang lebar.
__ADS_1
Renata mengerutkan kening tak mengerti. "Mobil? Kau beli mobil baru?".
"Dia membelinya untuk gadis itu..." Timpal Andre.
Renata menganga terkejut. "Oh astaga Rey.. Kau pasti memaksanya! Iya kan? Kurasa gadis itu bukan tipe materialistis!". Ucap Renata.
Reynald terkekeh menampakkan barisan giginya yang putih. "Dia memang harus di paksa untuk menerima pemberianku".
Renata menggelengkan kepala tak habis pikir dengan tingkah sepupunya itu sedangkan Andre hanya berlalu begitu saja untuk melakukan apa yang di titahkan oleh Reynald beberapa menit yang lalu.
Soekarno Hatta International Airport
Reynald dan Andre baru saja sampai di Terminal 3. Pak Yudi, supir pribadi Reynald membantu menurunkan koper milik dua pria itu. Tak banyak yang mereka bawa mengingat hanya 1 minggu dan sudah bisa di pastikan waktu mereka hanya akan di pakai untuk bekerja selama di sana.
Reynald memilih untuk memakai pesawat komersial dalam bepergian kali ini di bandingkan pesawat jet pribadi, namun tentu saja Ia tetap memilih first class untuk kabin pesawat komersial yang Ia tumpangi.
Reynald lantas berjalan melangkah masuk menuju jalur khusus untuk penumpang kelas bisnis dan kelas utama. Beberapa hal di lampirkannya ke hadapan petugas dan tak berapa lama Ia menuju lounge khusus maskapai yang akan mengantarnya ke Dubai.
Reynald duduk di sofa empuk sembari menyeruput teh chamomile dan memotong sebuah kue beraroma citrus dengan hiasan buah cherry di atasnya.
Hanya dalam beberapa kali nada panggil, telefon nya pun tersambung dan terdengar sebuah suara merdu dari ujung sana hingga membuat bibir pria itu mengulum senyum.
"Sedang apa hm?". Tanya Reynald.
"Aku sedang membersihkan rumah.. Kamu sudah di bandara?".
Reynald reflek mengangguk walau Anggi tak bisa melihatnya.
"Ya. Aku baru sampai di bandara. 30 menit lagi aku akan terbang". Ucap Reynald.
"Hati-hati di sana. Semoga segala urusan mu lancar"
"Itu saja?". Dahi Reynald berkerut.
"Itu saja apa maksudmu?"
"Kau tidak akan merindukan ku?". Reynald merajuk.
__ADS_1
"Aku akan merindukan mu... Sangat. Maka cepat selesaikan urusanmu di sana dan kembali dengan selamat"
Reynald tersenyum lebar mendengar perkataan Anggi. Ia terlihat benar-benar seperti pria yang sedang kasmaran!
"Tunggu aku.. Aku akan kembali dan memelukmu...dan menciummu dengan lama! Kau harus siap-siap untuk itu". Reynald terkekeh pelan menggoda Anggi. Ia bisa membayangkan raut wajah kesal yang sedang di tampilkan gadis itu saat ini.
"Kau mesum..."
Reynald mengulum senyum. "Mobilmu akan datang dua hari lagi. Kau segera urus Surat Izin Mengemudi agar bisa langsung kau pakai untuk beraktifitas. Nanti Renata yang akan menemani mu". Ucap Reynald.
"Hmm.. Ya.. Aku akan melakukan sesuai maumu"
Mendengar tak ada bantahan apapun dari Anggi membuat Reynald kembali mengulum senyum senang.
"Kita sudah harus ke pesawat". Andre menginterupsi obrolan Reynald dan Anggi.
Reynald pun mengangguk. "Aku harus pergi sekarang. Kau jaga diri baik-baik". Ujar Reynald dan tak lama segera memutus sambungan telfon.
Reynald dan Andre segera beranjak berdiri untuk masuk ke dalam pesawat dan menempuh penerbangan selama 8 jam menuju Dubai.
Rumah Anggi
Anggi menatap ponsel di tangannya dengan hati yang membuncah bahagia. Ia senang karena Reynald selalu berusaha mengabari dirinya di sela-sela aktifitas padat pria itu. Anggi merasa di utamakan dan di perhatikan. Hal yang amat jarang Ia dapatkan dari orang lain selama ini.
Anggi segera mengambil handuk untuk mandi setelah selesai membersihkan seluruh sudut rumah. Ia tak menampik dengan keadaan rumahnya yang lebih baik, Ia jadi lebih giat melakukan kegiatan bersih-bersih.
Anggi lantas menutup pintu rumahnya dan kunci otomatis pun bekerja. Reynald benar-benar memperhatikan setiap detail. Anggi terkekeh pelan saat mengingat pria itu mewanti-wanti dirinya untuk selalu tutup pintu teras jika Ia sudah di rumah.
'Kalau ada orang yang menerobos masuk rumah mu begitu saja bagaimana? Itu sangat bahaya! Pokoknya kau harus selalu pastikan pintu rumahmu tertutup rapat saat kau ada di dalam!'
Anggi lalu membuka seluruh pakaian yang membalut tubuhnya dan memasukkannya ke dalam mesin cuci yang letaknya tak jauh dari kamar mandi. Saat Ia akan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya berbunyi nyaring menandakan ada telefon masuk.
Anggi melilitkan handuk ke tubuh dan segera melangkah menuju kamarnya. Tak lama Ia tertegun saat melihat Caller ID yang tampil di layar ponselnya. Beberapa saat berpikir Anggi pun menggeser tombol hijau.
"Halo Ayah....."
••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••
__ADS_1