Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 64


__ADS_3

"Apa kau yakin aku tidak perlu ikut denganmu ke Jakarta?." Tanya Mila, Asisten pribadi seraya membantu Anggi memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


Anggi menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Rashaad yang akan menemaniku ke sana".


"Aku titip perusahaan padamu selama aku pergi ya." Ujar Anggi seraya tersenyum.


Mila mencebikkan bibir. "Aishh kau enak jalan-jalan, sedangkan aku hanya berkutat di sekitar kantor dan pabrik saja".


"Hahaha Ya.. Ya.. Bilang saja kau ingin pergi liburan!". Anggi tertawa geli.


"Aku janji setelah aku kembali ke Abu Dhabi, kau akan ku izinkan liburan selama 1 minggu!".


Mila sontak saja menatap Anggi dengan mata berbinar. "Benarkah? Awas kalau kau bohong padaku!".


"Aku janji". Ujar Anggi.


Keesokan harinya...


Tepat pukul 6 pagi Rashaad sudah berada di apartemen Anggi untuk menjemput wanita itu. Seperti biasa Rashaad selalu berpenampilan menawan. Hari ini pria itu memilih busana casual. Hanya dengan kaus polo shirt warna hitam berpadu dengan celana jeans yang pas membalut kaki jenjangnya. Tak lupa pria itu pun memakai loafers berwarna hitam sebagai alas kakinya.


Anggi mendorong sebuah koper berwarna merah berukuran besar ke arah Rashaad hingga pria itu menatap Anggi dengan raut wajah kebingungan.


"Kenapa kau bawa koper besar sekali? Bukankah kita hanya dua malam di sana?". Tanya Rashaad.


"Aku berencana untuk tinggal selama 1 minggu di Jakarta, bukan dua malam". Sahut Anggi seraya mengunci pintu kamarnya.


"Kau bilang padaku dua malam sayang".


"Aku berubah pikiran. Setelah 5 tahun aku baru kembali ke Jakarta. Bukankah itu waktu yang tepat untukku menghabiskan waktu berjalan-jalan di sana?".


"Lagipula Ayah protes saat kubilang hanya akan menginap dua malam hehehe". Ujar Anggi seraya terkekeh pelan.


Rashaad menghampiri Anggi lebih dekat dan merapihkan anak-anak rambut yang menjuntai begitu saja di dahi Anggi.


"Aku harus ke Perancis di hari ketiga. Andai aku tahu kau merubah pikiranmu untuk tinggal lebih lama di Jakarta, aku tidak akan menyetujui perjalanan ke Perancis itu. Apa kau tidak apa-apa kutinggal? Tapi aku akan menjemputmu kembali saat kau mau pulang".


Anggi memukul dada Rashaad dengan pelan. Ia terkekeh geli tak habis pikir dengan sikap tunangannya yang terlalu kuatir.

__ADS_1


"Jakarta adalah tempat kelahiran dan tempat aku besar. Jadi aku akan baik-baik saja. Kau juga tidak perlu menjemputku. Kau pikir kita bepergian antar kota? Hahahaha". Anggi semakin gemas dengan tingkah Rashaad yang menurutnya berlebihan.


"Baiklah. Lihat nanti saja. Sekarang waktunya kita berangkat". Sahut Rashaad seraya meraih koper dan menggenggam tangan Anggi di sisi lainnya.


Sepanjang perjalanan ke bandara, Rashaad tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Pria itu selalu memperlakukan Anggi dengan baik. Rashaad tak pernah melampaui batas. Itu sedikit banyak mengingatkan Anggi pada satu sosok dari masa lalu. Namun Anggi selalu menepis ingatan-ingatan yang terkadang terlintas begitu saja dalam otak.


Anggi tiba-tiba mengerutkan kening dan melihat ke arah luar melalui jendela mobil. Ia lantas menoleh pada pria yang duduk dengan tenang di sampingnya.


"Bukankah kita keluar jalur? Arah bandara kan ke sebelah sana". Ujar Anggi seraya menunjuk ke satu sisi ruas jalan tol.


"Kau pikir kita pakai pesawat komersil?"


Anggi menautkan kening. "Maksudnya?"


"Kita ke Jakarta tentu saja pakai jet pribadiku sayang. Jadi kita terbang melalui Al Bateen Executive Airport bukan melalui Abu Dhabi Int'l Airport". Ujar Rashaad terkikik.


Anggi melongo mendengar penjelasan Rashaad.


"Tapi aku sudah memesan tiket pesawat Rashaad!". Sanggah Anggi kesal.


"Kubatalkan". Sahut Rashaad dengan mudahnya.


"Tiket yang kupesan itu tidak bisa dikembalikan uangnya! Not refundable!".


Rashaad yang di omeli oleh Anggi hanya tertawa renyah tak berkata apapun. Pria itu memang sengaja tidak memberitahu pada Anggi, karena Ia yakin jika Ia memberitahunya, pasti Anggi akan menolak. Untuk satu hal ini, Rashaad merasa sangat bingung. Bukankah semua wanita senang di manja dengan limpahan materi? Namun rasanya itu tidak selalu efektif pada Anggi.


Satu jam kemudian keduanya pun telah sampai di bandara khusus penerbangan jet pribadi. Rashaad langsung di sambut oleh beberapa awak pesawat yang akan melayaninya selama perjalanan.


"Kalau kau mau tidur, ada kamar di ujung sana". Ujar.Rashaad menunjuk arah belakang tubuh Anggi.


Anggi menoleh sekilas dan menganggukkan kepalanya pada Rashaad. Hingga tak lama pesawat yang mereka tumpangi pun lepas landas.


•••


Reynald yang sedang berada di balik meja kerjanya terlihat tengah sibuk memeriksa beberapa berkas yang harus Ia tanda tangani. Ia membaca dengan teliti dan terkadang dahinya mengerut saat melihat ada ketidaksesuaian dengan data yang Ia punya.


Terdengar sebuah ketukan lalu tak lama pintu ruang kerjanya terbuka begitu saja dan menampakkan Renata yang mengintip ke dalam.

__ADS_1


"Kau sibuk tidak?"


"Kau memberiku banyak pekerjaan ini, kenapa malah bertanya aku sibuk atau tidak?" Ujar Reynald tanpa menatap sedikitpun ke arah Renata.


Renata pun mendorong pintu dan melangkah masuk menghampiri Reynald yang terlihat serius dan tak bisa di ganggu.


Renata lalu mendudukkan dirinya di sofa. Reynald sedikit melirik ke arah sepupunya yang bersikap sangat tidak biasa.


"Ada apa?" Tanya Reynald seraya menutup berkas yang tadi di periksa olehnya.


"Hmm..." Renata bergumam terlihat berpikir sedang merangkai sebuah kata.


"Kalau kau tidak mau bicara, keluarlah! Menggangguku saja!" Sahut Reynald kesal.


"Kau tidak datang ke acara yang di adakan oleh Kementrian Perdagangan dan Himpunan Pengusaha besok siang?". Ucap Renata cepat.


Reynald sontak saja diam. Ia menatap Renata sekilas dan membuka berkasnya kembali.


"Kau saja dengan Andre. Aku tidak punya waktu".


"Tidak punya waktu atau tidak mau?" Tanya Renata.


"Bukan urusanmu"


"Kudengar Anggi yang akan menjadi pengisi acara. Apa kau tidak ingin melihatnya? Walau sebentar?". Renata menatap intens pada Reynald mencoba membaca gestur tubuh sepupunya.


"Aku sibuk Renata. Kau tidak lihat tumpukan berkas yang harus kuperiksa ini? Tidak akan selesai dalam satu hari. Kau saja yang datang dengan Andre mewakiliku". Ujar Reynald.


"Kau yakin? Apa kau tidak akan menyesal?"


Reynald menghela napas pelan dan menatap Renata dengan serius.


"Aku selalu menyesal melepas dia dari hidupku sampai aku tidak tahu bagaimana kehidupannya. Tapi sekarang ketika aku melihat kehidupannya baik-baik saja tanpa aku di sisinya, rasa penyesalanku berubah menjadi rasa syukur yang tidak ada batasnya"


"Jadi aku tidak ingin mengganggu gadis itu dengan bertemu kembali dengannya"


Renata menatap Reynals tepat ke dalam manik mata pria itu. Sebagai orang yang mengetahui seluk beluk kehidupan sepupunya itu bahkan mengetahui rumah tangga seperti apa yang di jalaninya, Renata merasa iba dan ingin Reynald kembali seperti sedia kala. Menjalani kehidupannya dengan normal namun jika sepupunya sudah mengambil keputusan seperti itu, Ia bisa apa?.

__ADS_1


••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••


__ADS_2