
Wedding Day
Suasana di sebuah Grand Ballroom sebuah hotel ternama di Ibu Kota benar-benar sibuk. Rangkaian bunga yang cantik bertebaran di setiap sudut. Getaran kemewahan sangat terasa untuk siapapun yang melihatnya.
Jejeran meja prasmanan terlihat menggoda yang sedang di tata sedemikian rupa oleh para pramusaji berseragam hitam putih. Sudah ada beberapa makanan pendamping yang sedang di tata dengan cantik.
Nuansa Grand Ballroom tersebut di sulap menjadi warna cokelat keemasan. Warna favorit Clara, sang ratu pada hari ini.
Sementara di sisi lain, di sebuah ruang rias utama khusus keluarga. Reynald sedang duduk menatap dirinya sendiri yang sedang di rias oleh penata rias. Wajahnya di beri sedikit foundation dan juga bedak. Tak lupa dengan lip tint berwarna natural.
"Tolong kau buat agar wajahnya jangan terlihat pucat ya". Ujar Rose pada sang perias.
"Kau juga! Sudah tahu mau menikah pagi ini, kenapa malah tidak tidur semalaman?!". Rose beralih mengomeli putranya.
"Lihat wajahmu! Jadi seperti mayat hidup!".
Dave menghampiri Rose yang sedang kesal. "Sudahlah sayang. Yang penting dia sudah datang ke sini, bukan?". Dave menenangkan istrinya dan segera menepuk bahu sang putra.
Reynald melirik Dave dari cermin dan terlihat Dave melemparkan senyum hangat sembari mengangguk tipis seakan menyiratkan apa yang sudah putranya lakukan adalah hal yang benar.
Menit demi menit berlalu hingga Reynald sudah sangat tampan seperti biasanya. Tubuhnya yang tegap dan tinggi terbalut dengan setelan tuxedo berwarna hitam pekat. Sebuah dasi kupu-kupu melingkari lehernya di balik kemeja.
Rose menyelipkan setangkai mawar putih yang sudah di potong pendek ke dalam saku tuxedonya. Rose menyisir penampilan putranya dari atas hingga bawah dan tak sadar menitikkan air mata.
"Ahh ya ampun putraku akan menikah..."
"Aku bahagia sekali".
Rose memeluk Reynald dengan erat dan menepuk-nepuk punggung putranya dengan lembut.
"Aku tahu hatimu sedang sakit, Nak. Jangan kau pikir aku tidak tahu... Hanya saja... Aku ingin kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Aku seorang wanita. Aku tahu posisimu sangat sulit. Namun aku yakin wanita yang terpaksa kau lepaskan demi pernikahan ini akan mengerti keputusanmu".
Rose mengulur pelukannya dan menatap sang putra dengan penuh kehangatan. Reynald tersenyum tipis. Ia sadar memang sudah tidak ada jalan lagi untuk hubungannya dengan Anggi.
Satu jam kemudian...
Grand Ballroom sudah terlihat di penuhi oleh para tamu undangan. Meja bundar yang tersebar di dua sisi sudah di terisi.
Tak lama lampu ballroom pun di matikan hingga menyorot ke satu sisi tepat di tengah panggung saja. Alunan piano terdengar sangat indah dan menenangkan. Lantunan nada-nada klasik bertema wedding day di mainkan dengan sangat apik.
Sebuah pintu utama pun terbuka dan sontak saja seluruh mata tertuju ke arah sana. Di sanalah Clara berdiri dengan gaun putihnya yang sangat elegan membalut tubuh rampingnya.
Perlahan Clara berjalan menaiki panggung kecil berkarpet hitam. Lampu sorot bergerak mengikuti langkahnya.
"Dia cantik sekali".
"Dia memang pantas mendapatkan CEO muda itu".
__ADS_1
"Astaga... Clara beruntung!".
"Katanya mereka sudah menikah diam-diam satu tahun lalu dan sebenarnya telah memiliki seorang bayi".
Terdengar bisik-bisik yang hadir dalam indera pendengaran Renata. Ia mencebikkan mulutnya. Kalian semua tertipu! Renata bergumam dalam hati. Ia tidak menyangka akhir seperti ini yang harus sepupunya jalani. Apakah ini akhirnya? Renata bertanya-tanya dalam hati seraya menatap Reynald dan Clara yang sudah berdiri bersampingan.
Waktu terasa begitu cepat berlalu hingga tiba di penghujung acara. Dave sudah mengintruksikan seorang kawan lamanya yang menjadi pimpinan di sebuah perusahaaan media terbesar di negara ini untuk mengutus beberapa karyawan terbaiknya untuk meliput acara pengenalan sang cucu pada publik.
Reynald, Clara, Dave, Rose dan juga tak lupa Jessy, sang cucu yang sedang berada dalam gendongan Clara, mereka semua berdiri bersisian di hadapan beberapa wartawan yang tengah bersiap melakukan wawancara. Lampu blitz sangat terasa menyorot mata membuat Reynald jengah. Namun berbeda dengan Clara. Raut wajah wanita itu terlihat sangat bahagia. Ini adalah momen dimana Ia bisa terjun kembali ke dunia hiburan.
Wartawan mengajukan pertanyaan demi pertanyaan tentang hubungan keduanya yang sama sekali tidak terendus media.
"Berapa lama kalian berpacaran?".
"Kenapa hubungan kalian di tutupi selama ini?".
"Di mana pernikahan kalian di adakan tahun lalu?".
"Apakah kau akan kembali aktif di dunia hiburan?".
"Tolong perlihatkan wajah putrimu pada kami".
Tak habis-habis para wartawan memberondong mereka dengan segala pertanyaan dan di jawab dengan baik oleh Clara maupun Reynald.
Di sisi lain, di sebuah sudut paling terpencil dalam ballroom, Anggi sedang berdiri menatap ke arah Reynald yang sedang mengadakan konferensi pers. Sesekali Ia menyeka air matanya yang turun begitu saja.
Anggi mengusap air matanya dan sebuah senyuman terukir di bibirnya.
"Aku memang tidak pantas berdiri di antara mereka semua. Lihat wanita itu... Aku tak menyangka jika artis terkenal itu yang menjadi mantannya. Aku tidak lebih dari setitik debu jika dibandingkan dengan dirinya...."
Anggi bermonolog dengan dirinya sendiri seraya terus mengusap air matanya yang membasahi wajah.
"Selamat tinggal, Rey... Semoga kau bahagia dengan keluarga barumu".
Anggi menatap intens ke arah Reynald yang terlihat baru saja menyudahi konferensi persnya. Anggi lantas segera membalikkan badan dan melangkah pelan meninggalkan ballroom dengan hati yang remuk.
•••
"Sial.. Aku lelah sekali". Ucap Reynald saat dirinya baru saja memasuki ruang rias dan mendudukkan dirinya di sebuah sofa.
Tiba-tiba pintu ruang rias kembali terbuka dengan keras hingga Reynald mengumpat. Andre masuk dengan tergopoh-gopoh dan langsung memberikan sebuah kotak kecil pada Reynald.
Reynald menatap kotak kecil itu. "Apa ini? Kau memberiku kado pernikahan?". Tanya Reynald mengerutkan dahi.
"Cepat buka saja".
Reynald lantas meraih kotak itu dari tangan Andre dan segera membukanya. Sedetik kemudian Reynald membeku. Tatapannya terkunci saat melihat isi dari kotak tersebut.
__ADS_1
"Tadi ada seorang pelayan yang menghampiriku dan mengatakan ada seorang wanita yang menitipkan ini padanya untuk di berikan padamu". Andre menjelaskan pada Reynald.
Dengan tangan gemetar Reynald meraih sebuah kunci mobil, sebuah black card dan juga dua buah kalung. Kalung yang berbentuk liontin kecil. Reynald hapal itu semua adalah pemberiannya pada Anggi. Namun Reynald mengerutkan dahi kala melihat satu kalung lainnya. Ia tidak pernah memberikan kalung tersebut pada gadis itu.
Reynald memperhatikan kalung yang berliontin bulat cukup besar. Ia memutar liontin tersebut dan berusaha membukanya. Tak lama Reynald kembali dikejutkan oleh sebuah foto kecil dalam kalung tersebut. Fotonya dengan Anggi yang sedang tertawa dengan baju yang basah kuyup saat bermain di sebuah curug.
Reynald melihat ada sebuah kertas kecil dan segera membacanya.
Tolong kamu buang kalung itu untukku. Aku tidak sanggup untuk membuangnya. Semoga kamu bahagia dan selamat tinggal, Rey.
Reynald meremas kertas kecil itu dan menyugar rambutnya kasar. Ia mendongakkan kepala dengan matanya yang memerah menahan gejolak emosi yang menyeruak dalam dirinya.
"Sial!!!!". Reynald berteriak seraya beranjak berdiri dan berlari kecil keluar dari ruang rias.
Andre yang melihat sahabatnya seperti itu hanya bisa diam. Ia pun merasa iba pada Reynald namun Ia juga bingung harus melakukan apa. Andre segera meraih barang-barang yang di tinggalkan oleh Anggi dan memasukkannya kembali ke dalam kotak. Ia lantas memasukkan kotak tersebut ke dalam saku jasnya untuk di berikan kembali pada Reynald setelah keadaan pria itu tenang.
Sementara itu Reynald berlari kecil menyusuri area ballroom dan tidak mendapatkan sosok wanita yang dicarinya.
Reynald lantas jalan tergopoh-gopoh menyisiri area lobby hotel. Ia lantas segera ke satu sisi hotel yang termasuk pintu keluar namun bukan pintu keluar utama dari hotel tersebut.
Pandangan Reynald berlarian kesana kemari berharap menemukan Anggi. Hingga tak sengaja sudut matanya menangkap sebuah siluet tubuh. Reynald melangkah cepat dengan jantung berdebar. Semakin lama sosok itu terlihat nyata di matanya.
Dengan sigap Reynald menarik lengan Anggi dari belakang hingga hampir membuat gadis itu terjatuh namun segera Reynald tahan dengan tubuhnya.
Anggi yang terkejut karena tubuhnya tertarik begitu saja ke belakang, lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang ada di belakangnya.
Keduanya saling bertatapan sangat dalam. Seakan hanya lewat pancaran mata saja sudah cukup menyampaikan segala rasa yang ada di antara mereka.
Anggi memutus tatapan di antara mereka dan menghela napasnya perlahan.
"Kenapa kamu kemari?".
Reynald menatap Anggi dengan tatapan yang penuh luka.
"Aku tidak bisa Anggi..." Ucap Reynald dengan nada sendu.
Anggi lantas meraih kedua tangan Reynald dan menatap pria itu tepat ke dalam manik matanya.
"Kamu pasti bisa.."
"Aku akan hidup dengan baik seperti maumu. Aku akan meraih impianku setinggi mungkin seperti maumu. Aku akan melakukannya".
Anggi mengulas senyuman hangat di bibirnya. Matanya berkaca-kaca namun dengan sekuat tenaga Anggi menahan dirinya untuk tidak menangis di hadapan Reynald. Ia ingin memberikan kenangan terakhir dengan sebuah senyuman bukan sebuah tangisan.
"Ingatlah senyumanku ini, Rey. Aku berjanji akan selalu tersenyum menjalani hari-hariku setelah malam ini".
Anggi mengukir sebuah senyuman yang paling manis yang Reynald lihat dari seorang wanita.
__ADS_1
••••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••••••