
Jakarta, Penthouse Reynald.
Waktu sudah mulai memasuki malam hari dan hujan tengah menyapa Ibu Kota dengan lebat. Gemuruh petir saling bersahutan membuat suasana cukup menegangkan. Reynald yang sedang duduk diam di ruang tengah seraya menikmati secangkir capucinno tiba-tiba terkejut saat mendengar sebuah teriakan yang berasal dari kamar Jessy.
Ia lantas lari ke arah kamar Jessy dan membukanya. Terlihat gadis kecil itu sedang meringkuk ketakutan seraya memeluk sebuah bantal guling. Reynald melirik ke arah jendela yang belum tertutup oleh gorden. Ia menghela napasnya dan berjalan ke arah jendela. Dengan cepat Reynald menarik gorden hingga menutup sempurna jendela.
"Sudah.. Sudah.. Tidak apa-apa sayang" Ujar Reynald seraya memeluk Jessy.
Jessy mengeratkan pelukannya. "Aku takut, Dad. Tadi petirnya sangat silau.. Suaranya juga besar".
Reynald mengusap punggung Jessy dengan lembut berusaha menenangkan putrinya.
"Sekarang ada Daddy.. Kau tidak perlu takut. Apa kau mau makan malam sekarang sambil nonton kartun?".
Jessy menggeleng pelan. Gadis kecil itu lalu menatap Reynald dengan sendu. "Mommy kapan pulang, Dad?"
Reynald tiba-tiba saja terdiam dan membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Apa Mommy tidak akan tinggal bersama kita lagi?"
"Hmm.." Reynald hanya berdeham seraya merapihkan rambut Jessy sambil memikirkan sebuah jawaban yang tepat untuk putrinya.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel penthouse dan suara seseorang memasukkan kata sandi di pintu. Reynald segera melangkah keluar kamar di susul oleh Jessy untuk melihat siapa yang datang.
Tak lama terlihat Clara di ikuti oleh Renata melangkah masuk ke dalam penthouse. Reynald mengerutkan kening keheranan melihat dua wanita yang tak pernah bisa akur itu datang bersama.
"Mom!" Teriak Jessy seraya berlari kecil menghampiri Clara.
"Jangan bingung. Aku tadi berpapasan dengannya di lobby" Sahut Renata seakan paham dengan tatapan bingung Reynald.
"Aku kemari untuk mengambil barangku" Ujar Clara to the point.
Jessy yang sedang memeluk pinggang Clara pun mendongakkan kepala melihat silih berganti ke arah Clara maupun Reynald.
__ADS_1
"Ren.. Tolong kau temani dulu Jessy di kamarnya" Ujar Reynald pelan. Renata mengangguk dan segera mengambil alih Jessy yang masih memeluk tubuh Clara.
"Jes, ikut Aunty Ren yuk ke kamar. Aunty punya sesuatu untukmu.. Biarkan Mom dan Dad bicara dulu berdua, ok?" Bujuk Renata.
Jessy yang seolah mengerti tak sulit untuk di bujuk dan segera mengikuti Renata menuju kembali ke kamarnya.
Reynald lantas menatap Clara. "Ada yang perlu kita bicarakan. Ikut aku ke lantai atas"
Reynald berlalu begitu saja menuju lantai 2 penthousenya dan segera memasuki kamarnya. Tak lama Clara pun menyusul masuk.
Cukup lama keduanya hanya diam seribu bahasa. Reynald berdiri di dekat pintu balkon kamarnya. Melihat kilatan cahaya dari petir yang saling menyambar satu sama lain. Ia lalu membalilkan tubuhnya ke arah Clara yang sedang duduk di sofa menatap ke arahnya.
"Apa keputusanmu itu sudah bulat, Clara?"
Clara menatap Reynald dengan pandangan yang sulit di artikan. Wanita itu menghela napasnya. "Memangnya apa yang bisa aku lakukan lagi, Rey?"
"Bukankah ini kemauanmu? Aku melepaskanmu dari jeratan pernikahan sialan ini?"
"Aku sudah bilang padamu, jika kau tetap ingin bertahan denganku silakan. Aku tidak masalah" Ujar Reynald.
Reynald menghela napasnya. "Aku tanya apa ini adalah hal yang benar-benar kau inginkan?"
"Kau tahu jawabannya, Rey! Kau tahu! Ini bukan yang aku inginkan! Tapi aku lelah...."
"Aku tidak masalah berjuang untuk seseorang yang mencintaiku. Akan tetapi, tidak baik berjuang agar orang mencintaiku! Apa kau mengerti? Ada perbedaan besar dalam hal ini!"
Reynald mengusap wajahnya.
"Aku pikir kita punya hubungan yang sangat kuat, maka dari itu aku sangat percaya diri meninggalkanmu dahulu dana yakin kau akan selalu setia menungguku. Tapi aku salah..."
"Lalu setelah ada Jessy di antara kita, aku pikir hubungan kita bisa kembali kuat dan Jessy adalah alasan untuk kembali mempertahankan kita. Tapi aku salah lagi... Bertahun-tahun kau memang di sisiku, Rey. Aku memiliki ragamu, tapi tidak untuk hatimu. Dan itu membuatku sangat lelah. Bertahan di hubungan yang rapuh ternyata menyakitkan"
Clara tertawa miris namun tangannya dengan cepat menyeka air mata yang lolos begitu saja ke pipi. Clara lantas beranjak berdiri menghampiri Reynald. Ia meraih tangan Reynald dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena telah merusak hubungan kita dengan ulah bodohku, Rey. Aku selalu mengumpat diriku sendiri andai saja aku tidak pergi darimu, pasti hingga saat ini kau masih memberikan limpahan cinta untukku. Kau pasti masih memperlakukan aku satu-satunya wanita yang berharga..."
Clara menangis tersedu-sedu setelah tak mampu menahan gelombang dahsyat emosi dalam hatinya. Reynald meraih tubuh Clara ke dalam dekapannya. Mulut Reynald terkatup rapat. Ia berusaha menyelami hatinya sendiri. Mencari, menggali hingga mengais kepingan rasa yang pernah ada untuk ibu dari anaknya. Wanita yang menjadi tambatan hatinya bertahun-tahun. Namun nihil, Reynald tak lagi merasakan percikan-percikan api yang bisa membuat rasa itu kembali berkobar dalam hati.
Reynald mengulur pelukannya dan mengusap wajah Clara dengan lembut. "Kau harus bahagia, Clara. Temukan bahagiamu di luar sana"
"Bagaimana dengan Jessy?" Sahut Clara pelan. Ia menarik napas dalam-dalam berusaha mengontrol emosinya.
"Seharusnya anak seusia Jessy pasti akan berada di bawah pengasuhanmu, tapi mengingat pekerjaanmu....."
"Ya.. Ya.. Aku mengerti, Rey" Potong Clara cepat.
"Selama ini aku selalu meninggalkan Jessy untuk syuting dan dia lebih banyak denganmu. Aku mengerti"
"Aku akan menjenguknya setiap satu minggu ke tempatmu".
Reynald mengangguk. "Semoga lambat laun dia akan mengerti"
"Mengenai tuntutan harta yang kau cantumkan di gugatan..."
"Kenapa? Apa kau keberatan?" Sanggah Clara.
"Tidak.. Aku hanya berpikir apa itu sesuai untuk mengganti waktumu yang terbuang selama 5 tahun pernikahan denganku:
"Terlebih lagi.. Kau sudah melahirkan putriku. Jadi kupikir... Kau layak mendapatkan 2 hingga 3 kali lipat dari nominal yang kau tuntut dalam gugatan pengadilan".
Clara terdiam membeku tidak habis pikir. Ia bahkan mengajukan 100 miliar dalam gugatan pertama yang sudah di proses oleh pengadilan. Dan sekarang apa ini? Reynals malah memintanya untuk menaikkan hingga 2-3 kali lipat!
"Kau membuatku merasa aku menjual tubuhku untukmu"
Reynald mengerutkan kening. "Menjual tubuhmu bagaimana? Bahkan dalam 5 tahun pernikahan kita tidak pernah sekalipun tidur bersama. Aku tidak pernah menyentuhmu"
"Aku hanya ingin mengganti waktumu, tenagamu, perasaanmu yang terbuang sia-sia hanya untuk pria seperti aku, Clara. Jadi hubungi pengacaramu dan perbarui tuntutanmu di pengadilan. Aku akan sukarela menyetujuinya".
__ADS_1
••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••