Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 71


__ADS_3

Keesokan harinya...


Anggi yang baru saja selesai mandi pagi segera melangkah menuju lemari. Tubuhnya yang masih terbalut bathrobe putih dan rambut yang masah di gelung dengan handuk berwarna senada dengan bathrobenya.


Ia menggeser pakaian miliknya yang tergantung rapi. Ia mengerutkan keningnya saat tidak menemukan pakaian yang di cari. Anggi lantas melangkah menuju kopernya dan membukanya begitu saja.


"Apa baju itu masih di laundry ya?" Gumam Anggi.


Ia berdiri termenung menatap ke dalam koper dan beralih menatap lemari yang masih terbuka. Ia lantas kembali ke lemari dan mengambil sebuah dress di atas lutut dengan motif horizontal berwarna cream ivory. Warna yang lembut dan feminin.


Anggi segera melepas bathrobenya dan membalut tubuhnya dengan dress tersebut. Ia lalu menuju meja rias di kamar hotelnya dan membuka handuk yang menggelung rambut lalu segera menyalakan hair dryer.


Membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mengeringkan rambutnya yang panjang hingga benar-benar kering. Ia segera membuka pouch make up nya dan mulai merias wajahnya dengan natural. Sesuatu yang khas dari dirinya.


Anggi lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Hendra, Sang Ayah. Beberapa kali nada panggilan terdengar hingga akhirnya telfon pun tersambung.


"Halo Ayah" Sapa Anggi saat Hendra mengangkat panggilannya.


"Ya, Ada apa?"


"Apa Ayah jadi mengirimkan mobil yang bisa kupakai selama aku di Jakarta? Kalau merepotkan, aku bisa pakai taksi saja."


"Tentu saja jadi.. Aku rasa mobilnya pun sudah sampai di hotel. Kau turun saja ke lobby, orangku menitipkan kuncinya pada resepsionis hotel"


"Ah.. Begitu ya. Terima kasih, Ayah".


"Nak....."


"Ya, Ayah?"


"Makan malam lah denganku nanti, akan aku kabarkan harinya. Kau hingga akhir pekan di Jakarta kan?"


Anggi mengulum senyum. "Tentu. Aku sampai akhir pekan di sini. Aku tunggu kabar darimu, Ayah".


Klik!

__ADS_1


Sambungan telfon pun terputus. Anggi lalu beranjak dari duduknya dan memasukkan ponselnya ke dalam sebuah tas kecil berwarna maroon. Menatap dirinya sejenak di cermin, setelah merasa sempurna Ia pun segera keluar dari kamar dan menuju resepsionis untuk mengambil kunci mobil yang di pinjamkan oleh Ayahnya.


•••


Satu jam perjalanan Anggi pun sudah sampai di tujuan pertamanya hari ini. Ia tersenyum saat menatap rumah mungilnya yang masih terawat dengan baik. Tidak ada satupun tanaman liar yang tumbuh di halaman. Temboknya pun masih mulus tidak ada cat yang mengelupas.


Anggi pun melangkah masuk menuju teras dan segera memasukkan password di daun pintu. Anggi mendorong pintu dengan pelan. Pandangannya berlarian ke seluruh penjuru ruangan. Ia tersenyum tipis saat melihat keadaan rumahnya masih sama sejak terakhir kali Ia pergi. Bedanya hanya tidak ada debu sama sekali karena Hendra selalu mengirim orang untuk membersihkan rumah itu setiap dua minggu sekali.


Anggi membuka pintu kamarnya yang dahulu menjadi saksi kehidupannya yang sangat sulit di Ibu Kota. Berbagai kenangan menyeruak hadir dalam pikirannya. Ia pun kembali ke ruang tengah dan mendudukkan dirinya di sofa yang masih terbalut dengan kain putih.


Hening.


Hanya duduk diam termenung menatap tembok. Anggi merasakan berbagai kenangan hidupnya seorang diri di rumah mungilnya hingga akhirnya Ia mengulas senyum hangat karena Ia telah berhasil melalui fase-fase berat di kehidupannya.


Anggi menghela napasnya pelan, menaruh tasnya di sofa dan segera berdiri melangkah keluar. Ia ingin berjalan kaki di sekitar komplek perumahannya.


"Lho Mbak Anggi?" Sapa seseorang dari belakang.


Anggi membalikkan tubuhnya. "Eh, Ibu..." Sahut Anggi seraya mengulas senyum hangat dan menundukkan kepalanya.


"Baru aja kok belum lama, Bu." Ujar Anggi.


"Betah ya Mbak di luar negeri sampai gak pulang-pulang deh. Tapi rumah Mbak selalu di rawat rutin lho".


"Ah.. Iya..." Anggi tersenyum kikuk.


"Oh Iya saya hampir lupa! Ada teman Mbak juga yang sering datang ke rumah walaupun dia tau rumah Mbak kosong".


"Teman?" Tanya Anggi seraya menautkan kedua keningnya.


"Iya, Mbak. Dia cowok. Ganteng deh!"


"Dia selalu berhenti di depan garasi rumah Mbak dan selalu nunggu tukang nasi goreng yang sering lewat itu lho malam-malam, Mbak! Dia makan itu di mobilnya. Kalau saya perhatikan ya sudah 5 tahun juga dia begitu di depan rumah, Mbak! Sampai Pak RT menanyakan maksudnya karena takut ya orang jahat hehehehe" Sang Ibu terkekeh pelan dan lancar menceritakan pada Anggi.


Anggi diam membeku. Ia memikirkan ciri-ciri pria yang di sebutkan tadi. Pria? Tampan? Nasi Goreng? Apa itu Reynald?

__ADS_1


Hanya ada 1 nama itu yang muncul dalam otaknya. Siapa lagi? Sepanjag hidupnya, Ia hanya mengajak seorang pria tampan untuk datang ke rumahnya dan makan nasi goreng bersama, ya hanya pria itu. Tidak mungkin pula Hendra, Sang Ayah, kan?


"Mbak?"


Sang Ibu tetangga berusaha menyadarkan Anggi dari lamunannya.


"Ah Iya, Bu. Makasih atas infonya" Anggi mengulas senyum.


"Nanti mampir ke rumah ya, Bu. Saya ada sedikit oleh-oleh. Sekarang saya mau ke depan dulu. Mari Bu" Sahut Anggi seraya pamit undur diri dengan sopan.


Sepanjang berjalan kaki Ia hanya menatap rimbunnya pepohonan dengan sinar matahari pagi yang terasa hangat menerpa tubuhnya.


Tak di pungkiri ucapan yang Ia dengar dari sang tetangga memenuhi rongga otaknya. Banyak pertanyaan muncul begitu saja dalam benaknya.


Untuk apa pria itu selalu datang ke rumahku? Selama 5 tahun seperti itu? Hanya untuk makan nasi goreng depan rumah? Memangnya di Jakarta ini hanya itu satu-satunya tukang dagang yang berjualan nasi goreng?


Apa dia belum melupakanku? Ah.. Bagaimana mungkin.. Istrinya saja begitu cantik.


Anggi bermonolog seraya menyipitkan matanya berusaha menatap matahari yang menyilaukan dengan mata telanjang.


Beberapa jam kemudian setelah dirasanya cukup bernostalgia di rumah mungilnya dan memberikan oleh-oleh pada tetangga, Anggi pun memutuskan untuk berkunjung ke sebuah mall mewah untuk makan siang.


Ia memarkirkan mobil di area valet. Sedikit bercermin memastikan riasannya masih menempel sempurna di wajah, Anggi pun segera turun dari mobil. Ia segera masuk ke dalam mall dan kulitnya begitu saja di terpa oleh udara dingin yang berasal dari AC.


Anggi mengedarkan pandangannya ke berbagai tenant. Kondisi mall sudah cukup ramai di siang hari. Apalagi letak mall yang sedang di sambanginya bersebelahan dengan gedung kantor di pusat Ibu Kota.


Anggi menatap beberapa orang yang berlalu lalang di sekitarnya dan menghela napas pelan.


Ah.. Aku memang menyedihkan. Bahkan aku tidak punya satupun teman yang bisa ku ajak pergi makan bersama atau menonton film di bioskop


Batin Anggi miris.


"Aunty Anggi!"


Tiba-tiba saja suara anak kecil memenuhi indera pendengarannya. Anggi lantas mengedarkan pandangannya mencari ke sumber suara dan tatapannya pun terpaku pada seorang gadis kecil yang tengah berlari kecil ke arahnya berdiri di ikuti oleh seorang pria dari belakang gadis kecil itu.

__ADS_1


••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••


__ADS_2