Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 50


__ADS_3

Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Bunyi bel penthouse terdengar nyaring. Reynald melirik jam di dinding dan waktu menunjukkan pukul 2 siang. Hari ini adalah akhir minggu. Tentu saja Ia tidak pergi bekerja ke kantor. Biasanya Reynald selalu pergi ke rumah Anggi sejak pagi jika Ia libur dan menghabiskan waktu bersama gadis itu hingga malam hari.


Namun hari ini Reynald hanya ingin menyendiri di penthousenya tidak di ganggu oleh siapapun.


Reynald lantas berjalan membuka pintu dan bruukk! Gavin langsung saja menabrak masuk ke dalam penthouse tanpa permisi. Reynald yang terkejut dengan cepat menutup pintu.


"Kau seperti maling!". Ucap Reynald dongkol.


Gavin membalikkan badan menatap Reynald dengan berkacak pinggang.


"Kenapa ponselmu mati?".


"Sengaja ku matikan". Ucap Reynald sembari melangkah duduk ke sofa.


"Sejak kapan kau menjadi pengecut bro?". Gavin menyipitkan matanya menatap Reynald.


"Apa maksudmu?". Tanya Reynald tak mengerti.


"Aku sudah mendengarnya dari Andre dan Renata..."


Reynald menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya. Ya. Dua orang itu memang kurang lengkap tanpa Gavin. Mereka three musketeers yang solid.


"Kau mematikan telepon untuk menghindari Clara atau Anggi?". Tanya Gavin.


"Aku tidak menghindari siapapun. Aku hanya perlu berpikir dengan jernih tanpa ada gangguan dari siapapun". Kilah Reynald.


Gavin melangkah mendekat dan duduk di samping Reynald.


"Bagaimana perasaanmu?".


"Sulit ku jelaskan". Ujar Reynald.


"Tidak.. Maksudku, bagaimana perasaanmu pada Clara setelah dia kembali?". Sahut Gavin.


"Apa perasaan lama mu masih ada untuknya?".


Reynald mengusap wajahnya kasar. Ia mendongakkan kepala dan menghembuskan napas.


"Aku sendiri saja tidak yakin..."


"Aku terkejut tentu saja. Ada sebersit rasa rindu, benci karena dia meninggalkanku, marah, namun juga ada rasa sakit dalam hatiku saat aku berkata kasar dan bersikap dingin padanya". Reynald menjelaskan betapa berkecamuknya rasa dalam dirinya saat Clara kembali.


"Lalu bagaimana dengan kekasihmu? Gadis manis itu?".


"Apa yang akan kau perbuat tentang dia?". Tanya Gavin lagi.

__ADS_1


Reynald termenung. Pikirannya sontak saja berlari membayangkan wajah Anggi.


"Tadinya aku sempat berpikir mungkin sebaiknya aku melepaskan dia. Jika aku egois ingin mempertahankan dirinya di sisiku dalam keadaanku yang harus bertanggung jawab pada Clara, kau bisa membayangkannya bukan bagaimana sakitnya gadis itu?". Reynald menoleh pada Gavin.


"Namun setelah semalam aku bertemu dengan gadis itu, aku sadar satu hal...."


"Aku mencintainya dan tidak ingin melepaskannya". Reynald menyugar rambutnya kasar.


Terdengar helaan napas dari Gavin. "Kau harus memilih salah satu".


Reynald menggeleng pelan. "Aku tidak bisa memilih di antara mereka berdua".


"Semakin aku mencoba membandingkan mana yang lebih baik ku pilih, semakin aku tidak bisa melakukannya". Ucap Reynald.


"Hmm.. Sebagai sahabatmu, aku ingin kau hidup bahagia. Tanyakanlah kebahagiaanmu pada siapa?".


"Kau menjalani hubungan 3 tahun dengan Clara dan selama itu kalian berdua tidak pernah ada masalah yang rumit kurasa..."


"Dan kau menjalani hubungan 3 bulan dengan Anggi dan aku mengakui dia memberikan energi positif untukmu dalam proses melupakan Clara".


Gavin membetulkan posisi duduknya menghadap ke arah Reynald.


"Tapi kau tahu bro? Situasi ini bukan tentang perasaanmu saja. Ada satu nyawa kecil yang harus kau pikirkan. Nyawa kecil itu kan berasal dari benihmu sendiri". Ujar Gavin panjang lebar.


Reynald menatap Gavin dengan mengerutkan dahi. "Apa kau sedang salah makan?".


"Kenapa kau tiba-tiba bijak sekali hari ini?".


Reynald tertawa kecil. "Aku hanya takjub dengan seluruh perkataanmu tadi".


"Kau benar. Bukan perasaanku yang penting. Namun bayi itu". Reynald tersenyum.


"Jadi apa yang akan kau lakukan? Pikirkanlah dengan sangat baik bro. Jangan sampai salah langkah dan menyesal di kemudian hari". Gavin menepuk pundak Reynald menyemangati.


Satu Minggu Kemudian


Braakk!


Pintu ruang kerja Reynald di kantor terbuka begitu saja hingga mengejutkan Reynald yang sedang fokus bekerja.


"Uncle tunggu.. biar ku jelaskan..." Renata jalan tergopoh-gopoh mengikuti sepasang pria dan wanita paruh baya yang masuk begitu saja ke dalam ruangan Reynald.


Reynald yang sempat terkejut dengan cepat mengendalikan dirinya dan meminta Renata untuk keluar. Renata pun melemparkan tatapan meminta maaf pada Reynald dan segera beranjak keluar meninggalkan Reynald dengan pasangan paruh baya itu.


"Jelaskan padaku apa ini, Reynald!". Ujar sang pria paruh baya sembari melempar sebuah berkas ke atas meja.


Reynald segera membuka berkas tersebut lalu raut wajahnya terkejut saat melihat setiap foto yang ada. Ia menarik sebuah kertas yang sangat Ia tahu itu apa.


"Kau berniat ingin menyembunyikan ini semua pada kami, hah?!". Cecar pria itu.


Reynald mengusap wajahnya kasar. Ia menggeleng pelan menatap silih berganti pasangan paruh baya di hadapannya.

__ADS_1


"Tidak.. Bukan maksudku ingin menyembunyikannya, Dad". Ucap Reynald pelan.


"Jika tidak ingin menyembunyikannya, bagaimana bisa kau tidak memberi tahu kami bahwa kau sudah punya anak, hah?".


"Astaga.. Jadi benar aku mempuyai cucu". Ujar wanita paruh baya dengan pandangan yang berkaca-kaca.


"Aku juga baru tahu satu minggu yang lalu, Dad! Kekasihku... Tidak, bukan lagi kekasih. Aah sial.. Maksudku Ibu dari anak itu meninggalkanku sejak tahu dirinya hamil. Aku sudah mencarinya sebisaku dan aku tidak menemukannya! Hingga akhirnya dia datang kembali padaku dengan membawa seorang bayi!".


"Bukan salahku kan jika aku tidak mengetahuinya?". Reynald membela diri.


"Lalu kenapa kau tidak langsung memberitahu kami saat wanitamu itu datang kembali? Kau berniat menyembunyikannya dari kami?". Cecar Dave, Ayah Reynald.


"Aku hanya perlu waktu untuk berpikir, Dad. Tidak mungkin selamanya aku menutupi hal sepenting ini dari kalian berdua".


"Tapi tunggu, Dad tahu dari mana semua ini? Apa Renata atau Andre yang memberitahu kalian?". Tanya Reynald menatap silih berganti pada kedua orang tuanya.


"Cih. Mereka berdua sangat setia padamu. Mana bisa kuharapkan begitu saja! Aku menyewa seseorang!". Ujar Dave.


"Lalu di mana cucuku?". Tanya Rose, Mama Reynald.


"Tentu saja dia bersama Ibunya, Mom". Ucap Reynald.


"Cepatlah kau nikahi wanita itu. Anakmu perlu kekuatan hukum. Jika seperti ini, dia tidak memiliki identitas apapun. Apa kau tidak memikirkannya?". Sahut Dave.


Reynald terkejut bukan main mendengar penuturan Dave. Ia sontak saja berdiri.


"Berapa kalipun aku memikirkan opsi itu, aku tidak bisa melakukannya Dad". Ucap Reynald menatap sang ayah.


Dave, pria paruh baya yang masih terlihat jelas guratan tampannya saat masih muda menghela napasnya.


"Aku tahu kau mencintai seorang gadis kan?".


Reynald tertegun.


Ya. Ia tidak memungkiri langkahnya yang maju mundur untuk Clara, alasan utamanya adalah gadis itu.


"Aku tidak peduli dengan kehidupan percintaanmu. Aku tidak pernah melarangmu untuk berhubungan dengan siapapun. Dan aku dengan ibumu tidak pernah melihat kasta seseorang. Siapapun wanita yang dapat menaklukan hatimu dan baik untukmu, kami akan menerimanya".


"Namun saat ini situasinya berbeda.. Kau pasti sadar hal itu".


"Jadi cepat nikahi mantanmu atau kekasihmu atau ibu dari anak itu.. Entahlah sebutan apa yang tepat untuknya. Agar anakmu jelas".


"Ingat, Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi pria yang tidak bertanggung jawab".


Dave berkata panjang lebar sembari menatap putranya tajam.


•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••


📢 📢📢


Besok hari minggu aku tetap akan menulis seperti biasa dan langsung menyetornya. Tapi seperti minggu2 sebelumnya, biasanya proses review di hari minggu itu entah kenapa lama bangeeetttt bisa sampai 24 jam baru lolos. Jadi mohon maklum kalau telat. Tapi semoga saja tidak. Terima kasih🥰

__ADS_1


__ADS_2