
Hari demi hari berlalu tanpa banyak hal yang berarti. Tak terasa satu bulan telah terlewati dengan baik untuk Anggi. Satu bulan belakangan ini Ia benar-benar fokus mengerjakan skripsi nya. Ia mengikuti seluruh saran Reynald tanpa kecuali.
Hari ini Ia memiliki jadwal temu dengan dosen pembimbing nya di kampus. Sejak pagi Anggi sudah membaca ulang inti keseluruhan skripsi yang di buat olehnya. Ia berharap kali ini Ia akan pulang dengan membawa tanda tangan dari sang dosen.
Anggi mematut diri nya di depan cermin. Memastikan tampilan nya sempurna. Ia biarkan rambut nya yang hitam legam tergerai begitu saja menambah kesan feminin. Gadis itu tersenyum tatkala mengingat ucapan Reynald beberapa waktu yang lalu.
'Kenapa rambut mu selalu di ikat? Kau tega sekali.. Biarkan tergerai.. Itu lebih cocok untuk mu'
Anggi menganggap itu adalah sebuah pujian dari Reynald bahwa Ia lebih menarik dengan rambut tergerai panjang.
Anggi menghela napas nya pelan seraya melihat pantulan diri nya di cermin.
"Anggi... Anggi... Kau seperti punuk merindukan bulan. Reynald sangat jauh dari jangkauan mu".
Anggi berkata pada diri nya sendiri. Kebersamaan nya dengan pria itu membuat dirinya memiliki secercah perasaan yang tidak sedikit. Baru kali ini Anggi dekat dengan seorang pria. Baginya Reynald adalah seorang penolong dan pelindung. Di sela pekerjaan nya yang padat, pria itu selalu menyempatkan waktu untuk melihat perkembangan skripsi milik nya.
Namun sudah 1 minggu tak ada kabar sama sekali dari Reynald. Anggi pun merasa sungkan jika ingin menghubungi lebih dulu karena Reynald sempat bilang untuk tidak menghubunginya jika bukan pria itu sendiri yang lebih dulu menghubungi diri nya.
Anggi lalu segera memakai jaket dan memakai sneakers. Tak lupa Ia memasang sarung tangan untuk melindungi tangan nya dari sinar matahari dan tak lama kemudian Ia segera melajukan motornya menuju kampus.
•••
Universitas Tribisnis
Anggi yang baru saja memasuki pelataran kampus dengan cekatan memarkirkan sepeda motor nya. Kebetulan hari sudah mulai sore. Kebanyakan mahasiswa sudah pulang dari kampus dan selepas petang lah biasanya akan ramai kembali karena para mahasiswa S2 yang mengambil kelas malam akan datang selepas mereka bekerja.
Anggi merapihkan rambut nya, menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuh nya untuk menghalau aroma asap kendaraan yang mungkin menempel di baju.
Anggi segera menuju ke Gedung B tempat ruangan dosen pembimbing nya. Ia berjalan dengan cepat mengingat 10 menit lagi waktu janji yang sudah di tentukan oleh sang dosen.
__ADS_1
Sesampainya di depan ruang dosen pembimbing, Anggi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan mya perlahan berusaha mengusir kegugupan yang melanda diri nya. Ia dengan pelan mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam.
Anggi melongokkan kepala dan mengangguk sedikit.
"Selamat sore Pak". Sapa Anggi.
"Ayo.. Silakan masuk". Sahut Sang Dosen.
Dosen pembimbing itu menautkan jari jemari nya di atas meja dan menatap Anggi setelah gadis itu duduk.
"Saya harap kamu memberikan saya hasil yang memuaskan ya?". Ucap Sang Dosen.
Anggi tersenyum tipis. "Saya yakin kali ini Bapak tidak akan merevisi skripsi saya hehe". Anggi terkekeh.
Sang Dosen pun menganggukkan kepala. "Saya harap juga begitu. Saya bosan mencoret-coret di atas skripsi kamu selama berbulan-bulan".
Perkataan Sang Dosen membuat Anggi menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Anggi pun membuka tas nya dan mengeluarkan skripsi nya. Dengan percaya diri gadis itu memberikan nya pada Sang Dosen.
Selama Sang Dosen memeriksa dengan teliti dan membuka lembar demi lembar hasil revisi yang di kerjakan Anggi, gadis itu hanya terdiam.
Walau Ia yakin dan percaya diri kalau Ia akan mendapat hasil yang baik hari ini, namun Anggi tak menampik kalau rasa gugup itu ada. Tapi berulang kali Ia meyakinkan diri, 'Aku di bimbing oleh Reynald, Sang CEO yang hebat. Mana mungkin aku akan gagal'. Berulang kali Ia berucap seperti itu di dalam hati dalam beberapa waktu ini.
Bunyi ketukan bolpoin di atas meja membuyarkan lamunan Anggi. Ia menatap Sang Dosen yang tengah menatap diri nya dengan tatapan tak terbaca. Rasa gugup seketika menyerang diri nya kembali. Ia menundukkan kepala memutus tatapan Sang Dosen pada dirinya.
"Apa kamu mau tanda tangan ku hari ini?". Ucap Sang Dosen.
Anggi mendongakkan kepala dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Mak.... Maksudnya apa, Pak.....?". Tanya Anggi pelan.
Sang Dosen mengulas senyum. "Skripsi mu lolos. Saya lihat tidak ada lagi yang perlu di revisi. Kau bisa sidang". Jelas Sang Dosen.
Anggi menganga tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia menangkupkan kedua tangan nya di mulut.
"Benarkah, Pak? Saya bisa sidang??". Tanya Anggi tak percaya.
"Ya. Saya akan beritahu nanti jadwalnya. Kamu siapkan saja diri mu dengan baik dan aku harap kamu menguasi seluruh materi di depan dosen penguji nanti". Ucap Sang Dosen.
Anggi mengangguk-anggukkan kepala berulang kali. Netra mata nya tampak berbinar memancarkan kesenangan yang sulit Ia lukiskan. Anggi lantas berdiri dan meriah tangan Sang Dosen dan menundukkan kepala nya berulang kali.
"Terima kasih, Pak! Terima kasih!". Ucap Anggi. Ia menghapus setitik air mata kebahagiaan di sudut mata.
"Kamu sudah berusaha keras dan sabar melaluinya. Semoga kamu tidak membenci saya karena saya terus menerus meminta mu untuk merevisi selama ini". Sang Dosen terkekeh pelan.
•••
Setelah keluar dari ruang dosen pembimbing, Anggi melewati lorong gedung B yang nampak sepi dengan berjingkrak-jingkrak. Ia begitu bahagia. Segala usaha keras yang di lakukan nya selama berbulan-bulan kini membuahkan hasil. Tak ada apapun lagi yang Ia inginkan. Ia hanya ingin cepat lulus dari Universitas dan mencari kerja yang lebih baik tanpa harus bekerja lagi di Club malam walau hanya sebagai waitress.
Di parkiran kampus Anggi mengangkat skripsi nya ke udara dan melompat kecil.
"Aku berhasil! Yes! Yes! Yes! Oh Tuhan.. Ini impianku!". Ucap Anggi bermonolog pada dirinya sendiri.
"Kau harus mentraktir ku". Suara bariton seseorang menginterupsi diri nya.
Anggi membalikkan badan ke belakang dan melihat seorang pria tampan yang berdiri dengan gagah nya sedang menatap pada diri nya seraya tersenyum miring.
Anggi menyisir tampilan pria yang sudah satu minggu tak di temui dan tak mungkin Ia hubungi. Pria itu memakai baju setelan kantor body fit yang menambah kemaskulinan nya.
__ADS_1
"Sudah menikmati ketampanan ku?". Ujar Reynald seraya melangkah mendekat pada Anggi.
•••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••