
H-1 Hari Pernikahan
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Waktu yang dimana biasanya banyak orang sudah sampai di rumahnya masing-masing dan bersantai bersama keluarga atau mungkin bersiap untuk tidur.
Namun berbeda dengan Reynald. Sudah 2 jam Ia duduk termenung di belakang kemudi menatap sebuah rumah mungil yang di dalamnya terdapat seorang gadis yang telah menghuni hatinya.
Hatinya sungguh berkecamuk dengan segala rasa menyakitkan. Frustasi, marah dan kecewa pada keadaan bercampur aduk menjadi satu hingga membuat dirinya satu minggu ke belakang ini sangatlah kacau.
Ia yang akhirnya pasrah menerima rencana kedua orang tuanya yang ingin menikah dalam satu minggu tentu saja membuat dirinya tidak fokus dan lebih banyak uring-uringan.
Ia bahkan tidak menemani Clara untuk membeli cincin pernikahan maupun fitting gaun pengantin. Semua yang menemani hanyalah Rose, Ibunya serta manager Clara. Reynald pun hanya meminta Clara untuk membawa Jessy ke rumah utama jika kedua orang tuanya ingin bertemu cucu mereka. Reynald benar-benar kalut dan membenahi dirinya sendiri sebelum hari pernikahan tiba.
Ia lantas teringat percakapan dengan Gavin, Renata dan Andre tempo hari.
"Aku ingin menikahi Anggi sebelum hari pernikahanku dengan Clara. Tolong bantu aku". Reynald menyampaikan niatnya.
"Kau gila????".
"Apa?! Aku tidak salah dengar kan?!".
"Wong edan".
Renata, Andre maupun Gavin sontak saja terkejut. Mereka tidak habis pikir dengan keputusan Reynald yang memilih untuk menjadikan Anggi dan Clara menjadi kedua istrinya di banding memilih salah satu di antara kedua wanita itu.
"Aku tidak setuju! Kau jangan bermain api, Rey!". Tolak Renata keras.
"Satu wanita saja sudah mampu membuat hidupmu layaknya bara api jika kau melakukan kesalahan, lalu kau mau memiliki dua wanita? Wah. Rupanya pria setia bisa lebih gila. Aku bahkan tidak pernah berniat memiliki dua istri kau tahu!". Ujar Gavin menatap Reynald.
"Ndre! Kau jangan diam saja! Beritahu sahabatmu ini untuk jangan bertindak gila!". Renata beralih menatap Andre yang sedari tadi terlihat berpikir.
Andre menghela napasnya perlahan.
"Kau pasti tahu karakter pria ini, Ren. Kita bukan hanya sekali atau dua kali menghadapi kemauannya yang harus selalu terwujud". Ujar Andre seraya menatap Reynald.
"Jadi kurasa walau kita menolak permohonannya kali ini, dia akan melakukannya diam-diam di belakang kita". Andre beralih menatap Renata.
"Bingo! Kau pintar bro!". Gavin menjetikkan jari menyetujui ucapan Andre.
"Kalau begitu terpaksa aku yang harus memberitahu Anggi tentang semua ini padanya". Sahut Renata.
Reynald mendelik tajam pada Renata. "Jangan macam-macam Renata!".
"Maaf, Rey. Aku tidak mau Anggi menjadi korban keegoisanmu. Aku paham kau tidak menginginkan situasi seperti ini menimpamu, tapi menikahi Anggi juga hanya akan menimbulkan masalah baru untukmu".
"Jika kau bersikeras, maka aku pun akan memberitahunya. Kau ingin mengikat Anggi sebelum pernikahanmu dengan Clara kan?". Tanya Renata.
"Setidaknya dia ku jadikan istri pertamaku, Ren. Hanya ini caraku untuk mempertahankan dirinya di sisiku".
"Apapun alasanmu, aku tidak akan diam saja bila kau mengambil langkah seperti itu".
"Kau pilih, Aku atau dirimu yang memberitahu tentang situasi ini pada gadis itu?". Desak Renata tegas.
Reynald mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan napas berulang kali kala mengingat penolakan Renata, Gavin maupun Andre tempo hari. Karena itulah saat ini Ia berada di sini. Di depan rumah Anggi.
Reynald akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Ia yang memulai hubungan dengan Anggi, maka dirinya pula yang harus berani mengakhiri. Ia tak bisa membayangkan jika Anggi tahu semuanya dari Renata. Hanya dirinyalah yang boleh memberitahu gadis itu walau apapun akibat yang akan dia dapatkan nanti.
Reynald membunyikan bel dan tak lama pintu pun terbuka menampakkan Anggi yang sudah memakai piyama hello kitty.
"Rey!". Seru Anggi terkejut.
__ADS_1
Reynald tersenyum tipis dan segera melangkah masuk ke dalam setelah di persilakan oleh Anggi.
"Kamu mau minum apa?". Tanya Anggi seraya melangkah menuju dapur.
Namun dengan cepat Reynald menahan lengan Anggi. "Kau tidak perlu menyediakan apapun untukku". Ucap Reynald pelan.
Anggi lantas menatap aura berbeda dari wajah Reynald. Gadis itu menyisir inci demi inci wajah Reynald yang terlihat kusut. Pancaran mata pria itu yang selalu berbinar kala menatap dirinya, kini meredup tak bercahaya.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?". Tanya Anggi mengusap sisi wajah Reynald dengan telapak tangannya hingga membuat Reynald memejamkan mata.
"Rey....."
Reynald membuka mata perlahan dan menatap lekat Anggi. Tatapa yang penuh luka.
"Duduklah.. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu". Ujar Reynald.
Anggi menatap Reynald sejenak lalu ikut duduk di sisi pria itu.
Cukup lama Reynald terdiam hanya menatap dinding yang kosong tanpa satupun lukisan. Jari jemarinya Ia tautkan di atas kedua lututnya.
"Besok aku akan menikah". Ucap Reynald akhirnya tanpa berani menatap ke arah Anggi.
"Aku....."
"Mantan kekasihku datang kembali dan membawa anak hasil dari hubungan kami. Aku harus bertanggung jawab padanya". Reynald menghembuskan napas kasar setelah berhasil mengeluarkan segala yang Ia tutupi dari Anggi.
Satu menit...
Dua menit...
Hingga cukup lama hanya ada keheningan di antara keduanya. Reynald memberanikan diri menatap Anggi yang tak bergeming sedikitpun.
"Kau.... Kau bercanda kan?".
"Apa yang aku dengar tadi.... Tidak benar kan?".
Anggi menatap Reynald dengan tak percaya. Berharap apa yang pria itu sampaikan tadi hanya guyonan belaka.
Reynald menundukkan kepala. "Maafkan aku". Sahut Reynald dengan nada sendu.
"Ba...Bagaimana...bisa...?"
"Ja...jadi selama ini kau...."
"Oh ya Tuhan... Jadi aku sama... Aku sama seperti ibuku?".
"Menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain?".
Anggi meracau sembari tatapannya penuh kekalutan dan kekecewaan.
"Tidak Anggi. Dengarkan aku!".
"Aku tidak pernah menjadikanmu orang ketiga. Kau satu-satunya sebelum mantan kekasihku datang kembali. Hanya kau!".
Anggi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan terisak.
"Bilang padaku jika ini semua hanya guyonanmu saja..."
"Kau.. Menikah?".
__ADS_1
"Punya anak?".
Anggi menatap nanar ke arah Reynald yang sama frustasinya dengan gadis itu.
Reynald menangkup kedua bahu Anggi dan menatap lekat tepat ke dalam manik mata gadis itu.
"Aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Hanya saja situasi tak terduga ini tak bisa aku kendalikan. Aku mencintaimu, Anggi. Sungguh perasaanku benar-benar nyata untukmu".
"Mantan kekasihku pergi begitu saja, aku sudah mencarinya sebisaku namun gagal dan akhirnya aku mengenal dirimu... Aku tidak pernah menjadikanmu orang ketiga. Namun ketika aku sudah berhubungan denganmu, tiba-tiba dia datang kepadaku dengan membawa seorang bayi. Aku frustasi. Situasi ini sangat rumit untukku. Aku tidak ingin melepasmu namun di sisi lain aku harus bertanggung jawab....:
Reynald menatap sangat dalam berharap Anggi menerima penjelasannya.
Anggi menatap Reynald dengan bola matanya yang memerah. Air mata terus saja mengalir turun tanpa seizinnya.
"Aku......"
"Hiks.. Aku...."
Anggi berusaha dengan kuat mengendalikan dirinya namun Ia tak sanggup menahan rasa yang begitu sakit dalam hati hingga Ia menangis keras, sekeras yang Ia bisa.
Ia kecewa dengan hidupnya. Ia kecewa dewi fortuna tak pernah berpihak kepadanya. Setelah sang ayah yang memutuskan hubungan dengan dirinya, kali ini Reynald pun harus mengakhiri hubungan mereka.
Terpaksa atau tidak, Anggi tak bisa menyalahkan Reynald sepenuhnya. Pria itu tidak salah. Ia menghargai kejujuran Reynald.
Hanya saja sebagai manusia biasa. Ia kecewa dengan alam semesta. Setelah Ia melewati segala caci maki saat kecil karena hidup hanya dengan ibunya. Hingga dewasa Ia tidak pernah di hiraukan oleh sang ayah kecuali tentang pendidikan. Anggi melaluinya seorang diri. Namun setelah Ia menaruh harapan besar dan berlindung di balik dekapan seorang pria, kenyataan kembali membuatnya terlempar hingga ke dasar jurang.
Anggi mengusap wajahnya asal. Menyingkirkan air mata yang turun tak ada hentinya.
"Aku....."
"Hikss.. Oh Tuhan...Hikss" Anggi kembali menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
Dadanya terasa seperti dihujam sebilah pisau runcing yant tepat menusuk jantung.
Tanpa sadar Reynald pun menangis hingga pria itu menarik tubuh Anggi ke dalam pelukannya. Reynald mendekap erat tubuh Anggi seakan itulah pelukan terakhir di antara mereka.
"Maafkan aku... Sungguh aku minta maaf". Ucap Reynald sendu.
Ia menghirup aroma tubuh Anggi di ceruk leher gadis itu.
"Hiduplah dengan baik... Raihlah mimpimu. Aku selalu berdoa kau menemukan kebahagiaanmu tanpa diriku".
Mendengar penuturan Reynald sontak saja semakin membuat Anggi menangjs tersedu-sedu. Anggi mengeratkan pelukannya. Merasakan kehangatan tubuh pria itu yang mungkin tidak akan pernah bisa Ia rasakan lagi.
Cukup lama keduanya hanya berpelukan hingga tangis Anggi sedikit mereda.
Reynald mengulurkan pelukannya dan menatap Anggi. Ia sedikit menunduk memperhatikan wajah gadis itu dari dekat.
Anggi mengusap air mata yang telah membasahi wajahnya. Ia mendongakkan kepala ke atas seraya menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Anggi lantas menatap Reynald dan berusaha memberikan senyuman terbaiknya. Senyuman terakhir yang akan terukir di wajahnya.
"Selamat atas pernikahanmu, Rey...."
••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••••
Tamat? Reynald udah ambil keputusan kan? ✌
Akhirnya 3 bab dalam sehari! Mumpung hari ini lagi gak datang ke kantor hehehe.
__ADS_1