Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 16


__ADS_3

Dua pria tampan kini sedang menikmati suasana kehidupan malam di sebuah club eksklusif yang hanya bisa di datangi oleh kaum jetset dan sosialita saja. Bukan tanpa alasan. Club tersebut memang hanya di peruntukkan untuk para member yang per bulan nya bisa mencapai jutaan rupiah.


Para penghibur termasuk pekerja yang ada di club itu pun benar-benar di seleksi ketat. Jaminan nya mereka bisa lebih banyak mendapatkan uang lebih banyak di banding bekerja di club biasa.


"Rileks lah sedikit! Kenapa muka mu masam sekali malam ini huh?". Tanya Gavin jengkel ketika menelisik raut wajah Reynald.


"Sial.. Aku bisa gila kalau begini". Reynald menggerutu.


"Gila? Maksud mu apa?". Tanya Gavin tak mengerti.


"Aku memimpikan Clara semalam".


Gavin menepuk dahi nya tak habis pikir. "Kau memang sering memimpikan dia kan? Apa yang aneh?"


"Aku mimpi berhubungan intim dengan dia. Sial.."


Gavin melongo mendengar penuturan dari Reynald. Sedetik kemudian Ia tertawa keras hingga mengeluarkan setitik air mata.


"HAHAHAHAHAHA KAU... HAHHAHAHAA ASTAGA AKU...."


Gavin berusaha bicara di sela tawanya yang terlihat begitu puas dan senang mengejek sahabat nya.


Reynald lalu meninju bahu Gavin dengan cukup keras. "Sialan kau malah mentertawakan ku!". Gerutu Reynald.


Gavin mengusap air mata nya yang menyeruak begitu saja akibat tertawa.


"Astaga maaf.. Maaf.. Aku merasa kasihan dengan mu hahahaha". Gavin berucap kali ini berusaha keras menahan tawa terlalu puas.

__ADS_1


Reynald mendengus kesal. Siapa juga yang mau bermimpi mesum seperti itu, Reynald bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Apa kau benar-benar butuh pelampiasan? Aku bisa mencarikan nya untuk mu malam ini. Tenang saja, wanita penghibur di club ini level A". Ucap Gavin sambil memberikan isyarat jempol pada Reynald.


"Brengsek kau. Aku tidak pernah mau memakai jasa wanita seperti itu. Menjijikkan". Reynald mengumpat pada Gavin.


"Sekali ini saja agar kau tidak penasaran. Kau bermimpi mesum seperti itu tanda nya tubuh mu sedang merindukan belaian wanita. Kau tidak melakukan nya sejak Clara menghilang kan?".


Reynald mengangguk tipis.


"Itu sudah lama bro!".


"Aku tidak mau. Lagipula aku tidak mau mengkhianati Clara.." Ujar Reynald seraya menyesap martini milik nya.


"Siapa yang mengkhianati siapa? Kau CEO tapi sangat bodoh dalam cinta!".


"Clara meninggalkan mu begitu saja. Tidak ada kabar dari nya sama sekali. Apa yang kau harapkan lagi? Sudah lah! Kau senang-senang saja malam ini aku yang bayar!". Lanjut Gavin.


Gavin akhirnya segera memencet sebuah tombol di interkom yang tersambung ke ruangan pemilik club eksklusif itu.


"Bro.. Tolong kau siapkan beberapa wanita terbaik untuk di pilih oleh teman ku menemani nya malam ini. Ingat. Wanita terbaik di club mu. Akan ku bayar lebih jika teman ku itu puas". Ucap Gavin bicara melalui interkom.


"Ok.. Wait a moment. Aku siapkan"


Gavin pun kembali duduk di sebelah Reynald yang sedang memainkan ponsel nya.


"Aku jamin kau tidak akan menyesal". Ucap Gavin.

__ADS_1


"Kau gila menjerumuskan kawan mu sendiri".


"Aku bukan menjerumuskan mu. Ini tentang kebutuhan seksual pria dewasa bro! Sesekali jajan tidak masalah. Kita kan pria bebas bukan pria beristri". Dengus Gavin tak terima.


Hingga tak lama kemudian terdengar suara panggilan di ruang VIP yang di tempati keduanya. Gavin memencet sebuah tombol.


"Ya?".


"Beberapa wanita sudah ku siapkan. Apakah aku harus membawa nya ke ruangan atau teman mu yang ingin datang langsung ke lantai atas?".


Gavin terlihat berpikir sejenak. "Bawa saja kemari. Oh sekalian kau bawakan dua botol wine bro". Ucap Gavin akhirnya.


Sepuluh menit kemudian terdengar sebuah ketukan dan Gavin pun beranjak membukanya.


Satu per satu wanita berpakaian minim masuk ke dalam ruangan di susul oleh seorang pria yang tak lain adalah pemilik club eksklusif di mana Reynald dan Gavin berada.


Terlihat ada 5 orang wanita yang sedang berdiri bersampingan. Kelima wanita itu terlihat mirip satu sama lain. Rambut yang panjang di curly, tubuh yang semampai, wajah yang di poles makeup sedemikian rupa.


Reynald menatap satu per satu wanita yang berdiri di hadapan nya. Ia menyisir dari atas hingga bawah penampilan mereka. Dalam hati Reynald pun mendengus.


Sialan.. Gavin menyuruhku memakai salah satu wanita ini. Sudah berapa banyak pria yang memasuki tubuh mereka? Walau di kata terbaik dan eksklusif pun aku tidak sudi menyentuhnya....


Gavin menepuk pundak Reynald menginterupsi lamunannya. "Bagaimana? Mereka cantik dan hot, bro!".


Mau tak mau Reynald harus memilih. Apa salahnya hanya memilih kan? Pakai atau tidak, itu tinggal urusanku. Batin Reynald menatap pada lima wanita di depan nya.


Hingga Reynald mau memilih, tiba-tiba terbukalah pintu ruangan membuat seluruh pandangan tertuju pada seseorang di baliknya.

__ADS_1


"Aku mau dia". Ucap Reynald akhirnya.


•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡••••••••••


__ADS_2