
'Reynald sangat mencintai dan setia pada wanita itu. Sampai aku berpikir dia bodoh karena mencintai seseorang hingga sedalam itu'.
Ucapan Renata tadi siang terus berputar-putar di pikiran Anggi. Ia juga semakin curiga ketika dirinya menanyakan lebih dalam lagi tentang sosok mantan kekasih Reynald pada Renata, tiba-tiba Renata semakin bersikap defensif dan mengalihkan pembicaraan hingga membuat Anggi pasrah.
'Ada hal yang lebih baik kau tidak perlu mengetahuinya. Bukan karena aku menutupinya tapi kurasa itu bukan hal yang penting untuk kau ketahui..."
Terlintas ucapan Reynald tempo hari di otaknya. Anggi menghembuskan napas kasar dan menerawang ke plafon kamar tidurnya. Semakin Ia mengingat semua ucapan Reynald ataupun ucapan yang tidak sengaja Renata ungkapkan, Anggi justru semakin bertanya-tanya dengan sosok mantan kekasih Reynald.
"Aah..Bukankah itu memang tidak penting untuk aku ketahui?".
"atau.. Memang perlu ku ketahui?".
Anggi bermonolog dengan dirinya sendiri dan sedetik kemudian Ia mengacak-acak rambutnya dan menendang bantal hingga berjatuhan ke lantai. Ia merasa kesal dan di liputi rasa penasaran yang tinggi. Terlebih lagi hingga detik ini Reynald belum menghubunginya sama sekali. Pesan yang tadi pagi Ia kirim pada pria itu bahkan belum di buka sama sekali.
Anggi beranjak dari kasur dan keluar kamar. Ia lantas menuju dapur dan membuka kulkasnya untuk mengambil puding yang Ia buat khusus untuk sang ayah namun sama sekali tidak di makan oleh sang ayah.
Anggi memotong puding cokelat dalam potongan besar dan menaruhnya ke dalam mangkok. Ia lalu menuangkan vla ke atas puding.
Ia memakan puding cokelat yang nikmat itu tanpa jeda. Menyuapi dirinya sendiri dalam potongan yang besar hingga pipinya menggembung seperti ikan koki.
Tring!
Bunyi sendok yang beradu dengan mangkok yang Anggi hempas dari tangannya mengisi keheningan rumah gadis itu.
"Rasanya menyebalkan!". Gerutu Anggi.
Semakin Ia berusaha mengabaikan berbagai pertanyaan yang muncul dalam otaknya, semakin besar pula rasa penasarannya!
Satu Minggu Kemudian
"Jam berapa jadwal pesawat kita besok?". Reynald bertanya pada Andre sembari memasukkan bajunya ke dalam koper.
__ADS_1
"Pukul 1 siang". Jawab Andre.
"Kenapa kau pesan yang siang? Harusnya kau pesan penerbangan pertama!". Reynald menggerutu.
"Kursinya penuh semua bos!". Ujar Andre kesal.
"Harusnya kau atur pesawat jet saja! Kau menyebalkan sekali". Balas Reynald.
"Bedanya kan hanya beberapa jam saja. Tidak perlu kau pikirkan"
"Sudahlah aku ke kamarku!". Andre beranjak dari kursi dan melangkah keluar dari kamar hotel yang Reynald tempati menuju kamarnya sendiri.
"Cih.. Aku sumpahi kau akan merasakan bucin akut pada seorang wanita!". Ujar Reynald tepat saat pintu tertutup.
Satu minggu ini Reynald merasa kesal sekaligus rindu pada Anggi. Gadis itu tidak membalas satupun pesan yang di kirimnya atau mengangkat telfon darinya. Walau Ia hanya menghubungi gadis itu pada malam hari, tapi setidaknya Ia berusaha untuk selalu mengabari kekasihnya.
Reynald sampai harus meminta Renata untuk datang ke rumah Anggi untuk melihat kondisi gadis itu dan cukup lega saat sepupunya itu bilang bahwa Anggi baik-baik saja.
Jika baik-baik saja, kenapa gadis itu tidak menggubris segala pesan dan telfon selama satu minggu ini? Reynald bertanya-tanya dalam hati.
•••
Keesokan harinya..
Pukul 6 pagi Anggi sudah selesai membersihkan rumahnya dari teras hingga ke taman belakang. Tinggal menjemur baju yang sudah Ia giling sejak tadi malam. Anggi segera melaksanakan tugas terakhirnya dan terduduk lelah di kursi dapur.
Ia menyeka keningnya yang berkeringat. Mengibaskan tangannya ke arah wajah berusaha mendapatkan kibasan angin. Tidak ada kipas angin di rumahnya. Semua ruangan di kamarnya di pasang AC oleh Reynald. Anggi melirik AC yang terpasang di atas meja dapur dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Aroma masakan dan bau asap di padu dengan sorot angin AC yang dingin".Anggi bermonolog seraya mencebikkan bibirnya.
Hari ini Anggi akan kembali bekerja setelah cukup lama mengambil cuti di saat persiapan sidang skripsi. David memberi kelonggaran pada dirinya dan Anggi sangat menghargi itu. Namun sekarang karena tabungannya juga sudah menipis, Ia perlu kembali bekerja.
__ADS_1
Anggi beranjak dari dapur menuju ke halaman belakang untuk mengambil handuk dan segera masuk kamar mandi.
Sepanjang hari ini hanya akan Ia lalui dengan bersantai menonton televisi dan menikmati berbagai cemilan yang Renata kirimkan untuknya melalui sebuah jasa ekspedisi instant.
Tepat pukul 7 malam, Anggi mematut tampilan dirinya di cermin dan mengulas senyum. Ia lantas segera mematikan lampu dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Anggi juga tak lupa mengecek pintu belakang. Setelah memastikam semuanya sudah aman, Ia segera keluar dari rumah.
Ia tertegun saat melihat sebuah mobil sedan sport warna putih berpintu dua yang terparkir di garasinya. Renata mengirimkan mobil itu lima hari yang lalu namun belum pernah Ia pakai sekalipun.
Anggi menuju motornya yang terparkir tepat di sisi mobil. Memakai helm lalu mengatur kedua kaca spion motor sebelum Ia berkendara. Tak lama Ia pun melajukan motornya menuju ke tempat kerja.
Suara dentuman musik sangat memekakkan indera pendengaran. Sedari tadi Anggi sudah mondar-mandir mengantarkan berbagai pesanan para tamu di club David.
Kemeja putih dan rok hitam pendek lengkap dengan high heels yang menghiasi kaki adalah busana yang Anggi pakai sama seperti waitress lainnya di club ini.
Malam ini pengunjung club begitu ramai hingga membuat dirinya dan beberapa rekan waitress cukup kewalahan. Para pengunjung club ini bukanlah orang sembarangan, mereka juga mematuhi aturan yang berlaku sehingga Anggi selalu merasa nyaman bekerja.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Anggi hingga membuat gadis itu tertegun.
"Kau... Anggi kan? Kekasih Reynald?". Tanya seorang pria.
Anggi menelisik wajah pria di hadapannya dalam cahaya yang temaram. Ia merasa cukup familiar dengan wajah itu.
"Aku Gavin. Sahabat Reynald. Kita pernah bertemu temp hari di sini juga. Tepatnya di ruang VIP saat Reynald membawamu pulang. Kau ingat?". Jelas Gavin.
Anggi terdiam sejenak dan menganggukkan kepala.
"Oh.. Ya.. Aku ingat". Ucap Anggi mengulas senyum tipis.
"Sedang apa kau di sini? Apa Reynald tau kau masih bekerja di sini?". Gavin mengerutkan kening heran.
"Tentu saja aku sedang bekerja.." Anggi menggerakkan tangannya dari atas hingga pinggang seolah menunjukkan busana yang sedang Ia pakai malam ini.
__ADS_1
"Maaf.. Aku terburu-buru harus mengantar pesanan ini pada tamu". Anggi menunjuk dua botol whiski di atas meja dan pamit dengan sopan meninggalkan Gavin yang di liputi rasa heran.
•••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••