Reynald Sang CEO

Reynald Sang CEO
Bab 60


__ADS_3

5 Tahun Kemudian


Abu Dhabi, UEA.


Tap..


Tap..


Tap..


Suara langkah seseorang terdengar bergema di lantai marmer kecokelatan yang mewah. High heels setinggi 9 cm berwarna nude itu seakan menyatu dan membawa tubuh ramping seorang wanita yang sedang berjalan dengan penuh wibawa dan percaya diri.


Banyak pasang mata yang menunduk dan lekas menyapa saat wanita itu melalui mereka yang langsung di balas dengan anggukan kecil atau sebuah senyuman.


Wanita yang kini sudah berusia 28 tahun itu menjelma menjadi sesosok wanita yang tangguh dan hebat. Dalam waktu 5 tahun, Ia berhasil membangun bisnisnya sendiri di negeri asing yang tidak pernah Ia sambangi sebelumnya.


Awal mula karena Ia sulit mencari pekerjaan karena tentu saja saat itu pengalaman kerjanya masih sangat sedikit mengingat Ia belum lama lulus kuliah setelah pindah ke negeri asing. akhirnya Ia memutuskan untuk menyulap sebuah kios kecil yang Ia sewa menjadi tempatnya berjualan berbagai macam kue kering dan juga makanan khas negaranya yang Ia buat seorang diri.


Fase awal tidaklah selalu mudah, tidak ada yang membeli dan berbagai hal lainnya telah Ia rasakan namun Ia tidak patah semangat. Ia terus berjuang dan bekerja keras hingga akhirnya kini usahanya sudah sukses dan memiliki 400 karyawan dan menempati posisi perusahaan dengan level medium di negara itu.


Wanita itu pun memasuki ruang kerjanya yang bernuansa putih abu-abu. Sebuah warna yang unik untuk ukuran seorang wanita. Namun warna abu-abu memiliki makna tersendiri untuk dirinya.


Tak lama dering telfonnya berbunyi nyaring. Ia melirik sekilas nama si layar ponsel dan segera mengangkatnya.


"Ada apa?". Tanya wanita itu tanpa basa basi.


"Aku mau mengingatkan kalau kau ada pertemuan penting dengan Menteri Perdagangan dan Himpunan Para Pengusaha dari negaramu siang ini di Hotel Zayed"


"Ya. Terima kasih sudah mengingatkan. Nanti kamu ikut menemaniku".


Panggilan telfon pun terputus. Wanita itu lantas mengetuk-ngetuk bolpoin yang ada di tangannya sembari berpikir. Karena kecanggihan media sosial, para warganet yang berkunjung ke negara ini selalu membagikan beberapa momen kunjungan mereka seperti biasanya bukan? Itu adalah hal yag lumrah.


Namun dalam hal ini, sudah banyak youtuber dan selebgram juga orang sipil yang datang liburan ke sini, mereka selalu membeli produk olahan dari perusahaan miliknya dan mereview begitu saja di laman media sosial milik mereka masing-masing. Sebenarnya itu adalah ajang promosi gratis untuk perusahaannya, tapi Ia tidak menyangka bahwa secepat ini nama perusahaannya di dengar oleh pihak pemerintah negaranya sendiri hingga para pengusaha di sana dan akhirnya ingin mengadakan pertemuan untuk sekedar berbagi pengalaman maupun jalinan bisnis.

__ADS_1


Wanita itu melirik arloji kecil yang melingkar di tangannya dan melihat masih ada waktu sekitar 2 jam lagi untuknya mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan tersebut.


•••


Jakarta, Indonesia


"Kau tahu kebijakan baru yang di usung oleh dua kota besar di UEA? Mereka memangkas biaya pendirian bisnis baru hingga 90%! Dua kota besar itu sedang bersaing untuk menjadi tuan rumah kantor regional bisnis global. Bukankah ini angin segar untuk kita?".


Reynald mencibir. "Kita? Mungkin lebih tepat hanya angin segar untukmu saja! Kau lupa bahwa perusahaanku sudah ekspansi kesana 5 tahun yang lalu, huh?".


"Ah ya! Aku lupa jika kau sudah ekspansi di Dubai. Tapi kurasa Abu Dhabi pun bagus, bro. Apa kau tidak mau mendirikan juga di sana?". Tanya Gavin.


"Untuk apa aku mendirikan dua kantor regional pusat di 1 negara? 1 kantor saja sudah cukup untuk mewakili aktifitas bisnis perusahaanku di sana".


Gavin manggut-manggut setuju. "Berarti hanya aku? Ayahku memintaku untuk memimpin ekspansi bisnis ke Timur Tengah dan aku masih memutuskan mana yang lebih baik".


Reynald terdiam sejenak menatap Gavin.


"Terserah kau. UEA atau Riyadh sekalipun, potensi pasar di sana sangat bagus dan terbuka".


Tiba-tiba pintu ruang kerja Reynald terbuka begitu saja dan nampak seorang gadis kecil berlari dan menghamburkan diri memeluk Reynald.


"Daddy! Daddy!". Ujar Gadis kecil itu.


Reynald balas memeluk gadis kecilnya yang tak lain adalah Jessy, putrinya. Ia membelai kepala Jessy dengan penuh kasih sayang.


"Apakah uncle Gavin tidak diberikan pelukan juga?". Sahut Gavin menginterupsi ayah dan anak di hadapannya.


Jessy menatap Gavin dari balik tubuh Reynald dan melemparkan senyum lebar. Jessy pun melepas pelukannya dari tubuh Reynald dan segera menghamburkan diri memeluk Gavin.


"Ah ponakanku yang lucu". Sahut Gavin terkekeh pelan.


"Apa dia baik-baik saja di lokasi syuting?". Tanya Reynald pada Renata.

__ADS_1


"Dia menangis terus kau tahu! Aku sampai pusing meredakannya. Istrimu itu bahkan tetap melakukan syuting di tengah-tengah tangisan Jessy. Aiissshh aku kesal sekali!". Renata bercerita menggebu-gebu.


"Clara baru saja mendapatkan kontrak film lagi. Maklumi saja. Kau tahu dia seperti apa kan jika sudah bekerja". Ucap Reynald pelan.


"Tetap saja aku tidak suka! Kau terlalu memanjakan istrimu, Rey! Bahkan putrimu lebih sering denganmu di bandingkan ibunya!".


"Kau marah-marah terus nanti keriput! Pergilah berkencan!". Timpal Gavin.


Renata melotot pada Gavin. "Enak saja! Aku baru 32 tahun tahu! Kau bahkan lebih tua dariku. Seharusnya kau lah yang pergi berkencan".


"Setiap malam bahkan ranjangku selaiu panas. Kau tidak perlu mengingatkanku tentang itu". Ujar Gavin terkekeh.


Reynald dan Renata sontak saja melotot. "Mulutmu!!!! Ada Jessy di sini!".


Gavin lantas menatap Jessy yang tengah menatap Gavin dengan dahi bertaut.


"Apakah Uncle Gavin menyiram air panas di ranjang sebelum tidur?" Tanya Jessy dengan polos hingga membuat ketiga orang dewasa yang ada di ruangan itu diam membisu.


Lalu tiba-tiba saja pintu ruang kerja Reynald kembali terbuka dan Andre melangkah masuk dengan raut wajah yang serius. Tanpa bicara apapun, pria itu memberikan sebuah Ipad pada Reynald.


Reynald menatap Andre dengan raut wajah bingung.


"Anggi". Ucap Andre pelan seraya mengedikkan dagunya ke arah layar Ipad.


Mendengar 1 nama itu, sontak saja Reynald melihat seksama pada layar Ipad. Ia membaca setiap baris kalimat dengan baik di sebuah portal bisnis. Renata dan Gavin pun ikut melihat apa yang tertuang di layar Ipad.


Renata menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Gavin melongo tak habis pikir. Reynald lalu membesarkan ukuran foto yang ada di portal berita bisnis itu. Ia menatap Anggi yang sedang berfoto bersama Menteri Perdagangan dan Himpunan para pengusaha dari Indonesia.


"Bagaimana kita bisa tidak tahu tentang hal ini? Bahkan Menteri dan para pengusaha itu lebih dulu mengetahui tentang Anggi!". Ucap Renata masih syok.


Reynald hanya diam membisu menatap foto Anggi. Ia mengusap wajah Anggi yang sedang tersenyum manis ke arah kamera. Reynald melihat gadisnya yang dahulu terlihat lugu kini telah menjelma menjadi seorang wanita yang berkharisma.


"Kau menepati janjimu untuk hidup dengan baik dan meraih mimpimu". Gumam Reynald seraya tersenyum menatap foto Anggi.

__ADS_1


Apa ini giliranku untuk menepati janjiku?


••••••••••••••♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡•••••••••••••


__ADS_2