Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 101


__ADS_3

"Mama... Mama..." Baru saja memasuki ruangan Fara, Arya yang sekarang sudah berusia 11 bulan itu langsung memanggil Mamanya. Meski baru bisa memanggil Mama dan Yayah tapi mereka sangat senang sekali mendengar panggilan itu keluar dari bibir kecil yang menggemaskan.


"Arya, Mama kangen..." Fara berusaha untuk duduk meski tubuhnya masih terasa lemas.


"Sayang, jangan dipaksa duduk dulu. Gak papa sambil rebahan saja." Aslan meraih tubuh Arya dari gendongan Mamanya lalu menurunkannya di sebelah Fara.


"Hai, sayang. Mama kangen banget." Fara memiringkan dirinya dengan tangan yang memeluk Arya.


"Mama." Satu tangan Arya mengusap pipi Fara.


"Iya sayang, Mama kangen loh. Udah berapa hari kita gak bobok bareng. Untung Arya gak lupain Mama." Fara tertawa kecil. Dia sempat takut kalau Arya akan melupakannya jika tidak bertemu beberapa hari.


"Mama." Tiba-tiba saja tangan Arya akan menyentuh perban Fara di dahinya. Dengan cepat Aslan menahan tangan Arya.


"Arya, jangan sentuh ya sayang. Itu luka, gak boleh di pegang." kata Aslan.


"Mama, mama."


"Sini cium Mama dulu." Fara menciumi pipi chubby Arya lalu mendekapnya. "Udah tambah besar ya."


"Fara, udah baikan nak?" tanya Bu Lani yang sekarang berdiri di dekat brangkar Fara.


"Sudah Ma. Tapi masih lemas soalnya hbnya belum naik juga." kata Fara. Baru saja hemogoblin nya dicek tapi masih 10 saja.


"Perbanyak makan protein dan minum susu. Pokoknya harus benar-benar istirahat total. Jangan terlalu stress lagi."


"Iya, Ma." jawab Fara lalu dia kembali bercanda dengan Arya.


"Aslan, satu minggu lagi kasus Tasya akan di sidang. Fara juga harus hadir dalam persidangan itu sebagai saksi korban." kata Pak Robi yang ikut datang mengantar istri dan cucunya ke rumah sakit. Selama Aslan sibuk mengurus Fara, Pak Robi lah yang mengurus masalah Tasya di kantor polisi.


"Iya, Pa."


Fara hanya terdiam. Dia tahu penyebab utama Tasya melakukan semua ini juga karena masa lalunya. Terkadang rasa sakit itu masih saja singgah saat mengingatnya.


"Seminggu lagi kamu datang ya, agar masalah ini cepat selesai dan Tasya segera dihukum."


Fara terdiam beberapa saat. Lalu beberapa detik kemudian dia menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia ingin membicarakan masalah Tasya dengan Alsan tapi ada kedua orang tua Aslan jadi Fara memilih untuk mengiyakannya saja. Dia kembali bermain dengan Arya yang semakin pandai dan juga sangat aktif.


...***...


"Mas, aku besok sudah boleh pulang ya? Aku bosan di rumah sakit," kata Fara sebelum tidur di rumah sakit malam itu.


"Iya, karena kondisi kamu sudah semakin membaik, besok sudah dibolehkan untuk pulang." Aslan mengusap rambut Fara yang terlihat kusut karena beberapa hari dia hanya terbaring saja. "Tapi di rumah kamu harus tetap istirahat."

__ADS_1


"Mas, hukuman Tasya apa tidak bisa diringankan? Aku tahu, dia melakukan ini karena dia merasa tidak adil dengan masa lalunya."


Aslan menggelengkan kepalanya. "Dia sudah beberapa kali mencelakai kamu. Kalau bisa dia di penjara seumur hidup. Di tambah dengan masalah Weni juga."


"Oiya, Weni bagaimana keadaannya?" tanya Fara dia hampir saja melupakan soal Weni.


"Weni keguguran. Justru Ayah tirinya dan Viki yang mendorong Weni hingga dia terjatuh dan keguguran. Ayah tiri Weni dan Viki juga terkena pasal. Mereka juga akan mendekam di penjara."


"Kasihan. Terus Weni masih bisa tetap sekolah kan?" tanya Fara.


"Bisa, aku sudah koordinasi dengan kepala sekolah dan dia juga mendapat beasiswa full sampai lulus sekolah."


Fara menghela napas panjang. Akhirnya selesai juga masalah ini. Tinggal menunggu sidang putusan saja.


"Setelah ini, hidup kita akan kembali aman. Kamu fokus lagi pada Arya dan kuliah kamu." kata Aslan.


Fara menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kamu tidur. Besok pagi kita siap-siap pulang." Aslan menaikkan selimur Fara hingga menutupi tubuhnya.


Fara menganggukkan kepalanya. "Sudah gak sabar aku ingin tidur di rumah."


Aslan tersenyum lalu mencium dalam kening Fara. Kemudian dia mengusap puncak kepala Fara agar dia cepat tidur.


Aslan menganggukkan kepalanya. "Iya."


Fara menguap beberapa kali lalu dia mulai memejamkan matanya.


Akhirnya Aslan bisa bernapas lega setelah semua kejadian ini berlalu.


Aku akan terus mencintai kamu, selamanya, Fara...


...***...


Beberapa hari pun berlalu. Setelah Fara keluar dari rumah sakit, dia mempersiapkan dirinya untuk melakukan sidang sebagai saksi korban.


Proses sidang memakan waktu yang cukup lama karena Tasya berbalik menuntut atas tindakan Aslan di masa lalu. Tapi karena tidak adanya pemaksaan dan hanya berdasarkan atas suka sama suka, Aslan memenangkan kasus ini. Setelah tiga kali sidang akhirnya hakim memutuskan hukuman yang setimpal pada Tasya yaitu pidana kurungan selama 10 tahun.


Tasya nampak depresi dengan keputusan itu. Dia berteriak histeris setelah hakim mengetuk palu. Karena hukuman penjara 10 tahun bukanlah waktu yang singkat.


Setelah masalah Tasya selesai, akhirnya Fara dan Aslan kini bisa tidur dengan nyenyak.


"Semoga tidak ada lagi masalah seperti ini. Capek banget, urusin masalah ini sampai hampir dua bulan." kata Aslan sambil merebahkan dirinya di atas ranjang.

__ADS_1


"Iya. Banyak pelajaran yang kita dapat dari masalah ini. Kita harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Jangan karena kenikmatan sesaat lalu kita tidak memikirkan akibatnya."


Aslan tersenyum kemudian dia meraih tubuh Fara dan memeluknya. "Iya sayang. Mulai sekarang kita lupakan semua itu. Kita buka lembaran baru lagi agar keluarga kecil kita hidup bahagia."


Fara menganggukkan kepalanya. "Iya. Gak terasa sebentar lagi Arya udah satu tahun. Udah bisa jalan. Gemes banget, makin aktif."


"Iya, kita rayain ya ulang tahunnya Arya. Nanti aku suruh event organizer aja biar kamu gak capek. Kamu tinggal pilih tema aja."


"Ini nih, kalau disuruh pilih tema aku tuh bingung soalnya aku paling suka tema hello kitty."


Aslan justru tertawa dan mencubit hidung Fara. "Kalau mau tema hello kitty nanti aja kalau adiknya Arya cewek."


"Ih."


"Gimana kalau tema madagascar. Kayaknya bagus. Apalagi Arya suka sama binatang-binatang." usul Aslan yang langsung disambut anggukan oleh Fara.


"Iya, benar juga. Arya paling suka kalau ada singanya. Tiruin suara singa mengaum paling hafal."


Aslan tertawa mendengar hal itu. "Iya, memang anaknya singa."


"Kucing orange." Fara menenggelamkan wajahnya di dada Aslan.


"Setelah ulang tahunnya Arya, sekalian kita mulai lembaran baru lagi."


Fara menganggukkan kepalanya. "Tinggal lanjutin halamannya aja."


"Lanjut cerita season dua atau buat anak kedua." goda Aslan.


Fara mencubit pinggang Aslan. "Ih, aku mau fokus kuliah dulu."


"Iya, iya, bercanda sayang. Semoga cita-cita kamu terwujud ya.."


"Iya, amin.."


.


.


💞💞💞


.


Like dan komen ya..

__ADS_1


__ADS_2