
"Mau smoothies apa? Strawberry atau mix?" tanya Aslan.
Beberapa saat kemudian ada seorang waitress yang mendekat. "Loh, Fara, Pak Aslan." Ayla sedikit terkejut melihat Fara dan Aslan lalu dia duduk di dekat Fara. "Darimana?" tanyanya.
"Dari beli dress. Kan tadi gue ajak lo tapi gak bisa." jawan Fara.
"Iya, gue suruh jadi waitress nih. Ngeselin banget si Ayah. Cuma gara-gara gue gak masuk 10 besar aja dimarahi." Ayla justru menopang kepalanya di atas meja. "Enak banget jadi lo, udah ada yang manjain gak perlu lagi mikir pelajaran. Gue pengen nikah aja deh rasanya."
Fara hanya tersenyum kecil. Memang dipikir nikah itu enak. Memang enak saat mendapat pasangan yang tepat tapi jika tidak sama saja akan membawa masalah baru di dalam hidup.
"Ayla!" teriak Ayah Ayla karena Ayla justru mengobrol tak melayani pembeli. "Kamu malah ngobrol di sini. Tanyain dulu mau pesan apa?"
Ayla berdiri dan memanyunkan bibirnya. "Udah ah Ayah, Ayla capek. Mau siap-siap aja buat nanti malam."
Pak Alvin kini menatap Fara dan Aslan. "Fara."
"Iya Om." Fara tersenyum.
"Lama kamu gak ke sini. Biasanya ke sini sama Arsyad."
Seketika Ayla mencubit lengan Ayahnya. Padahal dia sudah bercerita tapi sepertinya Ayahnya lupa. Apakah sudah tanda-tanda pikun menyerang. "Ayah, kan Ayla udah cerita soal Arsyad."
"Oiya, maaf lupa." Pak Alvin kini ikut bergabung dengan mereka. "Kalian mau pesan apa? Biar diambilkan Ayla."
Ayla hanya mencibir meski demikian dia tetap mencatat pesanan sepasang suami istri itu. Lalu dia beralih ke belakang.
"Jadi Anda gurunya Ayla?" tanya Pak Alvin. Tentu info iti dari putri kesayangannya.
"Iya, Pak." Aslan mengangguk kecil.
"Ayla sempat sedikit cerita tentang kalian." Pak Alvin menghela napas panjang. "Pasti Ayla di sekolah bandel ya?"
Fara hanya menahan tawanya. Bukan hanya bandel tapi gak tahu malu dan Aslan salah satu korban keisengan Ayla.
"Iya, biasa Pak. Anak sesusia SMA memang sedang mencari jati diri."
"Sebenarnya saya sudah kasih pilihan pada Ayla, kalau dia memang bisa masuk 10 besar, dia boleh memilih fakultas yang dia inginkan tapi ternyata 10 besar dalam satu kelas saja dia tidak masuk. Saya suruh ambil boga biar bisa langsung terjun ke kafe tapi malah gak mau."
Ayla datang dengan satu nampan besar dan meletakkan pesanan mereka di atas meja termasuk miliknya lalu memberikan nampan yang telah kosong itu pada waitress lain. "Ayah, hargai dulu usaha Ayla baru nanti Ayla nurut sama Ayah." Ayla kini duduk di dekat Fara dengan salad buah premium di depannya.
"Usaha apa? Makan? Mabar? Makanya kurangi main game nya. Ayah heran, kamu itu anak perempuan tapi suka main game."
__ADS_1
"Ssssttt, Ayah, jangan buka kartu. Fara aja gak tahu soal hobi aku itu."
"Ya sudahlah, Ayah mau ke kantor dulu." kemudian Pak alvin berdiri. "Kalau mau pesan lagi bilang sama Ayla, nanti biar dipotong 50%."
"Tuh, pesan yang banyak. Udah dipotong 50%." kata Ayla sambil menikmati salad buahnya.
Fara sedari tadi hanya minum smoothies saja, belum menyentuh salad buahnya sama sekali.
"Dimakan dulu saladnya." Aslan mulai menyuapi Fara.
Hal itu jelas membuat Ayla sangat iri tapi meski demikian dia tidak pergi dari tempatnya. "Bikin envy aja sih."
"Ih, apaan."
"Pak Aslan nambah pesanan gak? Soalnya saya mau pulang." tanya Ayla.
"Tidak, ini saja."
"Ya sudah, aku buatkan bill nya dulu nanti tinggal bayar saja di kasir. Far, aku duluan ya."
"Iya."
Kemudian Ayla berdiri dan beranjak pergi.
"Iya, ini aku sambil makan."
"Setelah makanannya habis kita langsung pulang ya, aku ngantuk banget." kata Fara. Karena perut kenyangnya membuat matanya ikut mengantuk.
"Iya."
...***...
Malam itu, Fara mematut dirinya dicermin. Sudah lama dia tidak berdandan. Sepertinya sejak dia menikah dengan Aslan karena sejak saat itu dia tidak pernah pergi kemana-mana selain ke sekolah.
Setelah selesai, dia berdiri dan mengambil ponselnya untuk melihat chat grup kelasnya. Ada foto beberapa temannya yang sudah sampai di sekolah. Fara memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu dia keluar. Terlihat Aslan sudah menunggunya di ruang tengah.
Memang Fara akui, guru yang ada di depannya itu sangat tampan. Hanya memakai blazer putih saja auranya sangat terpancar.
"Far, udah?" baru kini Aslan menegakkan pandangannya dan menatap ibu dari calon anaknya itu. Cantik dan sempurna. Dia berdiri dan berjalan mendekati Fara. "Cantik." lalu dia mengusap perut Fara.
"Udah kelihatan ya perutnya." Fara melihat perutnya yang masih terlihat datar tapi lekuk pinggangnya sudah terisi.
__ADS_1
"Belum, cuma kelihatan berisi aja." kemudian mereka berjalan keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil. "Kamu nikmati malam ini bersama sahabat kamu. Nanti aku tunggu diluar Aula." kata Aslan lalu dia mulai menjalankan mobilnya.
"Katanya Pak Aslan mengisi salah satu sambutan."
"Gak jadi. Nanti anak-anak bosan terlalu banyak sambutan. Acara itu diganti pesan dan kesan dari para murid selama bersekolah di sana. Mungkin kamu mau menyampaikan sesuatu tinggal bilang saja ke pengisi acara."
"Ih, nggak. Gak ada kesan apa-apa selama sekolah di sana." tapi bohong. Fara mengingat perjalanan panjangnya selama tiga tahun menjadi murid SMA di sana. Mulai dari pertemuannya dengan ketiga sahabatnya lalu bertemu dengan Arsyad. Dan dari bulan ke bulan prestasinya semakin bersinar. Hingga sampai di kelas 12 dia jadian dengan Arsyad dan bertemu Aslan. Sejak saat itu hidupnya seperti roller coaster yang penuh tantangan. Prestasinya juga sedikit meredup. Banyak kejadian dalam satu tahun terakhir ini yang tidak mungkin dia lupakan seumur hidup dan kini dia telah duduk satu mobil dengan Aslan, tentu dengan calon dedek bayi yang sekarang berada dalam perutnya.
"Sudah sampai."
Karena sibuk melamun Fara tidak merasa jika Aslan sekarang sudah menghentikan mobilnya di tempat parkir sekolah.
"Kok berhenti di tempat parkir. Itu banyak teman-teman lainnya." kata Fara dengan kaku.
"Gak papa. Mungkin ini hari terakhir kamu ke sekolah bersama aku dan lagian kamu juga sudah lulus tidak perlu ada yang ditakutkan lagi." Aslan turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Fara.
Beberapa pasang mata kini tertuju pada mereka berdua.
"Pak Aslan sama Fara?"
"Serasi banget mereka."
Selain geng Fara dan Arsyad memang tidak ada yang tahu hubungan mereka berdua. Meski demikian mereka tidak seheboh yang Fara bayangkan. Bahkan banyak yang mengira Fara hanya menebeng Aslan saja.
"Far!"
Fara berjalan mendekat menuju arah panggilan itu dan berpisah dengan Aslan.
"Ih, lo cantik banget sih." puji sahabat-sahabatnya. "Sejak hamil aura kecantikan lo makin bertambah."
Fara tersipu malu. Sebenarnya dia juga merasa seperti itu. "Ih, biasa aja."
Kemudian mereka berjalan menuju aula.
"Fara." Mendengar panggilan itu seketika Fara menghentikan langkahnya.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1
.