Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 97


__ADS_3

Aslan kini berdiri mematung di depan pintu kamar Fara. Dia tidak menyangka ini semua terjadi. Hanya karena kesalahannya di masa lalu, masalahnya merembet kemana-mana.


Fara, aku mengerti bagaimana rasanya sakit hati kamu. Maafkan aku. Aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu, tapi ternyata apa yang aku lakukan selama ini tidak cukup untuk menutupi kesalahan aku di masa lalu. Harusnya aku sendiri yang menanggung karma ini, bukan kamu ataupun Arya.


Aslan mengusap wajahnya yang kusut. Dia kini berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, ada sebuah panggilan masuk dari anak buahnya.


"Iya hallo..."


Saat itu juga digunakan Fara untuk kabur dari rumah. Dia berjalan cepat menuju teras rumah. Setelah dia pastikan tidak ada yang menjaga pintu gerbang, dia segera keluar dari gerbang dengan setengah berlari. Dia berjalan di pinggir jalan lalu masuk ke dalam sebuah gang kecil mencari jalan pintas agar tidak ada yang menemukannya.


Setelah berjalan di dalam gang, dia memesan ojek online untuk mengantarnya ke suatu tempat.


Sedangkan Aslan, setelah dia selesai berbicara dengan anak buahnya, dia berjalan kembali ke kamarnya. Dia tersenyum kecil saat melihat pintu kamarnya sudah terbuka. "Sayang, akhirnya kamu buka pintunya." Aslan masuk ke dalam kamar tapi Fara tidak ada di sana. "Far?"


Aslan mencari Fara di kamar mandi tapi juga tidak ada.


"Fara kemana?" dia melihat tas Fara dan kardigan Fara juga tidak ada di gantungan. "Fara..."


Aslan segera berlari keluar, dia melihat pintu gerbang yang sedikit terbuka. "Pak Yanto, lihat Fara?" teriak Aslan sambil membuka pintu gerbangnya dengan lebar.


Pak Yanto yang ada di belakang segera berlari ke depan rumah. "Saya tidak melihat Nyonya Fara sedari tadi."


Aslan segera berlari ke jalanan, berharap Fara masih ada di sana tapi dia sama sekali tidak melihat Fara. "Fara kamu kemana?" Aslan segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Fara tapi nomor Fara sudah tidak aktif.


Kemudian dia beralih menghubungi Mamanya. Beberapa kali nada sambung panggilannya sudah diangkat oleh Mamanya. "Ma, Fara ada di sana?" tanya Aslan.


"Tidak ada. Memang kenapa?"

__ADS_1


"Nanti aku ceritakan, aku mau cari Fara dulu. Nanti kalau Fara sampai di rumah Mama hubungi aku ya."


Kemudian Aslan mematikan panggilannya. Dia kembali masuk ke dalam gerbang dan menuju mobilnya yang terparkir. Dia segera mengendarai mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil itu segera melaju di jalanan. Dia lajukan mobilnya dengan pelan berharap dia bertemu Fara di pinggir jalan.


"Apa Fara ke rumah Ayla?" Aslan segera melajukan mobilnya ke rumah Ayla, tapi setelah sampai di rumah Ayla ternyata Ayla sedang KKN di luar kota. Itu tandanya Lili juga sama.


"Fara kemana? Mungkin dia ada di jalan menuju rumah Mama."


Akhirnya Aslan mengendarai mobilnya lagi dan dia kini melajukan mobilnya menuju rumah Mamanya karena pasti Fara akan menemui Arya. Semarah apapun padanya, Fara pasti akan tetap menjemput Arya.


...***...


"Mas, kok berhenti?" tanya Fara saat motor ojek online yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan.


"Kayaknya motor saya mogok Mbak, sebentar saya cek dulu."


Langit semakin mendung, sedangkan beberapa kali driver itu mencoba menghidupkan mesin motornya tak juga hidup.


"Ya sudah Mas, saya burru-buru. Biar saya jalan saja, tidak apa-apa." kata Fara pada akhirnya karena hujan akan segera turun.


"Maaf ya, Mbak."


Fara segera berjalan menuju tempat yang dia tuju. Meski terkadang perutnya masih terasa nyeri tapi dia tahan. Bahkan badannya juga terasa sangat lemas. Dia berjalan masuk ke dalam gang-gang berusaha mencari jalan pintas.


Dia bernapas lega akhirnya dia sampai di tempat tujuannya. Dia ingin bercerita dan mencurahkan segala isi hatinya di tempat itu.


Awan hitam kian pekat tapi tak meragukan langkah Fara untuk masuk ke dalam sebuah pemakaman umum. Dia kini duduk di antara makam Mama dan Ayahnya yang bersebalahan.

__ADS_1


Dia taburkan bunga yang sempat dia beli di depan pemakaman pada kedua pusara itu. Fara memejamkan matanya dan berdo'a dalam hatinya untuk kedua orang tuanya. Setelah mengucap amin dan mengusap wajahnya, satu tangannya kini mengusap nisan milik Mamanya.


"Ma, maaf Fara ke sini hanya sendiri tidak bersama Arya." Fara kembali meneteskan air matanya lagi. "Ma, Ayah, Fara tidak tahu harus cerita ke siapa lagi selain sama Mama dan Ayah. Fara..." Fara menghentikan perkataannya dan semakin menangis terisak. "Makasih Mama dan Ayah sudah memilihkan jodoh seperti Mas Aslan. Selama ini dia memperlakukan Fara dengan sangat baik layaknya seorang ratu di rumah tapi Fara baru tahu tentang masa lalu Mas Aslan. Harusnya Fara bisa menerima ini karena Mas Aslan juga sudah tidak mungkin memikirkan masa lalunya, tapi hati Fara rasanya sangat sakit saat mendengar cerita itu justru dari mantannya Mas Aslan. Semua foto itu dan video itu tidak sanggup Fara bayangkan bagaimana Mas Aslan dulu berhubungan dengan Tasya. Mas Aslan sama sekali tidak pernah menceritakan ini pada Fara."


Fara mengusap air matanya asal tapi tetap saja merembes dan membasahi pipinya. "Fara masih butuh waktu untuk menerima semua ini, apa sikap Fara salah Ma? Fara ingin memaafkan Mas Aslan tapi hati Fara rasanya sangat sakit."


Fara semakin menangis tergugu sambil menyandarkan kepalanya di dekat batu nisan sang Mama. "Ma, aku butuh pelukan Mama. Tidak ada tempat lagi untuk Fara berkeluh kesah. Mama sudah tidak ada, Ayah juga sudah tidak ada. Kakak sibuk dengan dunianya sendiri. Kalau Fara sedang ada masalah sama Mas Aslan, Fara tidak tahu harus bercerita dengan siapa. Fara hanya bisa menangis di sini, bercerita sendiri di sini tanpa ada jawaban dari Mama, tanpa ada usapan dari Mama."


Tiba-tiba suara petir menggelegar dan bersahutan. Angin mulai bertiup kencang. Rintik hujan juga mulai turun. "Ma, Ayah." Fara menegakkan dirinya. "Fara pulang dulu ya, mau menjemput Arya."


Kemudian Fara berdiri tapi kepalanya terasa sangat berat, pandangannya juga kabur. Kedua kakinya seperti tidak memiliki tulang saat akan melangkah.


Bug!!!


Fara jatuh dengan keras hingga kepalanya terbentur batu nisan.


"Aw," Fara meraba kepalanya yang terasa sangat sakit. Dia melebarkan matanya saat melihat banyak darah di tangannya. Pandangannya semakin kabur. Kepala Fara terasa berputar-putar.


Kini hujan turun dengan derasnya mengguyur tubuh Fara yang sudah tidak bisa bergerak.


"Arya, maafin Mama tidak bisa jemput Arya hari ini..." gumam Fara dengan lirih dan mata itu kian terpejam.


💞💞💞


.


Author cengeng pas di part ini.. 😭

__ADS_1


__ADS_2