Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 41


__ADS_3

Arsyad menghela napas panjang. Dia sudah memikirkan matang-matang tentang rencananya ini. "Hmm, Pak Aslan saya mau minta izin. Saya ingin mengajak Fara berdansa di acara prom night nanti. Apa boleh?"


Aslan kini menatap Arsyad. Apa dia harus mengizinkan Arsyad untuk berdansa dengan Fara?


Belum juga Aslan menjawab permintaannya, Arsyad kembali berbicara. "Saya mau kuliah di luar negeri. Setelah acara prom night itu, saya tidak akan menemui Fara lagi. Ini hanya sebagai salam perpisahan untuk Fara."


Aslan mengerti, dia juga harus memberi waktu pada mereka berdua untuk berdamai dengan perasaan mereka. "Iya, aku izinkan tapi kalau Fara tidak mau jangan dipaksa."


"Iya Pak, terima kasih." Arsyad berdiri dia akan melangkah pergi tapi baru satu langkah dia berhenti dan menoleh Aslan lagi. "Pak, saya memang akan pergi dari hidup Fara tapi jika nanti saya kembali dan Fara masih saja menangis, saya akan benar-benar rebut Fara dari Pak Aslan." kemudian Arsyad melanjutkan langkah kakinya.


Aslan menghela napas panjang. Dia tahu, di umur Arsyad yang masih belasan itu, dia sudah bisa berpikir dewasa. Bahkan dia sendiri merasa kalah dengan Arsyad.


Ingat Arsyad, aku akan selalu berusaha membahagiakan Fara.


Setelah itu Aslan berdiri dan berjalan ke ruang guru.


...***...


"Jam berapa sih pengumumannya, sampai perut lapar gini." gerutu Ayla yang sedang berkumpul di kantin.


"Tahu, tanya nih sama istrinya Pak Guru. Gak ada spill pengumuman jam berapa gitu."


Fara menggelengkan kepalanya. Perutnya juga sudah terasa lapar tapi dia hanya duduk sambil meminum air mineral sedikit sedangkan ketiga temannya sudah sibuk dengan semangkok bakso masing-masing.


"Far, lo gak lapar? Nih, gue suapi." Ayla mengambil sesendok bakso lalu menyuapi Fara.


Tapi Fara justru menutup mulutnya dan menjauhkan kepalanya. "Ay, jauhin. Perut gue mual nih bayangin lo suapin."


Lili dan Nia seketika tertawa. "Woy, Ayla ya jelas gak maulah lo suapi. Fara maunya cuma sama Pak Aslan seorang, bapaknya si dedek."


"Mau dipanggilin Pak Aslan?"


Fara menggelengkan kepalanya. "Gampang. Soal makan nanti aja. Gue juga belum terlalu lapar."


Beberapa saat kemudian ada Arsyad yang berjalan mendekati mereka. Dia kini berdiri di samping Fara. "Aku mau bicara sama kamu. Sebentar saja."


Mendengar hal itu, ketiga teman Fara tanggap. Mereka memboyong mangkok dan minumannya masing-masing ke meja lainnya.

__ADS_1


Arsyad kini duduk di depan Fara. Mereka terdiam beberapa saat dan saling merasa canggung.


"Hmmm, selamat ya atas kehamilan kamu. Sorry, aku dulu sempat emosi."


Fara menganggukkan kepalanya. "Waktu itu aku juga belum bisa menerima kehamilan ini."


"Tapi kamu harus tetap menyayangi anak yang ada dalam kadungan kamu. Dia gak salah apa-apa." kata Arsyad.


Fara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum karena memang sekarang dia merasa semakin menyayangi calon buah hatinya.


"Aku sekalian mau pamit sama kamu. Aku akan kuliah di luar negri."


Fara terdiam beberapa saat. Tak perlu lagi bersedih. Dia sudah merelakan semua itu. "Selamat ya. Semoga kamu semakin sukses di sana."


"Iya, makasih. Hmm, Far, apa kamu mau menjadi pasangan dansa aku di acara prom night nanti?"


Fara menatap ragu Arsyad. Ingin dia menjawab iya, tapi dengan kedaannya sekarang sepertinya itu tidak mungkin terjadi.


"Aku sudah izin sama Pak Aslan." kata Arsyad lagi.


Fara melebarkan kedua matanya. Dia tidak menyangka Arsyad bisa menahan egonya.


Fara tersenyum kecil dengan mata yang sudah mengembun. "Iya, aku mau."


"Setelah ini, semoga kamu selalu bahagia dengan keluarga kecil kamu. Jaga diri kamu baik-baik ya. Jangan keras kepala dan cengeng lagi karena kamu sudah akan jadi orang tua." Arsyad tertawa getir. Meski kalimat itu lolos dengan mudah dari bibirnya tapi dadanya terasa sangat sesak. Setengah hatinya masih saja terluka ketika harus merelakan Fara.


Fara tersenyum dengan air mata yang telah membasahi pipinya. "Iya, aku memang keras kepala dan cengeng. Bandel juga." Fara mengusap air matanya agar berhenti mengalir. "Semoga kamu juga segera menemukan seseorang yang bisa membuat kamu bahagia."


Arsyad hanya tersenyum dan mengangguk.


Entah butuh berapa lama untuk menghilangkan perasaanku pada kamu, Fara.


...***...


"Yee, kita semua lulus." mereka bereuforia sejenak setelah mendapat pengumuman kelulusan dengan tingkat persentasi kelulusan mencapai 100%.


"Sekolah kita dapat nilai matematika tertinggi loh, yang diraih oleh Arsyad dengan nilai sempurna 100."

__ADS_1


Fara juga cukup puas dengan hasil ujiannya meski hanya menduduki 10 besar. Tapi kini dia menatap Ayla yang justru menekuk wajahnya. "Ayla lo kenapa sedih? Kan kita semua lulus."


"Ini udah pasti sampai di rumah gue bakal dibanding-bandingkan sama Arsyad yang juara satu itu. Gue masuk 10 besar aja nggak. Pasti Ayah bakal masukin gue ke fakultas boga beneran ini." Ayla semakin menangis dan menggoyangkan tubuh Lili. "Ini pasti gara-gara sumpah serapah Ayah gue nih makanya nilai gue pas-pas an."


"Makanya jangan bandel jadi anak. Udah nurut aja masuk ke fakultas boga." kata Nia. "Kalau praktek masak ntar bagi-bagi ke kita."


"Gue kan udah ikut ujian seleksi ke perguruan tinggi negeri. Kalau ke fakultas boga aja ya gak perlu ikut ujian segala."


"Lagian lo belum tentu lolos juga. Kemarin aja lo ngerjain soal banyak ngarangnya."


"Woy, sial! Lo nyumpahin gue!" Ayla langsung mengejar Lili.


Fara hanya tersenyum melihat kekonyolan sahabat-sahabatnya, tapi kini perutnya terasa semakin lapar.


"Far, kita gabung sama teman-teman yang lain yuk buat ngerayain kelulusan kita." tunjuk Nia pada segerombolan teman-temannya yang sedang asyik saling mencoret seragam.


"Tapi gue lapar banget. Gue makan sebentar ya di kelas. Bentar lagi gue susul."


"Ya udah. Lo makan dulu daripada ntar lo pingsan."


Fara berjalan menuju kelas lalu dia masuk ke dalam ruang kelasnya yang sepi itu. Perutnya sudah lapar tidak tertahankan tidak mungkin lagi menunggu Aslan. Dia coba saja makan sendiri.


Baru saja membuka kotak bekal itu, rasanya dia enggan menyendok makanannya sendiri.


"Far," Aslan masuk ke dalam kelas lalu duduk di samping Fara karena sebenarnya sedari tadi dia terus mengintai keberadaan Fara. Kemudian dia meraih sendok dan segera menyuapi Fara. "Sini aku suapin, kamu pasti udah lapar banget kan."


Fara hanya terdiam sambil menikmati setiap suapan dari Aslan.


"Selesai makan kamu gabung sama teman-teman kamu. Aku tunggu sampai kamu selesai."


Fara menganggukkan kepalanya sambil makan dengan lahap.


Tak butuh waktu lama, bekal itu sudah habis. Setelah minum dan memasukkan kembali bekal yang telah kosong, Fara berdiri dan kembali bergabung dengan teman-temannya.


Aslan kini juga keluar dari kelas. Dia menatap Fara dari kejauhan yang sedang tertawa bersama sahabat dan teman-temannya.


Semoga setelah ini, senyuman itu akan selalu terukir di wajah kamu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2