
Hari itu, Aslan berdiri di samping Fara yang sedang melakukan pemeriksaan USG. Dia sangat berharap hal baik akan terjadi.
Setiap pergerakan yang dilakukan Dokter kandungan itu seolah bergerak slow motion karena Aslan sudah tidak sabar untuk melihat hasilnya.
Detak jantung Aslan berdegub tak beraturan saat layar itu sudah menampilkan gambaran di dalam rahim Fara. Dokter mulai menjelaskan kembali tentang pertumbuhan janinnya. Memang masih tetap stuck dari sebelumnya tapi saat ini sudah ada detak jantung yang terdeteksi.
"Detak jantungnya sudah mulai terdengar. Untuk pertumbuhannya memang masih tetap karena hanya selang satu minggu dari USG yang pertama. Nanti kita pantau 2 minggu lagi. Yang terpenting detak jantungnya sudah terdeteksi, itu tandanya organ dalamnya sudah mukai berkembang."
Aslan tak hentinya bersyukur dalam hatinya, bahkan dia sampai terharu dan meneteskan air matanya. Kemarin detak jantungnya tidak terdeteksi dan sekarang detak jantung itu sudah bisa dia dengar. Benar-benar sebuah keajaiban. Mungkin sekarang Fara sudah bisa menerima kehadiran buah hatinya. Satu tangannya kini menggenggam tangan Fara.
Fara yang sedari tadi acuh tapi saat mendengar detak jantung itu seketika dia menatap layar USG. Ada sebuah perasaan yang tiba-tiba muncul yang membuat dia ingin mempertahankan janinnya.
Dokter itu masih menjelaskan terkait kondisi Fara yang memang mengalami morning sickness yang cukup parah. Mulai saat itu Fara harus benar-benar menjaga kondisi tubuhnya dan mengelola tingkat stress nya.
Aslan masih saja menggenggam tangan Fara. Dia pasti akan merawat Fara dan semoga Fara sudah mau menerima perhatian darinya.
Meski sedari tadi Fara hanya terdiam saja saat diperiksa tapi dia tidak menolak genggaman dari Aslan. Bahkan setelah sampai di ruang rawat, Aslan berulang kali mengusap perut Fara sambil tersenyum.
Fara hanya menatap Aslan yang penuh kasih sayang itu. Andai saja dia bisa membuka hati untuk Aslan, pasti dia akan menjadi wanita yang sangat berbahagia di dunia ini.
"Kamu makan ya." tangan Aslan beralih mengambil makanan yang ada di atas nakas. Dia mulai menyuapi Fara. Mulai saat itu dan seterusnya, dia akan selalu menyuapi Fara agar Fara mendapat nutrisi yang cukup.
"Kamu mau buah? Kemarin mama bawa macam-macam buah, setelah makan aku kupasin."
Fara hanya menganggukkan kepalanya. Sejak makan disuapi Aslan, rasa mual itu semakin mereda. Semanja itu janin yang ada di kandungannya pada ayahnya.
"Besok kamu sudah boleh pulang."
Fara kembali menganggukkan kepalanya.
"Fara!!" suara panggilan yang sangat nyaring itu berada di ambang pintu. Ketiga teman Fara kini datang menjenguknya. Mereka masuk dengan setengah berlari.
Aslan yang masih menyuapi Fara melanjutkannya sampai suapan terakhir. Setelah itu membantu Fara untuk minum.
"Kok kalian tahu gue ada di rumah sakit. Gue kan gak ngasih kabar kalian?" tanya Fara sambil menatap ketiga temannya yang kini berdiri berjajar di dekat brangkarnya.
__ADS_1
"Kemarin kita tanya Pak Aslan alamat rumahnya dan tadi ke sana tapi kata pembantu lo, lo masuk rumah sakit. Ya udah kita langsung ke sini aja."
Kemarin Aslan memang memberikan alamat rumahnya pada teman-teman Fara itu. Berharap Fara bisa terhibur dengan kedatangan teman-temannya. "Ya udah kalian mengobrol dulu, aku mau cari makan diluar." kemudian Aslan keluar dari ruangan Fara.
Ayla hanya tersenyum menatap kepergian Aslan. "Pengertian banget sih." Kemudian dia beralih menatap Fara. "Ih, Fara lo tuh udah punya suami ganteng, pengertian, penyayang, kenapa sih lo sia-sia in. Buka gih hati lo. Dan satu lagi nih ya, kehamilan lo ini anugerah yang nantinya bakal membuat lo benar-benar jatuh cinta sama Pak Aslan. Jangan siksa diri lo kayak gini. Lihat nih, lo makin kurus aja. Masak iya, nanti Lili aja yang gemuk."
Seketika Lili menjitak kepala sahabatnya satu itu. "Enak aja gue dikatain gemuk. Gue lagi program diet ini."
"Diet tapi udah habis bakso satu mangkok."
Fara tersenyum kecil mendengar ocehan sahabatnya itu. Meskipun mereka biasa bicara asal apalagi si Ayla itu tapi diantara mereka tidak ada yang mudah tersinggung.
"Makasih ya kalian udah ke sini ngeramein hidup gue yang sepi." Fara menghela napas panjang. "Sebenarnya gue emang belum bisa terima kehamilan ini."
"Dosa lo! Si calon bayi imut dan mungil di perut lo itu gak salah apa-apa. Meskipun buatnya gak dengan cinta tapi dia tetap butuh kasih sayang dan cinta dari lo."
"Iya. Setelah gue pikir-pikir emang harusnya gue bisa terima ini. Tapi gue tetap kesal gue gak bisa makan apa-apa selain dari tangan Pak Aslan."
Seketika ketiga sahabatnya itu tertawa. "Nah kan, kualat lo. Makanya jangan durhaka sama suami. Cintanya suami jangan disia-sia in. Ntar kalau dia gak ada lo pasti nyariin."
"Jangan bilang soal jomblo. Ih, lihat aja ya nanti gue pasti akan dapatin cowok sesuai kriteria gue. Kalau gak gue akan tungguin dudanya Pak Aslan."
"Woy, lo nyumpahin Fara kalau kayak gitu."
"Gue sih orangnya to the point. Karena Fara sahabat gue makanya gue gak mau jadi madu. Lebih baik gue nunggu dudanya." Ayla tertawa dengan keras termasuk Fara. "Far, makanya lo jangan sia-sia in Pak Aslan. Kalau dia jadi duda yang mau pasti banyak. Yakin deh, sumpah."
"Apaan sih. Gue gak mikir sampai ke sana."
"Tapi lo besok ikut SNMPTN kan?" tanya Nia.
Seketika Fara terdiam. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Lo masih bisa kuliah meskipun hamil, kan bukan hamil diluar nikah juga."
"Gue udah putusin gak kuliah dulu." kata Fara lagi.
__ADS_1
"Berarti kuliah tahun depan?"
Fara masih saja menggelengkan kepalanya. "Gue masih belum tahu."
"Ya udah, yang penting sekarang lo fokus sama kesehatan lo dan dedek bayi yang ada di perut. Jangan sampai drop lagi kayak gini. Kita bakal sering-sering ke rumah lo, buat bikin keramaian rumah lo." kata Ayla yang penuh dengan pesan baiknya.
"Makasih ya, kalian memang sahabat gue yang paling baik."
"Iya dong."
Aslan tersenyum saat dia masuk dengan membawa beberapa makanan. Akhirnya dia bisa melihat senyum Fara lagi. Dia kini meletakkan makanan di atas meja. "Kalian ngobrol sambil makan nih."
Mendengar kata makanan, seketika mereka bertiga menoleh. "Benar-benar pengertian banget." mereka bertiga segera menyerbu makanan itu.
Aslan meletakkan makanan milik Fara di atas nakas agar Fara bisa lebih mudah mengambil.
Fara sangat tertarik dengan rujak buah yang terbungkus mika itu.
"Rujak buah ya? Nggak pedas kan?" tanya Fara.
"Nggak." Aslan mengambil kembali rujak itu lalu membukanya untuk Fara.
Fara hanya menatap rujak itu saat Aslan hanya menyodorkannya saja tanpa menyuapinya.
Aslan mengerti maksud Fara. Dia memang sengaja tidak menyuapinya terlebih dahulu sebelum Fara meminta karena masih ada sahabat Fara di tempat itu. Dia kini mulai menyuapi Fara. Beban yang terasa menggunung perlahan mulai terkikis.
"Pak, Ayla mau disuapi juga." celetuk Lili.
"Jangan sekarang, Pak. Nanti aja kalau udah jadi duda." sambung Ayla lagi.
Mereka kembali ribut dan tertawa. Untunglah ruang rawat Fara berada di vvip hingga tidak ada pasien lain yang terganggu.
.
💞💞💞
__ADS_1
Ayla sabar dulu ya.. Nanti author buatin novel khusus buat kamu. Ada dua cowok ganteng malah.. 😂