Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 106


__ADS_3

"Yah, besok gak ketemu kamu selama tiga hari." Aslan kini memeluk tubuh Fara yang akan pergi study tour ke Yogyakarta besok hari.


"Cuma tiga hari, Mas."


"Ikut." kata Aslan yang jauh lebih manja daripada Arya. Arya saja langsung mengizinkan dirinya tapi Aslan begitu berat melepas Fara pergi sendiri.


"Manja banget sih. Aku cuma tiga hari. Ini juga buat tambahan nilai ujian aku. Bentar lagi aku udah sidang skripsi. Terus wisuda dan lulus." Begitulah, setelah banyak masalah yang dia lalui akhirnya Fara bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik.


Aslan menenggelamkan wajahnya di leher Fara dan menciumnya kecil. "Kamu hati-hati ya. Ini pertama kalinya kamu pergi keluar kota tanpa aku."


"Pocecif banget. Ini juga study tour bukan rekreasi. Barusan juga udah dikasih jatah kan dari sore."


Aslan tersenyum kecil. "Iya, makasih. Service nya memuaskan."


"Aku mau tidur Mas. Capek banget."


"Iya sayang." Aslan mengusap punggung Fara agar cepat terlelap dalam tidurnya.


Setelah itu mereka berdua segera tidur.


...***...


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Fara akan berangkat ke Yogyakarta. Dia berangkat ke kampusnya diantar Aslan dan juga Arya.


"Baik-baik ya sayang di rumah sama Ayah. Nanti tiap hari Mama video call." kata Fara sambil mencium kedua pipi Arya.


"Iya Mama."


Lalu dia mencium punggung tangan Aslan yang langsung dibalas dengan satu kecupan di kening Fara.


"Hati-hati ya. Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon aku."


"Iya Mas." Fara keluar dari mobil. Dia melambaikan tangannya lalu melangkah masuk ke dalam bus.


Sehari telah terlewati. Di siang harinya Fara disibukkan dengan berbagai tugas. Dia hanya bisa bervideo call dengan Arya dan Aslan saat malam hari.


Dia melihat Arya yang kini sedang tidur memeluk Aslan.


"Tumben Arya tidur sama Mas Aslan?"


"Iya, dari sore tadi mengeluh sakit perut."


"Terus udah berobat? Udah periksa?" tanya Fara dengan panik.


"Sudah, ini sudah bisa tidur sekarang. Tapi kalau besok sakitnya kambuh lagi suruh langsung ke rumah sakit."


"Padahal kemarin gak kenapa-napa. Aku juga belum pulang. Pulang besok malam dan sampainya lusa." Fara sangat ingin menemani Arya yang sedang sakit seperti ini.

__ADS_1


"Iya, kamu tenang aja. Arya gak papa. Kamu fokus sama tugas kamu saja. Sekarang kamu istirahat udah malam. I love you."


"I love you too."


Fara mematikan panggilan videonya.


Keesokan harinya Fara kembali disibukkan dengan berbagai aktifitas bersama kelompoknya. Hampir seharian penuh dia tidak memegang ponselnya. Baru saat sore hari katika akan makan, dia bisa melihat ponselnya. Dia sangat terkejut menatap beberapa pesan dari Aslan. Ada beberapa panggilan juga di sana.


Sayang, Arya kena usus buntu dan harus di operasi malam ini.


Kamu jangan terlalu khawatir, Arya aku jagain terus. Kamu doakan saja ya, semoga operasinya lancar.


Hatinya hancur membaca dua pesan itu. "Arya." Air mata sudah meleleh di pipinya. Dia langsung menghubungi Aslan dan beberapa saat kemudian Aslan sudah mengangkat panggilannya. "Mas, maaf aku gak tahu chat dari Mas Aslan."


"Iya, gak papa. Kamu tenang saja ya. Arya baru masuk ruang operasi."


Seketika lutut Fara terasa lemas, dia kini duduk sambil menatap layar ponselnya dan menangis.


"Sayang, sudah jangan nangis. Kamu doakan untuk kelancaran operasinya."


"Sedih banget rasanya. Aku gak bisa di samping Arya saat Arya butuhin aku."


"Nanti malam kamu pulang, besok pagi kamu sudah sampai. Besok kamu bisa temani Arya."


Fara menganggukkan kepalanya. Dia usap air matanya yang terus merembes. "Sambungin lewat vc terus ya Mas."


Fara menganggukkan kepalanya lalu meletakkan ponselnya di meja dengan video call yang masih terhubung.


"Kenapa Far?" tanya teman-temannya saat melihat Fara menangis.


"Anak aku sekarang lagi operasi usus buntu." Fara mengusap air matanya tapi masih saja menetes. Bahkan dia sudah tidak berselera untuk makan. Dia ingin cepat pulang dan menemui Arya.


"Astaga, kamu yang sabar ya. Berdo'a saja agar operasinya berjalan lancar. Di rumah sakit mana? Biar besok pagi langsung diturunin di depan rumah sakit. Terus barang-barang kamu biar kita antar ke rumah kamu."


"Di rumah sakit medika. Makasih Lan, kamu baik banget." Fara memeluk sesaat teman satu jurusan dengannya.


"Iya, aku ngerti perasaan kamu pasti ingin cepat bertemu anak kamu. Aku do'akan semoga operasinya lancar dan cepat pulih."


"Iya, amin. Makasih ya."


Malam hari Fara beserta rombongannya ada di dalam bus saat perjalanan pulang. Fara sama sekali tidak bisa tidur, meski Aslan sudah memberinya kabar bahwa operasinya lancar dan Arya sudah dipindah ke ruang rawat, tapi tetap saja Fara begitu ingin segera menemui putranya.


Sayang, anak yang kuat.


Fara terus menatap foto terbaru Arya yang masih terlelap karena efek dari obat bius.


Hingga pagi hari, akhirnya Fara sampai di depan rumah sakit.

__ADS_1


"Makasih ya semua atas doanya." kata Fara sebelum turun dari bus.


"Iya."


Fara kini turun dari bus, dan segera masuk ke dalam rumah sakit. Dia menuju ruang vip yang berada di lantai tiga.


Dia masuk secara perlahan ke dalam ruangan itu. Terlihat Aslan sedang duduk sambil tidur dengan menangkup kepalanya di samping Arya yang juga sedang tertidur nyenyak.


"Arya." Dia usap rambut tebal Arya lalu mencium keningnya. "Maaf ya, Mama gak nemenin Arya."


Mendengar gumaman lirih itu membuat Aslan terbangun. "Loh, sayang kok sudah sampai."


"Iya, aku turun di depan rumah sakit."


"Ya sudah, kamu istirahat dulu di sofa."


Fara menggelengkan kepalanya. "Aku mau nemenin Arya."


Aslan berdiri lalu menarik kursi agar Fara bisa duduk.


"Arya anak yang kuat. Dia hebat bisa melalui ini semua."


Fara menganggukkan kepalanya. "Rasanya aku gak mau lagi ninggalin anak keluar kota."


Aslan membungkukkan badannya dan melingkarkan tangannya di leher Fara. "Ini sudah takdir sayang. Yang penting sekarang semua sudah berlalu. Pasti Arya senang bentar lagi dia bangun terus lihat mamanya ada di sini."


Fara menganggukkan kepalanya lagi.


Beberapa saat kemudian Arya membuka matanya dan tersenyum saat melihat Mamanya sudah duduk di sampingnya.


"Mama..."


"Hai, sayang. Udah bangun? Maaf ya, Mama gak nemenin Arya waktu operasi."


Arya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma. Mama jangan sedih ya. Sekarang Arya sudah sehat."


Fara tersenyum dalam tangisnya lalu dia mencium kedua pipi Arya. "Anak pintar, anak hebat. Kesayangan Mama."


"Kesayangan Ayah juga." Aslan juga mencium pipi Arya kemudian dia beralih mencium pipi Fara. "Kamu juga Mama yang hebat, kesayangan kita."


Fara tersenyum kecil. Dua lelakinya memang begitu hebat dan sangat menyayanginya.


💞💞💞


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


.


__ADS_2