Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 87


__ADS_3

"Gimana? Sudah ada perkembangan kasus itu? Aku belum puas sebelum tahu otak dibalik tragedi yang menimpa istri aku." tanya Aslan pada detektif yang dia suruh untuk mengusut masalah yang menimpa Fara beberapa bulan yang lalu.


Roy menggelengkan kepalanya. "Dia licik sekali. Dia tidak meninggalkan bukti apapun. Dari beberapa daftar nama yang bapak sebutkan, mereka sama sekali tidak terlibat dalam kasus ini."


Aslan menghela napas panjang. Siapa musuh di balik selimut ini? Meski selama 6 bulan kondisi sudah aman, tapi Aslan masih belum tenang jika belum menemukan otak dibalik peristiwa yang menimpa Fara.


"Ya sudah tetap selidiki masalah ini, aku takut waktu aku lengah dia akan berusaha menyerang lagi."


Roy menganggukkan kepalanya lalu dia keluar dari ruanan Aslan. Aslan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sudah dua minggu ini dia sangat sibuk. Bahkan hampir setiap hari dia pulang ke rumah hingga larut malam.


"Aslan, kalau kamu capek pulang saja." kata Pak Robi yang sesekali masih ke kantor Aslan.


Aslan menggelengkan kepalanya. "Nanti malam masih ada meeting soalnya Pak Rico besok akan kembali ke luar negeri."


"Ya sudah. Kalau kamu memang sudah gak bisa membagi waktu lebih baik kamu berhenti saja menjadi guru. Biar nanti pihak sekolah bisa merekrut guru baru."


Aslan menganggukkan kepalanya. "Iya Pa. Aku sudah bilang ke kepala sekolah. Mungkin satu minggu lagi aku sudah tidak mengajar lagi."


Setelah Pak Robi keluar dari ruangannya Aslan kini menatap foto Arya. Putranya kini sudah pintar berdiri. Meski usianya baru 10 bulan, tapi perkembangannya sangat pesat.


"Bentar lagi proyek Ayah selesai, nanti kita liburan sama-sama ya." Aslan menghela napas panjang lalu memikirkan Fara. "Jadi kangen Mamanya Arya." Aslan tersenyum kecil. Setiap hari dia selalu bersama Fara tapi saat tidak bertemu sampai seharian rasanya dia sudah kangen ingin menggodanya. Semakin hari Fara juga semakin mempesona dan tentu juga semakin jago soal ranjang.


"Pengen batalin meeting aja rasanya dan cepat pulang ke rumah." gumam Aslan pelan.


...***...


"Ayah, pulang malam lagi nih. Temenin Mama bobok ya."


Malam itu Fara menidurkan Arya di tengah ranjang. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam tapi Aslan masih saja belum pulang. Dia kini memeluk Arya dan beberapa saat kemudian mereka berdua pun terlelap.


Beberapa saat kemudian, Aslan pulang. Dia tersenyum melihat dua kesayangannya sudah tertidur dengan nyenyak. Dia letakkan tasnya di atas meja lalu membuka jas dan sepatunya. Setelah itu dia segera ke kamar mandi untuk membasuh dirinya. Tak butuh waktu lama, dia kini keluar dari kamar mandi lalu merebahkan dirinya di belakang Fara.


Mendapat satu pelukan dari Aslan seketika Fara terbangun. Dia kini menoleh dan menatap Aslan. "Mas baru pulang?" tanya Fara.


Aslan hanya menganggukkan kepalanya. "Baru aja selesai mandi. Udah, kamu lanjut tidur aja."

__ADS_1


Fara memutar dirinya hingga kini tubuhnya terlentang. "Mas gak capek pulang malam tiap hari?" tanya Fara, satu tangannya kini memijat bahu Aslan.


"Ya capek sayang. Seminggu lagi aku udah gak ngajar dan setelah proyek besar aku selesai kita liburan ya." Aslan mencium singkat bibir Fara yang tersenyum kecil.


"Bentar Mas, Arya biar aku pindah ke box nya biar Mas Aslan tidurnya nyaman."


"Udah, biarkan aja. Nanti aja kalau dia kebangun baru dipindah ke box nya. Mamanya aja yang sekarang pindah." kata Aslan sambil mengangkat tubuh Fara.


Fara menahan suaranya saat tubuhnya terasa melayang digendong Aslan. "Mas."


Dia turunkan tubuh Fara di atas sofa.


"Memang Mas Aslan gak capek?" Fara melingkarkan tangannya di leher Aslan.


"Justru ini obat rasa capek aku." kata Aslan sambil melepas satu per satu kancing piyama Fara. "Udah dua hari libur. Kan ekor singanya udah meronta-ronta ingin main maju mundur."


"Ih." Pipi Fara seketika merona. Dia mencubit kecil dada Aslan.


"I love you..." kata Aslan sambil menatap lekat Fara.


Aslan menyusuri leher Fara yang terekspos karena Fara kian mendongak. Dia buat sebuah tanda merah di sana.


Fara selalu dibuat Aslan melambung tinggi dan mabuk kepayang. Setiap sentuhannya membuat dia selalu merasa tidak tahan ingin segera lanjut ke adegan selanjutnya.


Aslan menegakkan dirinya dan melepas seluruh pakaiannya. Dia juga sudah tidak sabar menghentakkan miliknya yang sudah berdiri sempurna.


"Ahh Mas. Pelan-pelan ih." Fara sedikit tersentak kaget karena Aslan menghentakkan miliknya dengan tergesa.


"Iya sayang. Sudah gak tahan." Aslan menggerakkan pinggulnya naik turun beraturan. Semakin lama semakin cepat. Dia semakin menindih tubuh Fara dengan bibir yang terus mencumbu sepanjang leher Fara. Sesekali dia men de sah lirih di telinga Fara yang semakin membuat Fara tidak tahan dibuatnya.


"Mass..."


"Iya sayang?" Aslan menegakkan dirinya dan menatap Fara.


"Aku ingin kita tetap bersama selamanya. Jangan pernah tinggalkan aku ya.."

__ADS_1


"Gak akan. Kita pasti akan selalu bersama selamanya." Aslan mendekatkan dirinya dan mencium bibir Fara. Menyesapnya dan menggigitnya kecil. Kemudian mereka men de sah bersama menikmati rasa yang selalu menjadi candu.


Keringat sudah membasahi tubuh polos mereka berdua suara kulit yang bertemu itu menambah keindahan yang diiringi dengan suara rintihan nikmat.


"Aku udah gak tahan. More faster." Fara mencengkeram punggung Aslan saat Aslan semakin menambah gerakannya.


"Yeah, i'm cum in."


Mereka mengerang bersama saat mencapai puncak secara bersamaan. Setelah melemas, Aslan merobohkan dirinya di atas tubuh Fara. "Sayang bentar, aku atur napas dulu." mereka sama-sama mengatur napas mereka yang tersenggal.


Fara hanya terdiam dia kini memejamkan matanya sambil menenangkan detak jatungnya yang berdetak cepat setelah pelepasan.


Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. "Astaga, Mas sekarang tanggal berapa?" tanya Fara tiba-tiba yang membuat Aslan akhirnya menggeser dirinya.


"Tanggal 13. Memang kenapa? Uang bulanan sudah habis? Nanti aku kasih lagi ya."


"Nggak bukan soal itu, aku lupa loh nggak ke dokter buat suntik kb. Harusnya tanggal 10. Gara-gara Mas Aslan sibuk jadinya aku sampai kelupaan."


Aslan hanya tersenyum santai. "Kirain apaan? Ya udahlah gak usah dipikirin."


"Ih, kalau jadi adiknya Arya gimana?"


"Ya gak papa kan bagus. Ada bapaknya juga." Aslan masih saja tertawa.


"Ih, Mas santai banget sih."


"Udah, jangan panik. Baru beberapa hari. Mungkin aja efek kb nya masih ada. Tapi kalau beneran jadi, aku senang banget."


Fara mencubiti pinggang Aslan yang masih saja tertawa menggodanya.


💞💞💞


😁😁


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2