
"Mas Aslan meskipun aku sudah mencintai Mas, tapi jangan minta hak Mas Aslan sekarang ya. Aku masih takut. Aku masih trauma." kata Fara dengan suara yang bergetar bahkan wajahnya terlihat pucat.
"Far, aku gak akan memaksa kamu lagi. Cukup satu kali aku melakukan kesalahan yang fatal dan membuat kamu trauma sampai saat ini. Harusnya hal itu dilakukan dengan penuh cinta agar kamu gak merasakan sakit, tapi aku sangat memaksa dan hanya aku saja yang menikmati. Maafkan aku." Aslan meraih tubuh Fara dan memeluknya. "Aku akan menunggu kamu sampai kamu siap."
Fara menenggelamkan wajahnya di dada Aslan. "Sampai anak kita lahir ya?"
"Iya terserah kamu. Aku gak akan pernah memaksa kamu. Kamu membalas perasaanku saja, aku sudah sangat bersyukur." Aslan mencium dalam puncak kepala Fara. Dia sangat mencintai Fara tentu saja dia tidak akan mengecewakan Fara lagi.
"Mas, usap perut aku. Kenapa rasanya kaku lagi ya." Fara meregangkan pelukannya karena perutnya merasa tidak nyaman lagi.
Satu tangan Aslan kini mengusap perut Fara. "Kenapa? Besok kita periksa ya. Sekarang kamu tidur, jangan memikirkan apa-apa. Pasti ini karena kamu terlalu panik."
Fara menganggukkan kepalanya dan dia mulai memejamkan matanya.
Aslan tersenyum mendengar napas Fara yang sudah teratur, itu pertanda Fara sudah tertidur. Dia masih saja mengusap perut Fara, yang sekarang sudah mulai melunak seperti biasanya.
"Sehat-sehat kalian berdua. Aku sayang sama kamu, Fara dan juga calon anak kita." Aslan mencium dalam kening Fara. Kemudian dia memejamkan matanya dan tertidur.
...***...
Pagi itu setelah kaki Aslan dipijat, dia sudah jauh lebih membaik. Meski rasanya sangat sakit saat dipijat tapi sekarang sudah bisa jalan sendiri walau sedikit terpincang.
"Aslan kenapa bisa jatuh sih? Kamu ngebut ya bawa motornya?" kata Bu Lani yang sedari pagi memang sudah datang ke rumah putranya itu.
"Nggak Ma. Ada jalanan berlubang, aku gak lihat. Ini udah gak sakit, tinggal lukanya saja." kata Aslan lalu duduk di sofa kecil sambil melihat ponselnya.
"Jaga diri baik-baik. Ada Fara dan calon anak kamu yang harus kamu jaga." kata Bu Lani. "Fara, duduk sini. Jangan mondar-mandir nanti kamu capek." suruh Bu Lani yang beberapa kali melihat Fara keluar masuk dari kamar satu ke kamar sebelahnya.
"Iya Ma, ini lagi beresin kamar." kata Fara.
"Biarin Bi Sri yang beresin."
__ADS_1
Fara akhirnya duduk di samping mertuanya.
"Mama belum nyapa cucu Mama hari ini." satu tangan Bu Lani kini mengusap perut Fara. Ada satu tendangan kecil yang membuatnya tersenyum. "Gemesin banget. Gak sabar pengen uyel-uyel."
Fara hanya tersenyum. Dia sangat bersyukur, semua orang sayang dengan calon buah hatinya. Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba dia ingin buang air kecil. Memang akhir-akhir ini dia seingkali seperti itu.
"Bentar ya Ma, Fara mau ke kamar mandi dulu." Fara berdiri dan akan melangkahkan kakinya tapi ditahan oleh Bu Lani.
"Far, kok ada darah." Bu Lani melihat setitik darah di belakang daster Fara yang berwarna biru muda itu.
"Iya kah Ma?" seketika jantung Fara berdetak tak karuan. Dia tidak merasa sakit, bagaimana bisa hal itu terjadi?
Mendengar hal itu, Aslan berdiri dan merengkuh Fara. "Perut kamu sakit?" tanya Aslan dengan khawatir.
Fara menggeleng pelan. "Dari kemarin memang terasa kaku."
"Coba cek dulu ke kamar mandi." kata Bu Lani.
Aslan merengkuh pinggang Fara berjalan ke kamar lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan ditutup." Aslan menunggu Fara di depan pintu kamar mandi dengan sangat khawatir.
"Mas," teriak Fara dari dalam kamar mandi. "Aku takut."
Mendengar teriakan itu, Aslan segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia melihat darah yang mengalir di antara kaki Fara. Meski sebenarnya dia juga takut dan khawatir, tapi dia harus bisa tenang agar tidak menambah kepanikan Fara. "Kamu tenang dulu. Gak akan kenapa-napa." Aslan membersihkan kaki Fara terlebih dahulu lalu segera membopongnya ke kamar. Dia mengambil pakaian Fara dan dengan cepat membantu Fara berganti pakaian.
Fara hanya pasrah dengan perlakuan Aslan. Dia sudah membuang rasa malunya jauh-jauh.
"Kita ke rumah sakit sekarang." setelah memakai jaketnya, Aslan meraih tubuh Fara dan menggendongnya.
"Mas, turunin. Biar aku jalan sendiri. Kaki Mas kan masih sakit." kata Fara.
__ADS_1
"Udah gak papa." Aslan semakin mempercepat langkah kakinya.
Melihat Fara yang digendong Aslan, Bu Lani semakin panik. Dia kini mengikuti Aslan sampai ke depan rumah. "Mama ikut ke rumah sakit ya."
"Iya Ma."
Dengan disopiri Pak Yanto, mobil itu segera melaju menuju rumah sakit.
Fara semakin memeluk Aslan, dengan isak tangis yang tertahan. "Mas, aku takut. Aku gak mau kehilangan anak kita."
"Sayang jangan panik. Gak akan terjadi apa-apa. Semoga hanya pendarahan biasa. Mungkin ini efek dari kamu terkejut kemarin." Aslan mengusap rambut Fara untuk memberinya ketenangan. Ya, semoga saja dugaannya memang benar.
"Iya Fara. Jangan panik berlebihan. Mama yakin, kamu dan kandungan kamu gak papa." kata Bu Lani.
"Tenang sayang. Jangan khawatir." satu tangan Aslan kini mengusap perut Fara. "Ini masih gerak-gerak di dalam." Aslan berusaha membuat Fara tenang. Tangan Fara kini mengikuti usapan tangannya. Fara tersenyum kecil saat merasakan tendangan itu.
Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sakit ibu dan anak. Aslan segera membawa Fara masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dokter yang biasa memeriksa Fara segera datang bersama seorang suster.
"Dok, istri saya pendarahan." kata Aslan.
"Baik, kami akan segera melakukan pemeriksaan. Silahkan Anda tunggu diluar."
Aslan keluar dari ruang pemeriksaan dan menunggu Fara bersama Mamanya. Mungkin tadi dia bisa bersikap tenang di depan Fara tapi sekarang dia tidak bisa tenang lagi. Dia mondar-mandir dengan cemas. Tangannya terasa dingin, jantungnya masih saja berdetak tak karuan. Dia sangat takut kehilangan calon buah hatinya. Baru saja dia akan bahagia hidup bersama Fara, tapi ada saja masalah yang menghampiri mereka.
"Aslan tenang dulu. Kaki kamu baru sembuh. Sini, duduk dulu." kata Bu Lani.
Aslan menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Akhirnya dia duduk di sebelah Mamanya. Dia terus berdo'a untuk keselamatan Fara dan calon buah hatinya.
Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Aslan segera berdiri dan berjalan menghampiri Dokter itu. "Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya?"
💞💞💞
__ADS_1
.
Like dan komen ya...