Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 27


__ADS_3

Malam itu Fara duduk di meja belajarnya sambil mengulang materi yang telah dia pelajari di sekolah sebelumnya, Fara memang tipikal rajin saat belajar, pantaslah jika dia sering mendapat nilai terbaik di kelasnya.


Aslan tiba-tiba masuk ke dalam kamar Fara dan berdiri di belakang Fara. "Far, kalau ada materi yang kamu kurang paham, kamu bisa tanya sama aku."


Fara hanya menoleh Aslan sesaat lalu berdengus kesal. "Pak Aslan keluar sajalah, gak usah ganggu saya. Kan Mama sama Papa udah pulang."


Tapi Aslan justru duduk di samping Fara. Dia melihat materi apa yang sedang dipelajari Fara. "Pantes pintar, rajin banget."


"Dan semua itu akan sia-sia."


"Gak ada yang akan sia-sia ketika kita sudah mendapat ilmu."


Fara kembali fokus dengan bukunya, begitu juga dengan Aslan yang sekarang fokus dengan wajah Fara.


"Sebentar lagi sudah persiapan UNBK, jangan pacaran terus." kata Aslan.


Fara memutar bola matanya. Dia kini menatap kesal Aslan. "Kalau gitu Pak Aslan jangan ganggu saya."


"Punya suami guru tapi gak dimanfaatkan malah diomelin terus. Aku bisa ajarin kamu. Jadi guru les private kamu tiap hari juga bisa, gratis lagi."


Fara semakin berdengus kesal. "Tolong Pak Guru yang terhormat keluar dari kamar saya."


Aslan justru menarik pinggang Fara mendekat. Sekali-kali dia ingin menggoda istri yang tak pernah menganggapnya suami itu. "Kalau di rumah bisa gak, jangan panggil Bapak terus. Udah berasa kayak punya anak daripada punya istri."


"Emang mau dipanggil apa? Mas? Jangan ngarep!" Fara menarik tangan Aslan yang ada di pinggangnya. "Lepasin!"


Aslan hanya terkekeh. "Pelan-pelan aku akan biasain kamu terima sentuhan aku."


"Idih, udah dibilang gak boleh sentuh!" Fara sedikit bernapas lega karena akhirnya Aslan melepas tangannya. Dia masih terngiang-ngiang suara de sa han Aslan semalam. Jangan sampai suara itu menjadi real.


Aslan akhirnya berdiri. "Ya udah, aku gak ganggu kamu lagi. Belajar yang rajin." Aslan mengusap puncak kepala Fara sesaat lalu keluar dari kamar Fara.


Fara kembali mencibir. Rasanya dia masih belum bisa menerima Aslan menjadi suaminya seutuhnya.


"Udah lama gak vc Arsyad sampai malam. Vc ah." Fara mengemas bukunya dan memasukkan buku untuk mata pelajaran besok. Setelah selesai, dia rebahkan dirinya di atas ranjang lalu mulai menghubungkan video call dengan Arsyad.


Beberapa saat kemudian Arsyad sudah mengangkat panggilan videonya.

__ADS_1


"Udah lama gak vc?" terlihat Arsyad tersenyum di ujung sana.


"Iya, kemarin-kemarin aku sibuk sama Ayah jadi masih sore udah ketiduran."


Mereka akhirnya mengobrol hingga malam larut. Fara sedikit menahan volume suaranya takut jika Aslan mendengar. Seperti sebelumnya, obrolan mereka berhenti saat Fara sudah tertidur.


Hingga pagi hari saat matahari telah menunjukkan sinarnya, Fara baru terbangun. "Aku kesiangan." Buru-buru Fara beranjak dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Dia segera membasuh dirinya. Tak berlama-lama, kemudian dia keluar dan berganti seragam. Setelah itu dia keluar dari kamarnya menuju ruang makan.


"Tumben kesiangan?" tanya Aslan sambil menunjukkan senyum termanisnya. Bahkan sekarang dia memakai apron sambil menata makanan di meja.


"Kenapa Pak Aslan yang nyiapin ini?" tanya Fara sambil duduk di kursi. Dia melihat nasi goreng yang lengkap dengan telor ceploknya beserta segelas susu hangat sudah tersaji di meja.


"Iya, Bi Sri sakit. Jadi aku aja yang masak buat kamu."


Fara mengernyitkan dahinya. Harusnya dia terharu telah dimasakkan suaminya, tapi karena baginya pernikahan ini hanya pura-pura jadi dia hanya menganggapnya biasa saja.


"Tenang saja, dijamin enak." Aslan melepas apronnya lalu ikut bergabung untuk sarapan bersama Fara.


Fara meminum susunya terlebih dahulu. Hanya sedikit untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kering. Kemudian dia mulai memakan nasi goreng buatan Aslan. Dia merasakan nasi goreng yang lezat itu. Sepertinya dalam hal memasak dia kalah dengan Aslan.


Fara hanya mengangguk kecil kemudian dia memakannya dengan lahap.


Aslan tersenyum kecil. Setidaknya ada yang disukai Fara dari dirinya walau hanya masakannya. "Kalau mau nambah masih ada di belakang."


Fara menggelengkan kepalanya sambil menghabiskan suapan terakhirnya. "Udah kenyang."


"Aku juga udah nyiapin bekal buat kamu. Jangan lupa dibawa." Aslan juga menghabiskan sarapannya lalu dia mengambil dua bekal yang sudah dia siapkan.


Tanpa berkata lagi, mereka berdua naik ke lantai atas untuk mengambil tas dan bersiap berangkat ke sekolah.


...***...


Sejak hari itu, di kelas Fara dan kelas XII lainnya sudah mulai ada bimbingan belajar untuk mempersiapkan UNBK yang semakin dekat. Jadwal pelajaran Fara semakin padat dan menguras pikiran beserta tenaganya. Hingga membuat siang yang panas itu terasa lapar.


Dia kini membuka bekalnya bersama teman-temannya. Baru kali ini nasi di dalam kotak bekal itu berbentuk hati.


Fara menelan salivanya berkali-kali. Ada kertas kecil juga di dalamnya yang bertuliskan, dihabiskan ya, my wife.

__ADS_1


Cepat-cepat Fara meremat kertas itu.


"Tumben cantik banget bekalnya. Nasi bentuk hati, lauk dan sayur, ada susu dan buah iris juga. Empat sehat lima sempurna guys." kata Ayla karena biasanya Fara hanya membawa nasi dan lauk saja. Bahkan lebih seringnya mie instant dan telor mata sapi.


Fara tersenyum kaku. "Kayaknya pembantu di rumah lagi gabut jadi buat bekal ginian." Fara menghela napas kecil. Dia juga gak menyangka Aslan bisa membuat bekal seperti itu. Ck, bangun jam berapa nyiapin ini semua?


Fara mulai menyantap bekalnya. Rasanya lumayan enak meski hanya tumisan sayur yang dicampur dengan bakso dan lauk nuget. Apakah karena disiapkan dengan sejuta cinta jadi terasa lebih enak?


Dengan cepat Fara menghabiskan makanannya.


"Wih, cepat banget habisnya. Laper atau doyan? Makanya jangan makan mie instant muluk. Masakan rumah itu lebih enak, apalagi kalau Ayah gue yang masak." Ayla tertawa karena memang makanan terlezat adalah masakan Ayahnya.


"Yaiyalah, Bokap lo pemilik restoran. Gak ada yang nandingi. Tapi btw udah lama lo gak bawa makan siang buat kita." kata Lili. Dia juga sudah selesai makan.


"Iya, Ayah sama Bunda masih sibuk ngurus adik gue." jawab Ayla.


"Makanya belajar masak. Siapa ntar yang nerusin usaha bokap lo. Masak iya gue." ledek Fara.


"Jangan bilang gitu. Gue sebenarnya jago masak cuma malasnya gak ketulungan." Ayla juga mengemasi kotak bekalnya. "Bentar lagi jam bimbelnya Pak Aslan. Semangat, semangat."


"Idih, katanya Pak Aslan udah nikah, kenapa masih diharapkan."


"Gue sih rela jadi madu." tawa Ayla kian pecah.


"Astaga, udah gak waras teman kita satu ini."


"Eh, tapi beneran lo sejak diajar Pak Aslan gue jadi bisa matematika. Rumus dan cara pengerjaannya simple dan mudah dimengerti meski orangnya gak suka bercanda tapi pelajarannya bisa masuk dalam otak." puji Nia.


Tidak tahukah jika guru yang mereka banggakan itu adalah suami sahabatnya?


Fara hanya diam tak berkomentar.


💞💞💞


.


Tapi pembaca tolong komentar ya... 😂

__ADS_1


__ADS_2