
Aslan meregangkan pelukannya lalu mencium kening Fara. "Ada satu hukuman buat kamu."
Fara melebarkan matanya. "Hukuman?"
Aslan tersenyum miring sambil menegakkan tubuhnya dan mulai mengemudi.
"Hukuman apa Mas? Gak mau yang aneh-aneh." Fara kembali menyandarkan dirinya. "Gini nih kalau punya suami guru. Melanggar aturan harus siap-siap dapat hukuman."
"Iyalah. Semalam kan kamu nawarin aku double service. Aku tambahin satu lagi jadi triple service." kata Aslan sambil sesekali melirik wajah Fara yang terlihat sangat menggemaskan.
"Gak mau. Kan Mas Aslan kemarin gak izinin aku." Fara melipat tangannya di atas dada. "Tawaran itu hanya berlaku kemarin malam. Sekrang udah gak ada."
"Tapi yang diam-diam ikut siapa?"
"Ih, gak mau kalah banget." Fara membuang mukanya menatap keluar jendela.
Aslan tersenyum kecil lalu satu tangannya mengusap puncak kepala Fara. Dia hanya sedang menggoda istri nakalnya itu.
Mendapat usapan seperti itu jelaslah hati Fara kian melunak. Dia kini menyandarkan kepalanya di bahu Aslan.
Mobil yang dikendarai Aslan kian merayap. "Aduh, macet dimana-mana." Karena beberapa jalur utama di stop akibatnya terjadi macet di beberapa jalur alternatif.
Fara yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Aslan kini mulai menguap dan mengantuk.
"Sayang kamu ngantuk? Kamu tidur aja. Ini macet banget jalanannya." kata Aslan. Sebelah tangannnya kini mengusap rambut Fara. Sedangkan tangan kanannya berada di stang pengemudi.
Fara hanya mengangguk pelan. Perlahan dia mulai tertidur. Bahu Aslan memang tempat paling nyaman untuknya bersandar dan melepas segala kepenatan.
Aslan menghela napas panjang akhirnya dia bisa keluar dari kemacetan. Dia melirik Fara yang masih tertidur di bahunya. "Gemesin banget."
Beberapa saat kemudian Aslan menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Masih tidak ada pergerakan dari Fara. Dia masih tidur cantik di bahu Aslan.
Aslan semakin merengkuh pundak Fara dan mendongakkan kepala Fara. Dia cium bibir yang sedikit terbuka itu dengan sangat dalam yang membuat Fara seketika membuka matanya.
Fara mendorong bahu Aslan tapi ciuman Aslan justru semakin liar. Dia sesap bibir Fara dengan menggigitnya kecil. Menelusuri rongga mulut Fara dengan indera pengecapnya lalu kembali menyesap lagi bibir bawah Fara dengan kuat.
"Mmaass.." Fara akhirnya berhasil mendorong Aslan. Dia menyentuh bibirnya yang terasa menebal dan berdenyut. "Ih, bengkak nih."
__ADS_1
Aslan hanya tertawa. "Baru permulaan." kemudian mereka keluar dari mobil.
Fara berjalan cepat mendahului Aslan. "Ih, buas banget. Kayak singa sedang lapar."
"Sayang, gak boleh kabur." Aslan menarik tangan Fara untuk menahan langkah cepatnya.
Untung malaikat kecil yang sedang menangis itu menjadi penyelamat Fara.
"Uncchh, sayang mau sama Mama ya..." Fara mengangkat tubuh Arya lalu mengajaknya ke kamar.
"Kali ini kamu bisa lepas, lihat saja nanti kalau Arya sudah tidur." kata Aslan sambil berlalu menuju kamar mandi.
Fara hanya mencibir lalu mulai mengasihi Arya. Dia usap rambut Arya yang mulai menebal itu. Bayi yang sekarang sudah berusia 4 bulan sudah bisa tengkurap, sudah tidak mau ditinggal saat melihat kedua orang tuanya. Semakin terlihat menggemaskan saat tertawa riang.
"Arya, jangan bobok dulu. Temeni Mama, nanti Mama dimakan sama Ayah." celoteh Fara sambil mengusap pipi Arya.
Arya melepas hisapannya dan tertawa menatap Mamanya.
"Pintar banget. Temani Mama dulu ya. Sini." Fara menurunkan Arya di tengah ranjang lalu mengajaknya bermain.
Mendengar suara tawa renyah Arya, Aslan yang baru keluar dari kamar mandi ikut tersenyum. Dia menghampiri Fara dan ikut menggoda Arya. "Curang ya, Arya gak ditidurin. Pasti Mama takut Ayah makan." Aslan mendekat dan menggigit kecil pipi bulat Arya. Suara tawa semakin keras. "Arya aja yang Ayah makan. Pipi bulat banget."
Telah terjadi kerusuhan yang menyebabkan kebakaran di sekitar kantor DPR dan beberapa mobil juga ikut terbakar. Untuk membuyarkan aksi demo itu dengan terpaksa polisi menyemprotkan gas air mata.
"Mas, demonya rusuh." kata Fara. Untunglah dia sekarang sudah berada di rumah. Semua ini tentu berkat suami tercintanya.
"Tuh kan, makanya nurut apa kata suami. Coba kalau kamu ada di sana. Bahaya kan?"
Fara tersenyum kaku. "Iya Mas. Maaf ya Mas. Setelah ini aku akan selalu nurut apa kata Mas Aslan."
Aslan mengusap puncak kepala Fara lalu mencium keningnya. "Mandi dulu sana, biar Arya aku jaga."
Baru saja Fara berdiri, dia melihat Ayla tertangkap kamera sedang berlari karena terkena gas air mata. "Itu Ayla. Semoga dia gak kenapa-napa. Dia dekat banget sama yang buat rusuh. Kena gas air mata juga."
"Ayla pemberani banget ikut berorasi di depan. Kalau kena gas air mata bisa sesak napas dan mata pedih. Kamu hubungi dia, semoga aja gak kenapa-napa." suruh Aslan.
Fara mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Ayla tapi nomornya tidak aktif. "Nomor Ayla gak aktif. Coba aku hubungi ke Lili aja."
__ADS_1
Cukup lama nada sambung itu berbunyi, akhirnya Lili mengangkat panggilannya.
"Hallo Li, lo gak papa kan?" tanya Fara menanyakan kabar sahabatnya itu.
"Iya gue gak papa." Terdengar suara bising dari seberang sana mungkin Lili masih berada di tempat kejadian.
"Terus Ayla gimana?"
"Ayla sekarang sedang dibawa ke klinik soalnya dia sesak napas."
"Semoga Ayla gak kenapa-napa ya. Nanti kabari aku ya kalau ada apa-apa."
"Iya."
Fara menghela napas panjang. "Semoga gak ada korban jiwa. Rusuh banget. Lain kali aku harus nurut apa kata suami. Gak mau ikut lagi yang namanya demo. Ikut demo masak atau demo panci aja aman."
Aslan tersenyum kecil. "Tapi hukuman tetap berlaku. Gak boleh lolos."
"Moga aja nanti lupa." Fara segera berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh dirinya. Sedangkan Aslan kini mulai menggoda Arya.
"Ayah gak akan lupa dong kalau soal itu. Iya kan sayang?"
Beberapa saat kemudian Arya menguap panjang. "Yee, udah ngantuk. Bobok yuk, bentar lagi Ayah mau hukum Mama." Aslan mematikan layar televisinya lalu menggendong Arya. Baru sesaat dia timang Arya sudah tertidur.
Aslan tersenyum penuh arti sambil menurunkan Arya ke dalam box nya.
"Sengaja ya ditidurin?" Fara keluar dengan rambutnya yang basah. Aroma harum menguar dari tubuh Fara yang membuat Ayahnya Arya terpancing untuk mendekat.
"Mau kasih hukuman kamu dulu."
"Sholat dulu." kata Fara.
"Ya udah habis sholat."
"Aku lapar mau makan dulu, terus istirahat. Aku capek banget." Fara masih berusaha mengelak.
Aslan menghela napas panjang. Banyak sekali alasan Fara. "Oke, kali ini aku kasih kelonggaran tapi nanti malam gak akan aku kasih ampun."
__ADS_1
Fara mengernyitkan dahinya. Menakutkan sekali ancaman Aslan. Sepertinya nanti malam dia benar-benar tidak bisa lepas dari terkaman singa.
💞💞💞