
Setelah dari rumah Fara, mereka berempat segera meluncur ke rumah Ayla yang diantar oleh sopirnya Aslan. Mereka berempat masih saja bercanda di dalam mobil selama perjalanan.
Beberapa saat kemudian, mobil sudah berhenti di depan rumah Ayla. Mereka berempat segera turun lalu berjalan masuk ke dalam rumah Ayla.
"Udah lama kan kalian gak ke rumah gue. Bumil duduk dulu yang lainnya bantu gue nyiapin bahan dan peralatan perekamnya."
"Ogah, gue capek." kata Lili.
"Woy, katanya minta jatah. Ya kerja dulu." kata Ayla sambil menarik tangan Lili dan Nia.
Fara hanya tersenyum sambil mengikuti langkah mereka bertiga.
"Bumil duduk dulu, nanti capek."
"Gak papa, gue mau bantu."
"Ayla, kalau pakai dapur jangan lupa dibersihin setelah selesai." kata Bundanya Ayla yang kini ikut masuk ke dalam dapur.
"Iya Bunda. Nanti pasti Ayla bersihin kok." kata Ayla. Karena sudah dipastikan saat Ayla bereksperiman di dapur, dapur pasti akan berantakan.
"Eh, ada Fara. Lama gak ke sini."
Fara mencium punggung tangan Bunda Rili. "Iya, tante. Di rumah aja."
"Udah hamil berapa bulan?" tanya Bunda Rili.
"Tujuh bulan."
"Lancar ya sampai persalinan nanti."
"Iya, amin tante."
"Ayla, Bunda mau ke toko dulu. Pokoknya sepulang dari toko Bunda gak mau lihat rumah berantakan. Bunda capek." pesan Bunda Rili lagi.
"Iya, Bunda."
Setelah Bundanya Ayla berlalu, mereka berempat kembali ribut lagi.
"Begitulah hidup gue, kalau gak disuruh-suruh sama Ayah ya sama Bunda."
Lili tertawa lebar. "Syukurin. Makanya jadi anak jangan bandel."
__ADS_1
Ayla kini sibuk memasang kamera dan mengarahkannya ke meja dapur. "Gue gak bandel cuma terlalu aktif doang. Biasalah keturunannya Bapak Alvin dan Ibu Rili. Yang anteng sih cuma adik gue dong."
"Lah, emang adik lo niru siapa?"
"Niru oma sama opa kali. Mana betah banget di sekolah." cerita Ayla singkat. "Gimana gak betah di sekolah, jadi rebutan ketua OSIS sama kapten basket."
"Kalah lo sama adik lo."
"Biarin yang penting sekarang gue calon chef terkenal dan kaya." Ayla tertawa dengan keras. Lalu dia mengecek bahan dan alat-alat masak yang akan digunakan.
"Ay, gak pakai corong merah?" tanya Fara karena tutorial memasak dari corong merah berulang kali melintas di facebook nya.
"Astaga, si bumil pengangguran kalau lagi gabut lihat tutorial memasak yang menyesatkan. Mulai sekarang lihat chanel gue aja deh. Simple, chef nya juga cantik."
Dua jitakan kini mendarat di kepala Ayla.
Mereka kembali tertawa. Beberapa saat kemudian Ayla memulai vlog dengan tema memasak bersama sahabat. Hanya membuat lumpia goreng saja mereka berempat heboh. Seketika dapur rumah Ayla seperti kapal pecah.
"Oke guys, jadilah lumpia goreng ala Ayla and friends. Tapi saran nih ya, kalau masak jangan sama sahabat deh. Liat nih, dapur aku kayak kapal pecah. Hancur. Kalau Ayah Alvin tahu bisa kena marah. Kita mau bersih-bersih dulu ya. See you..." mereka semua melambai ke kamera, lalu Ayla mematikan alat perekamnya.
"Bersih-bersih dulu, baru makan." kata Ayla sambil mengambil alat bersih-bersihnya.
"Ay, lo emang gak punya pembantu?"
"Noh, Lili siap jadi assistant lo." kelakar Nia.
"Ogah, ntar gue disiksa sama Ayla."
Mereka berempat kembali tertawa. Candaan mereka memang tidak ada habisnya.
"Perut gue sampai kaku ketawa terus." Fara kini duduk di dekat meja makan sambil mengusap perutnya.
"Lo makan aja Far. Gak usah beres-beres, biar kita aja. Udah bisa makan sendiri kan?"
"Udah." Fara mengambil lumpia goreng hasil eksekusi mereka berempat. Sejak trimester kedua sebenarnya dia sudah tidak mual saat makan sendiri tapi makan disuapi Aslan sudah menjadi kebiasaan sampai sekarang.
"Capek juga." Ayla duduk setelah meletakkan minuman dingin di atas meja. "Lo sih enak kalau capek ada yang mijitin."
"Pijat plus-plus lagi." timpal Lili yang kini juga duduk di sebelah Ayla.
Fara hanya tersenyum kecil. "Plus-plus gimana? Mas Aslan mijit biasanya ya cuma kaki sama pinggang."
__ADS_1
"Emang serius lo gak pernah ngapa-ngapain sama Pak Aslan?" tanya Ayla. Mereka akan mulai meracuni pikiran Fara.
Fara menggelengkan kepalanya.
"Emang lo gak ada sensasi tersendiri tiap sentuhan sama suami?"
"Hmmm..." Fara tak bisa memungkirinya, sentuhan Aslan sudah membuatnya ketagihan dan terkadang bisa menimbulkan gelenyar aneh ditubuhnya saat bibir itu mulai terpaut.
"Ya pasti ada lah. Kan normal. Tuh buktinya udah jadi dalam perut satu." Lili tertawa cukup keras sambil menunjuk perut Fara yang sudah membesar.
"Ih, dulu kan dipaksa. Gue masih trauma sama rasa sakitnya." kata Fara.
"E, busyet. Sakit emang yang pertama, yang kedua, ketiga, dan seterusnya ya gak tahu, kan gue juga gak pernah." perkataan Ayla seketika membuat tawa riuh ketiga temannya. "Tanya aja sama Nia, si calon perawat kita. Silahkan dijelaskan. Kasih iming-iming juga biar nanti pulang bumil bisa langsung minta sama suami."
Seketika pipi Fara merona. "Ih, ngapain minta. Mas Aslan slow aja."
"Dosa lo gak memenuhi kebutuhan batin suami. Lakuin aja lo dapat pahala apalagi kalau minta, lo dapat pahala berkali-kali lipat." kata Lili dan kompor mulai menyala untuk memanasi bumil agar ngidamnya tidak hanya makanan saja, tapi sesuatu yang nikmat.
"Iya Far, memang saat pertama kali melakukan itu sakit apalagi pasti gak melakukan pemanasan yang tepat. Kalau pemanasannya udah tepat dan kalian berdua udah sama-sama pengen ya tinggal enaknya aja." jelas Nia yang memang calon seorang perawat itu. "Dan berhubungan itu sangat bagus untuk ibu hamil di trimester terakhir ini. Nanti menjelang lahiran lo sering-sering lakuin deh biar lahiran lo cepat."
Fara mencerna setiap penjelasan Nia. Dia percaya dengan omongan Nia, karena dari ketiga temannya cuma Nia yang tidak terlalu berlebihan ketika bercanda. "Hmmm, tapi...."
"Gak usah tapi-tapian, langsung gas aja. Dijamin lo ketagihan." Lili tertawa cekikikan.
"Eh, emang lo pernah. Dosa lo lakuin sebelum halal."
"Mau lakuin juga sama siapa. Gue kan jomblo sama kayak lo!" kata Lili.
"Jangan bawa-bawa status deh. Nanti kalau waktunya udah tepat, gue pasti nemuin jodoh gue."
"Ay, di kampus sebelah banyak cowok ganteng loh. Kapan-kapan kita main ke sana yuk ikut Nia" kata Lili yang memang satu kampus dengan Ayla. "Nia, kita ajak keliling kampus lo dong. Cariin anak fakultas kedokteran gitu."
"Kalau seangkatan gue kayaknya gak ada yang keren. Kakak-kakak senior gue banyak yang ganteng. Apalagi Kak Rayn."
Fara kini hanya terdiam. Dia sudah tidak menyimak obrolan sahabat-sahabatnya. Dia kini justru memikirkan Aslan. Sepertinya dia sudah keracunan dengan obrolan sahabatnya tadi. Apa dia memang harus segera melakukannya lagi dengan Aslan?
.
💞💞💞
.
__ADS_1
Dedek kan juga pengen ditengok Ayahnya.. 😁😁