
Fara menatap kedua netra Aslan yang selalu membuatnya terhipnotis. Kemudian dia mengangukkan kepalanya lalu memeluk Aslan dengam erat.
"Maaf, aku sempat ragu sama Mas Aslan."
"Iya, gak papa. Makasih kamu sudah percaya sama aku." Aslan mencium puncak kepala Fara lalu mengusap punggungnya.
"Iya, benar kata Mas Aslan, kita harus bercermin pada masalah sebelumnya. Saat itu Mas Aslan bisa menerima apapun keadaan aku dan selalu menemani aku." Fara meregangkan pelukannya. "Ini saatnya aku yang selalu menemani Mas Aslan."
Satu kecupan mendarat di bibir Fara. Lalu mereka saling menatap dan tersenyum.
"Arya dimana?" tanya Aslan.
"Lagi dimandiin sama Mbak Ratih soalnya pikiran aku barusan kacau."
Kemudian Aslan melepas jas dan sepatunya. "Ya udah kalau gitu kamu mandiin Ayahnya aja." dia menarik tangan Fara untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas, masih sore." meski demikian Fara tetap mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandi Aslan menghidupkan shower dan membiarkan dirinya dan Fara diguyur air shower tanpa melepas pakaian mereka.
Mereka saling bertatapan lekat. Cinta mereka semakin kuat, tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.
"I love you..."
"I love you too..."
Kemudian mereka saling berpelukan dengan erat, merasakan guyuran shower yang ikut meluruhkan segala beban di hati mereka.
Bibir Aslan kini mengusap cuping telinga Fara yang membuat lenguhan kecil keluar dari bibir Fara. Semakin turun ke leher dan menyusuri leher yang basah itu.
Kepala Fara kian mendongak merasakan setiap sentuhan dari Aslan di bawah guyuran air shower.
Satu per satu pakaian mereka terlepas. Aslan mematikan shower itu lalu membalik tubuh Fara. Dia sedikitk membuka kaki Fara dan menghentakkan miliknya dari belakang.
"Ah, Mas.."
Aslan menahan tubuh Fara saat dia mulai mengguncangnya.
__ADS_1
Suara de sah mereka berdua memenuhi kamar mandi dan saling berbalas. Hingga mereka mencapai pelepasan bersama.
...***...
Pagi hari itu setelah mengantar Fara, Aslan melajukan mobilnya menuju kantor. Tapi tiba-tiba ada panggilan masuk dari kepala sekolah.
"Pak Widodo kenapa telepon aku?"
Aslan segera mengangkat panggilan itu. "Iya, hallo Pak.." Raut wajah Aslan berubah menjadi serius. "Iya Pak. Saya akan segera ke sana."
Aslan segera berputar arah menuju sekolah. Setelah sampai di sekolah, dia segera berjalan menuju ruang kepala sekolah. Dia bukan seorang pengecut yang akan menghindar saat masalah datang menantangnya. Dia kini masuk ke dalam ruangan itu. Ada Pak Waryo dan Weni yang sedang ribut dengan Pak kepala sekolah.
"Ada apa?" tanya Aslan. "Masih masalah yang kemarin? Berani sekali ya bapak membuat keributan di sekolah."
"Sudah saya bilang, saya akan terus meminta pertanggung jawaban Pak Aslan. Pak Aslan sengaja berhenti mengajar setelah melakukan kesalahan pada putri saya?"
Aslan tersenyum miring lalu duduk di kursi. "Bapak mau apa menipu saya? Mau uang? Atau mau dipenjara?"
Pak Waryo melempar beberapa foto di hadapan Aslan.
"Bapak masih tidak mau mengaku, saya benar-benar akan melaporkan bapak pada polisi. Kalau perlu saya akan memviralkan bapak di media sosial dan sekolah ini juga. Biar mereka semua tahu jika sekolah ini memiliki guru yang tidak bermoral." ancam Pak Waryo.
Aslan menghela napas panjang, percuma dia bernegosiasi dengan orang tua yang keras kepala. "Weni, sebenarnya siapa lelaki itu? Jangan takut, kalau kamu butuh perlindungan hukum, saya bisa membantu." kata Aslan. Dia bisa menangkap rasa takut di wajah polos Weni.
Weni hanya menundukkan pandangannya. Dia menutup rapat mulutnya.
"Bapak, selalu memutar balikkan fakta. Lihat saja, setelah ini nama bapak akan tercoreng."
"Saya akan bertanggung jawab kalau memang saya salah." ucap Aslan dengan tegas.
"Baik. Saya pastikan Anda akan menyesal!" Pak Waryo berdiri dan mengajak putrinya pulang.
Aslan menghela napas panjang dan menata foto-foto itu untuk diselidiki. "Pak Widodo tenang saja, jika nama sekolah ini ikut terseret saya akan bertanggung jawab. Saya akan mencari siapa sebenarnya lelaki ini."
"Iya, saya percaya dengan Pak Aslan. Pak Aslan sudah bahagia dengan istri dan anak, tidak mungkin sampai melakukan hal bodoh seperti ini. Saya akan coba terlusuri circle pertemanan dia di sekolah ini, dan guru-guru lain juga. Karena guru magang yang masih muda di sekolah ini juga lumayan banyak." terang Pak Widodo.
"Baik Pak, terima kasih atas kepercayaan bapak." Aslan berdiri dan menjabat tangan Pak Widodo. Lalu dia keluar dari ruang kepala sekolah dan segera berangkat ke kantor.
__ADS_1
...***...
Setelah kelas berakhir, Fara berkumpul dengan Ayla dan Lili di kantin sebelum memutuskan untuk pulang. Mereka asyik mengobrol tentang Ayla yang sedang dilema diantara dua lelaki. Tapi tiba-tiba obrolan mereka berhenti saat grup alumni SMA mereka dipenuhi dengan percakapan.
Ayla yang pertama kali membuka grup chat itu seketika melebarkan matanya. "Guys, kenapa ada berita Pak Aslan?"
Seketika Fara merampas ponsel Ayla dan membaca berita itu.
Seorang guru telah menghamili siswinya sendiri dan tidak mau bertanggung jawab.
Fara mengepalkan tangannya. "Siapa yang buat berita hoax kayak gini! Tega sekali!"
"Sabar Far, meskipun gue sebenarnya juga emosi. Ini yang lo ceritain kemarin ke kita?"
"Iya, Ay. Mas Aslan gak mungkin ngelakuin itu."
"Iya, kita percaya Pak Aslan gak mungkin selingkuh secara Pak Aslan sudah ketagihan sama lo."
Fara memutar bola matanya mendengar kalimat Ayla meskipun itu benar adanya.
"Siapa ceweknya? Kita samperin aja yuk ramai-ramai." ajak Lili memprovokasi. Karena mereka semua ikut emosi dengan berita miring itu. Bahkan di grup juga mengecam pembuat berita itu dan yang memviralkannya. Aslan terkenal dengan sosok guru yang baik dan tegas. Dia tidak pernah menggoda murid didiknya kecuali Fara yang saat itu memang sudah berstatus menjadi istri Aslan.
"Jangan. Bagaimanapun kasihan juga dia sedang hamil muda. Pasti dia dipaksa soalnya terlihat banget di wajahnya kalau dia sedang ketakutan."
"Lo terlalu baik. Jangan-jangan hamilnya juga pura-pura."
"Kalau kehamilannya sepertinya asli. Kita juga tidak tahu cerita yang sebenarnya. Mas Aslan masih menyelidiki masalah ini." kata Fara lagi. Dia sekarang jauh lebih bisa berpikir dewasa dan menyingkirkan egonya.
"Ya sudah, yang penting lo percaya dengan Pak Aslan. Semoga masalah ini cepat selesai."
"Iya, amin. Ya udah, aku pulang dulu ya. Aku udah dijemput." Fara berdiri dan berjalan keluar dari kantin. Dia menuju gerbang kampus. Mobil yang dibawa Pak Yanto sudah berhenti di sana.
Setelah Fara masuk ke dalam mobil, mobil itu segera melaju menuju rumahnya.
Beberapa saat kemudian mobil Fara telah sampai di depan rumahnya. Dia melihat ada Weni yang sedang berdiri di depan gerbang sambil membawa tas.
"Dia mau apa lagi?"
__ADS_1