Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 31


__ADS_3

Pagi itu, Fara bangun lalu duduk termenung di depan meja riasnya. Menatap matanya yang sangat sembab. Kejadian pemaksaan itu masih saja terngiang-giang di otaknya.


Rasanya dia ingin kabur saja dari Aslan dan dari semuanya. Dia sudah tidak mungkin lagi bersama Arsyad setelah ini.


"Mungkin, setelah ini aku hanya akan menjadi boneka Pak Aslan. Semua impian dan semua keinginanku udah hancur."


Beberapa saat kemudian terdengar pintu terbuka tapi Fara sama sekali tidak menolehnya. Dia tetap menatap kosong dirinya di depan cermin.


"Far, kalau masih sakit kamu libur saja." kata Aslan sambil masuk ke dalam kamar Fara.


Fara tak menjawab perkataan Aslan. Bahkan menoleh Aslan pun tidak.


Aslan kini berlutut di samping Fara. "Far, kita sholat subuh berjamaah ya. Aku tunggu."


Fara masih saja terdiam. Pandangannya tetap menatap kosong pantulan dirinya.


"Far?" Aslan meraih tangan Fara tapi Fara justru berdiri dan meninggalkan Aslan menuju kamar mandi. Aslan hanya menghela napas panjang. Dia harus bisa lebih bersabar menghadapi Fara. Ini semua memang kesalahannya.


Bagaimana caranya memenangkan hati kamu, Far?


Sejak saat itu, Fara sama sekali tak bicara dengan Aslan bahkan untuk sekadar menatapnya pun tidak.


Aslan tidak memaksa Fara untuk bicara, yang terpenting Fara masih mau makan dan tidak kabur dari rumahnya. Fara juga masih mau dia antar ke sekolah.


"Jangan lupa bekalnya di habiskan ya. Aku juga udah kasih uang saku di dompet kamu." kata Aslan. Sejak menikah dia memang selalu rutin seminggu sekali memberi Fara uang saku dan tentu nominalnya lebih banyak dari pemberian Ayah Fara dulu.


Fara tak menjawab. Dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Aslan begitu saja. Dia berjalan menuju gerbang sekolah. Terlihat Arsyad sedang menunggunya di dekat pos satpam.


"Far..." pangggil Arsyad.


Fara tak menjawabnya. Dia hanya berlenggang begitu saja meninggalkan Arsyad.


"Far." Arsyad mengikuti Fara lalu dia berjalan di samping Fara. "Kamu kenapa? Dari kemarin chat aku gak kamu balas?"


Fara masih saja terdiam.


Arsyad menarik tangan Fara agar mengikutinya ke samping sekolah. Sepertinya ada sebuah masalah besar yang terjadi pada Fara.

__ADS_1


"Far." Arsyad memegang kedua pundak Fara lalu menatap kedua mata Fara yang masih terlihat sembab. "Kamu habis nangis? Bilang sama aku Pak Aslan sudah ngapain kamu?"


Fara hanya menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kita putus saja."


"Far, Pak Aslan yang nyuruh kamu buat mutusin aku? Dia udah ngancam kamu apa?" tanya Arsyad. Satu tangannya kini terulur mengusap pipi Fara.


Fara menggelengkan kepalanya. "Aku udah gak pantas buat kamu." air mata itu kembali menetes di pipinya.


"Tapi Far..." pandangan mata Arsyad kini tertuju pada leher bawah Fara yang merah. Arsyad jelas mengerti tanda merah itu. "Apa kamu dipaksa Pak Aslan untuk berhubungan?"


Fara semakin menatap nanar Arsyad tanpa menjawabnya. Kemudian dia melepas tangan Arsyad dan berlari meninggalkan Arsyad.


"Fara!" Arsyad mengejar Fara.


Saat dilorong Fara berpapasan dengan Aslan. Lagi-lagi Aslan melihat air mata itu mengalir di pipi Fara. Rasa bersalah itu kembali muncul.


"Fara!" langkah Arsyad berhenti di depan Aslan. "Sudah puas Pak Aslan membuat Fara menangis. Fara bukan boneka yang bisa Bapak mainkan sesuka hati! Kalau Pak Aslan memang tidak bisa membahagiakan Fara, saya akan rebut Fara dari Bapak."


Kali ini, Aslan hanya terdiam karena perkataan Arsyad itu memang benar adanya. Dia yang sudah membuat Fara menangis.


Arsyad mengikuti langkah Fara menuju UKS tapi dia hentikan langkahnya. Sepertinya saat ini yang Fara butuhkan bukanlah dirinya melainkan sahabat-sahabatnya. "Ayla, iya aku harus minta tolong Ayla untuk menghibur Fara."


"Bang Arsyad apaan sih? Main tarik-tarik."


"Gue mau minta tolong sama lo. Tolong lo hibur Fara. Dia sedang menangis di UKS." kata Arsyad.


"Kenapa gak Bang Arsyad aja yang hibur, kan pacarnya."


Arsyad menggelengkan kepalanya. "Dia sedang membutuhkan sahabatnya, bukan gue. Gue minta tolong ya."


"Ya, tanpa diminta gue juga pasti akan bantu Fara dan hibur dia kalau lagi sedih. Tapi masalahnya ini pelajarannya Pak Aslan, ntar gue kena hukum." kata Ayla lagi.


"Udah tenang aja. Kali ini lo gak bakal kena hukum."


"Iya. Tapi nanti kalau ada tugas nyontek ya."


"Iya, iya. Ya udah cepetan ke sana."

__ADS_1


Ayla segera berjalan menuju UKS. Kebetulan, UKS di sekolah mereka memang tidak ada penjaganya saat pagi. Benar saja kata Arsyad, Fara sedang menangis sesenggukan di dalam UKS.


"Far, lo kenapa?" tanya Ayla sambil duduk di samping Fara.


Seketika Fara memeluk Ayla.


"Kalau ada masalah cerita sama gue. Sebisa mungkin gue pasti akan bantu lo."


Fara tak menjawab. Dia masih saja terisak di pelukan Ayla.


"Udah jangan nangis. Apa ini masalah perjodohan lo itu?"


Fara mengangguk pelan. Lalu dia melepas pelukannya dan menghapus asal air matanya. "Gue sebenarnya udah nikah tiga bulan yang lalu saat Ayah masuk rumah sakit." cerita Fara pada akhirnya karena jujur saja dia tidak sanggup menanggung masalahnya sendiri.


"Hah? Kok lo gak bilang sama gue. Kenapa lo simpan masalah serius kayak gini sendiri. Pantas lo stress."


"Itu karena gue ingin tetap pacaran sama Arsyad. Tapi kemarin Arsyad justru gak sengaja nemuin cincin nikah gue dan semua terbongkar."


"Yang sabar ya Far, memang terkadang apa yang kita inginkan tidak bisa terwujud."


Fara menganggukkan kepalanya. "Tapi gue gak cinta sama dia. Rasanya berat banget hidup bersama dengan orang yang gak gue cintai."


"Ya, gimana ya? Gue juga bingung soal ini. Dia perhatian gak sama lo, eh, maksudnya suami lo. Kalau baik, perhatian dan cinta sama lo coba deh lo buka hati lo pelan-pelan. Lo kan juga masih bisa berteman dengan Arsyad kayak dulu."


Fara justru menatap nanar Ayla. Ayla tidak tahu saja jika suami yang dimaksud adalah Pak Aslan, guru yang ditaksir Ayla.


"Dia memang baik dan perhatian, tapi pemarah banget. Gara-gara kejadian kemarin, gue bertengkar dan dia..." Fara kembali menangis mengingat kejadian pilu kamarin.


Ayla seketika panik. "Kenapa kenapa? Dia apain lo? Dibanting? Dicekik?"


Fara menggelengkan kepalanya. "Dia maksain gue buat ngelakuin itu. Padahal gue udah bilang gue gak mau disentuh dulu."


"Wah, itu sih namanya pemerkosaan pada istri. Udah ada undang-undang yang melarang juga. Emang gimana sih dia? Lo punya fotonya gak?"


Fara terdiam beberapa saat, "Sebenarnya dia..."


💞💞💞

__ADS_1


.


Tinggalkan komen ya.. 😁


__ADS_2