
Aslan tersenyum bahagia melihat hasil USG dan penjelasan dari dokter kandungan kali ini. Calon buah hatinya berkembang secara normal dan sehat, begitu juga dengan Fara. Selang satu bulan berat badan Fara sudah naik dua kilo setelah sebelumnya sempat turun.
Senyum di bibir Fara juga terus mengembang. Tiap kali mendengar detak jantung yang bersumber dari dalam perutnya, rasanya dia semakin menyayanginya.
Hasil print out USG masih saja dia pandangi sepanjang perjalanan pulang. Meskipun belum terasa gerakannya tapi kini Fara sangat senang mengusap perutnya yang sudah sedikit terlihat itu.
Sesekali Aslan melirik Fara yang sedang memandangi foto sambil mengusap perutnya itu. Dia tak kalah bahagianya dengan Fara. Sebenarnya dia begitu ingin memeluk dan mencium Fara saat ini tapi dia masih menahan perlakuannya pada Fara.
Beberapa saat kemudian Aslan menghentikan mobilnya di depan rumahnya. "Makasih kamu sudah mau menerima kehadirannya." Aslan mendekat dan ikut mengusap perut Fara.
Fara menganggukkan kepalanya. "Iya semakin hari rasanya aku semakin menyayanginya."
Aslan kini menatap Fara. Apa kamu juga telah menyayangiku? Pertanyaan itu tentu hanya tertahan di hatinya saja.
Tersadar dengan tatapan Aslan, Fara kini juga menatapnya tapi beberapa detik kemudian mereka sama-sama mengalihkan pandangan mereka.
Mereka kini keluar dar mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Liburan udah selesai aku besok sudah mulai mengajar lagi. Kalau kamu bosan di rumah, biar Mama aku suruh ke sini atau kamu mau ke rumah Ayah kamu?" tanya Aslan.
Fara menggelengkan kepalanya sambil duduk di sofa ruang tengah. "Aku di sini saja. Nanti saja ke rumah Ayah sama Pak Aslan." Fara mengambil ponselnya dan melihat beberapa chat yang masuk. "Yah, kasihan Ayla gak lolos SNMPTN."
Aslan kini juga duduk di sebelah Fara.
"Jadi dia terpaksa mengikuti keinginan orang tuanya masuk di boga." kata Fara lagi.
"Ya, terkadang apa yang diinginkan orang tau itu yang terbaik buat kita." kata Aslan. Karena setelah dia menuruti keinginan orang tuanya, kini hidupnya jauh lebih baik. Dia lebih bisa mengontrol emosinya. Tidak seperti dulu lagi yang setiap ada masalah selalu terbawa emosi.
Fara hanya terdiam. Dia kembali teringat keinginan orang tuanya untuk menikah dengan Aslan. Semakin hari Aslan semakin perhatian dengannya dan menunjukkan bahwa Aslan adalah suami yang terbaik untuknya. Tapi, entahlah apa dia akan benar-benar bisa mencintai Aslan.
"Tahun depan kamu kuliah yah. Aku ingin cita-cita kamu terwujud." kata Aslan.
Fara menggeleng pelan. "Aku masih belum tahu. Aku belum memikirkan soal itu."
"Far," Aslan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Fara. "Jangan jadikan anak kita atau aku atau yang lainnya sebagai penghalang untuk mewujudkan cita-cita kamu. Aku yakin, kamu masih bisa mewujudkannya."
__ADS_1
Fara menatap ragu Aslan, tapi sedetik kemudian dia melepas tangan Aslan dan berdiri. "Aku mau ganti baju dulu." Kemudian dia berjalan menuju kamarnya.
Aslan menghela napas panjang. Entah sampai kapan dia akan memenangkan hati Fara.
...***...
Keesokan harinya, setelah libur sekolah selama dua minggu, Aslan mulai mengajar lagi di sekolahnya. Dia sudah memutuskan akan tetap menjadi guru matematika selama dia bisa dan juga mulai belajar memimpin perusahaan lagi.
"Aku berangkat dulu ya. Nanti waktunya kamu makan siang aku pulang." kata Aslan sambil mengusap perut Fara lalu membungkukkan kepalanya. "Baik-baik ya sama Mama. Kalau lapar belajar makan cemilan sendiri ya, jangan nungguin Ayah. Kasihan Mama kalau sampai lapar."
Fara tersenyum kecil mendengar celoteh Aslan.
Aslan kembali menegakkan kepalanya. "Kalau ada apa-apa kamu telepon aku. Sebentar lagi Mama pasti ke sini."
Fara menganggukkan kepalanya lalu mengantar Aslan sampai di depan rumah. Dia mencium punggung tangan Aslan untuk pertama kalinya dengan sukarela.
Hal itu jelas membuat dada Aslan berdebar. Kali ini tanpa dia suruh dan tanpa paksaan.
"Hati-hati," kata Fara sambil tersenyum.
"Iya." Aslan masuk ke dalam mobilnya. Lain kali sebelum berangkat dia akan mencoba mencium kening Fara. Ya, siapa tahu saja Fara mau.
"Fara." Bu Lani keluar dengan menenteng sekantong plastik besar. "Fara, kamu bisa merajut gak?" tanya Bu Lani sambil menggandeng tangan Fara masuk ke dalam rumah.
Fara menggelengkan kepalanya.
"Sini, Mama ajarkan merajut biar gak bosan di rumah. Sudah Mama bawakan alatnya dan benang-benanga juga." Bu Lani duduk di sofa ruang tamu sambil membongkar barang bawaannya.
"Gini caranya." Bu Lani mulai menunjukkan cara menyulam dari dasarnya dulu.
Fara terus mengamati gerakan tangan mertuanya sambil mendengarkan penjelasannya.
"Ini kamu coba. Kalau sudah tahu jalannya mudah kok. Belajar merajut lurus dulu nanti kalau sudah bisa baru dibentuk jadi topi, kaos kaki atau sweater juga bisa."
Fara mulai memahami caranya. Sedikit-sedikit dia mulai bisa.
__ADS_1
"Tuh kan pintar."
Fara tersenyum sambil tetap fokus menggerakkan tangannya.
Bu Lani mengusap sesaat pipi Fara yang terlihat chubby itu. "Syukurlah kamu sekarang sudah kelihatan lebih segar."
Fara mengangguk kecil.
"Far, apa kamu sudah bisa menerima Aslan dalam hidup kamu?" tanya Bu Lani.
Seketika Fara menghentikan gerakannya dan menatap Bu Lani. "Mama udah tahu kalau..."
"Iya Mama sudah tahu."
"Mama gak marah?"
Bu Lani menggelengkan kepalanya. "Justru ini kesalahan Mama yang terlalu memaksa kalian. Jujur saja, Mama gak mau kamu pisah dengan Aslan. Tapi kalau kamu merasa tersiksa, Mama tidak mau lagi memaksa kamu." Bu Lani merengkuh Fara dan menyandarkan kepala Fara di bahunya. "Maafkan Aslan yang terlalu memaksa kamu. Tapi Mama tahu Aslan sangat mencintai kamu. Apa kamu benar-benar tidak punya perasaan sama Aslan?"
Fara hanya terdiam. Dia sekarang sudah mulai merasa nyaman dengan Aslan. Bahkan dia merasa takut kehilangan perhatian dari Aslan. Tapi tentang perasaan itu dia masih belum bisa mengartikannya. Apakah dia sudah jatuh cinta dengan Aslan?
"Mama berharap kamu dan Aslan bisa bersatu selamanya."
"Iya Ma. Fara akan mencoba membuka hati untuk Pak Aslan."
Bu Lani melepas pelukannya dan menatap Fara. "Kamu masih manggil dengan sebutan, Pak?"
Fara mengangguk pelan. "Sudah biasa manggil itu."
"Coba kamu panggil Aslan dengan sebutan Mas biar rasa sayang dan cinta kamu bisa benar-benar kamu rasakan. Mama yakin, rasa cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
Kali ini Fara hanya terdian. Memanggil Aslan dengan sebutan Mas Aslan?
Aduh, kayaknya syulit. Belum manggil aja udah mau keselek.
.
__ADS_1
💞💞💞
Like dan komen ya..