Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 34


__ADS_3

"Kenapa kepala aku rasanya pusing banget gini. Besok ujian praktek olahraga lagi." keluh Fara sambil berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan untuk makan malam bersama Aslan.


Saat itu Aslan sudah duduk sambil menatap layar ponselnya.


Setelah Fara duduk di dekatnya, baru Aslan menatapnya. Aslan bisa menangkap raut pucat wajah Fara. "Kamu sakit? Kok pucat?"


Fara hanya menggelengkan kepalanya. Lalu dia mulai memakan makanan yang telah diambilkan Aslan. Nafsu makannya kini hilang. Dia hanya memakan dua suap setelah itu perutnya terasa sangat mual. Fara tidak bisa menahannya lagi, lalu dia berlari menuju toilet yang berada di dekat dapur.


Aslan mengikuti langkah Fara. Dia usap punggung Fara yang sedang meuntahkan isi perutnya. Melihat hal itu, Aslan mempunyai firasat lain.


"Far, kita periksa saja ya, kalau kamu sakit." ajak Aslan.


Fara menggelengkan kepalanya sambil membersihkan bibirnya. "Habis ujian memang biasa asam lambung aku naik." Fara kembali ke meja makan dan hanya meminum susu hangat saja lalu dia kembali menaiki tangga menuju kamarnya.


"Far, gak makan dulu?" pertanyaan Aslan sudah tidak digubris oleh Fara. Dia mengikuti langkah Fara naik ke lantai dua. "Kalau badan kamu semakin gak enak bilang sama aku." kata Aslan lagi meski tak mendapat jawaban dari Fara.


Fara justru menutup pintu kamarnya.


Aslan masih saja berdiri mematung. Dia sudah berusia 25 tahun, tentu dia sedikit paham tanda-tanda yang ditunjukkan Fara.


Aslan kini juga masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang. Memikirkan bagaimana jika hal itu memang terjadi. Aslan mengacak rambutnya sendiri. Apa Fara akan semakin membencinya? Apakah nanti Fara bisa menerima keadaannya?


Fara maafkan aku...


...***...


Keesokan harinya, Fara masih saja mual. Dia hanya meminum susu sebelum berangkat ke sekolah. Sedangkan Aslan semakin khawatir dengan keadaan Fara. Fara semakin terlihat pucat dan sejak bangun pagi terdengar beberapa kali suara muntahan Fara.


"Far, kamu jangan ikut ujian praktek olahraga dulu. Lebih baik kita periksa ke rumah sakit." kata Aslan saat akan menaiki mobilnya.


Fara hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia masuk ke dalam mobil.


Mau tidak mau, Aslan hanya menuruti keinginan Fara. Dia masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya menuju sekolah.


Sesekali Aslan masih saja melirik Fara yang hanya berdiam diri sambil memijat pelipisnya. Andai saja Fara tidak menolak, Aslan ingin sekali memeluknya dan memberi kenyamanan untuknya.


Beberapa saat kemudian mobil Aslan berhenti di tempat biasa. Fara turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang sekolah.


Aslan melihat Fara sampai dia belok ke gerbang sekolah. Jika memang firasatnya benar, harusnya dia senang bukan malah takut dan was-was seperti ini. Sudah kesekian kalinya dia menghela napas panjang. Kemudian dia melajukan mobilnya kembali memasuki tempat parkir sekolah, setelah itu dia turun dari mobil. Hari itu dia berniat mengawasi Fara. Dia sangat takut Fara kanapa-napa.

__ADS_1


...***...


Setelah berganti seragam olahraga, Fara dan teman-temannya berjalan menuju lapangan basket.


"Far, lo kok pucat?" tanya Ayla yang kini berjalan di samping Fara.


"Iya. Biasa asam lambung gue naik." kata Fara


"Kirain lagi halangan." kata Ayla lagi.


Deg!


Seketika Fara mengingat tanggal merahnya. Sepertinya sudah hampir dua minggu terlewat dari jadwal teraturnya. Meski pengetahuannya minim tentang hal itu, tapi dia tahu jika tanda-tanda kehamilan ditandai dengan terlambat datang bulan. Jangan-jangan...


Fara menggelengkan kepalanya.


Gak! Itu gak boleh terjadi.


Kepala Fara semakin terasa pusing saat mengikuti pemanasan sebelum melaksanakan ujian praktek. Dia hampir saja tidak fokus mengikuti gerakan pemanasan itu.


Setelah pemanasan selesai. Mereka menunggu giliran untuk melakukan praktek memasukkan bola basket ke dalam ring.


"Lo tegang banget sih. Ini cuma memasukkan bola basket dalam ring kan kecil buat lo. Gue barusan waktu 1 menit cuma masuk 5." Ayla tertawa. Karena dia memang payah dalam pelajaran olahraga.


Fara tak menimpali perkataan Ayla, karena kini sudah tiba gilirannya untuk melempar bola basket itu ke dalam ring. Jelas saja, meski kepalanya terasa berat dan badannya lemas tapi tembakannya tepat kena sasaran sampai beberapa kali.


Setelah menyelesaikan prakteknya. Langkah Fara terhenti. Kepalanya semakin terasa pusing dan berputar-putar kemudian dia jatuh dan tak sadarkan diri.


"Fara!" teriak Arsyad dan teman lainnya.


Arsyad dengan sigap meraih tubuh Fara dan menepikannya tapi tiba-tiba Aslan datang dan langsung meraih tubuh Fara dari gendongan Arsyad.


"Fara!" Aslan sangat panik. Dia menyingkap rambut yang menutupi wajahnya. Kemudian dia segera mengangkat tubuh Fara dan berlari ke tempat parkir.


"Loh, Pak Aslan kok gak bawa Fara ke UKS."


"Kayaknya Fara mau dibawa langsung ke rumah sakit." kata Arsyad lalu dia menarik tangan Ayla agar ikut bersamanya. "Ay, ikut gue. Gue penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dengan Fara."


Mereka berdua segera berlari menuju kelas untuk mengambil kunci motor dan jaket. Kemudian mereka kembali berlari menuju tempat parkir. Terlihat mobil Aslan baru saja berjalan dan keluar dari gerbang.

__ADS_1


"Ar, cepetan!" mereka berdua kini naik ke atas motor Arsyad lalu segera menyusul mobil Aslan.


Sedangkan Aslan semakin menambah kecepatan laju mobilnya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Fara saat ini. Beberapa saat kemudian dia menghentikan mobilnya di parkir rumah sakit terdekat.


Kemudian Aslan segera menggendong Fara dan membawanya ke IGD. Selama pemeriksaan berlangsung, Aslan menunggunya diluar. Dia benar-benar tidak tenang memikirkan Fara. Belum lagi memikirkan bagaimana ekspresi Fara jika hal itu benar terjadi.


Beberapa saat kemudian Ayla dan Arsyad sampai di rumah sakit.


Lagi-lagi Aslan dan Arsyad bersitatap tajam.


"Kenapa kalian ikut ke sini? Bukannya ujian prakteknya belum selesai."


"Saya mau tahu keadaan Fara. Apakah sakitnya Fara ada hubungannya dengan Bapak!" kata Arsyad.


Ayla menarik Arsyad agar menjauh dari Aslan. "Jangan nantangin gitu. Jangan buat keributan di rumah sakit."


Beberapa saat kemudian, Dokter yang memeriksa kondisi Fara keluar.


"Bagaimana keadaan Fara?"


"Pasien sudah sadar."


Belum juga Dokter itu selesai berbicara Arsyad dan Ayla langsung masuk ke dalam ruangan.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya? Apa memang hanya asam lambung saja?" tanya Aslan ingin memastikan.


"Syukurlah, ternyata Anda suaminya. Maaf karena sebelumnya saya sempat mengira pasien hamil diluar nikah karena masih memakai seragam SMA."


Mendengar hal itu, Aslan tidak tahu lagi. Apakah dia harus bahagia atau sedih dengan kehamilan Fara.


"Pasien mengalami dehidrasi disebabkan morning sickness di kehamilan muda. Selama satu hari harus rawat inap agar cairan infus bisa masuk. Nanti setelah dokter kandungan datang, akan kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut." jelas Dokter itu lagi.


"Iya Dok. Terima kasih." Aslan akhirnya masuk ke dalam ruangan. Dia kini mendapati tatapan nanar dari Fara yang penuh dengan air mata. Kemudian dia berjalan mendekat.


"Puas!? Pak Aslan sudah menghancurkan hidup saya!"


💞💞💞


.

__ADS_1


Tinggalkan komen ya...


__ADS_2