
Sampai malam larut Aslan masih saja terlelap. Fara berulang kali mengecek suhu tubuh Aslan. Awalnya sempat turun setelah minum obat tapi semakin malam panas itu semakin tinggi lagi.
"Kenapa badan Mas Aslan demam lagi?" Fara menepuk pipi Aslan agar terbangun. "Mas kita ke rumah sakit saja ya? Badan Mas Aslan panas lagi."
Aslan hanya bergeliat sambil sedikit membuka matanya. "Hem? Aku gak papa."
"Ih, badan panas gini dibilang gak papa. Jangan keras kepala kayak aku deh."
Aslan hanya tersenyum dengan satu tangan yang mengusap pipi Fara. "Iya, panggilkan Pak Yanto. Aku juga ingin cepat sembuh biar cepat godain kamu."
Fara hanya berdecak. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini suaminya masih berpikir me sum.
Fara segera memanggil Pak Yanto dan menyuruhnya untuk membantu Aslan berjalan ke mobil.
"Sayang, kamu di rumah saja jagain Arya. Biar aku periksa sama Pak Yanto saja." kata Aslan saat melihat Fara memakai cardigannya dan bersiap untuk ikut dengannya. Sedangkan tubuhnya kini sudah direngkuh oleh sopir pribadinya.
"Loh Mas, aku antar aja." Fara berjalan mendekat.
"Jangan sayang, kamu di rumah aja jagain Arya. Kalau malam Arya butuh kamu." Aslan mengusap puncak kepala Fara.
"Tapi kalau Mas Aslan disuruh opname gimana?" Fara sangat khawatir dengan keadaan Aslan saat ini.
"Tidak apa-apa. Di sana ada suster. Biar Pak Yanto yang menemani aku."
Fara hanya menatap nanar Aslan. Lalu dia berjinjit dan mencium kening Aslan. "Cepat sembuh ya. Hpnya jangan lupa dibawa."
"Iya, kamu cepat tidur temani Arya. Aku pasti gak papa."
Fara menganggukkan kepalanya sambil mengantar Aslan sampai di depan rumah dan sampai mereka masuk ke dalam mobilnya.
Setelah itu Fara kembali masuk ke dalam rumah dan naik ke atas ranjang bersama Arya.
"Temani Mama bobok ya sayang. Doakan Ayah, semoga Ayah cepat sembuh."
...***...
Setelah melakukan pemeriksaan, Aslan dinyatakan terkena gejala tifus. Dia harus dirawat di rumah sakit setidaknya selama 2-3 hari.
Hampir semalaman Fara tidak bisa tidur. Setengah pikirannya tersita untuk Aslan. Dia ingin merawat dan menemani Aslan tapi di sampingnya ada Arya yang sedang membutuhkannya.
Untunglah malam itu Bu Lani bisa menemani Aslan di rumah sakit.
__ADS_1
"Mas, udah enakan?" tanya Fara pada Aslan pagi hari itu lewat panggilan video call.
Aslan menganggukkan. "Udah sayang. Kamu jangan terlalu khawatir, jagain Arya saja di rumah."
"Pokoknya hari ini aku gak ke kampus mau jagain Mas Aslan di rumah sakit." kata Fara.
"Ya udah, jangan bawa Arya meskipun aku di ruangan vip. Mana Arya, aku kangen sama Arya."
"Nih, masih pagi udah gak bisa anteng." Fara mengalihkan kameranya pada Arya yang sedang rambatan di tepi ranjang. "Untung banget kita punya assistan rumah tangga, gak kebayang pas anak lagi aktif-aktifnya terus nyiapin ini itu di pagi hari." Fara tertawa kecil. Kehidupannya memang jauh lebih beruntung dari pada ibu-ibu lainnya.
"Hai, Arya. Ayah kangen loh..."
Mendengar suara Aslan seketika Arya mencarinya. "Yayah, Yayah..."
"Arya, Ayah di sini."
"Yayaaahhh..." karena hanya melihat wajah Ayahnya lewat layar, Arya pun menangis.
"Sayang kok nangis. Kalau dengar suara Ayahnya pasti langsung minta main nih." Fara menggendong Arya dan berusaha mendiamkannya. "Mas, udah ya. Nanti aku ke sana. Love you."
"I love you too."
Setelah itu Fara mematikan panggilan videonya. Dia keluar dari kamar dan menuju dapur.
"Makan dulu ya sama Mama." Fara menurunkan Arya di kursi makannya. Saat dia melihat dapur ada Weni yang sedang mencuci alat-alat dapur bekas masakan.
"Kamu sudah sarapan? Sarapan dulu, kamu jangan lakuin apa-apa di sini, ntar dikira aku yang nyuruh-nyuruh kamu." kata Fara.
Weni hanya memganggukkan kepalanya lalu ikut duduk di meja makan.
Fara menyiapkan makanan Arya terlebih dahulu lalu meletakkan makanannya di depan Arya. Dia biarkan Arya makan sendiri meski berantakan.
"Arya, gini kalau makan. Aaeemm.." Fara memberi contoh pada Arya cara makan yang benar dan mengunyah.
Arya justru tersenyum gembira sambil memasukkan makanan yang digenggam ke dalam mulutnya.
"Lucu banget sih."
Weni tersenyum kecil melihat tingkah lucu Arya. Sosok ibu muda yang ada di depannya itu terlihat sangat penuh kasih sayang.
"Setelah makan kamu siap-siap ya. Kita ke rumah sakit. Aku antar kamu periksa kandungan dulu, setelah itu kamu pulang sendiri. Aku masih mau menunggu Mas Aslan di rumah sakit."
__ADS_1
Weni mengangguk pelan lalu dia beranikan diri untuk bertanya. "Pak Aslan sakit apa?"
"Kena gejala tifus." Fara kini menatap Weni. "Makanya, kamu cerita yang sebenarnya sama aku. Apa kamu memang sengaja membuat hidup orang menderita?"
Weni hanya terdiam.
"Kalau kamu mau mengaku, kita tidak akan melaporkan kamu. Tapi kalau kita yang membongkar kedok kamu sendiri dengan terpaksa kita akan menjebloskan kamu ke penjara."
Weni hanya mengangguk pelan.
Fara melanjutkan sarapannya sambil sesekali menyuapi Arya karena sekarang Arya justru memainkan makanannya.
Setelah selesai, Fara segera bersiap-siap ke rumah sakit. Sedangkan Arya kini dimandikan oleh pengasuhnya.
"Weni ayo..." ajak Fara saat dia sudah siap di depan rumah. Dia menunggu mobil online karena Pak Yanto masih di rumah sakit.
Weni kini berdiri di samping Fara. Saat mobil online itu datang, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil itu mulai melaju menuju rumah sakit.
Tak ada pembicaraan apa-apa di dalam mobil. Fara hanya menatap layar ponselnya selama perjalanan.
"Maaf Mbak. Saya berhenti di sini. Soalnya di depan rumah sakit ada dua ambulans yang mau keluar." kata driver itu sambil menghentikan mobilnya di seberang jalan rumah sakit.
"Iya Mas, gak papa." setelah itu mereka berdua turun dari mobil dan menunggu sampai ambulans lewat agar jalanan tidak terlalu macet.
Saat mereka berdua akan menyeberang, tiba-tiba saja ada yang melajukan motornya dengan kencang.
"Awas!" Weni berhasil menarik Fara hingga Fara tidak terserempet sepeda motor itu.
"Ini jalanan milik umum, kenapa pada ugal-ugalan sih." Fara mendumel sendiri. Dia sampai tidak melihat Weni yang sudah berdiri di tengah jalan.
Tapi sepertinya sepeda motor tadi kini mengincar Weni. Dengan cepat Fara berlari dan menarik tangan Weni hingga mereka berdua terjatuh di jalan. Dengan posisi Weni yang terjatuh menindih lengan Fara.
Tapi bukan lengan Fara yang terasa sakit justru perut bagian bawahnya yang terasa sangat sakit.
"Sakit banget." Fara duduk sambil memegang perutnya.
"Kak Fara! Toloong!!"
.
💞💞💞
__ADS_1
.
Like dan komen ya...