
"Kak Vero ngapain?" tanya Ayla sambil menggandeng tangan Fara. Menariknya agar menjauh dari Vero.
"Dia teman kamu?" tanya Vero.
"Iya kak. Kita mau ke kantin dulu." Ayla menarik Fara agar segera mengikutinya.
Mereka berdua kini berjalan menuju kantin.
"Lili masih ada kelas ya?" tanya Fara. Dia masih mengedarkan pandangannya ke bangunan-bangunan kelas yang terdiri dari beberapa lantai itu.
"Iya, Lili masih lama. Eh, Far, lo hati-hati ya kalau didekati sama cowok di sini." kata Ayla setengah berbisik.
"Iya, gue udah ngerti. Gua kan udah punya suami dan anak." kata Fara. Dia juga tidak mau didekati cowok lain.
Ayla mengajak Fara duduk di dekat taman yang sepi. "Sebenarnya bukan cuma masalah itu. Jadi dari gosip yang gue dengar nih, Kak Vero itu salah satu cowok pelangi."
Fara menautkan alisnya. Sedetik kemudian dia mengerti dengan maksud Ayla. "Masa' sih? Lo yang benar aja, dia ganteng dan keren loh."
"Di sini itu banyak kaum pelangi. Pernah beberapa bulan lalu kampus mengusut masalah ini tapi mereka gak punya bukti yang kuat hanya berdasarkan katanya saja." cerita Ayla. "Makanya itu gue gak mau naksir cowok sini."
Fara bergidik ngeri. "Ih, jijik banget sih. Kenapa lo gak bilang dari awal. Tahu gitu gue gak kuliah di sini."
"Jangan gitu. Ya itu catatan hitam kampus ini tapi kalau soal pendidikan nomor satu, eh, nomor dua ding kalah sama kampus sebelah. Gara-gara di sini gak ada fakultas kedokteran."
"Iya sih, lagian gue juga cuma mau fokus kuliah."
"Gue juga, gue cuma mau kuliah terus pulang buat konten. Ya udah yuk kita ke kantin. Bakso di sini enak banget loh." Ayla berdiri yang diikuti Fara mereka berdua berjalan bersama menuju kantin. "Sambil nunggu Lili, udah gue chat suruh langsung ke kantin."
"Ay, adik lo?" tanya salah satu teman sekelas Ayla yang bernama Dina saat berpapasan dengan mereka berdua.
"Iya, adik gue." kata Ayla sambil tertawa. Dia langsung mendapat satu jitakan dari Fara.
"Enak aja adik lo."
"Bukan, bukan. Ini Fara, sahabat gue."
"Gue Dina." ajak Dina bersalaman.
"Iya, gue Fara." Fara membalas salaman Dina.
"Ya udah yuk sekalian kita ke kantin."
Mereka bertiga kembali mengobrol sambil berjalan menuju kantin.
__ADS_1
...***...
Setelah selesai dari kantin, Fara memasang kartu di ponselnya lalu menghidupkannya. Ponselnya memang benar-benar sudah normal kembali.
"Ekspress banget kalau benerin. Telepon Pak Yanto dulu terus aku mau ke kantor Mas Aslan."
Fara menghubungi Pak Yanto agar segera menjemputnya setelah itu dia berjalan sendiri menuju gerbang kampus karena Ayla dan temannya sudah masuk ke kelas.
"Mau pulang?" tanya Vero. Tiba-tiba saja dia datang dan berjalan di dekatnya.
"Iya." kata Fara. Dia memperpecepat langkah kakinya.
"Pulang sama siapa?" tanya Vero lagi.
"Dijemput sopir." jawab Fara. Berharap Pak Yanto sudah menjemputnya tepat waktu.
Vero masih saja mengikutinya sampai depan kampus.
Fara menghela napas panjang. Sepertinya dia harus segera menunjukkan bahwa dia sudah punya Aslan. Tapi jika benar Vero salah satu kaum pelangi mengapa Vero mendekatinya?
Setelah menunggu beberapa saat, mobil Pak Yanto akhirnya berhenti. Fara segera masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa-apa pada Vero.
"Pak, ke kantor Mas Aslan ya." kata Fara setelah masuk ke dalam mobil.
Setelah itu mobil mereka segera melaju menuju kantor Aslan.
Fara kini melihat ponselnya. Ada beberapa chat masuk dari Aslan dan mertuanya.
Sayang, udah selesai?
Sudah, Mas. Balasnya. Dia tidak bilang jika akan ke kantornya Aslan.
Lalu dia membuka pesan dari mertuanya. Ada foto Arya yang sedang tersenyum bahagia. Lalu foto yang kedua sudah tertidur nyenyak.
Pinter banget habis main terus minum susu dan tidur.
Fara tersenyum lalu dia hanya mengirim stiker love.
Setelah berhenti di depan perusahaan Aslan, Fara segera turun dan masuk ke dalam perusahaan itu. Dia disambut dengan ramah oleh resepsionis perusahaan.
"Ruangan Pak Aslan di lantai berapa?" tanya Fara karena dia memang baru pertama kali ke perusahaan Aslan meski demikian seluruh karyawan Aslan jelas sudah mengenal Fara setelah diadakannya resepsi itu.
"Di lantai 9, Bu. Tapi sepertinya Pak Aslan sedang meeting."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa saya bisa menunggu di ruangannya."
"Mari saya antar." kaya resepsionis itu dengan senyum ramahnya, kini dia berjalan di samping Fara menuju lift. "Ibu baru pertama kali ya ke sini?"
"Iya, panggil Mbak saja tidak apa-apa." kata Fara karena resepsionis itu memang terlihat lebih tua darinya. Mereka kini masuk ke dalam lift dan menuju lantai 9.
"Tidak apa-apa. Ini di kantor jadi saya tetap harus panggil Bu Fara. Bu Fara ini sudah cantik dan ramah ya. Untunglah Pak Aslan lebih memilih Bu Fara." puji resepsionis itu.
Fara hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah pintu lift terbuka mereka segera berjalan menuju sebuah pintu yang tertutup, di depan ruangan itu ada ruangan sekretaris yang juga kosong.
"Silakan menunggu di dalam. 30 menit lagi meeting selesai."
"Baik. Terima kasih."
Fara masuk ke dalam ruangan Aslan dan menutup pintu itu kembali. Ini baru pertama kalinya dia melihat ruangan Aslan yang luas dan sangat rapi.
Dia berjalan menyusuri ruangan itu lalu berhenti di meja direktur. Dia tersenyum melihat fotonya yang sedang menggendong Arya berada di bingkai kecil di atas meja.
"Aku masih gak nyangka sekarang udah jadi istrinya direktur. Padahal sepert baru kemarin aku bayangin nikah sama Arsyad dan jadi istrinya Dokter. Semua jalan cerita itu memang tidak bisa tertebak." Fara tersenyum kecil lalu dia duduk di sofa. Sekarang dia sudah sangat bahagia hidup bersama Aslan.
Kini Fara memainkan ponselnya sambil menunggu Aslan. Beberapa saat kemudian terdengar suara Aslan yang sedang berbicara dengan seseorang di depan ruangan. Seketika Fara berdiri dan bersembunyi di belakang sofa. Dia berniat memberi kejutan pada Aslan.
"Aslan, urusan pekerjaan tidak boleh dicampur dengan urusan pribadi."
Lagi, lagi, itu suara Tasya.
"Siapa yang mencampuri terlebih dahulu, kamu kan! Lebih baik aku kehilangan proyek itu daripada harus terus bertemu dengan kamu. Sudah aku jelaskan berulang kali saat meeting tadi kalau kerjasama kita batal dan aku sudah siap ganti rugi." Aslan masuk ke dalam ruangannya dan duduk di atas sofa.
Tasya masih saja mengikutinya yang membuat kepala Aslan terasa sangat pusing hari itu.
Dia kini duduk di sebelah Aslan. "Aslan, mau-maunya ya kamu diatur sama bocah."
"Siapa yang bocah?"
💞💞💞
.
Hihihi, udah ada pelakor dan bibit pebinor pasti mulai kesel ya... 😁
.
Like dan komen ya...
__ADS_1