Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 54


__ADS_3

Saat hari menjelang sore, Fara pulang ke rumahnya yang diantar oleh sahabat-sahabatnya. Fara sebenarnya heran, kenapa sahabat-sahabatnya juga ikut ke rumahnya. Dia bisa pulang sendiri di jemput sopirnya tapi ketiga sahabatnya malah minta naik grab car.


Setelah sampai di depan rumahnya, Fara dan sahabat-sahabatnya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Saat Fara membuka pintu rumahnya dia sangat terkejut. Semua keluarga beserta sahabat-sahabatnya kini berkumpul dengan ruang tamu yang telah di dekor cantik. Ada dua buah kue tart dan Aslan kini menyambutnya dengan segebok bunga mawar merah.


"Selamat ulang tahun sayang." kata Aslan sambil mencium kening Fara dan memberikan segebok bunga mawar merah itu.


Mata Fara berkaca-kaca. "Tapi kan ulang tahun aku masih besok." dia tidak mengira mendapat kejutan dari mereka semua.


"Gak papa. Ini permintaan Ayah kamu, mumpung kedua kakak kamu juga sudah pulang. Sekalian kita adakan tujuh bulanan kandungan kamu."


Fara memeluk Aslan sesaat lalu dia berjalan mendekati Ayahnya yang berdiri berjajar dengan kedua kakaknya, Ferdi dan Faris.


"Fara selamat ulang tahun ya sayang. Semoga panjang umur, sehat selalu. Semoga diberi kelancaran sampai waktu melahirkan nanti." Pak Ridwan mencium kedua pipi Fara lalu memeluknya.


"Iya, makasih Ayah." Fara memeluk Ayahnya dengan erat. Kehangatan pelukan dari Ayahnya tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun.


Kemudian Fara beralih menatap kedua kakaknya yang baru pulang dari luar negeri.


"Happy birthday adek. Sekarang udah mau jadi Mama. Sehat-sehat ya."


"Makasih, kak." kemudian Fara memeluk kedua kakaknya. Ucapan selamat pun berlanjut dari kedua orang tua Aslan dan sahabat-sahabatnya.


"Fara, selamat ulang tahun ya. Sebenarnya tadi rencana Pak Aslan buat ngasih kejutan sama kamu. Makanya kita buat kamu sibuk seharian ini."


"Iya, thanks ya. Kalian semua memang my best friend."


"Sayang, tiup lilin dulu." Aslan merengkuh pinggang Fara agar mendekat ke sebuah kue tart yang lumayan besar dengan sebuah lilin yang berangka 19 tahun itu. Di sebelahnya ada kue cantik bernuansa biru. Aslan memang berniat mengumumkan jenis kelamin anak pertamanya pada keluarganya hari itu.


"Baby boy?" Pak Ridwan memastikan jenis kelamin cucunya.


Fara dan Aslan menganggukkan kepalanya. Mereka juga sangat bahagia mengetahui jenis kelamin buah hatinya.


Fara memejamkan matanya sambil berdo'a dalam hatinya, setelah itu dia meniup lilin hingga padam. Dia potong kue tart itu dan di suapan pertama yang biasanya untuk Ayahnya kini beralih untuk suaminya.


Aslan tersenyum sambil menerima suapan dari Fara. Dia semakin merasa posisinya penting di hati Fara. Aslan kini berganti menyuapi Fara dan mencolek pipi Fara dengan krim.

__ADS_1


"Ih, Mas." Fara membalas Aslan. Mereka berdua sama-sama tertawa lalu sama-sama membersihkan krim di pipi mereka sambil bertatapan lekat. Siapa yang melihat mereka pasti akan iri. Dunia terasa milik berdua yang lainnya hanyalah sebuah pajangan.


"Nanti aja mesra-mesraannya."


Tersadar Fara langsung tersenyum dan memotong kue lagi untuk Ayahnya. "Maaf ya, Ayah. Harusnya potongan yang pertama untuk Ayah." kata Fara sambil menyuapi Ayahnya.


"Gak papa. Sekarang ada Aslan yang menggantikan posisi Ayah. Ayah bahagia sekali akhirnya kamu bisa menerima Aslan dalam hidup kamu. Ayah juga bisa merasakan kebahagiaan kamu sekarang bersama Aslan."


Seketika Fara memeluk Ayahnya. "Ini semua karena Ayah. Makasih ya Ayah sudah memilihkan jodoh terbaik buat Fara."


"Bukan Ayah yang memilih, tapi memang Allah yang memilihkan buat kamu dan dengan jalan perjodohan itu."


Fara melepas pelukannya lalu beralih pada ibu mertuanya yang dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


"Selamat ulang tahun ya sayang. Semoga lancar sampai lahiran nanti."


"Iya Mama."


Setelah itu Fara bergabung lagi dengan sahabat-sahabatnya. Mereka semua mulai menyantap hidangan yang ada. Meskipun sederhana tapi sangat berarti buat Fara karena ulang tahunnya kali ini dia rayakan bersama suami, keluarga, dan sahabat.


"Dedek ikut senang ya di dalam sana." Aslan mengusap perut Fara yang semakin dibalas tendangan. "Dua bulan lagi kita bertemu."


Fara tersenyum kecil sambil terus menatap Aslan. Perkataan sahabatnya tadi siang masih jelas terekam di otaknya.


Minta aja biar dapat pahala berkali lipat.


Kalau yang kedua dan seterusnya gak bakal sakit.


Mengingat hal itu saja, dada Fara semakin berdetak tak karuan. Haruskah malam ini?


"Sayang." Aslan kini menegakkan dirinya dan menatap Aslan. "Aku punya satu kejutan lagi buat kamu."


"Apa?"


"Ikut aku." Aslan menggandeng tangan Fara dan mengajaknya keluar rumah. Mereka kini menuju taman samping rumah mereka yang cukup luas.

__ADS_1


Aslan menggenggam erat tangan Fara dan berdiri di tengah taman. "Kamu lihat ke atas."


Fara mendongakkan kepalanya menatap langit gelap malam itu. Beberapa saat kemudian terdengar suara petasan dan beberapa kembang api warna warni terhampar di langit yang gelap itu.


Fara tersenyum sambil membulatkan matanya. Indah. Dia selalu senang melihat hamparan kembang api warna-warni di langit yang gelap. Dua tangan Fara kini memeluk pinggang Aslan. "Indah banget. Makasih." kata Fara sambil terus menatap kembang api yang masih meluncur berulang kali.


Aslan terus menatap wajah Fara yang terlihat sangat bahagia. Akhirnya dia bisa menikmati momen seperti ini bersama Fara.


Beberapa sahabatnya juga melihat momen romantis itu. Kini Ayla mengambil foto Fara yang sedang tersenyum bahagia. Dia ingin menunjukkan foto itu pada seseorang agar dia tahu bahwa Fara kini sudah bahagia bersama Aslan.


Menyadari tatapan Aslan, Fara kini mengalihkan pandangannya. Sinar dari kembang api yang kerlap kerlip itu, tidak menghalangi mereka untuk saling bertatapan lekat. Seolah ada magnet yang menarik kedua wajah itu untuk saling mendekat. Semakin dekat hingga bibir itu saling bersentuhan.


"Woy, masih ada kita di sini." teriak Ayla yang membuyarkan momen romantis Fara.


"Kita pulang aja yuk. Siapa tahu mereka ingin buat malam romantis yang lebih dari ini."


"Iya, kita pulang saja."


Sahabat-sahabatnya kini berpamitan pulang yang disusul Ayah Fara beserta kedua kakaknya lalu kedua orang tua Aslan.


"Yah, pada pulang."


"Masih mau lanjut lihat kembang api gak?" tanya Aslan. "Kembang apinya masih banyak."


Fara menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum malu-malu. "Kita ke kamar aja."


Mendapat tatapan tak biasa dari Fara membuat dadanya berdenyut.


Mengapa tatapan Fara berbeda? Genggaman tangan Fara saja udah buat aku ser-ser an gini. Jangan-jangan Fara mau....


💞💞💞


.


Mau apa hayoo...

__ADS_1


Like dan komen ya jangan lupa...


__ADS_2