Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 72


__ADS_3

"Siapa yang bocah?" Fara tiba-tiba muncul dari balik sofa yang membuat Tasya dan Aslan terkejut.


"Sayang, sejak kapan ada di sini?" tanya Aslan.


Fara berjalan mendekat lalu duduk di pangkuan Aslan. "Udah dari tadi, untung aku datang, ada pelakor yang gatel godain suami orang."


"Heh, aku bukan pelakor."


"Terus ngapain kamu masih deketin Mas Aslan pakai alibi buat kerjasama. Gak tahu malu banget ya, udah ditolak masih aja ngotot." Karena bukan di rumah mertua lagi jadi Fara bebas mau berkata apa saja pada Tasya. Jika hama tidak segera dimusnahkan bisa merusak keharmonisan rumah tangga.


"Dasar bocah!"


"Biarpun bocah tapi aku bisa urus Mas Aslan, bisa urus anak. Kamu lihat sendiri, apa Aslan tampak gak terurus. Gak kan, malah makin ganteng. Gak ada tempat lagi buat pelakor karena semua kebutuhan Mas Aslan sudah terpenuhi, termasuk kebutuhan batin. Iya kan Mas?" Fara mencium pipi Aslan.


"Iya dong sayang." Aslan juga mencium pipi Fara dan semakin melingkarkan tangannya di pinggang Fara.


Tasya akhirnya berdiri dan menghentakkan kakinya pergi. Pasti dia merasa sangat kesal dengan ulah Fara.


Setelah Tasya keluar dari ruangan Aslan, Fara turun dari pangkuan Aslan dan duduk sambil melipat tangannya.


"Kok turun? Sini." Aslan meraih bahu Fara tapi dia menghindar.


"Coba aja aku gak datang ke sini, apa yang terjadi antara Mas Aslan dan Tasya."


"Kan kamu tadi dengar sendiri, aku sudah memutuskan kerjasama itu." kata Aslan.


Fara hanya memutar bola matanya dan mencibir.


Kemudian Aslan berdiri lalu mengunci pintu ruangannya agar tidak ada yang menganggunya. Dia kini duduk berdempetan dengan Fara dan memeluknya. "Makasih sayang."


"For what?"


"Udah ke sini. Udah usir pelakor dan pokoknya Mamanya Arya the best." Aslan mendekatkan dirinya dan menciun singkat bibir Fara.


"Ih," Fara mencubiti kecil bahu Aslan karena perkataan Aslan selalu berhasil membuat pipi Fara merona.


"Kamu sudah makan?" tanya Aslan sambil mengusap rambut Fara yang sekarang ada dalam dekapannya.


"Udah. Tadi beli bakso sama Ayla."


"Gimana kampusnya? Kamu suka?"


Seketika Fara menegakkan dirinya. "Eh, Mas aku baru tahu kalau di kampus itu ada banyak cowok pelangi."


"Kata siapa?"


"Ayla."

__ADS_1


"Ya bagus dong berarti gak ada yang naksir kamu." Aslan tersenyum kecil.


"Iya, juga sih. Tapi jijik aja, duh, gak kebayang."


Aslan tersenyum kecil, "Aku juga heran kenapa zaman sekarang banyak sekali hal kayak gitu. Padahal kan lubang asli lebih nikmat." Aslan meraih tubuh Fara lalu mendudukkannya di pangkuan.


"Mas, ini di kantor loh aku mau turun." Fara sudah hafal gelagat Aslan. Awalny cuma dipangku lama-lama mau lebih.


"Tadi kan kamu duduk di pangkuan aku. Lanjut dong kebutuhan batinnya." Aslan menaik turunkn alisnya menggoda Fara.


"Mas, ini di kantor. Tahu tempat. Nanti aja di rumah kan bisa." Fara menahan dada Aslan dengan tangannya saat Aslan terus mendekatkan dirinya.


"Pintu udah aku tutup. Di sini ada peredam suara dan cctv hanya ada di depan pintu." Aslan mendekatkan dirinya dan mengendus dalam leher Fara.


"Ih, Mas aku bau matahari habis dari luar."


"Gak papa, wangi." Aslan semakin menyapu leher Fara hingga membuat Fara semakin mendongak merasakan sensasi yang diberikan Aslan.


Aslan menyudahi cumbuannya lalu menatap Fara dengan jarak yang sangat dekat.


"I love you..."


"I love you too."


Sedetik kemudian bibir itu saling mendekat dan terpaut. Saling me lu mat dan berbalas lidah. Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Gairah itu semakin terpancing.


Merasakan bibir Aslan yang semakin ke bawah, Fara mendorongnya meski gagal.


"Mas, itu penuh ASI. Bentar lagi aku pulang udah waktunya Arya minum secara langsung."


Tapi Aslan tak menggubrisnya. Dia justru membukanya dan bermain di sekitaran dada hingga membuat ASI itu merembes.


"Ah, Mas." hisapan Aslan jelas terasa berbeda dari hisapan Arya. Hisapan Aslan terasa hingga ke sekujur tubuhnya yang membuatnya tak bisa menahan de sa han.


"Mas, ih, nakal banget. Itu punya Arya."


Setelah puas Aslan menghentikan hisapannya. Dia kini mendongak menatap Fara sambil tersenyum.


"Kamu tunggangi singa lagi ya." pintanya.


"Ih, capek. Kemarin-kemarin kan udah gitu."


"Habis nagih banget. Ayo sayang. Nih yang bawah udah berkedut-kedut." kata Aslan lagi. Semakin hari saat dia dekat dengan Fara bawaannya semakin ingin terus.


Fara tersenyum merasakan kedutan yang berada di bawahnya itu. Dia semakin menggoda Aslan dengan menggoyangkan pinggulnya.


"Ough, sayang, udah gak tahan. Buka..."

__ADS_1


Fara masih saja menggerakkan pinggulnya yang membuat Aslan semakin tidak tahan dibuatnya. Akhirnya dia membalik tubuh Fara. Lalu membuka resletingnya dan mengeluarkan guratan otot yang sedari tadi terkekang di dalam sangkar.


"Ayo sayang, satu permainan aja." Aslan membungkuk membuka celana Fara.


"Tapi pengamannya?"


"Sudah aman tanpa pengaman kan kemarin udah program ke dokter."


"Oiya lupa."


Aslan membuka kaki Fara lebar. Dia sudah bersiap memasukkan miliknya tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya cukup keras dari luar.


"Siapa sih? Baru juga mau masuk." Aslan menggerutu. Dia ingin membiarkan ketukan pintu itu tapi kini terdengar suara papanya.


"Papa, Mas."


"Astaga, kirain Papa udah pulang." mau tidak mau Aslan memasukkan kembali miliknya yang masih menegang sempurna ke dalam celana. Dia merapikan pakaiannya begitu juga dengan Fara.


Setelah keduanya rapi, Aslan membuka pintu itu.


"Aslan ngapain pintunya dikunci, kamu sama siapa di dalam?" kata Pak Robi. Setelah pintu terbuka dia langsung masuk ke dalam.


"Maaf Pa. Fara menganggu." kata Fara saat mendengar suara keras mertuanya.


"Loh, Fara kamu ada di sini nak. Kirain sama..."


"Hem, hem... Papa aja curiga, gimana dengan Fara. Memang paling benar kerjasama itu dibatalkan."


"Iya, iya, benar sekali." Pak Robi menghela napas panjang. "Maaf, Papa sempat curiga gara-gara pintunya kamu kunci, soalnya tadi Tasya ngikuti kamu."


Aslan kini duduk di sebelah Fara karena kepalanya terasa pening, hasratnya masih membuncah ingin dituntaskan. Bukannya cepat keluar, Papanya justru mengobrak-abrik berkas yang ada di atas meja.


"Aku pulang dulu ya, Mas." kata Fara, kemudian dia berdiri dan memakai tasnya.


"Aslan kamu pulang saja, sekalian antar Fara." kata Pak Robi.


Yes, Aslan berteriak senang dalam hatinya.


Dia mengambil tas dan kunci mobilnya lalu menggandeng tangan Fara. "Ayo sayang."


Fara berpamitan dulu pada Papa mertuanya lalu keluar dari ruangan.


"Sayang kita lanjut di rumah." bisik Aslan yang langsung mendapat satu cubitan dari Fara.


💞💞💞


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2