Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 56


__ADS_3

Aslan membantu Fara duduk lalu membantunya memakai pakaian. "Maaf ya, kita tunda dulu."


"Mas ada apa?" tanya Fara sekali lagi.


"Ayah kamu ngedrop dan masuk rumah sakit." kata Aslan.


Seketika Fara menutup mulutnya. Dia sangat terkejut. Baru saja dia merayakan ulang tahunnya bersama Ayahnya dan Ayahnya masih terlihat sehat lalu kenapa sekarang tiba-tiba kondisinya menurun.


Fara turun dari ranjang dan mengambil cardigannya. Air matanya sudah terurai di pipinya. "Kita ke rumah sakit sekarang Mas."


"Iya, kamu tenang dulu. Jangan terlalu panik." Aslan cepat-cepat memakai bajunya. Kemudian dia mengambil ponsel dan kunci mobilnya lalu menyuruh sopirnya untuk mengemudi.


Aslan dan Fara kini duduk di kursi belakang. Beberapa saat kemudian mobil itu segera melaju menuju rumah sakit. "Ayah, kenapa bisa ngedrop lagi? Aku gak mau terjadi apa-apa sama Ayah."


"Kamu tenang dulu. Jangan terlalu panik. Kamu harus bisa kontrol emosi kamu." satu tangan Aslan mengusap perut Fara, agar tidak kaku seperti sebelumnya saat Fara mengalamai panik berlebih.


Fara hanya bergelayut di lengan Aslan sambil menangis.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka berhenti di tempat parkir rumah sakit. Fara segera turun dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit.


"Fara, jangan jalan cepat-cepat." Aslan menyusulnya dan meraih tangan Fara agar langkah jenjangnya sedikit tertahan karena dia takut Fara mengalami pendarahan lagi akibat panik yang berlebih.


Saat sampai di ruangan Ayahnya. Terlihat Ayahnya terbaring dengan lemah dan berbagai alat yang terpasang di dadanya.


"Ayah." Fara berjalan mendekat dan langsung memeluk Ayahnya. "Ayah tadi masih sehat, kenapa sekarang drop begini? Ayah cepat sehat lagi ya." kata Fara dengan isak tangisnya.


Terlihat Pak Ridwan tersenyum lemah. Napasnya sudah terlihat sesak dan berat. "Far, Ayah bahagia, kamu sekarang sudah berbahagia bersama Aslan. Tugas Ayah sudah digantikan sepenuhnya sama Aslan dan Ayah sudah tidak ada hutang lagi untuk menikahkan kamu. Sekarang Ayah bisa pergi dengan tenang."


Fara semakin menangis. "Ayah jangan bilang gitu. Ayah pasti sembuh. Ayah juga ingin lihat cucu Ayah lahir kan."

__ADS_1


Terlihat napas Pak Ridawan semakin sesak. "Ayah sudah sangat senang tahu kamu hamil dan sekarang sudah tahu jenis kelamin cucu Ayah. Ayah juga sudah berikan nama buat cucu Ayah. Hanya itu yang bisa Ayah berikan. Hanya sebuah nama tapi akan dipakai seumur hidup meski Ayah sudah pergi." suara Pak Ridwan semakin pelan.


Fara semakin menangis tergugu. "Ayah, jangan pergi. Ayah..."


"Dek, sudah ya. Lebih baik sekarang kita tuntun Ayah untuk mengucap kalimat syahadat." kata Faris sambil mendekat ke telinga Ayahnya. Kedua kakak Fara kini menuntun Ayah mereka mengucap kalimat syahadat.


Rasanya Fara tidak sanggup melihat ini semua. Dia bersandar di dada Aslan yang sedang memeluknya.


Pak Ridwan kini menutup matanya untuk selamanya setelah mengucap kalimat syahadat.


Fara semakin menangis tergugu di pelukan Aslan.


"Sayang, sudah jangan menangis. Kamu harus ikhlas. Semua orang yang hidup di dunia ini pasti akan pergi." kata Aslan berusaha menenangkan Fara sambil mengusap punggung Fara yang bergetar karena isak tangis.


Fara mengerti, semua yang hidup di dunia ini pasti akan pergi. Tapi saat ini rasanya Fara masih belum sanggup kehilangan. Baru saja dia merasakan kebahagiannya bersama Aslan tapi kini dia justru kehilangan Ayahnya untuk selamanya.


...***...


"Sayang, kamu makan dulu." kata Aslan yang kini duduk di samping Fara sambil membawa sepiring nasi.


Fara masih saja mengeleng.


"Kasihan dedek dalam perut pasti udah lapar. Ayo, aku suapi." Aslan mulai menyendok nasi itu dan menyuapi Fara.


Fara mengusap air matanya. Kemudian dia menerima suapan dari Aslan. Perut yang sudah perih dan terasa panas itu seolah menolak makanan masuk. Baru dua suap, Fara justru memuntahkan kembali makanannya ditambah cairan kuning yang terasa pahit.


"Fara." Melihat kondisi Fara, Aslan semakin panik. "Sayang, ayo kita ke rumah sakit saja. Asam lambung kamu kayaknya naik lagi."


Baru saja Fara berdiri, badannya sudah limbung di pelukan Aslan.

__ADS_1


"Astaga Fara." Bu Lani yang sedang menemui tamu seketika berdiri dan setengah berlari melihat kondisi Fara yang berada di ruang tengah. "Aslan cepat kamu bawa ke rumah sakit."


Aslan mengangkat tubuh Fara dan segera membawanya menuju mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, Pak Yanto segera melajukan mobilnya ke rumah sakit.


"Sayang, bertahan ya. Sayang..." Aslan mengusap pipi Fara berharap kedua mata Fara akan terbuka tapi tetap tidak ada reaksi. Lalu tangannya beralih pada perut buncit Fara. Dia mengusapnya, berharap ada tendangan dari dalam. Dia usap cukup lama dengan sangat khawatir. Akhirnya dia merasakan satu tendangan itu meski tidak seaktif biasanya.


"Pak, tolong lebih cepat." kata Aslan.


Sayang, kamu harus yang kuat. Tolong, bertahan.


Aslan masih terus mengusap perut Fara agar janin yang berada di perut Fara terus memberi respon padanya.


Setelah mobil berhenti di depan rumah sakit, Aslan segera menggendongnya ke IGD. Dia kini menunggu pemerikasaan itu di kursi tunggu. Dalam hatinya terus berdo'a untuk Fara dan calon buah hatinya.


Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Fara. Ini sudah kesekian kalinya Fara masuk rumah sakit. Kalian berdua harus kuat.


Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Fara keluar dan berbicara dengan serius.


"Istri Anda mengalami dehidrasi parah dan asam lambungnya naik. Meski sempat mengalami penurunan detak jantung pada janin, syukurlah masih bisa tertolong. Setelah ini tolong dijaga kondisi dan pola makan dengan baik. Karena jika kondisi ibu terus menurun dan stress yang berlebihan akan menghambat oksigen dan penyerapan nutrisi yang disalurkan lewat plasenta pada janin Jika kondisi itu semakin parah, terpaksa janin harus dilahirkan secara prematur."


Aslan hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan dokter. Dia kini berjalan menuju ruang rawat Fara. Terlihat Fara masih terbaring dengan lemah dengan jarum infus yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Sayang, bantu Mama ya. Kamu harus bisa bertahan sampai dua bulan lagi agar kamu sempurna dan sehat saat lahir di dunia ini." Aslan mengusap lalu mencium perut Fara. "Ayah pasti juga akan jagain Mama. Akan terus support Mama. Kelak kamu harus sayang sama Mama kamu, jadi anak yang baik. Karena perjuangan Mama kamu sangat besar dan berkat kamu juga Mama mau menerima kehadiran Ayah. "


Mendengar suara Aslan, Fara kini membuka matanya. Dia tersenyum kecil melihat Aslan yang sedang mengobrol dengan perut besarnya.


"Mas..." panggilnya.


💞💞💞

__ADS_1


.


Like dan komen ya..


__ADS_2