
"Yah, jadi lo gak ada rencana beli? Ya udahlah, sampai ketemu nanti malam ya..." kemudian Fara mematikan panggilannya dengan Ayla. Dia tidak mungkin berangkat sendiri karena cuaca setiap hari tidak menentu.
Fara keluar dari kamar dan melihat Aslan yang sedang duduk di ruang tengah sambil menatap layar laptopnya. Fara kini duduk di samping Aslan yang membuat Aslan menoleh.
"Hmmm, Pak Aslan sibuk gak?" tanya Fara ragu-ragu.
"Nggak, kenapa? Mau sesuatu?" Aslan semakin menatap Fara. Semakin hari Fara sudah mulai terbiasa berbicara dengannya.
"Bisa antar aku beli dress buat acara malam ini. Soalnya aku kemarin lupa." kata Fara.
"Bisa. Sebentar aku siap-siap dulu." Aslan menutup layar laptopnya lalu dia berdiri dan beranjak ke kamarnya. Begitu juga dengan Fara.
Beberapa saat kemudian mereka keluar dan menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya. "Kita ke butik langganan keluarga aku ya. Biasanya stok di sana lengkap, daripada muter-muter di mall nanti kamu capek."
Fara menganggukkan kepalanya. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian mobil mereka mulai melaju.
"Hmm, Pak Aslan memang mengizinkan aku dansa dengan Arsyad?" tanya Fara karena Aslan sama sekali tidak membahs soal dansa itu.
"Iya. Dia yang minta izin sama aku sebagai salam perpisahannya."
Fara tak menyahutinya lagi. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Kamu nikmati saja acara malam nanti bersama sahabat-sahabat kamu. Karena kenangan itu suatu saat nanti pasti akan sangat berharga. Apalagi momen itu tidak akan kita ulangi lagi."
Fara kembali menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Aslan menghentikan mobilnya di depan sebuah butik yang mewah dan luas. Mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam butik yang langsung disambut ramah oleh karyawan butik itu.
"Mau cari dress." kata Aslan.
"Iya Pak. Silahkan di sebelah sana. Banyak model terbaru." tunjuk karyawan itu sambil mengantar mereka berdua. Setelah itu, dia meninggalkan mereka berdua agar bebas memilih.
Aslan dan Fara berjalan menuju sederetan dress yang terpajang.
Mata Fara berbinar. Dress di tempat itu semuanya bagus, dia sekarang justru bingung memilihnya.
"Dresscode nya jadi warna apa?" tanya Aslan yang kini berdiri di samping Fara.
"Putih." Fara sibuk memilih beberapa dress berwarna putih.
__ADS_1
"Kamu suka yang simple atau yang terkesan glamour?" tanya Aslan lagi.
"Aku suka yang simple."
Aslan ikut memilih sederetan dress yang tergantung. Lalu dia mengambil sebuah dress berbahan sifon. "Seperinya ini cocok buat kamu. Bahannya nyaman juga dipakai."
Fara melihat dress itu, pintar juga Aslan memilih dress yang sangat sesuai dengan keinginannya. Panjang di bawah lutut dengan lengan model korea, dan pastinya bagian dada tidak terlalu rendah.
"Kamu coba dulu, kayaknya pas di tubuh kamu." kata Aslan sambil menempelkan dress itu ditubuh Fara.
Fara membawanya ke ruang ganti. Tak butuh waktu lama, Fara keluar dari ruang ganti dan menunjukkannya pada Aslan. "Cocok gak sih? Soalnya bagian perut kayak pres gini"
Aslan berjalan mendekat dan tersenyum. "Cantik." hanya satu kata itu yang diucapkan Aslan karena Fara memang terlihat sangat cantik.
Fara hanya tersenyum malu. "Ya udah ambil ini saja." Fara kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk berganti pakaiannya semula. Beberapa saat kemudian Fara keluar dari ruang ganti dan berjalan mendekati Aslan yang masih memilah beberapa dress.
"Far, gak sekalian beli dress yang lain juga?" tanya Aslan.
Fara menggelengkan kepalanya. "Aku gak terlalu suka pakai dress selain ke acara resmi."
"Loh, Aslan." panggil seorang ibu paruh baya yang kini berjalan mendekati Aslan. "Lama sekali kamu gak ke sini? Sama Tasya?" ibu itu kini menatap Fara. Ternyata dia salah mengira. "Eh, maaf kirain sama Tasya."
Fara tersenyum sambil mengangguk.
"Kapan menikah? Kok tidak kasih kabar, atau minimal pesan gaun di sini." Ibu pemilik butik semakin tertawa lebar.
"Memang belum adakan resepsi, kemarin cuma ijab qabul saja jadi kita tidak pesan gaun." jelas Aslan.
"Sudah dapat gaunnya? Atau mau cari yang lain. Biasanya kan kalau ke sini ngeborong."
Aslan tersenyum kecil. Itu masa lalunya. Saat dia terperangkap di cinta yang salah. "Ada dress buat ibu hamil?" tanya Aslan.
"Udah, hamil? Wah, tokcer bener." ibu itu kini merengkuh pinggang Fara dan menunjukkan beberapa dress untuk ibu hamil. "Kirain dulu kamu jadi sama Tasya loh. Tapi aku lebih suka sama istri kamu ini. Adem lihatnya. Cocok banget sama kamu." kemudian ibu itu mengambil sebuah dress warna tosca yang cantik. "Nih, salah satu dress maternity. Dipakai pas gak hamil juga bagus. Ada talinya yang melingkar di pinggang. Tinggal disesuaikan saja."
Bagus sih. Tapi memang pada dasarnya Fara tidak suka pakai gaun.
"Ya udah sama ambil itu. Lain kali kalau ada acara lagi kita ke sini." Aslan kini meraih tangan Fara lalu mengajaknya berjalan menuju kasir.
Sebenarnya Fara masih penasaran tentang Tasya. Aslan sama sekali tidak pernah menyebut nama Tasya di depannya.
__ADS_1
Setelah selesai membayar, mereka berdua keluar dari butik lalu masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian mobil Aslan telah melaju.
Saat di dalam mobil Fara hanya terdiam. Meskipun dia masih sangat penasaran tentang Tasya, tapi dia gengsi untuk bertanya.
"Aku gak pernah cerita kamu soal Tasya ya. Tapi bagi aku memang udah gak penting."
Tidak ada reaksi apa-apa dari Fara, tapi Aslan tetap menceritakan tentang Tasya. "Tasya masa lalu aku. Hubungan aku dan dia telah berakhir, jauh sebelum aku mengenal kamu. Dia juga sudah menikah dan sekarang aku juga sudah melupakannya."
Fara tak berkomentar apapun tapi rasa penasarannya kini telah hilang.
"Mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya Aslan.
Karena udara siang hari itu lumayan panas, tiba-tiba dia ingin meminum smothies yang ada di kafenya Ayla. "Kita ke kafe Ayla, udah lama aku gak minum smoothies di sana."
"Dimana?"
Fara menunjukkan jalan menuju kafe milik orang tua Ayla. Setelah sampai di tempat parkir mereka segera turun dan masuk ke dalam kafe yan luas dan mewah itu.
"Ternyata ini kafe milik orang tua Ayla. Dulu aku pernah beberapa kali ke sini." cerita Aslan singkat.
"Sama Tasya?" tanya Fara sambil berlalu.
Aslan hanya tersenyum kecil karena itu memang benar. Tapi melihat ekspresi Fara yang membuatnya tersenyum.
Fara berdengus kesal lalu duduk di kursi sambil melihat menu, padahal dia sudah hafal menu andalan kafe itu.
Kenapa tiba-tiba aku jadi kesal gini? Apa memamg mood ibu hamil gampang berubah gini?
💞💞💞
.
Like dan komen ya.. 🙄
.
Jujurly, author lagi capek. Butuh asupan semangat.
.
__ADS_1
Lebih tepatnya asupan dana.. 😩